<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864</id><updated>2011-12-06T23:54:32.633-08:00</updated><title type='text'>Media dan jurnalisme</title><subtitle type='html'>kumpulan artikel mengenai media dan juranlisme di tanah air</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>51</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-5307731672007191830</id><published>2011-08-05T19:38:00.000-07:00</published><updated>2011-08-05T19:55:12.622-07:00</updated><title type='text'>Prinsip-prinsip Dasar Wartawan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-37msKZEiDkE/Tjyrp2NBisI/AAAAAAAAAxM/R8cOWvWRThE/s1600/ba_jailed_journalist.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 153px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-37msKZEiDkE/Tjyrp2NBisI/AAAAAAAAAxM/R8cOWvWRThE/s200/ba_jailed_journalist.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637569568974146242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip Dasar yang Harus Diketahui Wartawan dalam Menulis Berita&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip Dasar yang Harus Diketahui Wartawan dalam Menulis Berita&lt;br /&gt;Ada lima syarat menulis berita, yaitu:&lt;br /&gt;1.Kejujuran: apa yang dimuat dalam berita harus merupakan fakta yang benar-benar terjadi. Wartawan tidak boleh memasukkan fiksi ke dalam berita.&lt;br /&gt;2.Kecermatan: berita harus benar-benar seperti kenyataannya dan ditulis dengan tepat. Seluruh pernyataan tentang fakta maupun opini harus disebutkan sumbernya.&lt;br /&gt;3.Keseimbangan:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Agar berita seimbang harus diperhatikan:&lt;br /&gt;1.tampilkan fakta dari masalah pokok&lt;br /&gt;2.jangan memuat informasi yang tidak relevan&lt;br /&gt;3.jangan menyesatkan atau menipu khalayak&lt;br /&gt;4.jangan memasukkan emosi atau pendapat ke dalam berita tetapi ditulis seakan-akan sebagai fakta&lt;br /&gt;5.tampilkan semua sudut pandang yang relevan dari masalah yang diberitakan&lt;br /&gt;6.jangan gunakan pendapat editorial&lt;br /&gt;4.Kelengkapan dan kejelasan:&lt;br /&gt;Berita yang lengkap adalah berita yang memuat jawaban atas pertanyaan who, what, why, when, where, dan how.&lt;br /&gt;5.Keringkasan:&lt;br /&gt;Tulisan harus ringkas namun tetap jelas yaitu memuat semua informasi penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Berita dan Induk Berita&lt;br /&gt;Judul berita sangat penting untuk mengantarkan pembaca masuk ke dalam berita. Ia digunakan untuk merangkum isi berita kepada pembaca mengenai isi berita. Karenanya, penulisan judul berita hendaknya dibuat dengan mengikuti kaidah penulisan judul berita&lt;br /&gt;Judul berita memiliki beberapa fungsi, yakni untuk menarik minat pembaca; merangkum isi berita; melukiskan “suasana berita”; menserasikan perwajahan surat kabar.&lt;br /&gt;Judul berita sebaiknya sesuai dengan teras berita. Artinya, tidak ada pertentangan antara keduanya. Judul juga sebaiknya memakai kalimat positif serta diusahakan senetral mungkin. Prinsip cover both side (menampilkan dua sisi dalam pemberitaan) diimplementasikan – salah satunya – dalam penulisan judul berita. Selain itu judul berita juga sebaiknya dibuat dengan menggunakan kata-kata yang sederhana dan sejelas mungkin.&lt;br /&gt;Teknik Menulis Teras Berita&lt;br /&gt;Teras berita adalah modal utama seorang reporter untuk menarik minat pembaca sehingga pembaca akan terus tertarik untuk membaca sampai selesai berita yang ditulisnya.&lt;br /&gt;Teras berita yang baik menyampaikan secara ringkas intisari persoalan yang diberitakan. Intisari persoalan adalah fakta yang paling penting dari seluruh fakta dari persoalan itu. Menentukan fakta yang penting adalah sama halnya dengan menentukan nilai berita itu (news value). Pada umumnya sesuatu yang penting itu sekaligus sesuatu yang menarik. Dengan demikian jika penulis telah menemukan fakta terpenting untuk ditampilkan dalam lead, ia tinggal menulis lead itu dengan menarik.&lt;br /&gt;Pedoman untuk menulis teras berita adalah: singkat, spesifik, identifikasi dengan jelas, hindari bentuk pertanyaan atau kutipan, beri keterangan waktu dengan tepat dan keterangan dengan tepat. Adapun jenis-jenis berita adalah: ringkas, kutipan, teras berita menunjuk, pertanyaan, deskripsi, latar belakang, kontras, lead memukul, dan lead aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik Menulis Tubuh Berita&lt;br /&gt;Tubuh berita (news body) merupakan tempat di mana berita terletak. Dalam tubuh beritalah pembaca dapat mengetahui berita yang sesungguhnya, dalam arti bukan rangkuman. Karena tubuh berita menyimpan informasi yang penting, tubuh berita hendaknya ditulis semenarik mungkin, sehingga mampu membuat pembaca terus membaca berita tersebut, namun dengan tetap menjaga keringkasan berita (karena ruang yang terbatas dalam surat kabar).&lt;br /&gt;Tubuh berita dapat disusun dengan susunan piramida terbalik, dengan susunan kronologis, maupun dengan susunan di mana informasi penting diletakkan di belakang.&lt;br /&gt;Selain teknik penyusunan tubuh berita, membuat berita yang baik juga dapat dilaksanakan dengan memperhatikan kesatuan tubuh berita. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulangi kata-kata kunci; memakai kata maupun frase transisi yang tepat serta menyusun struktur berita dengan benar dan mengalir.&lt;br /&gt;Di samping itu kekuatan tubuh berita dapat pula dibangun dengan menyertakan kutipan, baik langsung maupun tidak langsung, dari sumber berita; menyertakan nama/jabatan sumber berita (attribution); memberi identifikasi yang jelas tentang siapa sumber berita serta menyertakan latar belakang berita.&lt;br /&gt;Penerapan Penulisan Berita&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan fakta-fakta secara lengkap di lapangan, maka pekerjaan berikut adalah menuangkannya ke dalam tulisan yang sesuai dengan prinsip-prinsip jurnalistik yang baik. Pada bagian ini Anda telah mempelajari apa yang harus dipertimbangkan dalam proses pembuatan tulisan jurnalistik, yakni: melaporkan secara menyeluruh, menuliskannya secara sistematis dan berstruktur, menggunakan tata bahasa yang benar dan tepat, hemat, serta menghadirkan intensitas dan warna. Tiga hal yang disebutkan belakangan dapat terpenuhi jika Anda menerapkan prinsip-prinsip bahasa jurnalistik. Terakhir, sebelum Anda menerbitkan tulisan Anda, pertimbangkan akan ketentuan hukum yang berkaitan dengan dunia pers dan kode etik akan menjadikan Anda seorang wartawan yang bijaksana.&lt;br /&gt;Analisis Tulisan&lt;br /&gt;Setelah mengamati dan menganalisis contoh tulisan jadi yang disiarkan media massa, Anda dapat merasakan betapa sebenarnya tidak mudah untuk membuat tulisan yang baik. Kurangnya informasi yang digali dari lapangan, menyebabkan tidak jelasnya laporan yang ditulis. Informasi yang lengkap pun belum tentu dengan sendirinya menjamin laporan yang dibuat akan baik. Pengabaian prinsip-prinsip penulisan yang dibahas di awal modul ini juga akan membuat laporan yang dihasilkan kurang sempurna. Jebakan lain yang mungkin kurang disadari penulis adalah berlebihnya hasil reportase sehingga penulis merasa sayang untuk membuang keterangan yang tak perlu.&lt;br /&gt;Contoh tulisan ini sengaja tidak diperbaiki secara keseluruhan tetapi hanya pada bagian-bagian tertentu saja. Hal ini pertama karena tidak cukupnya keterangan atau fakta untuk membuat perbaikannya karena contoh ini memang diambil dari media massa sehingga berkas laporan reporter atau hasil wawancara dengan narasumber tidak ada kedua, agar tulisan tersebut dapat dijadikan bahan latihan bagi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-5307731672007191830?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/5307731672007191830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=5307731672007191830&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/5307731672007191830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/5307731672007191830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2011/08/prinsip-prinsip-dasar-wartawan.html' title='Prinsip-prinsip Dasar Wartawan'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-37msKZEiDkE/Tjyrp2NBisI/AAAAAAAAAxM/R8cOWvWRThE/s72-c/ba_jailed_journalist.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-7231411697466510251</id><published>2011-03-27T20:09:00.000-07:00</published><updated>2011-03-27T20:20:43.454-07:00</updated><title type='text'>Jenis-jenis Film dokumenter</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-QuoYshEcHSs/TY_-OCbPhTI/AAAAAAAAArA/VU52QPTv074/s1600/252047635_d0de938863.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-QuoYshEcHSs/TY_-OCbPhTI/AAAAAAAAArA/VU52QPTv074/s200/252047635_d0de938863.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588965179712832818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan. Istilah "dokumenter" pertama digunakan dalam resensi film Moana (1926) oleh Robert Flaherty, ditulis oleh The Moviegoer, nama samaran John Grierson, di New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di Perancis, istilah dokumenter digunakan untuk semua film non-fiksi, termasuk film mengenai perjalanan dan film pendidikan. Berdasarkan definisi ini, film-film pertama semua adalah film dokumenter. Mereka merekam hal sehari-hari, misalnya kereta api masuk ke stasiun. pada dasarnya, film dokumenter merepresentasikan kenyataan. Artinya film dokumenter berarti menampilkan kembali fakta yang ada dalam kehidupan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dokudrama&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: arial;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangannya, muncul sebuah istilah baru yakni Dokudrama. Dokudrama adalah genre dokumenter dimana pada beberapa bagian film disutradarai atau diatur terlebih dahulu dengan perencanaan yang detail. Dokudrama muncul sebagai solusi atas permasalahan mendasar film dokumenter, yakni untuk memfilmkan peristiwa yang sudah ataupun belum pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumenter Modern&lt;br /&gt;Para analis Box Office telah mencatat bahwa genre film ini telah menjadi semakin sukses di bioskop-bioskop melalui film-film seperti Super Size Me, March of the Penguins dan An Inconvenient Truth. Bila dibandingkan dengan film-film naratif dramatik, film dokumenter biasanya dibuat dengan anggaran yang jauh lebih murah. Hal ini cukup menarik bagi perusahaan-perusahaan film sebab hanya dengan rilis bioskop yang terbatas dapat menghasilkan laba yang cukup besar.&lt;br /&gt;Perkembangan film dokumenter cukup pesat semenjak era cinema verité. Film-film termasyhur seperti The Thin Blue Line karya Errol Morris stylized re-enactments, dan karya Michael Moore: Roger &amp;amp; Me menempatkan kontrol sutradara yang jauh lebih interpretatif. Pada kenyataannya, sukses komersial dari dokumenter-dokumenter tersebut barangkali disebabkan oleh pergeseran gaya naratif dalam dokumenter. Hal ini menimbulkan perdebatan apakah film seperti ini dapat benar-benar disebut sebagai film dokumenter; kritikus kadang menyebut film-film semacam ini sebagai mondo films atau docu-ganda.[1] Bagaimanapun juga, manipulasi penyutradaraan pada subyek-subyek dokumenter telah ada sejak era Flaherty, dan menjadi semacam endemik pada genrenya.&lt;br /&gt;Kesuksesan mutakhir pada genre dokumenter, dan kemunculannya pada keping-keping DVD, telah membuat film dokumenter menangguk keuntungan finansial meski tanpa rilis di bioskop. Meski begitu pendanaan film dokumenter tetap eksklusif, dan sepanjang dasawarsa lalu telah muncul peluang-peluang eksibisi terbesar dari pasar penyiaran. Ini yang membuat para sineas dokumenter tertarik untuk mempertahankan gaya mereka, dan turut mempengaruhi para pengusaha penyiaran yang telah menjadi donatur terbesar mereka.[2]&lt;br /&gt;Dokumenter modern saling tumpang tindih dengan program-program televisi, dengan kemunculan reality show yang sering dianggap sebagai dokumenter namun pada kenyataannya kerap merupakan kisah-kisah fiktif. Juga bermunculan produksi dokumenter the making-of yang menyajikan proses produksi suatu Film atau video game. Dokumenter yang dibuat dengan tujuan promosi ini lebih dekat kepada iklan daripada dokumenter klasik.&lt;br /&gt;Kamera video digital modern yang ringan dan editing terkomputerisasi telah memberi sumbangan besar pada para sineas dokumenter, sebanding dengan murahnya harga peralatan. Film pertama yang dibuat dengan berbagai kemudahan fasilitas ini adalah dokumenter karya Martin Kunert dan Eric Manes: Voices of Iraq, dimana 150 buah kamera DV dikirim ke Iraq sepanjang perang dan dibagikan kepada warga Irak untuk merekam diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Bentuk Dokumenter Lainnya&lt;br /&gt;Film Kompilasi&lt;br /&gt;Film kompilasi dicetuskan pada tahun 1927 oleh Esfir Shub dengan film berjudul The Fall of the Romanov Dynasty. Contoh-contoh berikutnya termasuk Point of Order (1964) yang disutradarai oleh Emile de Antonio mengenai pesan-pesan McCarthy dan The Atomic Cafe yang disusun dari footage-footage yang dibuat oleh pemerintah AS mengenai keamanan radiasi nuklir (misalnya, memberitahukan pada pasukan di suatu lokasi bahwa mereka tetap aman dari radiasi selama mereka menutup mata dan mulut mereka). Hampir mirip dengannya adalah dokumenter The Last Cigarette yang memadukan testimoni dari para eksekutif perusahaan-perusahaan tembakau di depan sidang parlemen AS yang mengkampanyekan keuntungan-keuntungan merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-7231411697466510251?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/7231411697466510251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=7231411697466510251&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/7231411697466510251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/7231411697466510251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2011/03/jenis-jenis-film-dokumenter.html' title='Jenis-jenis Film dokumenter'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-QuoYshEcHSs/TY_-OCbPhTI/AAAAAAAAArA/VU52QPTv074/s72-c/252047635_d0de938863.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-2761607571556625223</id><published>2011-02-28T21:38:00.000-08:00</published><updated>2011-02-28T21:51:32.154-08:00</updated><title type='text'>Televisi Cermin Zaman</title><content type='html'>Tulisan ini diambil dari milis Media-Bali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Toeti Adhitama Anggota Dewan Redaksi Media Group&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan-wartawan umumnya, yang mengelola TV khususnya, bisa dipuja atau sebaliknya dicela habis-habisan karena kinerja mereka dan tergantung pada kepekaan nurani, nilai-nilai moral dan kesopanan yang mengawal mereka."&lt;br /&gt;Beberapa hari sebe lum Metro TV meng udara satu dasawarsa yang lalu,seorang tokoh pertelevisian Indonesia bertanya, "Apakah televisi berita memiliki daya tarik?&lt;br /&gt;Sulit untuk membayangkan." Untuk menghindari perdebatan berlarut, pertanyaan itu dibiarkan mengambang, berlalu tanpa jawaban. Sepuluh tahun kemudian terbukti,televisi berita adalah anak zaman. Dia berfungsi mencerdaskan. Pesan-pesan yang disampaikan Metro TV memenuhi kebutuhan penonton sasarannya. Yakni mereka yang menghendaki siaran padat berita dan informasi, sesuai dengan dinamika kehidupan modern.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada masyarakat yang homogen. Semakin tinggi heterogenitas,semakin banyak memerlukan pilihan dan pengkhususan pelayanan jasa,termasuk jasa penyebaran informasi. Ini yang terbaca oleh tokoh pers Surya Paloh, yang idealisme, nyali, dan visinya mencetuskan gagasan melahirkan TV berita pertama di Indonesia.&lt;br /&gt;Menanggapi banjir informasi Dalam era informasi, yang mencemplungkan&lt;br /&gt;masyarakat dalam banjir informasi, para pengamat sosial mendapati ada&lt;br /&gt;dua hal yang meminta perhatian: &lt;br /&gt;1) jenis informasi yang datang dan &lt;br /&gt;2)jenis masyarakat penerima informasi. Penerima informasi memiliki konsep yang berbeda-beda mengenai informasi yang diserap, sesuai dengan pendidikan dan pengalaman masing-masing. Dr Philip Kotler (1931-...), ahli pemasaran, dalam Social Marketing menyatakan bahwa masyarakat menafsirkan informasi sesuai dengan keyakinan dan&lt;br /&gt;nilainilai yang dianutnya. Selain itu, ada saja kelompok yang secara kronis tidak reseptif terhadap informasi karena pengetahuan mereka demikian minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, informasi tidak gampang menyentuh perhatiannya. Respons terhadap informasi meningkat kala dia merasa pesan yang disampaikan melibatkan kepentingannya, atau sesuai dengan sikapnya. Masyarakat,kata Kotler, cenderung menolak informasi yang bertentangan dengan pendapat atau seleranya. Sebaliknya, dia cenderung menyambut gembira informasi yang mengenakkan atau sesuai dengan kebutuhan pikiran dan&lt;br /&gt;perasaannya. Tidak mustahil yang diserap hanya yang bersifat hiburan,ringan, atau bahkan yang merangsang naluri rendah. Kenyataan tersebut mendorong media elektronik TV umumnya menyuguhkan berbagai jenis program dalam satu paket siaran, demi menarik sebanyakbanyaknya penonton. &lt;br /&gt;Ini pun suatu pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan efek siaransiaran televisi terhadap penonton, Dr Juwono Sudarsono, yang juga pakar pendidikan dan komunikasi, pernah mengatakan dalam suatu seminar bahwa masyarakat yang mendapat berbagai macam informasi belum tentu masyarakat yang produktif. Mengutip salah satu edisi majalah bulanan World Monitor, terbitan Christian Science Publishing Society, Juwono kemudian memaparkan tentang sebuah&lt;br /&gt;organisasi yang pernah ada di Amerika, Action for Children Television (ACT; 1968-1992). Organisasi tersebut memperjuangkan agar Kongres Amerika mengupayakan pembaharuan dalam rancangan program-program televisi Amerika. Desakan itu diajukan bukan hanya dalam rangka memperbaiki dan membersihkan siaran-siaran untuk orang-orang dewasa yang sempat ditonton anak-anak, melainkan juga dalam usaha meningkatkan daya saing Amerika menghadapi perekonomian negara-negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena televisi salah satu media pendidikan yang paling efisien dan cost effective, ACT, sebelum dibubarkan pada 1992, pernah menuntut agar anak-anak Amerika pun dididik dan didayagunakan dalam arti luas supaya memahami tempat dan kedudukan Amerika sebagai kekuatan perekonomian dunia. Dengan kata lain, orientasi siaran televisi&lt;br /&gt;hendaknya diarahkan bukan terutama pada hiburan, melainkan pada fungsinya yang utama, yakni `mencerdaskan' masyarakat. Bahwa mediadiharapkan mampu mencerdaskan masyarakat, agaknya umum disepakati.&lt;br /&gt;Betapa besar peran pengelola yang ada di belakang media, umum dimengerti. Seperti kata almarhum Dr Soedjatmoko, yang prihatin menghadapi masa depan, dan kami k u t i p , " Te r k e m b a n g n y a masyarakat informasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, telahmengakibatkan perubahan sosial yang demikian pesat dan mendalam&lt;br /&gt;sehingga melampaui kemampuan penyesuaian kebanyakan lemba ga, termasuk&lt;br /&gt;berbagai sistem politik di dunia. Juga suatu negara pejabat menjadi&lt;br /&gt;ketinggalan karena peningkatan kecerdasan dan kompleksitas&lt;br /&gt;masyarakatnya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retrospeksi wartawan "The press thinks he is Jesus Christ, but he is not." Ucapan yang pernah dilontarkan Jenderal Benny Moerdani (alm)dalam suatu kelompok diskusi itu tidak gampang dilupakan. Bagi wartawan, ucapan itu menyengat, tetapi membuat orang mawas diri.&lt;br /&gt;Apakah wartawan bersikap gagah-gagahan?&lt;br /&gt;Media massa adalah cermin zaman. Wartawan mengungkap situasi zaman.Bukan hanya hasil pembangunan yang diungkap. Struktur hubungan sosial&lt;br /&gt;pada umumnya, jenis-jenis kekuatan/ kekuasaan yang ada, maupun pengaruh tekanan-tekanan institusional dan industri (media) juga&lt;br /&gt;diungkap. Media massa jelas tidak mungkin berdiri sendiri. Untuk mengenalnya, perlu dikenali proses operasionalnya, identitas/ peran wartawan-wartawannya dalam bidang-bidang politik/ ekonomi/budaya dan sosial, apa sumber-sumber kekuatan dan bagaimana aturan main yang dibuatnya maupun yang dibuat orang lain untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa-masa sebelum 1966, idealisme wartawan dianggap menonjol karena&lt;br /&gt;pikiran wartawan belum terpengaruh pertimbangan bisnis.Generasigenerasi lama sering berbangga diri bahwa merekalah anakrevolusi yang punya nyali.Namun, rasanya jauh lebih gampang terjun di media tanpamempertimbangkan sisi bisnisnya. Orang-orang pers atau media massa adalah anak zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejauh apa wartawan larut menjadi anak zaman? Sejauh apa pertimbangan bisnis membuatnya lupa diri? Perhatikan apa yang pernah dikatakan Goenawan Mohamad: "Maklum, di manamana kita melihat mentalitas bayaran--orang-orang politik, birokrat dan pejabat, ahli ilmu, dan wartawan. Apakah itu memang sifat bangsa kita? Saya kira tidak. Saya kira itu sifat setiap bangsa pada saat mereka baru saja menyaksikan hasil-hasil sebuah perekonomian yang bergerak,tapi tak punya kesempatan untuk mempersoalkan benar atau tidaknya mentalitas bayaran itu." Walaupun Goenawan mengatakannya hampir seperempat abad yang lalu, konsep tersebut terbukti masih berlaku sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, wartawanwartawan umumnya, yang mengelola TV khususnya,bisa dipuja atau sebaliknya dicela habis-habisan karena kinerja mereka dan tergantung pada kepekaan nurani, nilai-nilai moral dan kesopanan yang mengawal mereka; selain kelincahan berpikir sesuai dengan perkembangan situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun ke-10 Metro TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-2761607571556625223?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/2761607571556625223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=2761607571556625223&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2761607571556625223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2761607571556625223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2011/02/televisi-cermin-zaman.html' title='Televisi Cermin Zaman'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-677785888015054505</id><published>2011-02-19T20:23:00.000-08:00</published><updated>2011-02-19T20:25:26.493-08:00</updated><title type='text'>Standar Kerja Production House</title><content type='html'>Dalam mengerjakan sebuah program ( baca: company profile), diperlukan sebuah standar kerja yang untuk memberikan gambaran tentang apa yang akan dibuat. &lt;br /&gt;1. Klien&lt;br /&gt;Dalam produksi, klien dapat datang dari personal/ kelompok/ perusahaan ataupun Pemerintah Daerah. Untuk memulai sebuah pekerjaan maka para pihak yang tersebut diatas haruslah membuat kerjsama dalam bentuk tertulis . Kesepakatan antara para pihak sangat penting untuk menjalin kerjasama selanjutnya. &lt;br /&gt;2. Penentuan Tema &amp; Lokasi&lt;br /&gt;-Tema adalah hal yang paling dari sebuah produksi. Untuk melangkah Pihak Pertama memberikan tema apa yang diberikan, dan untuk selanjutnya dari rumah produksi akan mengkajinya lebih dalam tentang apa yang tersangkut dalam tema tersebut.&lt;br /&gt;-Antara para pihak selanjutnya bersama menentukan tempat lokasi dan menentukan kapan akan dilakukan pengambilan gambar.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3. Survey &lt;br /&gt;Setelah lokasi ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah survey lokasi. Survey dilakukan untuk mempermudah lancarnya kegiatan shooting diantaranya :&lt;br /&gt;- Dengan menentukan titik-titik pengambilan gambar maka berbagai &lt;br /&gt;hal yang berkaitan dengan perlengkapan dapat dipersiapkan&lt;br /&gt;-Untuk melengkapi data/ peralatan, maka rumah produksi  harus melakukan pencatatan dalam setiap hal yang diperlukan dalam shooting. &lt;br /&gt;-Tentukan kesepakatan dengan Pihak ketiga tentang siapa narasumber yang berkompeten untuk memberikan informasi/ statement.&lt;br /&gt;Kemudian tentukan kapan jadwal shooting dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Editing Script &lt;br /&gt;Setiap rumah produksi , sebelum terjun ke lokasi shooting, maka buatlah sebuah editing script&lt;br /&gt;Editing script  adalah hal yang dapat membantu crew dalam melakukan tugasnya.&lt;br /&gt;- kameramen: -  dengan membaca story board mereka terbantu dalam pengambilan gambar.&lt;br /&gt;- teknik         : - dengan titik titik yang ditentukan mereka dapat mempersiapkan perlengkapan shooting&lt;br /&gt;Di dalamnya berisi gambaran singkat tentang  situasi yang akan terjadi  dilapangan yang tentunya dapat berubah sesuai dengan perkembangan yang terjadi lapangan.&lt;br /&gt;Sebelum terjun ke lapangan, lakukan koordinasi dengan para pihak tentang script yang telah dihasilkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Shooting &lt;br /&gt;Koordinasi dengan narasumber yang ada di lapangan sehari sebelumnya. Perubahan kondisi dan situasi pada waktu shooting sering terjadi, jangan lupa untuk selalu mencatat &lt;br /&gt;- Ada beberapa hal yang dilakukan saat shooting adalah: &lt;br /&gt;  pengambilan gambar secara umum &lt;br /&gt;  pengambilan gambar secara insert&lt;br /&gt;  wawancara dengan narasumber &lt;br /&gt;   dan berbagai gambar pendukung lainnya&lt;br /&gt;  Editing script yang telah disusun apakah mengalami perubahan, lakukan pencatatan tentang data-data yang telah didapat &lt;br /&gt;.-Jangan lupa untuk mengecek rekaman yang telah dilakukan saat di lapangan, hal ini untuk kepastian hasil yang didapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Naskah&lt;br /&gt;-Naskah adalah  hasil perjalanan dalam shooting yang dituangkan dalam format khusus. &lt;br /&gt;-Naskah ini untuk mempermudah proses editing oleh editor dalam menyusun audio dan video acara tersebut. Di dalam naskah ada narasi perjalanan atau informasi yang akan disampaikan. &lt;br /&gt;-Lakukan pengecekan/ editing dengan pihak ketiga tentang naskah yang telah dihasilkan untuk memberikan kepuasan semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Editing&lt;br /&gt;Hasil shooting yang telah dilakukan selanjutnya akan diedit oleh Editor. Proses editing ditentukan terhadap kesukaran tingkat editing. &lt;br /&gt;Urutan diediting&lt;br /&gt;- naskah dan kaset rushes masuk editing&lt;br /&gt;- capture &lt;br /&gt;- voice over&lt;br /&gt;- edit&lt;br /&gt;- final &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hasil yang maksimal, seorang produser harus melakukan koordinasi dengan editor.&lt;br /&gt;Pihak Ketiga mendapatkan hasil sebuah dvd untuk melakukan pengecekan tentang apa yang telah dihasilkan. &lt;br /&gt;Lakukan revisi untuk memberikan hasil yang maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Recording&lt;br /&gt;Setelah semuannya OK, lakukan Recording. &lt;br /&gt;Recording adalah hal yang dilakukan setelah editing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. FINAL&lt;br /&gt;Pemberian hasil berupa dvd kepada para pihak . Ingatlah lakukan koordinasi dan berkerjasama dengan berbagai pihak untuk memperlancar kegiatan shooting hingga tayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-677785888015054505?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/677785888015054505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=677785888015054505&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/677785888015054505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/677785888015054505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2011/02/standar-kerja-production-house.html' title='Standar Kerja Production House'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-4335431940252791124</id><published>2011-02-19T20:18:00.000-08:00</published><updated>2011-02-19T20:23:02.257-08:00</updated><title type='text'>Bagaimana Membuat Film Dokumenter</title><content type='html'>Mungkin anda bertanya-tanya bagaimana seharusnya seseorang membuat atau memproduksi film dokumenter. Sekarang ini, dengan peralatan yang murah, setiap orang dapat membuat film. Bisa saja benar demikian, namun, seberapa baik hasilnya? Adakah yang bersedia membayar untuk menontonnya?&lt;br /&gt;Berikut adalah beberapa langkah penting yang sangat mendasar dalam membuat film dokumenter:&lt;br /&gt;1) Pastikan bahwa kita mempunyai ide yang orisinil. Telusuri daftar-daftar film di festival internasional (khususnya Hot Docs, Silver Docs, Full Frame dan festival film dokumenter lainnya), Internet Movie Database, Indiewire dan wadah film-film lainnya, untuk memastikan bahwa belum ada film dengan topik yang sama pernah dibuat. Hampir semua film yang dibuat oleh para pemula dapat menarik perhatian para distributor film dari keikutsertaanya dalam festival film. Programer festival biasanya hanya mempunyai sedikit tempat untuk film dokumenter. Pastikan bahwa film kita berbeda dari yang lain. Film-film tentang 9/11, Iraq, dan AIDS adalah film-film yang sudah sangat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2) Baca. Jika belum pernah sama sekali membuat film maka kita harus banyak belajar. Jangan membuat kesalahan-kesalahan yang tidak penting dan akhirnya membuang-buang uang. Luangkan waktu untuk membaca atau mencari cara untuk mendapatkan masukan dari para profesional.&lt;br /&gt;3) Tonton. Carilah tempat-tempat di mana kita bisa menyewa atau menonton film-film dokumenter. Jika menggunakan TV kabel, beberapa saluran (channel) juga dapat menjadi sumber yang baik. Diskusikan film dokumenter favorit bersama teman yang juga menyukai film. Catat hasil diskusi yang penting.&lt;br /&gt;4) Riset. Kita harus tahu bagaimana caranya membuat si subyek benar-benar ‘hidup’ dalam film. Pikirkan itu pada saat membuat treatment? hingga ke tampilannya. Pastikan kita sudah mendapatkan kesediaan dari para nara sumber juga izin lokasi di mana kita akan merekam gambar.&lt;br /&gt;5) Jika hal-hal yang dibutuhkan sudah terkumpul, mulailah menulis treatment. Ikuti format yang sudah ditetapkan dalam menulis treatment?. Cari buku panduan jika membutuhkan bantuan. Ingatlah bahwa karya kita bermula dari treatment.&lt;br /&gt;6) Hitung dan kumpulkan anggaran. Perkirakan berapa wawancara yang akan dilakukan dalam pembuatan film ini, berapa hari yang diperlukan, berapa tim yang akan ikut dalam produksi ini (penata suara, penata kamera, sutradara, editor), perlu tidaknya menyewa alat. Belakangan ini, kebanyakan film dokumenter berformat DVD or DigiBeta. Jangan lupa, izin atau biaya hak cipta dari musik yang akan kita pakai dapat menambah biaya yang cukup lumayan.&lt;br /&gt;7) Tambahkan 30% di rencana anggaran kita, sebagai anggaran tidak terduga.&lt;br /&gt;8.) Cari investor atau pen-donor. Para pemula biasanya mengajak teman atau keluarganya untuk ambil bagian dalam filmnya. Kita bisa mengajukan proposal ke bermacam-macam yayasan yang memberikan bantuan dana bagi pembuatan film dokumenter. Pada umumnya kita harus menunggu 3-6 bulan dari awal pengajuan proposal untuk mendapatkan jawabannya. Jangan memaksakan diri meminjam uang atau menggunakan kartu kredit untuk membuat film.&lt;br /&gt;9) Atau kita bisa juga mempresentasikan treatment kita ke stasiun-stasiun TV yang mempunyai program dokumenter.&lt;br /&gt;10) Produksi film.&lt;br /&gt;11) Putar film kita di kalangan yang mengapresiasi film dokumenter atau kelompok-kelompok yang merupakan target penonton film kita. Evaluasi film kita melalui angket yang disebarkan saat itu, yaitu meminta penonton untuk menuliskan pendapat mereka tentang film kita. Apakah mereka mengerti, bagaimana suasananya dan pertanyan-pertanyaan lain yang kita anggap penting.&lt;br /&gt;12) Tilik kembali evaluasi-evaluasi yang kita dapatkan dan kemudian pikirkan kembali apakah ada yang perlu diubah atau ditambahkan.&lt;br /&gt;13) Ajukan film kita ke festival-festival film yang ada. Bisa dimulai dari festival-festival lokal (daerah) dan nasional.&lt;br /&gt;sumber : http://www.in-docs.org/&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Script atau Skenario!&lt;br /&gt;KESALAHAN yang selalu terjadi ketika pembuatan video tahunan adalah hal fatal yang sebetulnya merusak kesinambungan kerja. Kenapa? Karena tidak ada arsitektur yang terbentuk sebelum produksi. Sehingga produksi layaknya buta, tidak mendasar. HARUSNYA, tanpa skenario, kalian tidak dapat menentukan budget produksi kepada atasan. Kenapa? Ya rancangan juga belom ada, lalu apa yang mau diajukan?&lt;br /&gt;Dalam bukunya “Dongeng Produksi Film Dari Sudut Pandang Manajer Produksi” Karya Tino Saroenggaloe ditulis, “Adalah omong kosong sebuah budget produksi diajukan sementara skenario belum jadi. Itu omong kosong belaka!”. Tapi berhubung tuntutan dari pihak atasan juga saat ini (baca : ketua Buku Tahunan atau pihak Senat/OSIS atau sekolah) kalian harus menentukan budget yang diperlukan, ya sudah apa boleh buat. Tapi berarti disini, kreatifitas kalian akan terpentok masalah dana. Itu yang selalu terjadi, maka mari kita lanjutkan.&lt;br /&gt;Lalu, apa guna skenario dalam sebuah film dokumenter? Ya tentu sebagai arahan dari apa yang sudah kita ambil di lapangan. Inilah keuntungan dari sebuah film dokumenter. Kita bisa maju produksi dulu dengan segala keterbatasan kita, lalu naskah disesuaikan dengan apa yang kita miliki/dapat dilapangan.&lt;br /&gt;Pada produksi-produksi video tahunan ebelumnya, skenario yang ada hanyalah konsep + narasi. Jadi di dalam tabel konsep (di poin sebelumnya), kita lalu menuliskan narasi yang harus dibacakan oleh pembaca narasi. Maka disini gua gak bisa menyajikan contoh-contoh skenario dari tahun-tahun sebelunya. Apa yang mau disajikan? Lha wong gak ada apa-apa. Jika kita mau bicara benarnya, sebetulnya tidak susah, koq. Tapi kebanyakan dari kalian hanya malas. ELO MALAS JUGA?&lt;br /&gt;Lalu bagaimana format skenario video dokumenter? Hehe.. Gini, gini… Bikin tabel 5 kolom. Kolom pertama Nomor Adegan, kolom kedua adalah Visual, kolom ketiga adalah Audio (musik &amp; narasi) sementara kolom ke 5 adalah Durasi. Skenario bisa saja tabel-tabelnya dibuat di komputer, lalu tulisannya ditulis tangan. Tapi apa sulitnya sih diketik dengan komputer?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah contoh dari format tabel standart video dokumenter (Film Dokumenter, Corporate profile, dsb) :&lt;br /&gt; Potongan naskah dari video tahunan Gonzaga angkatan 16 (2005). &lt;br /&gt;Tampak sederhana bukan?! Ya. Tapi inilah yang merancang semua video yang nanti ada. Mungkin memang disini tampak berbentuk garis besar. Tapi inilah yang nantinya akan dikembangkan oleh para panitia pengembang naskah (sutradara, penulis naskah &amp; editor) untuk bisa mengadaptasikan tulisan dan lembaran ini menjadi sebuah karya audio visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-4335431940252791124?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/4335431940252791124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=4335431940252791124&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/4335431940252791124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/4335431940252791124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2011/02/bagaimana-membuat-film-dokumenter.html' title='Bagaimana Membuat Film Dokumenter'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-2321253394171651247</id><published>2011-01-30T21:52:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T21:54:55.457-08:00</updated><title type='text'>Suguhan Infotainmen yang Menjijikkan</title><content type='html'>artikel ini diambil dari detikNews (Senin, 31/01/2011 08:34 WIB)&lt;br /&gt;oleh : Chaidir Anwar Tanjung – &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta - Tayangan televisi memang sangat dibutuhkan untuk bisa melihat perkembangan yang terjadi di seluruh dunia ini tentunya lewat siaran beritanya. Namun kita akan muntah melihat tayangan infotainmen yang menjijikkan itu.&lt;br /&gt;Tayangan hiburan di tanah ini memang sangat merebak. Kabarnya tayangan hiburan seperti sinetron atau tayangan perselingkuhan para artis dapat mendongkrak rating televisi dibanding siaran berita. Pemilik stasiun televisi tidak pedulikan dampak buruk dari tayangan yang selalu mengumbar kebohongan dan mengajari anak bangsa ini untuk berkhayal atas karya Rab Pun Jabi dan sehabitatnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tayangan hiburan seakan sudah melabrak sejumlah aturan sosial yang berlaku bagi kita masyarakat Timur. Tidak sedikit, kisah sinetron kadang menampil cerita asmara yang tidak mendidik. Kisah seorang wanita hamil sebelum nikah, seakan dianggap hal yang biasa. Padahal satu sisi, sampai sekarang ini, anak lahir di luar nikah masih dianggap aib bagi kalangan masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kita juga masih disuguhi dagelan lawakan picisan yang dimainkan para artis. Masih saja, lawakan itu dianggap lucu kalau berbicaranya mengarah ke selangkangan. Padahal melawak bukan harus berbicara seksual atau ungkapan yang menyerempet dalam bahasa yang tak senonoh. Tidak sedikit kita disuguni dagelan porno yang dianggap&lt;br /&gt;menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dagelan kalimat 'kotor' kadang membuat kita gelisah untuk melihatnya. Apa lagi di sekeliling kita ada keluarga yang ikut bersama menonton. Kadang kita terpaksa pura-pura mengalihkan perhatian karena di sebelah ada orangtua, atau mertua kita, atau anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah banyak masyarakat melakukan aksi protes atas tayangan yang dianggap tidak lagi mematuhi tata krama di republik ini. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun tidak berdaya melihat tayangan hiburan yang tidak mendidik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sisi ketika KPI memberikan teguran terhadap siaran infotainmen tadi, dengan mudahnya pemilik siaran mengganti nama program tersebut. Padahal maksud dari teguran itu agar tayangan dapat mengubah tampilan yang lebih elegan dan pantas untuk ditonton semua kalangan. Tapi konyolnya, si pemilik siaran dengan mudah merubah nama programnya. Misalkan, Empat Mata digani nama Bukan Empat Mata. Ini contoh kecil betapa ngeyelnya pemilik siaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga jenis hiburan yang disebut-sebut mengarah ke religi. Tayangan itu juga menampilkan sosok seorang ustadz yang bertugas untuk menobatkan seseorang dari jalan yang sesat. Tapi tetap saja tayangan ini justru menyesatkan masyarakat. Tayangan itu hanya bohong-bohongan yang penuh skenariokan sedemikian rupa. Yang kita kesalkan, mengapa sosok seorang ustadz harus terlibat dalam kebohongan publik itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah kita meminta tanggung jawab moral pemilik televisi di Tanah Air kita. Jangan hanya mengejar rupiah lantas semuanya harus dihalalkan walau melabrak tatanan sosial kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Chaidir Anwar Tanjung, wartawan detikcom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-2321253394171651247?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/2321253394171651247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=2321253394171651247&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2321253394171651247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2321253394171651247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2011/01/suguhan-infotainmen-yang-menjijikkan.html' title='Suguhan Infotainmen yang Menjijikkan'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-8509970727571836208</id><published>2010-11-17T06:52:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T06:57:10.032-08:00</updated><title type='text'>Memahami Karakteristik Media Televisi</title><content type='html'>Pada bagian ini anda akan diajak untuk lebih memahami lebih jauh tentang media televisi, baik itu melalui karakteristik televisi sebagai media massa maupun karakteristik teknis dari televisi sebagai media visual gerak.Pemahaman tentang karakteristik ini dianggap penting, karena dalam karakteristik ini akan dibahas hal-hal yang harus diperhatikan oleh para pengembang program televisi, baik itu sebagai penulis naskah maupun pelaksana produksi.Bagi penulis naskah program televisi, ia akan dapat memilih materi yang cocok untuk ditelevisikan dan memaksimalkan potensi televisi sebagai media. Sedangakan bagi pelaksana produksi ia dapat mengantisipasi hal-hal yang menjadi keterbatasan televisi sebagai media, khususnya keterbatasan dari segi teknis. Oleh karena itu sekali lagi, dengan mengenal secara baik karakteristik media televisi akan membantu dalam mewujudkan suatu program televisi yang bermutu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan dijelaskan satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik televisi sebagai media massa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan penonton film, penonton televisi mempunyai karakteristik yang agak unik, karena masing-masing mempunyai kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Selain itu penonton televisi (broadcast ) tersebar di mana-mana. Penonton televisi boleh dikatakan bebas, artinya sesorang menonton televisi bukan karena paksaan tetapi karena tertarik dengan suatu program tayangan. Mungkin program yang ditayangkan sesuai dengan kebutuhannya, mungkin juga karena tidak ada hiburan lain. Namun sebagai seorang (calon) pengembang program televisi, anda harus menyadari sepenuhnya keaneka ragaman jenis dan sifat penonton ini, karena tidak mungkin kita dapat membuat program yang memenuhi kebutuhan semua khalayak. Untuk mengatasai keaneka ragaman tersebut maka sebaiknya tentukanlah satu kelompok sasaran yang memiliki sifat, karakter dan latar belakang yang sama.&lt;br /&gt;Bila anda sudah menentukan sasaran yang jelas, usahakanlah meraih perhatian mereka semaksimal mungkin melalui setiap gamabar yang terlihat dan suara yang terdengar.  Atau dengan kata lain, setiap gambar , setiap kata dan bunyi yang kita bangun harus ada maksudnya dan mampu menarik perhatian penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-8509970727571836208?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/8509970727571836208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=8509970727571836208&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/8509970727571836208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/8509970727571836208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2010/11/memahami-karakteristik-media-televisi.html' title='Memahami Karakteristik Media Televisi'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-1215130875374061820</id><published>2010-11-03T20:06:00.000-07:00</published><updated>2010-11-03T20:10:36.135-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Menulis Program TV/Video</title><content type='html'>Produksi sebuah program video dan televisi selalu dimulai dari ide atau gagasan yang kemudian dituangkan kedalam sebuah naskah atau script. Naskah merupakan sebuah landasan yang diperlukan untuk membuat sebuah program video dan televisi apapun bentuknya. Penulisan sebuah naskah program video dan televisi yang didasarkan pada sebuah ide biasanya mempunyai tujuan yang spesifik yaitu :&lt;br /&gt;• Memberi informasi (to inform)&lt;br /&gt;• Memberi inspirasi (to inspire)&lt;br /&gt;• Menghibur (to entertain)&lt;br /&gt;• Propaganda&lt;br /&gt;Tulisan ini akan membahas tentang bagaimana menulis sebuah naskah program televisi yang mencakup langkah-langkah yang perlu ditempuh, bentuk naskah, format program dan cara-cara penulisan naskah. Sebelum mempelajari lebih jauh tentang penulisan naskah program video, Anda terlebih dahulu perlu mengetahui fungsi naskah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;FUNGSI NASKAH&lt;br /&gt;Sebuah naskah mempunyai peran sentral dalam produksi sebuah program video dan televisi. Fungsi naskah dalam produksi program video dan televisi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Konsep dasar (basic concept)&lt;br /&gt;• Arah (direction)&lt;br /&gt;• Acuan (reference)&lt;br /&gt;Sebuah naskah adalah ide dasar yang diperlukan dalam sebuah produksi program video. Kualitas sebuah naskah sangat menentukan hasil akhir dari sebuah program. Sebuah naskah pada umumnya berisi gambaran atau deskripsi tentang pesan atau informasi yang disampaikan seperti alur cerita, karakter tokoh utama, dramatisasi, peran/figuran, setting, dan property atau segala hal yang berkaitan dengan pembuatan sebuah program video dan televisi.&lt;br /&gt;Sebuah naskah pada umumnya diganakan sebagai dokumen yang dapat mengarahkan sutradara dan kerabat kerja (crew) dalam bekerja menyelesaikan produksi program video. Naskah sebuah program video berisi beberapa informasi tentang adegan yang melibatkan aktor, setting dan property. Sutradara dan kerabat kerja perlu mematuhi isi dan alur cerita yang terdapat dalam sebuah naskah&lt;br /&gt;Sebuah naskah dapat digunakan sebagai referensi oleh sutradara dan kerabat kerja untuk mewujudkan sebuah ide atau gagasan menjadi sebuah progam video yang komunikatif. Semua upaya kreatif dalam produksi dari sutradara dan kerabat kerja harus mengacu kepada sebuah naskah. &lt;br /&gt;LANGKAH-LANGKAH PENULISAN NASKAH&lt;br /&gt;Langkah penulisan sebuah program video biasanya terdiri dari serangkaian kegiatan yaitu :&lt;br /&gt;• Merumuskan ide&lt;br /&gt;• Riset&lt;br /&gt;• Penulisan outline &lt;br /&gt;• Penulisan sinopsis&lt;br /&gt;• Penulisan treatment&lt;br /&gt;• Penulisan naskah&lt;br /&gt;• Reviu naskah&lt;br /&gt;• Finalisasi naskah&lt;br /&gt;Ide sebuah cerita yang akan dibuat menjadi program video dan televisi dapat diambil dari cerita yang sesungguhnya (true story) atau non fiksi dan rekaan atau fiksi. Banyak sekali sumber ide yang dapat dijadikan inspirasi untuk menulis sebuah script video dan televisi. Misalnya, novel, cerita nyata, dan lain-lain. Film JFK merupakan contoh film yang digali dari peristiwa terbunuhnya salah seorang presiden termuda di Amerika Serikat. Oliver Stone, penulis sekaligus sutradara menggunakan banyak sumber informasi untuk membuat film tersebut sehingga dapat bertutur secara objektif.&lt;br /&gt;Riset sangat diperlukan setelah Anda telah menemukan sebuah ide yang akan dibuat menjadi sebuah program. Riset dalam konteks ini adalah suatu upaya mempelajari dan mengumpulkan informasi yang terkait dengan naskah yang akan ditulis. Sumber informasi dapat berupa buku, koran atau bahan publikasi lain dan orang atau narasumber yang dapat memberi informasi yang akurat tentang isi atau substansi yang akan ditulis.&lt;br /&gt;Setelah memahami hasil riset atau informasi yang terkumpul, anda dapat membuat kerangka atau outline dari informasi yang akan Anda tuangkan menjadi sebuah script. Outline pada umumnya berisi garis besar informasi yang akan Anda akan tulis menjadi sebuah script. &lt;br /&gt;Langkah selanjutnya adalah membuat sinopsis atau deskripsi singkat mengenai program yang akan Anda tulis. Sinopsis dan outline akan membantu memfokuskan perhatian Anda pada pengembangan ide yang telah Anda pilih sebelumnya. Penulisan sinopsis harus jelas sehingga dapat memberi gambaran tentang isi program video atau televis yang akan kita buat.&lt;br /&gt;Menulis naskah harus didasarkan pada rencana yang telah dibuat yang meliputi outline, synopsis dan treatment. Seorang penulis harus memiliki kreatifitas dalam mengembangkan treatment menjadi sebuah naskah. Treatment yang ditulis dengan baik merupakan fondasi yang kokoh yang diperlukan untuk menulis sebuah naskah. Sebuah treatment harus berisi deskripsi yang jelas tentang lokasi,waktu, pemain, adegan dan property yang akan direkam ke dalam program video. Treatment juga menggambarkan tentang sistematika atau sequence program video atau televisi yang akan diproduksi.&lt;br /&gt;Penulisan sebuah naskah harus didasarkan pada treatment yang dibuat. Walaupun dalam menulis naskah penulis dapat melakukan perubahan, tapi sebaiknya perubahan yang dilakukan tidak merupakan perubahan yang bersifat substantif. Perubahan sebaiknya bersifat kreatif dan tidak mengubah substansi program. Oleh karena itu treatment harus kokoh dan jelas. Dalam menulis Penulis harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan naskah yang benar.&lt;br /&gt;Draf naskah yang telah selesai ditulis perlu ditelaah untuk melihat kebenaran substansinya dan juga cara penyampaian pesannya. Draf naskah harus ditelaah oleh orang yang mengerti substansi isi program (content expert) dan ahli media (media specialist).&lt;br /&gt;Finalisasi naskah merupakan langkah akhir sebelum naskah diserahkan kepada produser dan sutradara untuk diproduksi. Naskah final merupakan hasil revisi terhadap masukan-masukan yang diberikan oleh content expert dan ahli media.&lt;br /&gt;BENTUK PROGRAM&lt;br /&gt;Bentuk program dapat diartikan sebagai suatu pendekatan yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau isi program kepada pemirsa (audience). Bentuk program yang digunakan untuk menayangkan program video dan televisi sangat beragam yaitu:&lt;br /&gt;• Drama&lt;br /&gt;• Dokumenter&lt;br /&gt;• Talk show&lt;br /&gt;• Demo&lt;br /&gt;• Musikal &lt;br /&gt;• Quiz&lt;br /&gt;• Features&lt;br /&gt;Drama&lt;br /&gt;Inti dari sebuah program video dan televisi bebentuk drama adalah adanya konflik dari orang – orang yang terlibat (pelaku) di dalamnya. Program berbentuk drama biasanya dimulai dengan mengenalkan karakter dari orang – orang yang terlibat di dalamnya yang kemudian diikuti dengan konflik yang dibangun secara dramatik yang melibatkan para pelaku tersebut. Konflik ini biasanya diselesaikan pada akhir cerita. Penyelesaian konflik pada akhir cerita dapat berupa happy ending atau sebaliknya.&lt;br /&gt;Dokumenter&lt;br /&gt;Dokumenter adalah program yang bercerita tentang suatu peristiwa yang telah berlangsung sebelumnya. Contoh film dokudrama yang kita kenal adalah Pengkhianatan G-30S PKI yang digarap oleh sutradara Arifin C. Noer, Pearl Harbour karya Jerry Bruckheimer dan JFK yang ditulis dan disutradarai oleh Oliver Stone. Film tersebut merupakan contoh – contoh film yang dikemas dengan menggunakan bentuk dokumenter.&lt;br /&gt;Talk Show&lt;br /&gt;Program talk show adalah program yang menampilkan pembicara, biasanya lebih dari satu orang, untuk membahas suatu thema atau topik tertentu. Program dengan format talk show biasanya dipandu oleh seorang moderator. Agar program talk show dapat menarik perhatian audience maka pembicara yang terlibat di dalam program harus memiliki latar belakang yang berlainan, pro dan kontra, terhadap topik yang dibahas.&lt;br /&gt;Demo&lt;br /&gt;Contoh program berbentuk demo adalah program masak memasak atau membuat kue dan tip otomotif. Program demo biasanya membahas resep atau cara yang dipraktekan secara procedural - tahap demi tahap. Melalui program berbentuk demo, pemirsa dapat mempelajari dan menerapkan suatu keterampilan (skill).&lt;br /&gt;Musikal&lt;br /&gt;Program musikal merupakan program yang menampilkan acara musik dan tarian sebagai hiburan. Tentunya Anda sering melihat program musikal yang ditayangkan di stasiun televisi. Banyak kemasan program yang digunakan oleh produser televisi untuk menayangkan program musikal. MTV program misalnya selalu menayangkan klip-klip video musik dari penyanyi terkenal untuk pemirsa kaum muda.&lt;br /&gt;Quiz&lt;br /&gt;Bentuk program lain yaitu quiz. Saat ini kita dapat melihat banyak sekali program TV yang berbentuk quiz. Program berbentuk quiz biasanya berisi tantangan yang melibatkan pesertanya atau bahkan pemirsa untuk menjawab tantangan tersebut. Peserta yang berhasil menjawab tantangan akan memperoleh reward (hadiah) sebagai imbalan. Contoh program berbentuk quiz yang sangat dikenal yaitu Berpacu dalam melodi yang mengharuskan kontestan atau peserta menebak judul atau pencipta sebuah lagu berdasarkan penggalan nada yang dimainkan. Sekarang ini banyak quiz interaktif yang memeneri kesempatan audience terlibat langsung dengan program yang ditayangkan.&lt;br /&gt;Features&lt;br /&gt;Features merupakan program yang berisi segmen-segmen yang dikemas dalam bentuk penyajian yang bervariasi. Sebuah program berbentuk features biasanya membahas suatu topik yang menarik dengan menggunakan beberapa bentuk penyajian atau pendekatan program.&lt;br /&gt;BENTUK NASKAH&lt;br /&gt;Bentuk naskah dapat diklasifikasikan berdasarkan kelengkapan informasi yang terdapat didalamnya yaitu:&lt;br /&gt;• Kerangka naskah (Rundown script)&lt;br /&gt;• Semi naskah (Semi script)&lt;br /&gt;• Naskah penuh (Full script)&lt;br /&gt;Rundown script adalah naskah yang berisi hanya garis besar (outline) dari informasi yang akan disampaikan kepada pemirsa. Sebuah rundown script pada umumnya memerlukan improvisasi dari presenter atau ahli (expert) yang akan muncul didalam program. Semi script adalah naskah yang sudah lebih rinci dari pada rundown script. Sedangkan full script adalah adalah naskah yang berisi informasi lengkap dan rinci tentang program yamg akan diproduksi. Dalam sebuah full script terdapat informasi yang rinci tentang pelaku, adegan. Setting dan property.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Swain, D.V. dan Swain, J.R. (1988). Film Scriptwriting : A Practical Manual. Boston : Focal Press.&lt;br /&gt;Brady, J. (1981) The Craft of the Screenwriter. New York : Simon &amp; Schuster.&lt;br /&gt;Blum, R.A. (1984). Television Writing from Concept to Contract. London : Focal Press&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-1215130875374061820?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/1215130875374061820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=1215130875374061820&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1215130875374061820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1215130875374061820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2010/11/bagaimana-menulis-program-tvvideo.html' title='Bagaimana Menulis Program TV/Video'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-4531601995872344274</id><published>2010-02-13T17:51:00.000-08:00</published><updated>2010-11-03T08:09:22.229-07:00</updated><title type='text'>Mengenal Sistem Televisi Kabel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zYCNBmjfKLk/TNF1101byJI/AAAAAAAAAng/pUllXnSyJpI/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 176px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zYCNBmjfKLk/TNF1101byJI/AAAAAAAAAng/pUllXnSyJpI/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535334984591329426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sering banget kita mendengar orang menyebut soal TV kabel. Apa sih bedanya dengan TV nonkabel?&lt;br /&gt;Siaran televisi (TV) kabel memang sudah menjadi bagian hidup sebagian besar masyarakat Amerika Serikat. Sementara di Indonesia, hal itu masih jadi konsumsi yang cukup mahal. Dengan kondisi: jumlah operator sedikit, hanya terdapat di beberapa kota besar (seperti Jakarta, Medan, Bandung, dan Surabaya), serta jumlah pelanggan terbatas di masyarakat kelas atas. Sebenarnya, seperti apa sih TV kabel itu?&lt;br /&gt;Sesuai dengan namanya, kabel merupakan media penghubung antara operator siaran TV dan pelanggan. Sistem TV kabel yang pertama (dibuat pada tahun 1948) menggunakan kabel jenis twin lead. Kabel ini berbentuk pita seperti yang dipasang pada TV hitam putih. Sistem berikutnya (dibuat tahun 1950) telah menggunakan kabel coaxial. Kabel coaxial tersusun dari konduktor dalam yang diselimuti isolator dan konduktor luar, seperti yang dipasang antara antena dan pesawat TV zaman sekarang. Perkembangan selanjutnya, dimanfaatkan juga jaringan microwave, satelit, dan kabel serat optik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan TV kabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya TV kabel pertama dibangun untuk mengatasi kesulitan menerima siaran televisi yang dialami oleh daerah dengan penerimaan sinyal buruk. Biasanya sebuah antena dipasang di menara yang terletak di puncak gunung atau tempat-tempat tinggi lain di daerah itu. Kemudian, kabel digunakan untuk menghubungkan antena dengan pesawat TV di beberapa rumah sekitarnya. Tahun 1948, Ed Parson yang tinggal di Astoria, Oregon, membuat sistem community antenna television (CATV) dengan media kabel twin-lead dan dipasang dari satu atap rumah ke atap rumah lain. Sementara itu, pada tahun 1950, Bob Tarlton membangun sistemnya di Lansford, Pennsylvania, dengan menggunakan kabel coaxial yang dipasang pada tiang. Ia mendapat hak monopoli di kotanya dan menyiarkan tiga saluran bagi pelanggannya.&lt;br /&gt;Ternyata kesulitan penerimaan siaran televisi tidak hanya terjadi di daerah-daerah terpencil, tetapi juga di kota-kota yang penuh dengan gedung-gedung tinggi. Karena itu, TV kabel juga berkembang di daerah perkotaan. Selain itu, semakin lama tidak hanya sekadar menjadi sambungan ekstensi dari siaran TV lokal saja, tapi sudah mampu memberikan layanan yang dapat menyaingi siaran TV lain.&lt;br /&gt;Melihat perkembangan itu, Federal Communication Commision (FCC) membuat batasan bagi TV kabel untuk menerima siaran televisi jarak jauh. Pada awal tahun 1970, FCC memperkuat kebijakan tadi dengan membuat undang-undang yang membatasi kemampuan operator TV kabel dalam menyiarkan: film, sekilas peristiwa, dan lain-lain. Akan tetapi, pada tahun 1972 dikeluarkan kebijakan deregulasi bertahap untuk TV kabel. Akibatnya, aturan-aturan semakin diperlonggar. Hal itu membangkitkan industri pembuat kelengkapan televisi kabel di tingkat lokal dan federal. Dengan demikian, terjadilah pertumbuhan layanan siaran dan penambahan pelanggan. Penggunaan teknologi microwave, komunikasi satelit, dan kabel serat optik sebagai media tambahan juga meningkatkan pertumbuhan layanan. Selain itu, diperoleh pula peningkatan saluran dengan cara kompresi data video digital.&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri TV kabel muncul pada awal tahun 1990-an. Saat ini sedikitnya ada tiga operator yang masih terpaku untuk melayani kalangan tertentu di beberapa kota besar. Biaya penyambungan dan langganan yang tinggi membuat belum banyak orang berminat menjadi pelanggan. Belum lagi jumlah stasiun televisi yang tampaknya masih dapat memenuhi kebutuhan sebagian besar masyarakat kita. Apalagi dengan munculnya TV-TV lokal yang menambah semarak ragam siaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagram sistem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagram sistem TV kabel dari head-end ke pelanggan ditunjukkan dalam gambar. Headend adalah sumber dari sinyal yang dipancarkan ke sistem kabel. Headend tidak hanya menerima sinyal siaran lokal untuk dipancarkan saja, tetapi juga dapat menerima sinyal-sinyal: siaran dari kota yang jauh, siaran dari satelit, dan dari gelombang microwave. Karena itu, headend dilengkapi dengan perangkat penunjang, seperti menara dan berbagai jenis antena, termasuk antena parabola, untuk menerima siaran dari satelit.&lt;br /&gt;Selain itu, headend bisa mempunyai program siaran sendiri sehingga membutuhkan studio yang memadai untuk menghasilkan program siarannya. Untuk aplikasi ini, headend dapat mengatur sendiri waktu dan saluran yang diperlukan. Adapun waktu dan saluran untuk community access biasanya dipercayakan kepada franchise lokal. Pada umumnya sistem TV kabel tidak dapat melakukan editing kontrol terhadap kualitas atau isi program-program community access.&lt;br /&gt;Sistem kabel terdiri atas dua bagian, yaitu sistem trunk dan sistem distribusi. Sistem trunk berfungsi untuk mengirim sinyal ke kelompok-kelompok pelanggan. Perangkat-perangkat dalam sistem trunk adalah kabel trunk dan trunk amplifier. Trunk amplifier berfungsi untuk menguatkan sinyal yang melemah akibat panjangnya kabel. Ia dipasang pada tiap jarak tertentu. Jumlah amplifier yang dipasang pada kabel dibatasi oleh nilai noise dan distorsi pada amplifier bersangkutan. Kabel yang bermutu baik akan mengurangi jumlah amplifier untuk panjang kabel yang sama.&lt;br /&gt;Sistem distribusi berfungsi untuk mendistribusikan sinyal ke tiap-tiap rumah dalam satu kelompok pelanggan. Antara sistem trunk dan sistem distribusi dipasang interface yang disebut bridger amplifier. Perangkat pendukung sistem distribusi adalah kabel distribusi, line extender amplifier, dan tap. Fungsi line extender amplifier pada sistem distribusi serupa dengan fungsi trunk amplifier pada sistem trunk. Tap berfungsi sebagai titik pengambilan sinyal atau percabangan untuk kabel drop yang dihubungkan dengan perangkat pada pelanggan. Berbeda dengan kabel distribusi yang berstruktur kaku, kabel drop mempunyai struktur yang fleksibel/lentur.&lt;br /&gt;Di rumah pelanggan, keluaran kabel drop dihubungkan dengan TV atau VCR (video cassete recorder). Tetapi, jika TV atau VCR pelanggan tidak dapat menemukan seluruh kanal yang ada (karena VCR tidak kompatibel dengan sistem kabel), diperlukan converter yang berfungsi sebagai interface/penerjemah antara TV dan sistem kabel. Biasanya, converter telah disediakan oleh operator TV kabel. Jika sinyal siaran yang dikirim oleh headend melalui proses pengacakan (scrambling), pada converter harus dipasang descrambler.&lt;br /&gt;Pita frekuensi dan kanal&lt;br /&gt;Pita frekuensi sinyal operasi TV kabel relatif lebar, berkisar 50 MHz sampai dengan 450 MHz, bahkan hingga 1 GHz. Pita frekuensi selebar itu dibagi menjadi banyak kanal. Lebar tiap kanal disesuaikan dengan lebar pita video standar yang sebesar 4,2 MHz. Semakin banyak kanal yang digunakan, semakin lebar pula pita frekuensi yang diperlukan. Kanal-kanal ini dikirim secara serentak lewat kabel. Masalahnya, walaupun sistem TV kabel mempunyai pita frekuensi yang lebar, pesawat TV yang digunakan tidak seperti itu. Karenanya, sistem ini menyediakan beberapa kanal (umumnya kanal 2,3,4,5) sebagai kanal rujukan bagi pesawat TV atau VCR. Di kanal itu pesawat TV berfungsi sebagai monitor dan pemilihan siaran dilakukan dengan mengatur tuner/penala pada converter.&lt;br /&gt;Perkembangan sistem&lt;br /&gt;Munculnya teknologi-teknologi terbaru dan meningkatnya kebutuhan penganekaragaman manfaat sistem TV kabel menyebabkan sistem ini berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangannya terjadi pada perangkat keras maupun lunak. Di antaranya adalah penggunaan gelombang microwave, jika menara penerima siaran jarak jauh terletak jauh dari headend. Jika pemasangan kabel trunk atau distribusi sulit dilakukan atau mahal, maka gelombang microwave dapat digunakan sebagai pengganti.&lt;br /&gt;Munculnya kabel serat optik, yang dapat dipakai pada sistem trunk maupun distribusi, menghasilkan sinyal siaran yang lebih baik karena tahan terhadap gangguan cuaca atau interferensi dari gelombang radio lain. Penggunaan kabel serat optik juga mengurangi jumlah amplifier yang digunakan karena kabel serat optik mempunyai nilai rugi kabel yang rendah. Diterapkannya sistem digital pada perangkat-perangkat siaran maupun pesawat TV juga menimbulkan banyak perubahan. Teknik kompresi video digital membuat kapasitas sistem menjadi lebih tinggi sehingga memperbanyak jumlah kanal. Teknik-teknik Forward Error Correction (FEC) yang dapat memperbaiki kesalahan data akibat noise juga dimanfaatkan untuk mendapatkan laju transmisi yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Yang cukup baru adalah pemanfaatan sistem kabel untuk Internet. Aplikasi ini bisa terjadi jika headend menambah fungsinya sebagai gateway Internet. Headend juga menjadi server untuk layanan web, e-mail, dan e-news. Untuk itu, sistem kabel harus menyediakan kanal dua arah bagi pengiriman dan penerimaan data dengan sistem LAN (Local Area Network). Pengembangan-pengembangan lain sudah tentu harus terus dilakukan, mengingat banyak pesaing yang selalu berusaha menjadi "one stop server/operator" yang dapat memenuhi segala kebutuhan komunikasi sekaligus hiburan bagi pelanggannya. Persaingan bisa muncul dari sistem ponsel dengan TV selulernya yang lebih mobile atau saluran telepon tetap yang dapat dikembangkan menjadi pembawa sinyal siaran video. Dengan kelebihan-kelebihannya, sistem-sistem ini pastilah menjadi pesaing kuat bagi TV kabel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-4531601995872344274?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/4531601995872344274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=4531601995872344274&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/4531601995872344274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/4531601995872344274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2010/02/mengenal-sistem-televisi-kabel.html' title='Mengenal Sistem Televisi Kabel'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zYCNBmjfKLk/TNF1101byJI/AAAAAAAAAng/pUllXnSyJpI/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-2879992802533726700</id><published>2010-02-13T17:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-13T17:49:52.546-08:00</updated><title type='text'>Istilah-istilah dalam Dunia Per-Televisian</title><content type='html'>ACTION yang kita lihat di layar&lt;br /&gt;“ACTION!” aba-aba sutradara untuk memulai shooting&lt;br /&gt;ACTUALITY suara terekam di lokasi – “suara asli”&lt;br /&gt;ANGLE garis spanjang mana  kamera “melihat” subyek – sudut pandang kamera terhadap subyek&lt;br /&gt;ARCHIVE library untuk semua pita video dan naskah&lt;br /&gt;AUDIO suara – bagian dari program &lt;br /&gt;BACKHEADS ringkasan cerita utama sesaat sebelum program berakhir. Juga dikenal sebagai backheadlines&lt;br /&gt;BACK LIGHTING memberi lighting pada subyek dari belakang, baik secara alami (subyek membelakangi matahari) atau dengan lighting buatan&lt;br /&gt;BACK ANNOUNCE Announcement yang dibuat setelah video rekaman atau interview, biasanya seperti : “itu tadi Bapak/ Ibu…”&lt;br /&gt;BARCODE Garis untuk menandai awal dan akhir time code pada cerita&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;BETACAM video tape penyiaran profesional dalam oksida dan metalik&lt;br /&gt;BOOM MIC Mikrofon diposisikan untuk menangkap dialog, suara, dll dari berbagai angle&lt;br /&gt;BRIDGE OR LINK Kata-kata, musik atau cara tertentu untuk menyambungkan segmen-segmen dalam cerita&lt;br /&gt;CALL SHEET lembaran kertas operator kamera, memuat informasi tentang lokasi, konsep cerita, waktu - kapan kru harus bertemu serta beberapa shot khusus yang diperlukan&lt;br /&gt;CAMERA SHOTS Aerials : diambil dari udara&lt;br /&gt;Angle shoot : shooting melalui angle yang tidak biasa&lt;br /&gt;Big close up : Shot kepala. Cukup ketat.&lt;br /&gt;Close- up : biasanya shot kepala dan bahu&lt;br /&gt;Crab : memindahkan kamera dengan menyamping. Disebut juga dengan tracking&lt;br /&gt;Dolly : pergerakan halus kamera menuju atau menjauhi subyek. Biasanya merupakan  alat bergerak&lt;br /&gt;Extreme Close up : shot wajah, misalnya Cuma dari mulut ke mata.&lt;br /&gt;Focus Pull : metode dimana objek/ adegan dijadikan fokus oleh kamera atau perubahan fokus dari foreground menjadi background&lt;br /&gt;High shoot : seringkali disebut top shot, shot dari atas subyek.&lt;br /&gt;Long Shot : shot seluruh obyek (misalnya dari kepala ke kaki)&lt;br /&gt;Medium Close up : shot dimana kepala, bahu dan dada bagian atas memenuhi frame. Dikenal juga sebagai MCU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medium Long Shot : shot kira-kira sepertiga kebawah dari frame paling atas dan terpotong kira-kira sampai lutut.&lt;br /&gt;Medium shot : shot dari kepala sampai pangkal paha&lt;br /&gt;Noddies : shot reaksi dari pewawancara (tidak selalu berupa anggukan). Diperlukan pada saat editing.&lt;br /&gt;Pan : pergerakan kamera ke kiri atau kanan dari posisi diam. &lt;br /&gt;P.O.V : point of view – dimana kamera diibaratkan pada posisi si tokoh cerita&lt;br /&gt;Reverses : Shot pewawancara ketika mengajukan pertanyaan. Dilakukan setelah interview. .dikenal juga sebagai cutaway.&lt;br /&gt;Reverse two shot : Sama dengan diatas, tapi diambil dari over shoulder-nya talent, dengan pewawancara sedang mendengarkan/ mengajukan pertanyaan.&lt;br /&gt;Tilt : pergerakan kamera naik/ turun dari posisi diam&lt;br /&gt;Tracking shots : Shot dari kamera bergerak untuk menjaga subyek yang (juga) bergerak, agar tetap pada posisinya di layar&lt;br /&gt;Two shot : shot pewawancara dengan yang diwawancarai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CANS headphones&lt;br /&gt;CHROMAKEY Suatu metode menyisipkan gambar secara elektronik dari kamera atau sumber gambar ke gambar yang dibuat oleh kamera lainnya, misalnya grafik dibelakang presenter news.&lt;br /&gt;CONTINUITY &lt;br /&gt;CONTROL ROOM Ruangan tempat sutradara mengendalikan studio&lt;br /&gt;COPY Setiap cerita tertulis (lihat : script)&lt;br /&gt;COUNTDOWN  Sejumlah nomer dengan urutan mundur pada awal program&lt;br /&gt;CREDIT &lt;br /&gt;CU Close up&lt;br /&gt;CUE Tanda untuk memulai sesuatu&lt;br /&gt;CUT Pergantian shot secara cepat, dari shot satu ke yang lainnya.&lt;br /&gt;“CUT” Perintah sutradara untuk menghentikan shooting&lt;br /&gt;CUTAWAY Shot “reaksi”, sebuah shot yang dapat menarik perhatian sementara dari adegan utama. Dapat digunakan untuk menutupi lompatan waktu atau memperpendeh sequence (lihat :Reverse Shot)&lt;br /&gt;CUTTINGS LIBRARY Perpustakaan referensi untuk menyimpan kliping suratkabar. &lt;br /&gt;DEEP FOCUS Forground, middle ground dan background diperlihatkan dengan jelas.&lt;br /&gt;DIRECTOR (NEWS) Orang yang bertanggungjawab untuk transmisi dari ruang kontrol. Mungkin juga terlibat dalam pra pengemasan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISSOLVE Transisi dari satu gambar ke gambar yang lain. Disebut juga mix.&lt;br /&gt;DOWNLINK Alur gambar dan suara dari satelit ke stasiun penerima&lt;br /&gt;DOUBLE EXPOSURE  Dua gambar terpisah yang nampak secara simultan di layar. &lt;br /&gt;DUB Menduplikasi suara atau video atau untuk menyisipkan suara tambahan dalam sebuah audio track&lt;br /&gt;DUBBING Penyesuaian antara suara terekam dengan gerakan bibir si aktor atau dengan adegan film(sepertihalnya dengan musik)&lt;br /&gt;EARLY OUT Suatu pilihan mengakhiri lebih awal suatu cerita.&lt;br /&gt;EDITING Memadukan shot2 terpisah di video tape menjadi cerita yang komplit.&lt;br /&gt;ESTABLISHING SHOT Shot yang “membangun” atau yang mengeset adegan.&lt;br /&gt;EYELINE Garis pandang orang ketika melihat sesuatu&lt;br /&gt;FADE IN Dari gelap, shot/ gambar  muncul perlahan-lahan &lt;br /&gt;FADE OUT Gambar perlahan menghilang – gelap.&lt;br /&gt;FEEDBACK Suara “bocor” dari sistem lain ke dalam program&lt;br /&gt;FLOOR MANAGER Orang yang mengendalikan studio dan menyediakan hubungan antara yang diwawancarai dengan ruang kontrol.&lt;br /&gt;FOOTAGE Visual di video tape.&lt;br /&gt;FRAME Satu gambar TV. Ada 25 frame per detik dalam sistem PAL&lt;br /&gt;FREELANCER Kamerawan/ reporter yang bekerja lepasan. Disebut jg stringer&lt;br /&gt;FREEZE FRAME Efek yang didapat dengan menghentikan gambar&lt;br /&gt;FX Singkatan for efek – sound efek seperti suara tembakan, sorakan, burung, dll. Bisa didapat di library (sound)&lt;br /&gt;GRAPHICS Penggunaan seni grafis di televisi. Grafik dibelakang presenter, peta, gambar dll. dalam sebuah cerita. &lt;br /&gt;HAND HELD Shooting tanpa tripod dengan kamera ditangan atau dibahu&lt;br /&gt;HEADLINES Gambar yang dgunakan diawal program news untuk mengilustrasikan cerita utama. Biasanya merupakan bagian dari sekuens judul pembuka.&lt;br /&gt;HIGH KEY Teknik pencahayaan yang membuat setting menjadi sangat terang&lt;br /&gt;INSERT EDIT Teknik yang memungkinkan tambahan video dan/ atau suara terpisah, terkumpul di program yang ada&lt;br /&gt;INTRODUCTION Pembuka untuk memberi gambaran  cerita utama. Dikenal juga dengan intro.     &lt;br /&gt;JUMP CUT Perubahan shot secara tiba-tiba, misalnya menyebabkan perubahan posisi subyek di layar, atau jump dalam hal waktu.&lt;br /&gt;KEY LIGHT Sumber utama pencahayaan dalam sebuah set, yang menggunakan pencahayaan buatan.&lt;br /&gt;LIP SYNC Sinkronisasi suara berbicara dan gambar&lt;br /&gt;LIVE CROSS Peralihan dari presenter di studio dengan reporter di lapangan untuk berita terbaru atau live interview. &lt;br /&gt;LOCATION Semua tempat selain studio atau panggung yang digunakan untuk shooting.&lt;br /&gt;LOW KEY LIGHTING Set dibuat temaram untuk menciptakan ketegangan&lt;br /&gt;MCR Mater Control Room. Lokasi keseluruhan kendali atas input dan output stasiun.Diskenal juga dengan network control.&lt;br /&gt;ROUGH CUT Tahap awal editing, dimana editor menyusun program dari gambar-gambar pilihan. Disebut juga rough edit.&lt;br /&gt;RUSHES Kumpulan2 gambar/ footage yang masih “mentah”&lt;br /&gt;SAFETY Jumlah video yang tersisa antara kata terakhir dan akhir video sebenarnya. Tidak kurang dari 1 detik.&lt;br /&gt;SAT. FEED Satellite feed/ satellite playout.&lt;br /&gt;SCRIPT Cerita tertulis dari program&lt;br /&gt;SECAM Sistem televisi warna, dikembangkan oleh Perancis dan digunakan di beberapa negara&lt;br /&gt;SEGUE Dari cerita satu langsung menuju cerita lainnya, atau dari satu lokasi ke lokasi lainnya tanpa kembali ke presenter.&lt;br /&gt;SEQUENCE Beberapa shot yang diedit bersamaan untuk memberi kesan tindakan yang berlanjut atau memusatkan perhatian pada satu aspek cerita/ adegan &lt;br /&gt;SET Konstruksi buatan, biasanya dikerjakan di studio, yang menciptakan setting seperti kamar atau kota buatan.&lt;br /&gt;SHOTLIST Daftar shot dalam cerita tertentu, untuk membantu pada saat editing dan membuat naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-2879992802533726700?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/2879992802533726700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=2879992802533726700&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2879992802533726700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2879992802533726700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2010/02/istilah-istilah-dalam-dunia-per.html' title='Istilah-istilah dalam Dunia Per-Televisian'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-374975834642829564</id><published>2009-10-10T21:02:00.000-07:00</published><updated>2009-10-10T21:03:29.018-07:00</updated><title type='text'>Sekilas Media Televisi di Indonesia</title><content type='html'>Menekan tombol televisi tidak menunjukkan bahwa saya ingin menonton,&lt;br /&gt;tapi melainkan apa saja……&lt;br /&gt;( Bansinger , Via Morley 1988 : 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi bagai anak pertama dalam keluarga serba menjadi pusat perhatian&lt;br /&gt;( Garin Nugroho , Sutradara film)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi insight&lt;br /&gt;- Program Acara&lt;br /&gt;- Gaya Menonton&lt;br /&gt;- Tingkat Perhatian / Atensi&lt;br /&gt;- Lingkungan / ruang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Introduction&lt;br /&gt;- Televisi baru dikenal di Indonesia tahun 1962, dalam rangka Sea Games IV di Jakarta ------fungsi hanya sebagai perluasan radio saja.&lt;br /&gt;- Mulai 1 Maret 1963 siaran dimajukan dari pukul 19.30-21.30 menjadi 19.00 – 21.30 muncul model Titi Qadarsih iklan skuter Lumbretta-------iklan tv masih dibatasi 15 %.&lt;br /&gt;- 1 April 1981 iklan televisi ditutup total SK MenpenRI/30/1981.&lt;br /&gt;- Televisi sistem kabel muncul Desember 1988 RCTI mengudara radius 80 km persegi.&lt;br /&gt;- 26 Agustus 1990 televisi mengudara secara umum tanpa sewa dekoder dan abonemen, diiringi SCTV lahir di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana orang menonton televisi ?&lt;br /&gt;(Peter Colllett, psikolog Inggris)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menonton televisi orang melakukan apa saja mulai membaca, berbincang-bincang, bercanda, menjahit, merajut, membersihkan sesuatu, mengeringkan rambut, menekan remote mencari channel lain.&lt;br /&gt;Bisa terjadi hal diatas karena :&lt;br /&gt;- Sifat Iklan cermin sifat produknya.&lt;br /&gt;- Sifat khalayak tidak mau disuguhi iklan.&lt;br /&gt;- Posisioning iklan disaat penyiaran dan program acara yg disela.&lt;br /&gt;- Perhatian pemirsa kadang ditentukan orang lain , semakin banyak orang yang menonton perhatian semakin kecil.&lt;br /&gt;- Adegan menarik iklan masuk----kemungkinan iklan dilihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipologi menonton televisi&lt;br /&gt;- Menonton Televisi adalah tindakan menjalin,&lt;br /&gt;dan atau memutuskan ikatan inter personal.&lt;br /&gt;- Menonton televisi adalah mendapatkan beraneka ragaman&lt;br /&gt;pengalaman, bersantai, belajar, bermain, mengasuh dsb.&lt;br /&gt;- Kehadiran suara sbg suara latar ( background noise) menjadikan&lt;br /&gt;- Televisi sbg teman setia.&lt;br /&gt;- Tindakan mengelola kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan Media Televisi&lt;br /&gt;- Efisiensi Biaya&lt;br /&gt;Televisi media yang paling efektif&lt;br /&gt;(jangkauan dibanding media lain seperti Radio, Media Cetak).&lt;br /&gt;- Dampak yang Kuat&lt;br /&gt;Keunggulan kemampuan dilihat dan didengar (audio/visual)&lt;br /&gt;- Pengaruh yang Kuat&lt;br /&gt;Televisi sbg media yang paling kuat di rumah selesai dari kesibukan dan kepenatan meluangkan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan Media Televisi&lt;br /&gt;- Biaya yang Besar&lt;br /&gt;Biaya besar mulai pre-produksi sampai produksi .&lt;br /&gt;- Khalayak Tidak Selektif&lt;br /&gt;Segmentasinya tidak setajam radio atau media cetak.&lt;br /&gt;- Kesulitan Teknis&lt;br /&gt;Iklan –iklan tidak bisa luwes dipindah jam tayang karena kepadatan program acara televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk –bentuk iklan televisi&lt;br /&gt;1. BLOCK TIME&lt;br /&gt;Sebuah produk membeli acara pada jam tertentu dimana otomatis iklan-iklan dominasi produk tsb ( Gebyar BCA, Telkom Mania)&lt;br /&gt;2. SPONSORSHIP&lt;br /&gt;Sebuah produk mensponsori acara tertentu yang karakter produk sama---- Djarum Liga Italia, Inggris.&lt;br /&gt;3. PARTISIPASI / PROMOSI&lt;br /&gt;Iklan masuk pada program acara durasi 5, 15,30,45,60 detik&lt;br /&gt;4. PSA (Public Service Announcement)&lt;br /&gt;Iklan Layanan Masyarakat /Non Komersial.&lt;br /&gt;5. SPOT&lt;br /&gt;Iklan saat acara berlangsung , sebelum dan seudahnya.&lt;br /&gt;6. SUPERIMPOSE&lt;br /&gt;Iklan 10 “ seperti running teks,animasi produk.&lt;br /&gt;7. BREAK BUMPER&lt;br /&gt;Iklan sebelum acara dimulai dan sesudah acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik Visual dalam Iklan Televisi&lt;br /&gt;1. Spokesperson&lt;br /&gt;Seseorang didepan kamera langsung membawa iklan .&lt;br /&gt;2. Testimonial&lt;br /&gt;Seseorang yang dikenal/public figure memberi kesaksian/jaminan suatu produk.&lt;br /&gt;3. Demonstration&lt;br /&gt;Manfaat produk dijelaskan detail ( sabun cuci)&lt;br /&gt;4. Close Up&lt;br /&gt;Close up Indomie yang telah dimasak dan masih terlihat kepulan asap untuk segera disantap.&lt;br /&gt;5. Story Line&lt;br /&gt;Mirip teknik membuat film pendek/ komik strip . Kronologis sebuah produk dgn gaya tutur iklan mirip sepenggal film.&lt;br /&gt;6. Direct Product Comparison&lt;br /&gt;Perbandingan dua produk langsung.&lt;br /&gt;7. Humor&lt;br /&gt;Gaya ini disukai copywriter tapi beresiko kalau penggarapan humor kelewatan ----- citra/image produk.&lt;br /&gt;8. Slice of Life&lt;br /&gt;Penggalan dari adegan sehari-hari bisa di kantor,rumah,mal .&lt;br /&gt;9. Customer Interview&lt;br /&gt;Gaya reporter (Datang di lokasi wawancara ttg produk)&lt;br /&gt;10.Vignettes atau Situations&lt;br /&gt;Iklan dengan sejumlah orang sedang menikmati produk(makanan,minuman,permen) dengan tambahan suasana yang mendukung mis. Adegan minum , musik , dan gerakan slow motion pd waktu minum.&lt;br /&gt;11.Animation &lt;br /&gt;Animasi kartun .&lt;br /&gt;12.Stop Motion&lt;br /&gt;Iklan muncul tiba-tiba stop motion terus gerak lagi.&lt;br /&gt;13.Rotoscope&lt;br /&gt;Gabungan Animasi dgn gambaran nyata.&lt;br /&gt;14.Combination&lt;br /&gt;Gabungan dua atau tiga teknik diatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-374975834642829564?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/374975834642829564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=374975834642829564&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/374975834642829564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/374975834642829564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2009/10/sekilas-media-televisi-di-indonesia.html' title='Sekilas Media Televisi di Indonesia'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-2997247901658731196</id><published>2009-07-13T21:24:00.000-07:00</published><updated>2009-07-13T21:26:57.679-07:00</updated><title type='text'>Industri Televisi Kita</title><content type='html'>Saat kampanye lalu, para calon presiden dan calon wakil presiden hampir tidak ada yang membicarakan perkembangan media, terutama televisi.Kita juga tidak cukup memberi perhatian pada perkembangan industri televisi yang kini berjalan bak berprinsip neoliberal, menyerahkan perkembangan industri sepenuhnya kepada pasar bebas. Perkembangan ini perlu dikoreksi karena bertentangan dengan UUD 1945 dan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan lainnya.&lt;br /&gt;Sistem politik yang demokratis seharusnya mengubah sistem media yang otoriter represif dan sentralistis ke arah demokratis dan desentralistis. Namun, yang terjadi adalah perpindahan ke dalam dominasi segelintir pemodal dan pemilik stasiun televisi. Perpindahan ke sistem otoriter dan dominasi baru kelompok swasta sama bahayanya dengan dominasi negara. Inilah yang kita sebut jalan neoliberal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi ini, pemilik stasiun televisi yang menggunakan ranah publik dapat menggunakan stasiun televisinya untuk kepentingan pribadi. Demikian juga keseragaman isi yang banyak dikritik masyarakat adalah akibat sentralisme siaran televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kepemilikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah pemusatan kepemilikan stasiun televisi dapat dilihat secara terbuka. Pada Juni 2007, diketahui melalui pasar modal, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC) menguasai 99 persen stasiun RCTI, 99 persen Global TV, dan 75 persen TPI. Melalui media juga dapat dibaca rencana penggabungan antara Indosiar dan Surya Citra Media Tbk (SCTV) sehingga sebuah badan hukum menguasai dua stasiun televisi di satu daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dinyatakan Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI) dalam somasinya terhadap pemerintah pada 29 Oktober 2007, hal itu adalah peristiwa yang melanggar undang-undang yang membatasi satu orang atau badan hukum menguasai beberapa lembaga penyiaran, paling banyak memiliki dua izin penyelenggaraan penyiaran televisi yang berlokasi di dua provinsi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat saja, kepemilikan televisi dibatasi berdasar jangkauannya. Seseorang boleh memiliki banyak stasiun televisi selama jumlah nation’s TV homes yang dijangkau (jangkauan terhadap penduduk yang mempunyai akses) tidak lebih dari 39 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Indonesia, berdasar data Media Scene 2006-2007, jangkauan setiap televisi swasta dengan puluhan stasiun relai membuat 60-90 persen penduduk dapat mengaksesnya. Jumlah ini jauh lebih besar daripada yang diizinkan di Amerika Serikat. Apalagi bila menguasai lebih dari satu&lt;br /&gt;lembaga penyiaran yang memiliki puluhan bahkan ratusan stasiun relai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pemberitaan, kita juga mengetahui adanya jual beli lembaga penyiaran. Seharusnya pengalihan penguasaan frekuensi yang merupakan public domain diatur oleh negara dan didistribusikan secara tepat, adil,dan merata berdasar prinsip keanekaragaman. Industri televisi berbeda dengan industri sepatu, tidak dapat dilepas begitu saja ke pasar yang&lt;br /&gt;dikuasai pemodal besar tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DPR melalui Komisi I, dalam rapat kerja 15 September 2008, pernah tegas meminta agar pemerintah membatalkan izin yang diberikan kepada sebuah perusahaan yang dinilai melanggar undang-undang. Selain itu, dalam rapat kerja Komisi I dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (17/3/2008),&lt;br /&gt;pemerintah didesak menyelesaikan pengaturan penggunaan frekuensi dan penyelenggaraan penyiaran swasta, termasuk masalah monopoli, kepemilikan TV, dan radio, agar sesuai dengan undang- undang penyiaran, yang mengacu pada prinsip diversity of ownership dan diversity of content.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, anggota MPPI sendiri, sejak Juli hingga Oktober 2008,mendaftarkan ke pengadilan tiga gugatan terhadap pemerintah yang dianggap membiarkan pelanggaran hukum. Salah satu gugatan menyangkut kepemilikan sebuah perusahaan terhadap tiga lembaga penyiaran sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk gugatan ini, perdamaian melalui pengadilan telah dicapai, yaitu setiap pihak secara bergandeng tangan akan menegakkan peraturan perundang- undangan. Namun, hingga kini, belum ada perkembangan berarti.Tampaknya pemerintah tidak keberatan terhadap merger yang berdasarkan&lt;br /&gt;pendapat banyak pihak melanggar peraturan perundang-undangan di bidang penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ada arti sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dulu negara mengooptasi pelaku usaha untuk kepentingan rezim, kini dikhawatirkan kooptasi dilakukan pelaku usaha terhadap birokrat hanya untuk kepentingan bisnis dan melupakan kepentingan masyarakat. Kita menerima ekonomi pasar, tetapi yang selalu diperbaiki dan dikontrol oleh&lt;br /&gt;negara terutama hal-hal yang terkait ranah publik, pencerdasan bangsa,dan usaha kecil. Ekonomi pasar harus mempunyai arti sosial, inilah yang disebut ekonomi pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan, pemerintahan mendatang menghindari jalan neoliberal,melakukan langkah tegas dalam membangun sistem penyiaran yang demokratis. Sebuah sistem yang melahirkan keragaman isi dan kepemilikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Amir Effendi Siregar Ketua Dewan Pimpinan Serikat Penerbit Suratkabar&lt;br /&gt;(SPS) Pusat; Dosen Komunikasi Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-2997247901658731196?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/2997247901658731196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=2997247901658731196&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2997247901658731196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2997247901658731196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2009/07/industri-televisi-kita.html' title='Industri Televisi Kita'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-4959270002267980103</id><published>2009-02-10T22:08:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T22:10:07.674-08:00</updated><title type='text'>Renungan Hari Pers Nasional</title><content type='html'>Oleh Sirikit Syah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amplop Media di Tahun Pemilu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja KPU memasukkan anggaran Rp 1,09 miliar untuk pos honorarium peliputan media. Ini pun hanya sebagian dari anggaran Rp 4,7 miliar untuk anggaran peliputan dan dokumentasi Pemilu 2009 yang dibuat oleh KPU.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, mengapa KPU menganggarkan biaya peliputan? Bukankah peliputan media bukan wilayah kerja KPU, melainkan tugas rutin pers?&lt;br /&gt;Mungkin terjadi kesalahan pembahasaan. Mungkin maksudnya biaya penyebarluasan informasi, sosialisasi, sarana media centre, dan sejenisnya. Kalau ini, masuk akal dan mudah diterima. Tetapi, memberi honor kepada wartawan untuk peliputan media? Benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;Tak hanya membingungkan, ini polusi bagi integritas wartawan. Wartawan yang terus-menerus diingatkan untuk menegakkan kode etik, di antaranya dilarang menerima amplop, oleh KPU malah diiming-imingi honor meliput! Jangan-jangan pers cuma dipakai namanya, tetapi anggarannya akan dibelokkan atau dibocorkan ke mana-mana. Korps berpotensi wartawan dikorup.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang istilah "amplop" ini agak sumir. Wartawan nakal sering berkata: "Kami tidak terima amplop. Amplopnya kami kembalikan, isinya saja kami bawa." Ada juga wartawan canggih yang tak pernah bersinggungan dengan ''amplop'', namun nomor rekening banknya sudah di tangan sekretaris narasumber di pos peliputan. Wartawan baik-baik juga sering kebingungan ketika menerima suvenir bolpoin, payung, atau ditraktir makan di restoran mewah. "Ini amplop atau bukan ya?" demikian hati nurani mereka bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahannya terletak pada pembahasaan tentang ''amplop'' di berbagai Kode Etik Jurnalistik. KEJ versi Dewan Pers 2006 pasal 6 menyebutkan: "Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap." Narasumber dapat dengan mudah meyakinkan bahwa ''amplop'' pemberiannya bukan suap, karena dia tak memaksakan pemuatan. Wartawan juga yakin dia tidak menyalahgunakan profesinya, karena laporannya tidak terpengaruh oleh ''amplop'' pemberian narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kode Etik Jurnalistik versi AJI juga mengandung kesalahan serupa. Pasal 14 menyebutkan: "Jurnalis tidak dibenarkan menerima sogokan". Ada penjelasan dari kata "sogokan", yaitu "semua bentuk pemberian berupa uang, barang, dan atau fasilitas lain, yang secara langsung atau tidak langsung dapat memengaruhi jurnalis dalam membuat kerja jurnalistik" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini juga kurang tegas karena ada unsur ''memengaruhi' '. Artinya, bila wartawan tidak terpengaruh, pemberian bukan sogokan. Kode Etik Ikatan Jurnalis Televisi Indoensia (IJTI) berbunyi, "Jurnalis televisi Indonesia tidak menerima imbalan apa pun berkaitan dengan profesinya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pantauan penulis atas berbagai versi kode etik jurnalistik, KEJ PWI boleh dikata yang paling jelas maksudnya. Wartawan Indonesia, menurut Kode Etik PWI, tidak menerima imbalan untuk menyiarkan atau tidak menyiarkan berita, tulisan, atau gambar yang dapat menguntungkan atau merugikan suatu pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ini sering saya jadikan landasan pemahaman tentang makna ''amplop'' di dunia pers. Hanya ada dua jenis ''amplop'' yang secara tegas dapat dilarang, yaitu ''amplop'' perintah pemuatan dan ''amplop'' pelarangan pemuatan. Yang pertama biasanya digunakan untuk promosi diri, propaganda, atau black campaign kepada pihak lawan. Yang kedua digunakan untuk mencegah tersebarnya skandal, untuk menyembunyikan kebusukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan proses pemilu, ''amplop'' tak hanya menggoda wartawan ujung tombak yang bertatap muka dengan narasumber dan subjek pemberitaan. ''Amplop'' lebih besar tentu saja masuk ke wilayah iklan, yang dilegalkan UU Pemilu dan tidak melanggar kode etik apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah akan terjadi tarik ulur antara divisi iklan dan divisi redaksi. Ada kemungkinan isi iklan berbeda dengan fakta lapangan, yang berarti tidak sinkron dengan isi berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dikatakan pemilu tahun ini akan terjadi banyak pemborosan, sebagian besar anggaran itu terserap di media massa, khususnya di ranah iklan. Oleh sebab itu, jelas kurang beralasan bila KPU menambah anggaran dengan honor liputan. Ini pemborosan uang rakyat yang luar biasa. Pelaku media massa mestinya mewaspadai dan bersikap kritis atas anggaran-anggaran yang diatasnamakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja kita dihadapkan pada fakta adanya daftar anggaran bagi wartawan di lingkungan Dinas Perhubungan yang diduga korupsi. Disebutkan terdapat sekitar 14 wartawan yang menerima amplop Rp 10 juta setiap bulan, dengan kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 750 ribu per wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita tak boleh begitu saja menuduh para wartawan terlibat korupsi. Pertama, daftar itu belum tentu asli. Bisa saja aspal, yaitu namanya asli tapi tanda tangannya dipalsukan. Praktik semacam ini banyak dilakukan di lingkungan kantor pemerintahan, dan pernah penulis alami sendiri semasa menjadi wartawan pada 80-an. Waktu itu terbukti tanda tangan wartawan dipalsukan oleh seorang kepala humas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, dengan pengalaman mengenyam kebebasan pers selama sepuluh tahun, penulis percaya dan optimistis bahwa wartawan Indonesia semakin meningkat kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu wartawan seangkatan penulis tidak pernah belajar berbuat salah -karena sebelum salah sudah disemprit oleh Bakortanasda, yakni banyaknya pencegahan pemuatan alias sensor- wartawan masa kini banyak melakukan kesalahan, dan itu amat baik bagi penempaan kualitas mereka. Mereka babak belur dikecam korban kesalahan pemberitaan, bahkan digugat di pengadilan, atau diancam dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benturan-benturan semacam ini mendewasakan wartawan Indonesia. Mudah-mudahan persoalan klasik tentang ''amplop'' ini segera punah dari ranah pers Indonesia. Ujiannya sekarang: Tahun Pemilu Indonesia 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sirikit Syah, pengajar jurnalistik dan analis media di Surabaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;http://jawapos. com/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-4959270002267980103?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/4959270002267980103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=4959270002267980103&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/4959270002267980103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/4959270002267980103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2009/02/renungan-hari-pers-nasional.html' title='Renungan Hari Pers Nasional'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-6741022158361737064</id><published>2009-02-10T22:04:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T22:07:39.500-08:00</updated><title type='text'>Catatan Hari Pers Nasional</title><content type='html'>Wartawan Perjuangan yang Murni dalam Lima Tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Dahlan Iskan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBACA koran naik drastis di Amerika Serikat, tapi pembeli koran turun drastis. Demikian juga ''pemirsa laptop'' naik drastis dan pemirsa tv turun drastis. Untuk kali pertama dalam sejarah media, pelantikan Barack Obama sebagai presiden ke-44 AS pada 21 Januari lalu lebih banyak ditonton lewat laptop daripada lewat pesawat televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naiknya pembaca koran lewat internet dan meningkatnya pemirsa laptop untuk peristiwa besar telah menyusutkan pendapatan iklan kedua jenis media itu. Belum ada usul bagaimana mengatasi ancaman terhadap televisi itu, tapi mulai ada wacana agar perusahaan koran yang mengalami kesulitan keuangan akibat krisis global ini juga di-bailout oleh pemerintah AS. Apalagi, di AS amat terkenal kredo ''lebih baik tidak ada pemerintah daripada tidak ada koran". Kalau perusahaan mobil saja di-bailout, mengapa pilar demokrasi ini tidak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan lain, TV lokal di AS kini mulai bisa mengalahkan jaringan nasional -khususnya untuk tv berita. Ini karena berita yang nasional-nasional akan menjadi garapan empuk jaringan internet yang dengan lebih mudah ditonton di laptop. Sedangkan naiknya pembaca koran secara elektronik menimbulkan kesulitan besar: pembaca membayar bukan kepada perusahaan koran, melainkan ke provider internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan koran belum menemukan cara yang memadai untuk mendapatkan penghasilan dari hasil perubahan cara baca itu. Memang berita koran -terutama dari koran yang reputasinya baik- lebih dipercaya daripada sumber yang bukan dari koran, tapi tetap saja pengguna internet telanjur terbiasa sejak awal dulu bahwa sesuatu yang di internet itu gratis. Padahal, untuk mendapatkan kepercayaan bahwa ''berita koran itu lebih bisa dipercaya" memerlukan biaya. Kelak, kalau semua pembaca koran tidak mau membayar ongkos untuk melahirkan ''berita koran lebih dipercaya" itu? Dari sinilah awalnya mengapa ada wacana bailout untuk surat kabar. Bahkan, sudah ada yang mewacanakan bahwa surat kabar itu kelak dianggap saja sama dengan rumah sakit atau universitas: universitasnya demokrasi dan rumah sakitnya demokrasi. Atau, mungkin mirip rumah sakit yang sekaligus teaching university. Koran bisa seperti RS Tjiptomangunkusumo atau RS dr Sutomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ditemukannya bagaimana cara ''membayar" itu antara lain karena selama ini memang tidak pernah dipikirkan. Kalau toh terpikirkan, barulah yang caranya juga tradisional: siapa yang mengakses koran harus berlangganan. Ini tidak efektif karena psikologi isi internet itu gratis. Baru sekarang ini, sekarang ini, bingung. Yakni, setelah terjadi krisis finansial global yang ternyata juga melanda perusahaan surat kabar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grup surat kabar terkemuka di dunia Chicago Tribune sudah menyatakan bangkrut. Bisa dibayangkan nasib koran yang lebih lemah. The New York Times yang begitu hebat, sedang di ambang jurang yang sama. Utangnya yang hampir jatuh tempo mendekati Rp 40 triliun, sedangkan dana yang siap baru Rp 4 triliun. The New York Times mengalami krisis dana cash yang luar biasa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa selama ini tidak dipikirkan cara yang ampuh untuk menghubungkan agar pemanfaatan isi koran lewat internet itu bisa menghasilkan pendapatan bagi perusahaan koran? Jawabnya jelas: perusahaan koran sudah seperti perusahaan pada umumnya: "mabuk" pasar modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan koran berlomba mengumumkan semakin tingginya angka hit terhadap koran mereka. Kian banyak orang mengklik kian bangga -meski itu mencerminkan semakin dijauhinya koran edisi cetak mereka. Dengan menggalakkan edisi on line, perusahaan koran itu sebenarnya sudah mendorong agar pembaca meninggalkan edisi cetak. Bertahun-tahun dorongan itu dilakukan dan hasilnya sangat ''baik": kian banyak orang yang pindah ke on line. Baik menurut ukuran ekonomi saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tingginya angka hit sebuah koran, performance mereka di pasar modal semakin baik. Harga sahamnya pun naik drastis. Kenaikan harga saham setiap tahun inilah yang dikejar. Mengejar kenaikan harga saham melalui peningkatan hit di on line lebih mudah daripada memperbesar sirkulasi surat kabar. Usaha memperbesar sirkulasi koran secara tradisional sangatlah sulit: pelaksananya bukan hanya harus pintar, tapi juga harus bekerja keras. Termasuk bekerja keras mengeluarkan keringat di pasar sejak pukul 03.00. Dari segi pemasaran, perusahaan koran tidak ada bedanya dengan tukang sayur: sudah harus ada di pasar sejak sebelum subuh. Sedangkan meningkatkan ''sirkulasi" koran lewat on line meski juga harus pintar, tapi lebih mudah: bisa dikerjakan di ruang AC dengan tidak harus bercucuran keringat. Kalau bisa meningkatkan harga saham dengan cara mudah, mengapa harus melakukannya dengan cara susah payah? Toh, sistem ekonomi pasar di AS saat itu memungkinkan berkembangnya ekonomi yang tidak perlu riil seperti itu dengan penuh gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gairah yang ''memabukkan" . Maka, ketika tiba-tiba terjadi krisis keuangan dan hal-hal yang tidak riil tidak bisa lagi dijual, bangunan megah itu ternyata seperti rumah-rumahan dari styrofoam: terbang terbawa angin ribut. Ketahuanlah bahwa jumlah pembaca koran yang naik terus itu sebenarnya diikuti dengan turunnya oplah. Iklan pun merosot drastis. Pengguna on line sudah telanjur dibiasakan tidak membayar. Harga saham koran seperti New York Time terjun bebas: kini sudah mendekati kategori junk bond.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia belum ada koran raksasa yang mengalami kesulitan -karena selama ini mereka itu sebenarnya memang belum pernah benar-benar jadi raksasa. Belum ada koran raksasa yang terjun ke pasar modal. Baru ada tiga koran yang masuk bursa: TEMPO, Republika dan -melalui induk perusahaannya- Seputar Indonesia. Performa harga saham dua koran pertama tidak pernah tinggi -dan karena itu tidak bisa anjlok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan performa koran ketiga sulit dinilai karena yang masuk bursa bukan koran itu sendiri, melainkan induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dikata, belum ada perusahaan koran di Indonesia yang "mabuk" pasar modal. Sudah ada memang yang baru ingin mau ''mabuk", tapi sudah keburu ada krisis: Jawa Pos. Jawa Pos sudah lama mempersiapkan diri masuk pasar modal, tapi selalu ditunda karena ragu-ragu akibat baik-buruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran di Indonesia juga masih punya waktu kira-kira lima tahun untuk menghadapi ancaman on line itu. Mengapa lima tahun? Jawabnya ini: akhir tahun depan pembangunan Palapa Ring tahap pertama selesai. Yakni, penanaman jaringan fiber optic sejauh 3.000 km di banyak kota di Indonesia. Dengan jaringan fiber optic yang demikian luas, koridor untuk on line sangat leluasa. Akses internet akan mengalami percepatan yang menggila. Apalagi, kalau Palapa Ring sudah terbangun sempurna lima tahun lagi. "Jalan tol" di bawah tanah itu akan jauh meninggalkan kelancaran jalan tol yang di atas tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun ke depan ini adalah tahap yang amat menentukan bagi koran di Indonesia. Maju atau mati. Karena itu, Hari Pers Nasional yang diperingati hari ini menyisakan pertanyaan besar: bagaimana wartawan bisa tetap hidup bersama korannya. Wartawan akan terus hidup, tapi akankah dia kerja gratisan untuk pembacanya di on line? Jangan-jangan itulah saatnya yang disebut era wartawan perjuangan, yakni wartawan yang berjuang menegakkan keadilan, kebenaran dan demokrasi, membela yang tertindas, membongkar kejahatan termasuk korupsi, dan melakukan kontrol sosial yang kuat -tanpa jelas siapa yang harus memberi gaji setiap bulan. Kalau itu terjadi, itulah baru yang disebut "wartawan perjuangan" yang murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Selain sebagai Chairman Jawa Pos Group, Dahlan Iskan adalah ketua umum SPS Pusat (Serikat Penerbit Surat Kabar). Catatan ini menyambut Hari Pers Nasional 2009 yang diperingati hari ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;http://jawapos. com/halaman/ index.php?act= detail&amp;nid=51308&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-6741022158361737064?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/6741022158361737064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=6741022158361737064&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/6741022158361737064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/6741022158361737064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2009/02/catatan-hari-pers-nasional.html' title='Catatan Hari Pers Nasional'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-3071064980700435373</id><published>2008-11-10T23:36:00.000-08:00</published><updated>2008-11-10T23:39:10.035-08:00</updated><title type='text'>Pemakaian Istilah Asing dan Kata Serapan di Media Massa di Indonesia</title><content type='html'>/1/&lt;br /&gt;Beberapa waktu belakangan ini ada sebuah kata yang dapat dikatakan populer atau dikenal luas dalam komunikasi resmi maupun sehari-hari. Kata yang dimaksud di ini adalah kata event, yang kemungkinan besar marak sebagai akibat dari merebak atau munculnya sejumlah event organizer di Indonesia pada tahun 1990-an, hingga kini. Kenyataan ini sesungguhnya dapat dikatakan sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja sekiranya kata event yang mempunyai makna (1) ‘peristiwa, kejadian’, dan (2) ‘pertandingan, perlombaan’ (3) itu diposisikan dan dipakai oleh banyak orang sebagaimana mereka memanfaatkan kata-kata asing semacam computer, cyber, internet, dan go public.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari aspek pemakaiannya, kata event tersebut adakalanya memang dipergunakan oleh berbagai kalangan dengan tepat tetapi kerapkali pula dipakai secara semena-mena—istimewanya dalam pengucapan yang berimbas pada penulisan. Tidak terhitung lagi jumlahnya, orang kebanyakan—bahkan juga petinggi negara maupun pejabat pemerintah lainnya—mengucapkan event (dalam bahasa Inggris) laiknya even (dalam bahasa Inggris juga) yang mempunyai makna berbeda. Yang sangat memprihatinkan, kecerobohan pemakaian ini juga dapat dijumpai dalam penulisan di media-media massa, meskipun kata event itu telah dicoba diindonesiakan atau malahan telah dianggap sebagai khazanah bahasa Indonesia dengan mengubah penulisannya. Sekadar contoh, dua kutipan berikut diharapkan dapat memberi gambaran.&lt;br /&gt;Mereka rutin punya even, untuk menyalurkan bakat anak muda, baik bidang nyanyi, fashion show, seni tari tradisional dan banyak lagi even lainnya yang berbau remaja. (”Rindu Event Remaja,” Banjarmasin Post. 2 0ktober 2004, h. 13; cetak tebal oleh penulis, IW)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ini diawali dengan pemukulan shuttle cock sebagai tanda dimulainya iven bergengsi tersebut. Iven ini juga dihadiri oleh mantan pemain bulutangkis nasional antara lain Alan Budikusuma dan Budi Santoso. (”Sroyer Buka Kejuaraan Bulutangkis Pulmon Cup III 2004,” Cahaya Papua, 26 Juli 2004; cetak tebal oleh penulis, IW)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pemakaian kata “even” pada kutipan pertama tampaknya merupakan suatu upaya mengadopsi kata event—seperti terlihat dari judulnya—ke dalam khazanah bahasa Indonesia dengan penyesuaian dalam hal penulisan. Cara menuliskan “even” yang merupakan pengindonesiaan dari kata event itu sesungguhnya merupakan suatu penulisan yang benar sebagaimana diatur dalam “Garis Haluan Penggantian Kata dan Ungkapan Asing” butir 9.2 yang berbunyi “Penyerapan melalui penyesuaian ejaan dengan mengutamakan bentuk tulisannya. Hasil penyerapan ilu dilafalkan secara Indonesia”‘. (5) Yang menjadi masalah, bukan dalam segi penulisannya itu melainkan dalam pengucapannya, sebagaimana dikehendaki oleh ketentuan termaktub. Penulisan kata “even” (pada kutipan pertama), sesuai dengan pelafalan Indonesia, seharusnya memang diucapkan sebagai [even] atau [even] dan bukan [iev- n] sebagaimana pengucapan untuk kata “iven”.&lt;br /&gt;          Namun, yang lebih perlu dipersoalkan di sini adalah landasan pemilihan kata “even” atau “iven” itu sendiri. Mengapa harus kata itu yang dipilih dan bukan, misalnya, “perlombaan” atau “pertandingan”? Mungkinkah penyebabnya adalah semacam rasa rendah diri atau rasa kurang modern yang dilandasi atas kesalahan dalam memahami pembaca-sasaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/2/&lt;br /&gt;          Pertanyaan yang baru saja dilontarkan ini sangat bisa dimengerti jikalau dalam sebuah tulisan terdapat kata atau sejumlah kata asing yang dipakai secara paksa dan kurang tepat. Dengan pengertian lain, pemakaian kata atau kata-kata asing itu sesungguhnya merupakan sesuatu yang boleh jadi mubazir lantaran apa yang diwakili oleh kata atau kata-kata asing itu pada galibnya sudah ada dalam khazanah bahasa Indonesia. Hanya saja, barangkali dirasakan adanya nada “norak”, “kampungan”, atau sekadar “biasa-biasa saja”, dalam kata yang disembunyikan itu sehingga dicarilah kata atau istilah asing yang dikira akan memberikan suatu nuansa atau citra yang lebih mutakhir, masa kini, atau modern. Judul-judul yang berbunyi “Peralatan-Anggar The Best,” (Manado Post, 28 Agustus 2004), “Akbar Mengaku Welcome” (Fajar, 7 Agustus 2004), “Special Price dari Executive” (Tribun Timur, 7 Agustus 2004), “Pameran dan Indonesia City Expo 2004: Surabaya Sebagai Meeting Point” (Surya, 7 Agustus 2004), misalnya, dengan penulisan yang tidak memedulikan kaidah penulisan yang lazim, bukankah dapat merepresentasi rasa-rasa rendah diri atau kurang modern itu? Mengapa untuk “Peralatan Anggar The Best” tidak ditulis saja dengan misalnya “Peralatan-Anggar Terbaik” atau “Special Price dari Executive”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak dinyatakan dengan “Harga Khusus dari Executive”, misalnya? Demikian pula dengan contoh-contoh lainnya, niscaya dapat dicari padanannya dalam bahasa Indonesia dengan nuansa yang tidak kalah modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh yang baru saja dinyatakan ini dapat dikatakan sebagai hanya terjebak kepada suatu pengungkapan yang cenderung “gagah-gagahan”, yang sangat mungkin juga didasari faktor latah. Artinya, karena media yang lain tampak berlomba menggunakan kata-kata asing, media yang tidak mampu mengontrol diri dalam hal memanfaatkan pilihan kata Indonesia akan dengan mudah terjerembab juga dalam pemakaian kata-kata asing seperti telah dinyatakan dalam contoh-contoh di atas. Masih lumayan bahwa cara menuliskan kata-kata asing itu terbebas dari kesalahan penulisan, sebab tidak sedikit media massa cetak yang sepertinya tidak peduli dengan penulisan kata-kata asing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh berikut merupakan semacam bukti bahwa keteledoran atau kecerobohan dalam penulisan kata-kata asing sangat biasa dan sering terjadi, yang bisa saja disebabkan oleh kemasabodohan atau tidak berfungsinya bagian penyuntingan pada media bersangkutan. Judul yang berbunyi “Jadikan Pelanggan Sebagai Bozz” pada rubrik “Bisnis Harian” dari koran Rakyat Merdeka (29September 2004) jelas-jelas menunjukkan kecerobohan alih-alih kekreatifan. Hal yang sama dapat dijumpai pada judul dari koran dan tanggal yang sama, misalnya, yang berbunyi “Authorize Ban Lansiran Bridgestone”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerobohan lain yang biasa terjadi sebenarnya bukan sebatas pada judul-judul saja; pada tubuh karangan sangat sering kita jumpai penulisan yang salah. Mungkin kita lebih baik berharap saja, bahwa kesalahan yang terjadi lantaran kekurangcermatan saja dan bukan karena ketidaktahuan. Sebab, jika ketidaktahuan yang ternyata ada, kenyataan semacam itu tentu sangat memprihatinkan. Dengan begitu, keterangan yang menyatakan bahwa salah seorang anak Amien Rais “mendapatkan beasiswa di National University Singapore jurusan Mess Media Communication”—huruf tebal dan penulis, IW—seperti terungkap dalam koran  Rakyat Merdeka, 27 September 2004, semestinya berbunyi “mendapatkan beasiswa dari National University of Singapore jurusan Mass Media Communication. Contoh yang lain, pernyataan Adjie Massaid dalam tabloid Star edisi 12-18 September 2004 yang berbunyi ” …, Zahwa menjawab. ‘Miss you to, Papa.’…” mudah-mudahan yang dimaksudkan adalah “…Zahwa menjawab, ‘Miss you too, Papa.’ …”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/3/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak selamanya setiap bahasa mempunyai kata atau istilah yang serba lengkap. Karena kenyataan yang sedemikian itulah maka kegiatan pinjam-meminjam kata di antara bahasa-bahasa di dunia ini biasa terjadi. Namun, kendati dimungkinkan adanya pinjam-meminjam kata itu, tentu ada seperangkat aturan yang harus ditaati. Selain itu, kekonsitenan di dalam penerapan atau penulisan juga merupakan suatu pertanda apakah ketaatasasan sudah dilaksanakan, atau apakah keintelektualan telah dipakai sebagai titik tolak untuk melakukan suatu penyerapan kata. Sayang sekali, sejumlah media massa di Indonesia masih banyak yang asal-asalan dalam menerapkan kata atau istilah yang berasal dari kosakata asing itu, tanpa perlu meralat sesudahnya, bahwa tindakan semacam itu merupakan cela dalam berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul-judul yang berbunyi “Persib Konfiden, PSIS Pressure Ketat” (Indo Pos, 14 September 2003), “kover yang eye-catching” (Bintang Millenia, No. 184, Minggu V, April 2003), dan “Tak Ketinggalan Aksesori &amp; Spare Part” (Rakyat Merdeka, 27 September 2004) merupakan contoh betapa kekonsitenan merupakan sesuatu yang tampaknya tidak dipedulikan. Dan lebih dari sekadar ketidakkonsistenan yang ada, persoalan pada judul-judul yang dipakai sebagai contoh kasus ini, memperlihatkan suatu tindak berbahasa yang sangat amburadul dan—seperti sudah disebutkan di bagian awal tulisan ini—kerendahdirian dalam berbahasa. Mengapa harus memakai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata “konfiden” kalau kita mempunyai kata “percaya diri” yang mungkin lebih dipahami pembaca? Mengapa harus memakai kata Inggris “pressure” dan apa yang dimaksud dengan “PSIS Pressure Ketat”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, mengapa harus memakai kata “kover” untuk “sampul depan”. Sementara “eye-catching” tetap dibiarkan sebagaimana penulisan dalam bahasa Inggris? Dan juga untuk contoh ketiga, mengapa “spare part” tetap dipertahankan dan tidak diganti dengan ‘’suku cadang” misalnya, padahal kata “aksesori” sudah dipakai untuk menggantikan kata asing “accessory”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pemakaian kata atau istilah asing seringkali pula masih dipertahankan karena istilah itu—khususnya—bertautan dengan sejumlah kode (kultural, sosial, dan semacamnya) dan tidak serta-merta dapat dialihbahasakan. Banyak contoh dapat dipakai untuk menjelaskan gejala ini, tetapi berikut ini hanya akan dikemukakan beberapa saja. Contoh pertama, istilah “baby boom“‘ dalam “Sebagai bagian dari generasi baby boom yang mengalami masa remaja pada era 1960-1970-an, dia sadar akan dua hal: politik juga manisnya dunia komersial” yang dimuat dalani Tempo, 26 September 2004, agaknya sengaja dipakai karena ungkapan baby boom tidak mudah untuk dialihbahasakan secara tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kedua, judul yang berbunyi “Kecantikan dengan Aroma Therapy” (Fajar, 7 Agustus 2004), sangat mungkin lebih dipahami oleh pembaca daripada jika istilah “aroma therapy” itu diganti atau diindonesiakan dengan misalnya “penyembuhan melalui wewangian” atau ungkapan yang lainnya.&lt;br /&gt; /4/&lt;br /&gt;          Merupakan suatu kenyataan bahwa kita—sebagai penutur bahasa Indonesia— tidak dapat melepaskan diri dari pergaulan dengan bahasa-bahasa lain. Kata atau istilah asing sangat boleh jadi “terpaksa” harus kita pakai karena kita memang tidak mempunyai tradisi atau kegiatan, dan yang lainnya, sebagaimana dipunyai atau dilakukan oleh bangsa lain. Olahraga bungy jumping contohnya, adalah suatu jenis olahraga yang datang dari luar. Dalam kaitan ini, hal yang patut kita lakukan adalah mencoba membuat istilah baru yang sepadan dengan karakteristik olahraga itu. Maka ketika ada yang mengusulkan—saya lupa, entah siapa—istilah “lompataja” untuk olahraga itu, maka sudah lahirlah istilah baru dan kekayaan kosakata bahasa Indonesia pun bertambah. Kreativitas semacam inilah yang kita perlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Namun, tidak ada gunanya juga sekiranya kita sudah mencoba mencari kata atau istilah baru tetapi hanya kita simpan di dalam hati. Sosialisasi merupakan kemestian, dan media massa merupakan wahana yang tepat untuk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Makalah ini dibentangkan dalam acara diskusi bahasa yang diselenggarakan oleh majalah Tempo bekerja sama dengan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) di Hotel Gran Melia, Rabu, 6 Oktober 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pengajar sastra, penulisan populer, dan penyuntingan pada Fakultas llmu Pengetahuan Budaya (d/h Fakultas Sastra) Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) John M. Echols dan Hassan ShadiSy, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT Gramedia, 1992. h. 220.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Kata even dalam bahasa Inggris mempunyai banyak arti, di antaranya adalah (1) ‘rata. datar’, (2) ‘lelap, mantap’, (3) ’seri’, (4) -genap’, (5) ‘lengkap’, dan (6) ‘tenang, yang jelas sekali tidak rnemperlihatkan pertalian alau asosiasi rnakna dengan kata event. Ibid’ 5) Dendy Sugono, penyunting utama, Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing, Jakarta; Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan “Nasional, 2003, h. 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lbnu Wahyudi &lt;br /&gt;Universitas Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-3071064980700435373?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/3071064980700435373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=3071064980700435373&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/3071064980700435373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/3071064980700435373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/11/pemakaian-istilah-asing-dan-kata.html' title='Pemakaian Istilah Asing dan Kata Serapan di Media Massa di Indonesia'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-1666149126820113747</id><published>2008-11-10T23:31:00.000-08:00</published><updated>2008-11-10T23:35:14.926-08:00</updated><title type='text'>Ekonomi Bahasa, Ciri Bahasa Media Massa</title><content type='html'>“Tiket nomor 65 silakan ke teller 6.” Demikian suara dan mesin bicara yang terdengar di sebuah bank. Lalu, seseorang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja teller 6. Transaksi pun terjadi. Usai transaksi, nasabah itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan teller yang juga tersenyum manis. Beres dengan nasabah tadi,  sang teller memencet tombol di mejanya. Terdengarlah kembali suara dari mesin bicara, “Tiket nomor …..silakan ke teller 6? Demikian seterusnya.&lt;br /&gt;Sepintas  tidak ada masalah dengan kalimat yang keluar dari mesin bicara itu. Namun, kadang-kadang saya sering ingin tertawa sendiri bila mengingat kalimat tersebut. Bayangkan, tiket atau karcis yang kita kenal sebagai benda mati kok disuruh menemui teller. Seharusnya, bila ingin memanggil orang—bukannya tiket—kalimat  tersebut berbunvi, “Pemegang tiket nomor 65 silakan ke  teller 6.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seharusnva memang demikian. Namun, perlukah kita meminta pihak bank untuk mengubah kalimat pada mesin bicara itu? Toh, selama ini, para nasabah tidak berkeberatan dipanggil sebagai benda mati. Mereka—termasuk saya—akan langsung bangkit saat nomor tiket yang dipegang disebutkan oleh mesin bicara. Artinya, kita  bisa mengerti maksud kalimat  yang keluar dan mesin bicara itu. Artinya pula, kalimat tersebut sudah efektif walaupun secara logika bahasa bisa dikatakan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat tersebut dipandang efektif karena dapat dimengerti oleh para nasabah. Bahkan, hingga saat ini, tidak ada satu pun yang merasa tersinggung walaupun dianggap sebagai benda mati. Pokoknya, maksud kalimat tersebut telah sampai kepada  para nasabah. Bukankah prinsip dasar komunikasi adalah ide/pesan dari komunikator bisa sampai dengan baik kepada audiens (pendengar/pembaca) dan direspons sesuai dengan isi ide/pesan vang disampaikan?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh tersebut menunjukkan bahwa kalimat yang tidak lengkap pun bisa saja efektif sebagai media komunikasi. Kondisi-kondisi seperti itu mungkin yang menjadi cikal bakal munculnya istilah ekonomi bahasa—atau  bahasa yang ekonomis—dalam ragam bahasa jurnalistik. Asal pesan atau ide bisa sampai kepada audiens, bahasa yang digunakan sebagai media bisa dikatakan efektif. Akibatnya, banyak kaidah bahasa vang terabaikan.&lt;br /&gt;Ragam bahasa jurnalistik, katanya, memang bercirikan kalimat-kalimat yang singkat namun harus jelas. Hal itu disebabkan terbatasnya ruangan pada media-media massa. Benarkah demikian? Khusus untuk media cetak seperti surat kabar pada zaman baheula hal itu bisa dimaklumi. Saat itu, teknologi media cetak masih tertinggal sehingga lebih banyak straight news yang disajikan surat kabar. Jadi, kalimat-kalimat yang digunakan dalam berita itu memang harus singkat/pendek namun tetap jelas. Jadi, jangan heran apabila para jurnalis (Indonesia) dulu mengesampingkan masalah kebahasaan. Bagi mereka, yang penting pesan/ide bisa sampai kepada pembaca secara jelas dan dapat direspons sesuai dengan keinginan mereka.&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana halnya pada masa sekarang? Apakah masalah-masalah kebahasaaan masih bisa dikesampingkan? Ketika teknologi berkembang demikian pesat dan berbagai kemudahan telah didapatkan, apakah para jurnalis akan terus bermasa bodoh terhadap masalah kebahasaan? Sudah saatnya, kalangan media massa memerhatikan masalah kebahasaan yang menjadi modal utamanya. Media massa sebaiknya kini tidak hanya memandang kepentingannya sendiri, tetapi juga memerhatikan kepentingan lain seperti kepentingan perkembangan bahasa dan pendidikan kebahasaan. Artinya, media massa sudah selayaknva tidak hanya mementingkan ide/pesan yang ingin disampaikan, tetapi medianya (baca: bahasa) pun mendapat perhatian yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, perhatian media-media massa terhadap masalah kebahasaan sudah mulai terwujud. Pada umumnya, media massa kini sudah memiliki lembaga kebahasaan walaupun kewenangannya masih sangat terbatas. Hal itu terbukti dengan masih banyaknya kesalahan kebahasaan pada penerbitan-penerbitan pers. Kesalahan-kesalahan tersebut terjadi bukan karena ketidakmampuan orang-orang yang berada di lembaga kebahasaan tersebut, melainkan karena kewenangan mereka yang terkalahkan oleh kebijakan-kebijakan redaksional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, di sini, saya tidak ingin “bercerita” tentang kewenangan lembaga bahasa yang kurang kuat di lingkungan penerbitan pers. Saat ini, sesuai dengan tema pertemuan kali ini tentang ekonomi bahasa, saya ingin menyorot kesalahan-kesalahan kebahasaan yang terjadi dan berkaitan dengan masalah ekonomi bahasa. Namun, tunggu dulu, apakah yang dimaksud dengan ekonomi bahasa itu. Masih tepatkah istilah ekonomi bahasa itu? Apakah kata ekonomi di sini bisa disejajarkan dengan kata penghematan atau pengiritan,  sesuai dengan kaidah ragam bahasa jurnalistik yang harus singkat dan jelas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada praktiknya ternyata para jurnalis lebih senang menggunakan bahasa yang berbunga-bunga. Akibat penggunaan bahasa berbunga-bunga para jurnalis itu, sering tejadi kesalahan dalam penyusunan kalimat yang sangat berlawanan dengan prinsip ragam bahasa jurnalistik itu. Cukup banyak kata yang mubazir dalam kalimat-kalimat mereka. Berikut, contoh-contoh penggunaan kata mubazir yang sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Penggunaan  kata  hanya dan saja yang  sering  dipakai  bersama  dalam  satu  kalimat. Hanya …..saja…; Hanya korban tewas  saja yang cercatat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Penggunaan  kata  yang  berlebihan  (pleonastis);  Posisi  Persib  tetap  tak beranjak di tempat  terbawah; Sebelumnya, dia naik ke atas menara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Pengunaan taksonomi yang tidak tepat; musibah banjir, musibah longsor, minuman bir,  minuman sirup; mobli pikap, mobil sedan. Lebih parah lagi sering tertulis juga Ibu Kota Jakartu, Ibu Kota Bagdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Penggunaan  kata  walaupun dan  namun dalam satu kalimat; Walaupun Persib menang, namun posisinya terap tak beranjak di tempat terbawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.   Kata depan yang dianggap mubazir (versi H. Rosihan Anwar); bahwa, adalah, telah, akan, untuk, dan, daripada, dll. (Perlu dicatat, penghilangan kata-kata depan tersebut pada konteks-konteks kalimat tertentu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kesalahan-kesalahan yang terjadi berkaitan dengan ekonomi bahasa adalah pada penghilangan unsur-unsur bahasa sehingga menyalahi kaidah kebahasaan dan membuat kalimat menjadi rancu. Misalnya, pada kalimat yang keluar dan mesin bicara di bank seperti yang telah disebutkan terdahulu. Penghilangan ansur-unsur tersebut bukan hanya pada kata, melainkan terjadi juga pada tanda baca seperti tanda titik pada singkatan nama dan gelar. Pada tataran kata, yang sering terjadi adalah penghilangan kata yang sebenarnya merupakan idiom. Misal: sesuai dengan menjadi  sesuai, sehubungan dengan menjadi  sehubungan,  bergantung pada/kepada menjadi bergantung/tergantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, terasa lucu, saat para jurnalis mengatakan bahwa ragam bahasa jurnalis itu singkat dan jelas namun pada kenyataannya justru berbunga-bunga dan sering melantur. Sering juga, dengan alasan penghematan atau ekonomi bahasa, kaidah-kaidah kebahasaan dilabrak begitu saja. Nah, sebagai “orang-orang bahasa” yang terlibat di dunia pers, bagaimana tanggung jawab kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tendy K. Somantri&lt;br /&gt;Pikiran Rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah ini disajikan pada Diskusi FBMM 2Mei 2002 di Pikiran Rakyat Bandung&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-1666149126820113747?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/1666149126820113747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=1666149126820113747&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1666149126820113747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1666149126820113747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/11/ekonomi-bahasa-ciri-bahasa-media-massa.html' title='Ekonomi Bahasa, Ciri Bahasa Media Massa'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-5606587794026516195</id><published>2008-11-10T23:27:00.000-08:00</published><updated>2008-11-10T23:30:12.560-08:00</updated><title type='text'>Bahasa Jurnalistik</title><content type='html'>1.  Bahasa Indonesia Jurnalistik&lt;br /&gt;Naskah jurnalistik TV dan radio disebut hear copy, atau naskah untuk didengar. Sementara untuk media cetak disebut see copy. Perbedaan ini membawa konsekuensi pada perbedaan cara menulis berita. Walau bahasa televisi disebut bahasa lisan atau bahasa tutur, namun kaidah berbahasa tetap mengacu pada bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu harus memenuhi tiga unsur penting yakni:&lt;br /&gt;•  Lazim: Kata-kata yang dipilih ialah kata-kata yang biasa digunakan sehari-hari namun tetap menjaga kepatutan berbahasa dan sopan santun.&lt;br /&gt;•  Berkaidah: Kalimat yang disusun haruslah berdasarkan ketentuan yang berlaku dalam bahasa. Kita misalnya mengenal EYD dan Kamus Umum Bahasa, dalam menjadi acuan berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;•  Komunikatif: Kalimat yang disampaikan oleh presenter atau reporter tidak berbeda maknanya dengan apa yang diserap oleh pendengar dan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;II. Panjang Kalimat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa sebenarnya panjang kalimat yang bisa diserap oleh pemirsa. George Fox Mort dalam New Survey of Journalism meneliti bahwa penonton televisi dapat menyerap dengan baik 160 kata dalam satu menit. “Bila penonton kehilangan titik vital dia tidak dapat meminta penyiar untuk mengulanginya. Karena itu ulangi rincian yang penting supaya penonton memahami secara yakin. Jangan terlalu banyak menggunakan kata sifat. Karena kata sifat cenderung menyembunyikan fakta,” kata Mort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk survei tersebut, Melvin Mencher dalam News Reporting and Writing menganjurkan agar satu kalimat tidak boleh lebih dari 17 kata. Lebih dari 17 kata biasanya kalimat sulit dipahami dan tidak komunikatif lagi. Kalimat berikut saya ambil dari naskah Insan Kamil (Pagi 06/10/00) tentang bangunan SD yang rusak di Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/ SEKITAR 132 MURID SDN SUKARAHAYU 02 DI KECAMATAN TAMBELANG BEKASI/ TERPAKSA MELAKUKAN AKTIVITAS BELAJAR MENGAJAR/DI SEKOLAH YANG KONDISI BANGUNANNYA SANGAT BURUK// ATAP GEDUNG YANG BERLUBANG DENGAN TIANG PENYANGGA YANG KEROPOS/MEMBUAT PARA SISWA DAN GURU YANG  BERTUGAS/SELALU KHAWATIR AKAN AMBRUKNYA BANGUNAN SEKOLAH/Mr roti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kalimat di lead berita ini mencapai 22 kata. Sebenarnya lead ini dapat kita sederhanakan menjadi” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/ MURID-MURID SD SUKARAHAYU 02/ TAMBELANG/ BEKASI TERPAKSA BELAJAR DI BANGUNAN SEKOLAH YANG KONDISINYA SANGAT BURUK// ATAP GEDUNG YANG BERLUBANG DAN TIANG PENYANGGA YANG KEROPOS MEMBUAT MEREKA SELALU KHAWATIR/ JIKA BANGUNAN TERSEBUT AMBRUK// &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin kembali mengingatkan 10 pedoman penulisan naskah televisi dari Melvin Mencher:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Jangan menulis sebelum Anda benar-benar memahami peristiwa yang Anda tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Jangan menulis sebelum Anda mengetahui benar-benar apa yang ingin Anda tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Perlihatkan, jangan ceritakan!. (Show, don’t tell!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Tempatkan kutipan yang baik di tengah berita Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Gunakan  kata  benda  berwujud  (concrete  noun)  dan  kata  kerja  aktif secara bervariasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Tempatkan anekdot dan ilustrasi di tengah cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.  Hindarkan  penggunaan  kata  sifat  yang  berlebihan  dan  letakkan  kata  bantu (adverb) dekat kata kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.  Biarkan fakta berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.  Jangan  tampilkan pertanyaan-pertanyaan yang Anda sendiri tidak dapat menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Tulislah dengan gaya bahasa yag sederhana. Rangkum dalam beberapa kata, sopan dan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. Beberapa Kesalahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sampai jumpa dan salam SCTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikian saudara tayangan … minggu ini. Kita bertemu lagi dalam tayangan yang sama dalam topik yag berbeda, pekan depan. Sampai Jumpa dan salam SCTV”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata seperti jumpa pada sampai jumpa dan salam SCTV seharusnya ditambah ber-sehingga menjadi berjumpa. Kata jumpa merupakan bentuk prakategorial, sama halnya dengan temu dan sua yang tidak pernah berdiri sendiri. Pernahkan Anda mendengar sampai sua lagi, atau sampai temu lagi? Jika tidak, begitu juga dengan kata sampai jumpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melakukan Unjuk Rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/ 150 ORANG KARYAWAN RESTORAN SIZZLER/ MELAKUKAN AKSI UNJUK RASA DI KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN TENAGA KERJA/JAKARTA PUSAT HINGGA PUKUL SATU/DINI HARI TADI// MEREKA MENUNTUT PERUSAHAAN UNTUK MENAIKAN UANG SERVIS/ DARI 40 RIBU RUPIAH MENJADI 250 RIBU RUPIAH PER KARYAWAN/Vtr roll…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead berita ini saya ambilkan dari berita Lita Hariyani (Lip 6 Pagi 06/10/00). Tipe melakukan unjuk rasa adalah kesalahan yang kerap kali terjadi pada penulisan naskah berita kita. Sebenarnya  melakukan + (pe - an) dapat kita singkat menjadi kata kerja tunggal dengan tambahan awalan me atau ber. Melakukan unjuk rasa bisa menjadi berunjuk rasa atau melakukan penangkapan menjadi menangkap, melakukan penyitaan menjadi menyita dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalan me dan ber sudah bermakna melakukan sesuatu. Sehingga jika kita menggunakan kedua awalan ini maka tidak perlu lagi kita menggunakan kata melakukan. Fungsi konfik pe– an dalam kata penangkapan, penyitaan dsb. adalah untuk membuat kata benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan kata kerja melakukan ditambah kata benda, tidak dapat membuat kalimat itu menjadi aktif, sebagaimana dianjurkan dalam menulis hard news.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemboman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/ KAPOLDA  METRO  JAYA/  INSPEKTUR  JENDERAL  NURFAIZI/ BERSYUKUR PELAKU PEMBOMAN YANG AKAN MELEDAKKAN GEDUNG SARINAH DAN  KEDUBES  AMERIKA  SERIKAT/  BERHASIL  DIBEKUK  SEBELUM MELAKSANAKAN NIATNYA TERSEBUT// SEDANGKAN TERHADAP MOTIF DAN PELAKU SERTA AKTOR INTELEKTUAL BERBAGAI KASUS PEMBOMAN Dl WILAYAH HUKUM METRO JAYA/ DIAKUI POLDA MASIH DALAM PENYELIDIKAN// &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead berita ini saya ambil dari berita Nina Waskito (Liputan 6 Petang 24/09/00). Hampir dua pekan sejak bom di gedung BEJ meledak, berita kita diramaikan oleh berita “Pemboman”. Benarkah kata pemboman menurut  kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata dasar yang bersuku satu seperti bom, cat, las, pel, sah, tes, dan cap apabila mendapat awalan meng- (untuk membuat kata kerja) berubah menjadi menge-. Demikian juga dengan imbuhan peng- akan menjadi penge-, sehingga kata-kata pemboman akan menjadi pengeboman dan membom menjadi mengebom. Kecuali kata bombardir dia akan menjadi membombardir, sebab bombardir merupakan kata kerja yang memiliki tiga suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menyomasi dan Pengkaplingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50 PENGACARA Dl PALEMBANG/ MENSOMASI 76 PIHAK/ YANG DIDUGA TERLIBAT DALAM PEMBAGIAN. DANA BANTUAN SOSIAL SEBESAR 2,2 MILIAR RUPIAH KEPADA 74 ANGGOTA DEWAN SUMATERA SELATAN// ATAU MESKI PERSOALAN KEAMANAN SEPENUHNYA MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB POLRI/ NAMUN PIHAK TNI TETAP MEMBANTU PELAKSANAAN PENGAMANAN// UNTUK MEMPERJELAS POSISI TNI TERSEBUT DIPERLUKAN ATURAN HUKUM//MENURUT USODO HAL TERSEBUT  DITUJUKAN AGAR TIDAK TERJADI PENGKAPLINGAN ANTARA TNI DAN POLRI Dl LAPANGAN// …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua di atas adalah berita Ajmal Rokyan dari Palembang dan Dyah Kusuma dari Polkam. Saya ambilkan sesuai dengan naskah asli (Pagi 04/10). Kata-kata dengan fonem awal k/p/t/s apabila mendapat awalan peng- atau meng- akan luluh, sehingga kata-kata seperti somasi menjadi menyomasi bukan mensomasi. Begitu juga dengan kata kapling akan menjadi pengaplingan bukan pengkaplingan. Perkosa akan menjadi memerkosa apabila mendapat awalan me-, bukan memperkosa. Kata target akan menjadi menargetkan bukan mentargetkan, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kata-kata dengan fonen k/p/t/s tidak luluh apabila kata dasar merupakan unsur serapan dari bahasa asing dan belum ada padanannya atau belum dimdonesiakan. Misalnya: mentransfer, mensurvei dll.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Namun, tetapi, meski, dan walau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan lain pada contoh pada paragraf Dyah Kusuma di atas adalah penggunaan kata meski dan namun dalam satu kalimat. “Namun” menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia sudah bermakna “walaupun demikian” atau “meskipun demikian“, sehingga jika kita menggunakan kata namun, kita tidak lagi menggunakan tetapi, meski atau walaupun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, meski dan tetapi berfungsi sebagai kata penghubung. Dengan demikian ruas kiri sebagai anak kalimat, ruas kanan pun sebagai anak kalimat sehingga induk kalimatnya tidak ada. Karena itulah kalimat-kalimat itu tidak tergolong kalimat yang baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 6. Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Indonesia baku tidak dikenal akhiran -nya. Penggunaan akhiran –nya dipengaruhi oleh ragam bahasa lisan Jawa dan Sunda. Dua contoh di bawah ini diambil dari berita Abbas Yahya (Pagi 04/10) dan Olivia Rosalia (Siang 05/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/ LEMAHNYA KONTROL PERTAMINA DALAM PENDISTRIBUSIAN MINYAK TANAH HINGGA PADA TINGKAT AGEN/ MEMBUAT HARGA MINYAK TANAH PADA TINGKAT PENGECER JAUH DI ATAS HARGA ECERAN TERTINGGI YANG DITETAPKAN PEMERINTAH///&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPKG](***PKG***)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI PARA ANGGOTA TNI DAN POLRI/ BERJUANG MEMBELA NEGARA/ HINGGA TETES DARAH TERAKHIR/ ADALAH KEBANGGAAN TIADA TARA// KARENANYA TERPAKSA BERHENTI BERTUGAS KARENA MENGALAMI CACAT FISIK/ SEWAKTU MENJALANKAN KEWAJIBAN/ ADALAH HAL YANG MENYEDIHKAN// BAHKAN/ BISA MEMUTUSKAN SEMANGAT HIDUP MEREKA//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua contoh di atas menunjukkan penggunaan akhiran -nya. Lemahnya kontrol Pertamina, bisa dibuat dengan kalimat baku menjadi Kontrol Pertamina yang lemah. Kata karenanya, juga bisa diganti oleh karena itu atau karena itu, sehingga kalimat di atas bisa diubah menjadi kata, “Karena itu mereka terpaksa berhenti bertugas karena mengalami cacat fisik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENURUTNYA/ PERTIMBANGAN MAJELIS HAKIM MENOLAK TUNTUTAN JAKSA PENUNTUT UMUM/ KARENA DALAM TIGA KALI PERSIDANGAN TIDAK MAMPU MENGHADIRKAN TERDAKWA//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nya juga tidak bisa menjadi kata ganti orang. Menurutnya, katanya adalah contoh kata-kata tidak baku yang sering kita gunakan. Menurutnya bisa diganti menjadi menurut dia atau menurut + nama orang. Pada contoh yang dibuat Donny Kurniawan (Pagi 05/10) itu menurutnya bisa diganti Menurut Marzuki Darusman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ke, kepada, pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/ PEMERINTAH AKAN MENGAJUKAN PARA DEBITUR YANG TERLIBAT DALAM KESEPAKATAN MASTER SETTLEMENT AND AQUISITION AGREEMENT/MSAA/ KE PIHAK KEPOLISIAN/ JIKA HANYA MENYERAHKAN ASET YANG NILAINYA SUDAH TURUN DARI NILAI SEBELUMNYA/ YANG MEMBUAT NEGARA BERPOTENSI DIRUGIKAN RATUSAN TRILIUN RUPIAH///&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas saya ambil dari berita Indy Rahmawati (Pagi 03/10). Pemakaian ke untuk menyingkat pengertian kepada, sekali lagi adalah pengaruh bahasa daerah dalam bahasa Indonesia. Sehingga kalimatnya menjadi tidak baku. Fungsi pada dan kepada adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Pada digunakan untuk menyatakan tempat dan menyatakan waktu. Misalnya pada waktu itu, pada bulan puasa. Kata pada digunakan di depan kata ganti orang, pada saya. Di depan kata bilangan, pada suatu hari.  Digunakan di depan kata yang menyatakan waktu, pada bulan puasa. Digunakan di depan kata benda abstrak, pada lamunanku, pada pikiranku dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Kepada digunakan untuk menyatakan arah dan digunakan di depan kata ganti orang. Contoh:  Pemerintah melaporkan debitur yang terlibat dalam kesepakatan MSAA kepada polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Di kata tempat dan di kata depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMDA DKI JAKARTA MENGANCAM AKAN MENGHENTIKAN PASOK MINYAK TANAH  DAN  MENCABUT IJIN  USAHA AGEN SERTA PANGKALAN MINYAK TANAH YANG MENJUAL LEBIH MAHAL DARI HARGA ECERAN TERTINGGI/HET// ANCAMAN (Nl DIKELUARKAN MENANGGAPI ADANYA AGEN MINYAK TANAH YANG SAMPAI HARI INI MASIH IVIENETAPKAN HARGA DIATAS HET//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan lead ini saya ambil dari berita Mira Permatasari (Pagi 03/10). Di memiliki dua fungsi yakni untuk menunjukkan tempat dan di sebagai awalan. Diatas sebagai awalan harusnya dipisah menjadi di atas. Sementara di sebagai kata depan harus disambung seperti diketahui, dilakukan dll. Dalam bahasa lisan barangkali kita tidak bisa membedakan keduanya. Hanya saja harus berhati-hati jika menulis judul pada chargen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sering kita jumpai judul yang tidak bisa membedakan di kata tempat dan di sebagai awalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Sesuai undang-undang atau sesuai prosedur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES EKSEKUSI BISA DILAKUKAN SETELAH DITERBITKAN KEPPRES TENTANG PENOLAKAN GRASI/ KARENA/ SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR TIGA TAHUN 50 TENTANG PERMOHONAN GRASI/ BERKAS PERMOHONAN GRASI ITU MESTI MELALUI PROSES DI BERBAGAI INSTANSI//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SESUAI   LETTER   OF   INTENT   DENGAN   DANA   MONETER INTERNASIONAL/IMF/KEDUA BANK TERSEBUT HARUS SUDAH DIJUAL PEMERINTAH DESEMBER MENDATANG// PENJUALAN KEDUA BANK TERSEBUT KEMUNGKINAN BESAR BARU DAPAT DILAKUKAN PADA TAHUN MENDATANG//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat sesuai undang-undang atau sesuai prosedur sekilas tidak ada yang salah. Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa pasangan idiomatik yakni pasangan yang harus selalu hadir bersama-sama karena sudah tetap, padu, dan senyawa. Andaikata salah satu unsurnya ditinggalkan, ungkapan idiomatik itu menjadi salah. Kalimatnya pun menjadi salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat sesuai undang-undang atau sesuai letter of intent harusnya ditulis lengkap dengan pasangannya sehingga menjadi sesuai dengan undang-undang atau sesuai dengan prosedur dll. Ada anggapan membuang kata dengan tidak akan bermasalah dan akan menghemat kata. “Kalimat efektif atau ekonomi kata tidak berarti menyalahi aturan berbahasa,” kata J.S Badudu dalam Inilah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar jilid III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Permukiman dan pemukiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita melihat kedua kata permukiman dan pemukiman ditukarkan maknanya begitu saja. Berikut contoh berita yang dibuat oleh Esther Mulyanie (Pagi, 05/10):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENTERI  PEMUKIMAN  DAN  PENGEMBANGAN  WILAYAH  ERNA WITOELAR MENYATAKAN PEMERINTAH INDONESIA MEMBERIKAN DUKUNGAN SEPENUHNYA BAGI PENGUNGSI TIMTIM YANG MEMILIH MENETAP Dl INDONESIA// UNTUK ITU/ DISIAPKAN BEBERAPA WILAYAH Dl TIMOR BARAT UNTUK PENEMPATAN//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbuhan pe- an atau peng- an bermakna “proses melakukan sesuatu”. Jadi kata pemukiman berarti  proses  memukimkan.  Erna  Witoelar  bukan  Menteri  pemukiman  tapi  menteri permukiman. Walaupun urusan memukimkan kembali menjadi sebagian tugas Departemen Permukiman. Demikian juga dengan kata penempatan dalam contoh di atas. Penempatan tidak berarti lokasi dalam konteks kalimat itu. Penempatan berarti proses menempatkan atau memukimkan. Permukiman sama maknanya dengan perumahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Seperti tidak sama dengan antara lain, adalah atau yaitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAPAT KOORDINASI MENTERI-MENTERI BIDANG POLSOSKAM/ DIMULAI PUKUL 10  PAGI  TADI//  RAPAT INI  DIPIMPIN  OLEH  MENKO POLSOSKAM/ SUSILO BAMBANG YUDHOYONO DAN DIHADIRI BEBERAPA MENTERI/ SEPERTI MENTERI AGAMA THOLHAH HASAN/ MENTERI KOPERASI ZARKASIH NUR/MENDIKNAS YAHYA MUHAIMIN/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata seperti tidak sama dengan antara lain. Menurut KUBI, seperti artinya mirip. Kalau kita rujuk paragraf di atas berarti yang hadir di rapat polkam itu mirip menteri agama, mirip menteri koperasi dll. Penggunaan kata seperti pada contoh di atas menunjukkan kita masih menggunakan  bahasa  pasar  dalam  membuat  kalimat-kalimat. Seharusnya menggunakan kata baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Antara… dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/  MENTERI  KEUANGAN  PRIJADI  PRAPTOSUHARDJO  MENGAKU[/PERBEDAAN PANDANGAN ANTARA PEMERINTAH DENGAN BANK INDONESIA MENGENAI JUMLAH' SERTA KRITERIA UNTUK MENILAI BANTUAN LIKUIDITAS BANK INDONESIA; BLBI/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh di atas saya ambil dari berita Merdi Sofansyah (Petang 10/10). Bahasa Indonesia baku mengenai pasangan kata. Antara ... berpasangan dengan dan bukan dengan dengan. Antara aku dan dia bukan antara aku dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak beberapa contoh kata, kalimat dan dalam naskah kita yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar. Dalam beberapa edisi berikutnya akan kita bahas serial "kesalahan-kesalahan berbahasa" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesalahan berbahasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi Tanggal 11 Oktober&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menulis Kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang baik untuk membuat naskah berita TV adalah menulis kembali (rewriting).  Harap dipisahkan pengertian menulis kembali dengan menyalin (to copy). Pelajaran menulis kembali sebetulnya datang dari desk daerah atau luar negeri yang menggunakan video wire. Namun dalam perkembangannya, menulis kembali kemudian menjadi standar bagi script editor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di banyak stasiun sebenarnya fungsi redaktur (desk editor) seperti yang kita jalankan selama ini, dibagi dalam dua tugas yang dipisahkan secara tegas yakni fungsi asignment editor dan fungsi script editor. Namun kita—karena  keterbatasan SDM—mengabungkan  kedua fungsi ini dalam satu tugas redaktur. Kelemahannya adalah, banyak redaktur  yang  memiliki  kemampuan  lapangan  yang  bagus  namun  tidak  memiliki kemampuan menulis naskah berita yang baik. Atau sebaliknya, bisa menulis bagus tapi jaringan di lapangan lemah. Suatu saat kita harus memikirkan pembagian tugas redaktur sebagaimana layaknya di sebuah news station.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa menulis kembali menjadi penting daiam membuat naskah berita TV? "Tulisan yang baik ialah tulisan yang (hampir selalu) ditulis kembali, " kata Maury Green.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis naskah biasanya akan menemukan bahwa ia dapat mengembangkan tulisan semula dengan jalan menulis ulang. Menulis kembali umumnya dapat meringkaskan cerita (news story) atau membuat naskah itu bercerita (story telling). Bagi para script editor, Ted White dalam Broadcast News Writing, Reporting and Production, menyarankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bacalah sekali atau dua kali seluruh naskah itu sampai Anda benar-benar memahami semua fakta yang terdapat dalam naskah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pahamilah hal-hal pokok yang terdapat dalam naskah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ucapkanlah fakta-fakta dan hal-hal pokok itu seolah-olah Anda menceritakannya kepada kawan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Tulislah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Poleslah dan kemudian sunting gambarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lafal Yang Benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan media cetak, jurnalistik televisi mengharuskan kita mengucapkan kata dengan lafal yang benar, karena kita membacakan untuk didengar pemirsa. Pusat Bahasa merumuskan, lafal yang benar dalam bahasa Indonesia sedikitnya memenuhi unsur di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Tekanan kata dalam kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Pemenggalan kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Enunsiasi atau kejelasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Intonasi atau lagu kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat syarat ini hanya menyangkut ragam lisan, bukan kualitas yang harus dimiliki dalam penulisan naskah berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...JAKSA AGUNG MARZUKI DARUSMAN MEMBENARKAN ADANYA PERISTIWA KEKERASAN YANG TERJADI BELAKANGAN INI//KARENA PEMILIKAN SENJATA API OLEH IVIASYARAKAT//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan kalimat di atas saya ambil dari berita Liputan 6 Pagi 19 September. Berita dari tim hukrim ini dibaca oleh Erfan (Editor). Sekilas tak ada yang salah, namun karena pemenggalan dan intonasi voice over yang keliru, akhirnya kalimat tersebut ditangkap pemirsa : Jaksa Agung membenarkan kekerasan. Padahal yang benar adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKSA AGUNG MEMBENARKAN BAHWA BERBAGAI PERISTIWA KEKERASAN YANG TERJADI BELAKANGAN INI/BERKAITAN DENGAN PEMILIKAN SENJATA API OLEH MASYARAKAT//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar di bawah ini adalah kata-kata yang sering salah kita lafalkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pasca                                   bukan dibaca         Paska&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. CNN (ce-en-en)                  bukan dibaca         ci- en- en&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. BBC (be-be-ce)                   bukan dibaca         bi-bi-si&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. CGI (ce-ge-i)                       bukan dibaca         ci-ji-ai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. MTQ (em-te-ki)                   bukan dibaca         enn-te-kyu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.  Objek                                  bukan dibaca         obyek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Energi                                   bukan dibaca         enerji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Persen                                  bukan dibaca         presen atau prosen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK MENCAPAI TARGET PENERIMAAN PAJAK SEBESAR 173 KOMA 4 TRILIUN RUPIAH PADA RAPBN 2001/PEMERINTAH  AKAN MEMPERLUAS  OBJEK PAJAK/SERTA MENINGKATKAN   NILAI OBJEK PAJAK/KHUSUSNYA DARI KALANGAN PENGUSAHA//roll vtr...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sentot Nurahman/Pagi 13/10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk akronim asing panduannya adalah dibaca sesuai dengan lafal aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Unesco              dibaca yunesko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Unicef               dibaca yunisef&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. SEA Games      dibaca si - geyms&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kecuali singkatan asing yang membentuk satu kata harus dibaca sesuai dengan lafal penutur Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. NATO                        dibaca nato bukan neto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. ASEAN                      dibaca asean&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. UNTAET                   dibaca untaet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam perkembangan berbahasa, ada beberapa akronim dan singkatan yang kemudian berkembang menjadi kata. Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Laser   : light amplification by simulated emission of radiation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Radar   : radio detecting and ranging&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Sonar   : sound navigation ranging&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Tilang   : bukti pelanggaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laser, radar dan sonar dibaca sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia. Laser misalnya tidak dibaca leser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di TVRI untuk akronim dalam bahasa Indonesia yang boleh masuk dalam naskah dan lead berita adalah akronim yang memiliki dua sampai tiga suku kata. Selebihnya harus dibaca utuh. (Soewardi ldris dalam "Berita Televisi")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Golkar, pemilik, jukiak, kepres, puskesmas, pusdikiat, Polri dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Danpusenif harus dibaca Komandan Pusat Persenjataan Infanteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Sishankamrata harus dibaca sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaik-baiknya naskah berita adalah naskah yang menghindari singkatan dan akronim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan lain adalah, televisi tidak diperkenankan memopulerkan istilah, singkatan, dan akronim yang tidak lazim. Biarkan media cetak terlebih dulu memopulerkannya. Bila sudah lazim baru televisi menggunakannya. Contoh ABG, dulu istilah ini hanya digunakan oleh "anak gaul" lalu dipopulerkan oleh media cetak. Kini ABG untuk menyebut remaja tanggung sudah mulai masuk dalam naskah berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membaca singkatan, Pusat Bahasa merumuskan "dibaca dulu bentuk lengkapnya baru singkatan atau akronimnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/MENTERI DALAM NEGERI MENYERAHKAN DAFTAR ISIAN PROYEK ATAU DIP TAHUN ANGGARAN 2000 KEPADA GUBERNUR OKI JAKARTA//BUKAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/DIP ATAU DAFTAR ISIAN PROYEK UNTUK DKI JAKARTA/HARI INI DISERAHKAN OLEH MENDAGRI//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafal yang benar juga termasuk membaca fonem /e/. Indonesia mengenal dua fonem /e/ yakni /e/ keras atau /e taling/ dan /e/ lembut atau /e pepet/.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar berikut adalah kata-kata yang menggunakan /e/ keras atau /e/ taling:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  senjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  peka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  rebak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  memang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  pelak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  berang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  tera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar berikut adalah kata-kata yang menggunakan /e/ lembut atau /e/ pepet &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  pemda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  tegas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  rebus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  menang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  pelan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  berang-berang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nampak dan Tampak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[REPORTER=RIS WIJAYANTO]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[DATE=11/10/00]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[SHOW= PAGI]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA//PERJUANGAN TERHADAP MASALAH BURUH ANAK-ANAK/HINGGA SAAT INI NAMPAKNYA MASIH TERUS DIPERJUANGKAN OLEH KAUM IBU //SEPERTI YANG DILAKUKAN OLEH KAUM IBU YANG TERGABUNG DALAM PENGAJIAN BABUSSALAM//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyengauan bunyi awal suatu kata biasa terdapat dalam bahasa Jawa/Sunda. Lalu kebiasaan itu terbawa kepada penutur berbahasa Indonesia. Interferensi struktur daerah ke dalam struktur Indonesia tidak perlu terjadi. Jadi bentuk yang benar adalah tampak bukan nampak. Jika mendapatkan imbuhan me- kan maka tampak akan berubah menjadi menampakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Antar dan Anti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[CG-JUDUL=PERANG ANTAR DESA. PULUHAN RUMAH HANGUS/ LAMPUNG]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[CG=JUDUL=RESOLUSI ANTI ISRAEL Dl SIDANG IPU/JAKARTA]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua judul di atas saya ambil dari Liputan 6 Petang tanggal 15 Oktober 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan partikel antar dan anti pada naskah, judul dan ikon kita belum baku menurut EYD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Prefiks anti berfungsi untuk melawan apa yang disebut dalam kata dasar. Persamaan anti adalah kontra. Sebagaimana prefiks lainnya maka penulisan anti harus disambung dengan kata dasarnya, sehingga Anti Israel harus ditulis Anti-Israel. Demikian juga dengan kontra, misalnya, kontraproduktif dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Prefiks antar berfungsi untuk menyatakan lokasi yang menghubungkan dua hal dalam kata dasar, sehingga kata antar desa harus ditulis bersambung menjadi antardesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan antar adalah inter, misalnya, interlokal, interkultural dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prefiks-prefiks yang ditulis bersambung lainnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. prefiks a                                           : amoral, apatis, asosial dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. prefiks pra                                        : prasejarah, prasangka, prasaran dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. prefiks auto dan swa             : autobiografi, autodidak, swalayan, swadaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. prefiks re dan ulang:              : reorientasi, restrukturisasi,ulangcetak, ulangdaur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. prefiks bi dan dwi                             : dwiwarna, bilingual, biseks, bipolar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.  prefiks pasca                                    : pascapanen, pascasarjana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. prefiks serba                         : serbaguna, serbaneka, serbakurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. prefiks maha                         : mahaguru, mahasiswa, mahamulia kecuali Maha Esa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i.   prefiks super dan supra                    : supersonik, superbesar, supranatural&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j.  prefiks  trans dan ultra                       : transgenik, ultramodern&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. prefiks uni                                         : unieropa, unilateral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l.  prefiks semi                                      : semipermanen, semifinal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rn. prefiks ekstra                                   : ekstrakurikulum, ekstralembut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n. prefiks hiper                          : hipermarket, hipertensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o. prefiks eks                                        : eks-presiden&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p. prefiks mega                         : megakolusi, megabintang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;q. preflks pro                                        : projakarta, prosoeharto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;r.  preflks pol                                        : poligami, poliklinik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;s. prefiks pan                                        : pan-Asia, pan-Amerika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan sambung juga berlaku untuk ukuran satuan panjang, luas, dan berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. kilometer           bukan kilo meter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. sentimeter          bukan centi meter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. kilogram            bukan kilo gram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. gigawatt             bukan giga watt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. megaton            bukan mega ton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. kiloliter              bukan kilo liter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lead dan Vision Story&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menyebut yang dibacakan oleh anchor pada awal berita adalah lead. Istilah lead sebenarnya jarang digunakan dalam jurnalistik televisi.  Jurnalistik televisi mengenal istilah vision story (VS) sebagai lead. Pada media cetak, lead kadang terdiri dari satu atau dua paragraf dengan memuat lengkap 5 W 1 H, tetapi pada televisi, VS tidak harus memuat lengkap 5 W 1 H. Paling tidak tiga unsur dari 5 W 1 H sudah terlihat di VS. VS yang baik adalah kalimat yang memberi visi dengan satu gagasan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivon York, dalam The Technique of Television News mengatakan VS adalah satu atau dua kalimat yang mengantarkan pemirsa untuk menyaksikan aktualitas. Actual event tidak berada pada VS. Berikut rangkuman VS menurut Ivon York:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Panjang tidak lebih dari dua atau tiga kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Yang sudah disampaikan dalam VS tidak boleh ada lagi dalam narasi berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Ringkas, namun tetap memiliki satu gagasan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Penyiar berita yang membacakan VS idealnya tampil 15 sampai 20 detik (untuk ukuran 60 kata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang marilah kita lihat beberapa lead yang pernah kita buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[REPORTER=ARFAN YAP BANO]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[CAM=HARYO DEWANTO]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[DATE=20/20/00]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[SHOW= PAGI]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[VO] (***VO***)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDONESIAN CORRUPTION WATCH / ICW / KHAWATIR TERULANGNYA KEBOCORAN DALAM PENGGUNAAN CGI SEBESAR 4 KOMA 8 MILIAR DOLAR AMERIKA//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;/REPORTER=INDY]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[CAM=ANTO]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[DATE=20/10/00]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[SHOW= PAGI]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ANCHOR}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERBITAN   OBLIGASI   BARU   UNTUK   MENGGANTIKAN   OBLIGASI REKAPITALISASI PERBANKAN/DINILAI DAPAT MENGURANGI BEBAN KEUANGAN PEMERINTAH// roll...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua contoh di atas adalah VS yang hanya mengandung satu kalimat. Jika dibaca, Anchor hanya membutuhkan waktu 10 detik. Dua VS ini sangat minim gagasan cerita, karena keduanya tidak lebih dari pernyataan. Kalau khawatir lalu apa? Kalau beban pemerintah berkurang lalu mengapa? Dari segi psikologi penonton juga bisa dirujuk mengapa VS dengan satu kalimat pendek harus dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, saat membaca berita anchor berada pada posisi the talking head (kepala yang berbicara) atau subjek statis. Subjek statis hanya bisa ditampilkan 15 sampal 20 detik. Dua contoh di atas hanya dibaca oleh anchor 10 detik bahkan 7 detik. Penampilan gambar yang terlalu seketika menurut Gerald Millerson dalam The Technique of Television Production tidak akan memuaskan penonton karena mereka tidak mampu memahanni apa yang hendak disampaikan oleh gambar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh berikut adalah contoh VS yang hanya terdiri dari satu kalimat tapi sudah memiliki satu gagasan cerita. Contoh ini telah memenuhi syarat minimal dalam membuat VS. Gagasan cerita pada VS ini adalah, karena kinerja yang buruk maka Komisi IX DPR minta Ombudsman BPPN dibubarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[REPORTER=ABBAS YAHYA]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[CAM=SUJADMOKO]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[DATE=19/10/00]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[SHOW= PETANG]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ANCHOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/KALANGAN ANGGOTA KOMISI SEMBILAN DPR Rl MEMINTA AGAR KOMITE OMBUDSMAN BPPN DIBUBARKAN/KARENA KINERJANYA RENDAH//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[REP=ula]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[DATE=20/10/00]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[SHOW=PAGI]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ANCHOR\&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENGGAT WAKTU 48 JAM BAGI DIMULAINYA GENCATAN SENJATA / GAGAL TERLAKSANA Dl TEPI BARAT// BERBAGAI BENTROKAN TERUS BERLANJUT/ DAN KORBAN TERUS BERJATUHAN//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh di atas adalah VS yang benar. Terdiri dari dua kalimat dan gagasan cerita sudah mudah ditangkap dalam waktu 15 detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead yang lebih dari tiga kalimat juga tidak benar. Selain terlalu lama, VS lebih dari tiga kalimat sudah mengalahkan actual event yang sesungguhnya sudah bisa diperlihatkan melalui gambar dan narasi. Karena itu menurut Millerson, the talking head yang lebih dari 30 detik akan membuat perhatian pemirsa mengembara dan tidak terkonsentrasi. Untuk pembaca berita, jika panjang VS lebih dari tiga kalimat atau setara lebih dari 30 detik maka subjek statis harus dipindahkan ke pembaca berikutnya. (Jika menggunakan dua anchorseperti di berita Pagi). Jika satu anchor maka harus diperhatikan betul bahwa penampilan anchor harus antara 15 sampai 20 detik. Kecuali untuk membaca reader.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[REPORTER=INSAN KAMIL]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[CAM=ADI ISKARPANDI]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[DATE=26/10/00]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISHow= PAGI]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ANCHOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA / GEMPA TEKTONIK BERKEKUATAN 6,5 SKALA RICHTER YANG TERJADI RABU SORE KEMARIN MENGGUNCANG DAERAH PANDEGELANG  JAWA BARAT// GETARAN GEMPA TEKTONIK YANG DIRASAKAN SAMPAI KE JAKARTA INI/   MENGAKIBATKAN SEBUAH SEKOLAH SD DAN SEKITAR 50 RUMAH PENDUDUK DESA MEKARSARI KECAMATAN PANIMBANG KABUPATEN PANDEGELANG JAWA BARAT ROBOH DAN RUSAK BERAT//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya VS ini bisa lebih ketat menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/ GEMPA TEKTONIK BERKEKUATAN 6,5 SKALA RICHTERYANG TERJADI RABU SORB MENGGUNCANG DAERAH PANDEGELANG JAWA BARAT//SEBUAH SEKOLAH DAN 50 RUMAH PENDUDUK RUSAK BERAT//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Membantah Siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[DATE=19/10/00]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[SHOW= PETANG]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{**ON CAM**)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/PIHAK AIR WAGON INTERNASIONAL/AWAIR MEMBANTAH ADANYA PEMBERITAAN/TENTANG TERBAKARNYA SEBUAH PESAWAT PERUSAHAAN PENERBANGAN TERSEBUT Dl BANDARA SEPINGGAN BALIKPAPAN/KALIMANTAN TiMUR// MENURUT PIHAK AWAIR/ PESAWAT JURUSAN JAKARTA-BALIKPAPAN DENGAN NOMOR REGISTRASI PK-AWA JENIS AIRBUS A310-300 TERSEBUT SAAT INI BERADA DALAM KONDISI UTUH Dl BANDARA SEPINGGAN// &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita yang dimuat di Liputan 6 Petang ini mengejutkan. Tidak ada asap tidak ada api, tiba-tiba kita membantah bahwa sebuah pesawat dikabarkan mesinnya terbakar. Sebelumnya kita tidak pernah memberitakan hal ini. Kesannya seolah-olah kita menjadi  juru bicara AWAIR. Memang RCTI sempat memberitakan hal ini pada sekilas info pukul 16.00. Harusnya berita yang kita buat di atas untuk posisi RCTI bukan SCTV. Jika SCTV ingin membuat juga bantahan itu, mestinya kita memulai dengan faktanya terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah bagian akhir dari empat episode tulisan saya tentang kesalahan berbahasa yang sengaja atau tidak sengaja telah kita lakukan. Sebelum menutup evaluasi berbahasa ini saya ingin mengingatkan kembali bahwa catatan saya terdahulu tak lebih dari catatan. Usai rapat evaluasi ia menjadi kertas usang. Berbagai kesalahan berbahasa yang telah kita bahas bersama selalu terulang. Misalnya penggunaan pasangan idiomatik sesuai dengan, penggunaan meski dan tapi dalam satu kalimat, merubah, dirubah, pemboman dan banyak kesalahan lainnya. Cerdas berbahasa dan cermat berkalimat adalah ciri khas pekerjaan jurnalistik yang kita geluti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut catatan akhir saya tentang kesalahan berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.     Ditemui usai, dan menurut ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DITEMUI SESUAI MEMIMPIN RAPAT UNI ANTAR PARLEMEN/KAMIS SIANG/KETUA DPR/AKBAR TANDJUNG MENYATAKAN  RENCANA PEMBENTUKAN  BADAN INTELIJEN BARU/YANG DIUSULKAN   DEPARTEMEN   PERTAHANAN/HARUS DITINJAU ULANG// KARENA/ SAAT INI LEMAHNYA PERANAN INTELIJEN LEBIH DISEBABKAN  PERSOALAN  PENDANAAN/DAN TIDAK ADANYA KOORDINASI ANTAR ORGANISASI INTELIJEN// KARENA ITU /AKBAR MEMINTA DEPARTEMEN PERTAHANAN UNTUK LEBIH MENGAKTIFKAN PERAN  BADAN INTELIJEN KEJAKSAAN AGUNG DAN KEPOLISIAN// (IVIahmud/ Pagi 20 Oktober)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENURUT JHONSON PANJAITAN SELAKU KUASA HUKUM TERSANGKA PENGEBOMAN GEDUNG BURSA EFEK JAKARTA/ TENGKU ISMUHADI DAN KAWAN-KAWAN/KETIDAK HADIRAN 15 ORANG SAKSI INI DIDUGA ADA TEKANAN DARI PIHAK TERTENTU///MENGINGAT MALAM SEBELUMNYA PARA SAKSI DAN SATU ORANG AHLI HUKUM MENYATAKAN KESEDIAANYA  UNTUK HADIR DIPERSIDANGAN GUGATAN PRAPERADILAN TERHADAP POLDA METRO JAVA DIPENGADILAN NEGERI JAKARTA SELATAN///NAMUN SAAT PAGI HARINYA/PARA SAKSI  TERSEBUT TIDAK ADA DI  TEMPAT TANPA ADA  KETERANGAN///&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Roy/Slang/30 Oktober)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil dua contoh kalimat awal dari paket berita kita. Kesalahan umum yang terjadi adalah memulai paket dengan “Ditemui usai …” atau  “Menurut …”. Kalau  Anda perhatikan contoh satu, hilangkan kata “Ditemui usai” atau hilangkan “Menurut Akbar Tanjung” maka kalimat Anda akan langsung masuk pada substansi dan gambar tidak akan terfokus pada Akbar Tanjung atau acara yang dihadiri Akbar Tanjung. Dengan masuk pada substansi maka gambar anda bisa berupa establish shoot Gedung Bakin, Gedung Dephan atau Markas BAIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh dua lebih fatal, reporter sebenarnya sudah berhadapan dengan actual event, tapi redaktur yang  bertugas mengubahnya menjadi talking news dengan  memulai kata “Menurut Johnson Panjaitan” pada awal kalimat. Kalau kita hilangkan kata “Menurut” sebenarnya jalan cerita sudah menyentuh substansi bahwa ketidakhadiran para saksi karena ada tekanan. Mengapa harus dikutip pernyataan Johnson?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berlebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ANCHOR}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/ MENKO POLSOSKAM SUSILO BAMBANG YUDHOYONO MENYATAKAN/ SAAT INI DIPERLUKAN PENATAAN KEMBALI FUNGSI DAN HUBUNGAN LEMBAGA INTELIJEN YANG SUDAH ADA/ SEPERTI BAKIN DAN BAIS// HAL INI DILAKUKAN AGAR PEMERINTAH DAPAT MENGAMBIL KEPUTUSAN DAN KEBIJAKAN SECARA AKURA17/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata seperti “Lembaga intelijen yang sudah ada”, “Rumah sakit terdekat”, Undang-undang yang berlaku”, “Alternatif lain” dapat dikategorikan rangakaian kata “berlebihan”. Kita tidak bisa mengefektifkan kalimat yang memang seharusnya kita efektifkan. Bahkan kita menambahkan kata-kata yang tidak perlu kita tambahkan. Jika kita hilangkan kata-kata tambahan itu, maknanya kan tidak berubah. Memangnya pemerintah mau menata lembaga inteiijen yang tidak ada atau sudah tutup? Atau undang-undang yang tidak berlaku apakah masih digunakan. Kalau ada kecelakaan,  mungkinkah kita membawa  ke rumah sakit terjauh? Untuk kata alternatif, bukanlah alternatif sudah memberikan pengertian “lain”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ANCHOR}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/SEKITAR 48 RIBU PEGAWAI BADAN INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAUBKIN/YANG MENGGANTIKAN    KEBERADAAN    DEPARTEMEN PENERANGAN/ HINGGA KINI MASIH BELUM MENGETAHUI/ BIDANG TUGAS YANG HARUS DIKERJAKAN// AKIBATNYA/ BANYAK PEGAWAI YANG TIDAK MASUK KANTOR/DAN LEBIH SUKA MENCARI KERJA SAMBILAN// vtr roll… (Cjadijah/Petang 19 Oktober 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba hilangkan kata “keberadaan”, samakah pengertiannya? Ini juga contoh kasus membuat kalimat “berlebihan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kepada SCTV dan menjawab pertanyaan SCTV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 5:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SECARA TERPISAH/ EDWARD SITORUS KEPADA SCTV MENGATAKAN/ AKIBAT AKSI MOGOK DAN UNJUK RASA KARYAWAN ITU/ PTPN II RUGI MILIARAN RUPIAH//PIHAKNYA MENSINYALIR/ ADA OKNUM TERTENTU YANG MEREKAYASA UNJUK RASA DAN MEMBIAYAI KARYAWAN UNTUK MELAKUKAN AKSI MENGINAP Dl GEDUNG DEWAN// (Chairul Dharma Pagi 20 Oktober)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENJAWAB PERTANYAAN SCTV SEBELUM MENYAMPAIKAN SAMBUTANNYA PADA ACARA FORUM SILATURAHMI PARA DA’1 SE-IBUKOTA/ Dl BALAI AGUNG/BALAIKOTA/ JAKARTA/ KAMIS SIANG/ GUBERNUR DKI JAKARTA SUTIYOSO MENGATAKAN PIHAKNYA TELAH MENERIMA SEJUMLAH DUKUNGAN DARI MASYARAKAT  MENYANGKUT KEBERADAAN  HANSIP YANG SELAMA INI DIFUNGSIKAN MENGGANTIKAN PERAN PENGATUR JALAN YANG DIKENAL DENGAN SEBUTAN PAK OGAH// (Jannus/Petang 19 Oktober)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai “kata kepada SCTV” atau “menjawab pertanyan SCTV” sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan kesan eksklusif.  Betulkah berita di atas eksklusif? Eksklusivitas sebenarnya menyangkut dua hal, pertama, tentang seseorang, yang kedua tentang substansi. Menemui Panglima GAM adalah eksklusif karena tidak semua orang bisa bertemu sang tokoh. Mewawancarai Edward Sitorus atau Gubenur Sutiyoso adalah hal biasa. Topik hansip dan soal demo buruh toh kejadian biasa. Mewawancarai Wiranto, tanpa memberi pertanyaan yang menjawab keingintahuan pemirsa menjadi tidak eksklusif karena itu selektiflah menggunakan kata-kata seperti kepada SCTV ini hanya untuk eksklusivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mempersilahkan dan Menghimbau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ANCHOR]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA/ PLN MEMPERSILAHKAN ASOSIASI PERUSAHAAN MENGADUKAN MASALAH KENAIKAN TARIF DASAR LISTRIK KEPADA DPR/AGAR LEMBAGA/ TINGGI NEGARA ITU DAPAT MENGELUARKAN KEPUTUSAN POLITIK//{Jufri/Pagi 21 Okt)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut KUBI silahkan dengan huruf “h” adalah yang tidak baku. Jadi pada contoh di atas harusnya ditulis mempersilakan bukan mempersilahkan. Demikian juga dengan kata himbau dan handal yang baku adalah imbau dan andal sehingga kita menggunakannya menjadi mengimbau bukan menghimbau, atau atlet andal bukan atlet handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Terlantar, terlanjur dan terlentang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IANCHOR\&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RATUSAN PENUMPANG DAN CALON PENUMPANG KERETA API JURUSAN BANDUNG DAN JAKARTA; TERLANTAR DI DUA STASIUN DI YOGYAKARTA/ AKIBAT DIBATALKANNYA SEMUA KEBERANGKATAN KERETA KE JURUSAN TERSEBUT/ HARI INI// PEMBATALAN ITU DILAKUKAN / MENYUSUL ANJLOKNYA  KERETA ARGO DWIPANGGA Dl STASIUN PATUGURAN DAN BANJIR Dl JALUR CIPARI-MLUWUNG// (Wiwik Susilo/ Petang 30 Okt)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kata bentukan yang digunakan secara tidak benar adalah tiga kata di atas yakni terlantar, terlanjur, dan terlantang. Ketiga kata ini menurut KUBI sebenarnya memiliki kata dasar antar, anjur, dan lentang. Untuk ketiga kata ini terjadi proses desimilasi atau pengawalarasan . Ter + anjur = tel + anjur = telanjur. Ter + antar = tel + antar = telantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ter + lentang = telentang. Lama kelamaan orang menganggap lanjur dan lantar sebagai kata dasar. Dalam KUBI dan Kamus Besar Bahasa Indonesia kita akan menemukan bahwa entri kata-kata di atas adalah telanjur, telantar dan telentang. Jika kita ingin nnemberi arti wajah menghadap ke atas untuk kata telentang, penulisan yang benar adalah tertelentang, bukan telentang. Demikian juga untuk menyebutkan wajah menghadap ke lantai, kata yang benar adalah tertelungkup, bukan telungkup. Artinya, apa yang kita gunakan selama ini untuk tiga kata di atas adalah keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Menulis Singkatan dan Akronim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[GITETI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[CG=JUDUL=MENKEU: Nasib Proyek Gitet Belum Ditentukan/ JKTI Judul di atas saya ambil pada chargent berita Petang 30 Oktober 2000. Dua pekan lalu saya sudah membuat ulasan mengenai pelafalan akronim dan singkatan, baik asing maupun lokal. Kali ini kita coba urai mengenai penulisan singkatan. Menurut EYD singkatan ditulis dengan huruf besar tanpa titik di antara huruf atau akhir huruf. Jika singkatan Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi yang benar adalah GITET bukan Gitet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan akronim, EYD menentukan penulisan akronim hanya huruf pertama dari  akronim  itu  ditulis  dengan  huruf kapital  atau  besar.  Contoh  Bappenas  bukan BAPPENAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apni Jepe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktisi Penyiaran Televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apni Jaya Perwira menulis catatan ini untuk SCTV pada tahun 2000 dan diuraikan lagi pada diskusi FBMM di SCTV pada tanggal  28 Agustus 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-5606587794026516195?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/5606587794026516195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=5606587794026516195&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/5606587794026516195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/5606587794026516195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/11/bahasa-jurnalistik.html' title='Bahasa Jurnalistik'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-7692851156793832582</id><published>2008-10-29T22:25:00.000-07:00</published><updated>2008-10-29T22:26:35.091-07:00</updated><title type='text'>Upah Layak Minimum Jurnalis Denpasar Rp. 3,6 juta</title><content type='html'>Menurut survei AJI Denpasar, upah jurnalis di Denpasar masih jauh dari standar kelayakan. AJI Denpasar mendapatkan data, upah jurnalis di Denpasar paling tinggi Rp 1.800.000 (take home pay) dan paling rendah Rp 550.000 (take home pay) per bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula perusahaan media yang tidak memberikan uang transportasi. Berdasar survei AJI Indonesia di beberapa daerah, upah jurnalis di Indonesia, jika dibandingkan dengan jurnalis di negara berkembang lainnya seperti Malaysia dan Thailand, masih terpaut sekitar tiga kali lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar profesinalisme jurnalis bisa ditingkatkan, AJI Denpasar menetapkan standar upah layak minimum sebesar Rp. 3.624.821. Standar upah ini berlaku bagi seorang jurnalis lajang di Denpasar yang baru diangkat menjadi karyawan tetap. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survei ini dilakukan dalam rentang waktu Agustus sampai September 2008.  Survei dilakukan kepada sejumlah perusahaan media. Di antaranya Radar Bali, Nusa Bali, Bali Post, Denpasar Post, Warta Bali, Patroli Post, Fajar Bali, Metro Bali, Bisnis Bali, Bali TV, Dewata TV. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upah minimum jauh dari standar kelayakan, AJI mengkhawatirkan tidak mampu ditegakannya independensi media dan jurnalis. Sulit bicara independensi jurnalis kalau perut keroncongan,” kata Ketua AJI Denpasar Bambang Wiyono saat pemaparan hasil survei di depan pemimpin dan perwakilan media massa di Bali, Rabu kemarin di renon Denpasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua KPID Bali Komang Suarsana sependapat dengan hasil survei ini bahwa tingkat kesejahteraan jurnalis di Bali masih sangat rendah. “Ini adalah perjuangan memperoleh reward yang memadai dari kerja mereka sebagai pekerja di dunia pers. Jurnalis harus lebih bekerja keras meningkatkan kapasitasnya dari pekerja pers menjadi seorang profesional dengan menjaga etika dan independensinya,” paparnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suarsana mengkritik bahwa wartawan saat ini masih banyak yang mengabaikan intelektualitas dan kode etik jurnalistik sehingga sulit bargaining dengan pemilik media untuk meningkatkan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah lembaga hukum seperti Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Bali dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali juga menyatakan dukungannya agar standar upah ini dapat diimplementasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang penting adalah action plan. Bagaimana kita bisa meminta pemilik media memperhatikan hal ini dan menerapkan,” kata Direktur PBHI Bali Ni Nyoman Sri Widiyanthi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humas Pemkot Denpasar Erwin Suryadarma menyambut baik dari upaya untuk memperjuangkan hak-hak media biar dihargai profesi sebagai wartawan. “Saya melihat media profesional, harus ada tuntutan untuk upah. Saya prihatin jika survei benar, wartawan ada yang diberi gaji di bawah UMR. Saya melihat wartwan sebagai tempat terhormat. Di mata kita mempunyai pemikiran dan kritisi atas aspek-aspek pembangunan. Di Pemkot, kedudukannya sejajar dengan pimpinan,” ujarnya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lahirnya revisi Undang-Undang Pers pada 1999, kran kebebasan pers terbuka lebar. SIUPP tidak lagi diberlakukan, sensor dan bredel pun tak berlaku lagi. Rakyat  Indonesia menikmati kebebasan pers terbesar sepanjang sejarahnya. Konsekuensinya, masyarakat membutuhkan informasi dari media yang berkualitas, akuntabel, profesional, dan independen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab tuntutan publik ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) telah membuat berbagai program untuk meningkatkan pengetahuan, skill jurnalistik, serta ketaatan terhadap kode etik. Berbagai training jurnalistik dan kampanye anti amplop/suap selalu jadi prioritas dalam setiap periode kepengurusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, upaya peningkatan profesionalisme sering terhambat oleh kurang diperhatikannya kesejahteraan jurnalis. Banyak pemodal berkantong cekak nekat mendirikan media. Akibatnya, lahirlah perusahaan pers yang bermutu rendah dengan upah jurnalis yang minim. Situasi ini jelas berbahaya karena bisa menggiring para jurnalis permisif terhadap suap atau amplop dari narasumbernya. Alhasil, independensi dan profesionalisme jurnalis hampir mustahil ditegakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta masih banyaknya pengusaha media yang tidak mengimbangi kerja jurnalisnya dengan upah/kesejahteran yang layak terungkap dalam survei AJI Indonesia tahun 2005. Menurut survei atas 400 jurnalis dari 77 media di 17 kota itu, masih ada  jurnalis yang diupah kurang dari Rp 200 ribu jauh lebih rendah ketimbang upah minimum yang ditetapkan pemerintah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers memberi mandat kepada segenap perusahaan media untuk meningkatkan kesejahteraan pekerjanya. Bentuk kesejahteraan itu berupa kepemilikan saham, kenaikan gaji, bonus, serta asuransi yang layak. Pendek kata, menuntut kebebasan pers tanpa menyertakan kesejahteraan jurnalisnya, sama halnya mereduksi UU Pers itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya jurnalis non-organik alias koresponden juga harus mendapatkan perhatian khusus. Mereka adalah golongan yang paling rentan dalam gurita industri media. Kontrak kerja yang tak jelas, tiadanya jaminan asuransi,  kaburnya standar upah serta beban kerja yang tak kalah tinggi menyebabkan koresponden di daerah bekerja dalam kondisi yang tak terjamin oleh perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu masih diperunyam dengan jenjang karier yang juga buram. Kendati sudah mengabdikan dan mendedikasikan dirinya selama bertahun-tahun, status mereka masih belum beranjak menjadi karyawan tetap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar upah layak minimum ini dirumuskan berdasarkan komponen dan harga kebutuhan hidup layak pada 2008. Metodenya, kami mengukur perubahan biaya hidup (living cost) berdasarkan gerakan indeks harga konsumen/IHK (consumers price index) sesuai pola konsumsi yang paling dekat dengan kebutuhan seorang jurnalis. Dalam survei ini, AJI Denpasar menetapkan lima komponen kebutuhan jurnalis secara individu, atau belum/tidak termasuk keluarga. Lima komponen itu yakni makanan dan minuman, sandang, perumahan, aneka kebutuhan lain serta tabungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar upah layak minimum, AJI Denpasar menuntut perusahaan media menerapkan sistem kenaikan upah reguler yang memperhitungkan angka inflasi, prestasi kinerja, jabatan, dan masa kerja setiap jurnalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AJI Denpasar juga meminta perusahaan media memberikan sejumlah jaminan, seperti asuransi keselamatan kerja, jaminan kesehatan, jaminan hari tua, dan jaminan sosial bagi keluarganya. AJI Denpasar pun meminta perusahaan media memberikan tunjangan keluarga, setidaknya tunjangan istri (10% x upah) dan tunjangan anak (5% x upah untuk dua anak).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi perusahaan yang karena kondisi keuangannya belum bisa memenuhi standar gaji layak minimum ini, kami menuntut beberapa hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.                  Manajemen harus melakukan transparansi keuangan agar semua jurnalis/karyawan mengetahui alokasi anggaran setiap bagian dari proses produksi, untuk mencegah pemborosan atau melakukan penghematan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.                  Manajemen harus mempersempit kesenjangan gaji terendah dan gaji tertinggi (pimpinan) untuk memenuhi rasa keadilan bersama dan melakukan penghematan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.                  Manajemen harus mengalihkan hasil penghematan untuk memperbesar persentase anggaran bagi upah/kesejahteraan karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.                  Terhadap perusahaan media yang mempekerjakan koresponden, manajemen harus memberikan kesempatan berkarier kepada mereka untuk menjadi karyawan tetap dengan tingkat kesejahteraan yang setara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.                  Apabila perusahaan media yang dengan alasan tertentu tidak bersedia menjadikan koresponden sebagai karyawan tetap, maka selain memberikan honor tulisan, manajemen juga harus memberikan jaminan asuransi, klaim transportasi dan honor basis sesuai Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di mana seorang koresponden bertugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sumber :&lt;br /&gt;Luh De Suriyani&lt;br /&gt;Freelance Journalist&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-7692851156793832582?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/7692851156793832582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=7692851156793832582&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/7692851156793832582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/7692851156793832582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/10/upah-layak-minimum-jurnalis-denpasar-rp.html' title='Upah Layak Minimum Jurnalis Denpasar Rp. 3,6 juta'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-100495546587090774</id><published>2008-06-21T20:18:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T20:23:21.919-07:00</updated><title type='text'>Tips Buat Presenter III</title><content type='html'>Mengatasi Kegugupan(Nervousness)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika harus berbicara di depan umum, seringkali kita dihinggapi oleh rasa takut yang berlebihan. Hal ini dicirikan dengan timbulnya rasa grogi, takut berbuat salah, malu-malu, kecemasan yang berlebihan, suara dan gerakan yang tidak wajar. Di bawah ini ada beberapa tips praktis untuk mengatasi rasa gugup yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips 1 Percaya diri dan berpikir positif&lt;br /&gt;Tidak ada manusia yang sempurna, sehingga jangan pernah harapkan kesempurnaan itu datang. Berpikirlah bahwa kita akan mendapat pengalaman baru dan yakinlah bahwa semua orang juga akan mengalami kepanikan yang sama seperti Anda. Jadi, berpikirlah positif.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tips 2 Persiapan yang cukup&lt;br /&gt;Kuasai materi dan latihlah berbicara (bukan membaca). Jika perlu, lakukan di depan cermin sehingga Anda langsung mendapat umpan balik. Jangan lupa siapkan peralatan yang menunjang seperti Infocus, layar, atau apapun, yang bisa membuat presentasi Anda menjadi lebih efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips 3 Buat diri Anda nyaman&lt;br /&gt;Perhatikan benar penampilan Anda. Pastikan bahwa Anda merasa nyaman dengan penampilan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips 4 Senyum&lt;br /&gt;Senyum akan mencairkan ketegangan dan juga membuat keakraban. Sapalah audiens dengan salam yang hangat dan tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-100495546587090774?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/100495546587090774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=100495546587090774&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/100495546587090774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/100495546587090774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/tips-buat-presenter-iii.html' title='Tips Buat Presenter III'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-1686513658420229023</id><published>2008-06-21T20:08:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T20:17:43.962-07:00</updated><title type='text'>Tips Buat Presenter II</title><content type='html'>Menjadi Presenter Handal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi presenter yang handal dan bertahan lama, diperlukan bukan hanya keterampilan berkomunikasi. Lebih dari itu, diperlukan karakter dan kemampuan “marketing” dalam menjual keahliannya tersebut. Di bawah ini, ada beberapa tips penting untuk menjadi presenter yang handal.&lt;br /&gt;Tips 1 Know Your Self&lt;br /&gt;Mengetahui dengan pasti kelebihan-kelebihan dirinya, yang dapat di pakai sebagai modal untuk ditonjolkan dan dipublikasikan. Jadi harus punya rasa percaya diri.&lt;br /&gt;Tips 2 Image Personality&lt;br /&gt;Penentuan brand image hendaknya dilakukan pertama kali saat akan memulai karier ini. Sebagai contoh, mau memilih image ‘serius’ atau ‘humoris.’ Selanjutnya harus konsisten dengan image tersebut, guna memilih acara-acara yang sesuai dengan image yang ingin ditonjolkan. Sebaiknya tetap konsisten pada pilihan awal, karena sekali kita terlibat dalam suatu pekerjaan akan menentukan image selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tips 3 Great Character&lt;br /&gt;Menjaga sikap-sikap tertentu agar mendapat kepercayaan rekan bisnis, seperti: tepat waktu, disiplin, selektif terhadap pemilihan acara, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Tips 4 Time Management&lt;br /&gt;Pengelolaan waktu adalah hal yang harus diperhatikan oleh seorang presenter. Ia harus datang menerima arahan dari klien. Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya salah persepsi ketika membawa acara. Ia harus tepat waktu, berkaitan dengan persiapan acara.&lt;br /&gt;Tips 5 Networking&lt;br /&gt;Bersosialisasilah di mana-mana, sehingga orang tidak akan lupa pada kita dan tetap ingat kita. Caranya, dengan memberikan kartu nama, dan lain-lain. Hubungan dengan wartawan sangat penting dilakukan, karena kita membutuhkan mereka. Namun, jangan sampai terlihat mengejar-ngejar. Cukup lakukan sebuah hubungan yang baik, sehingga sewaktu-waktu mereka dapat mengangkat kita.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-1686513658420229023?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/1686513658420229023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=1686513658420229023&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1686513658420229023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1686513658420229023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/tips-buat-presenter-ii.html' title='Tips Buat Presenter II'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-5263105951677559962</id><published>2008-06-21T19:32:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T20:08:12.925-07:00</updated><title type='text'>Tips Buat Presenter</title><content type='html'>Berkomunikasi Dengan Efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk berkomunikasi dengan efektif pada saat presentasi, membawakan acara, menjadi presenter atau host sebuah acara, diperlukan skill khusus. Di bawah ini diberikan jurus jitu agar membuat komunikasi Anda menjadi jauh lebih efektif.&lt;br /&gt;1. Strategy&lt;br /&gt;Strategi ini mencakup bagaimana cara mengatasi kegugupan, menerima umpan balik, memperjelas citra diri serta menepis bias ketika menyampaikan informasi. Kata kunci di sini adalah pahami bahwa proses komunikasi adalah proses dua arah, memahami dan menguasai pesan yang akan disampaikan, serta pahami bagaimana berbicara, bukan apa yang akan dibicarakan.&lt;br /&gt;2. High Energy&lt;br /&gt;Walaupun style setiap orang berbeda dalam presentasi, tetapi presentasi dengan high energy dan high focus adalah syarat yang tidak bisa ditawar.&lt;br /&gt;3. Intensity of Eye Contact&lt;br /&gt;Lebih dari separuh, atau 58 persen keberhasilan proses komunikasi, ditentukan oleh komunikasi visual. Selalu pandang mata audience Anda dengan intensitas mata yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;4. Transfer Of Feeling&lt;br /&gt;Berkomunikasi dengan baik membutuhkan kasih tanpa syarat. Anda tidak mungkin berkomunikasi dengan baik jika Anda tidak jujur. Jika ada hal yang tidak mengenakkan untuk disampaikan, ingat speak always the truth but do it in love…be patient, be humble and be kind.&lt;br /&gt;5. Body Language&lt;br /&gt;Komunikasikan pesan Anda dengan bahasa tubuh yang sesuai dengan kondisi pesan yang disampaikan, serta tidak berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-5263105951677559962?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/5263105951677559962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=5263105951677559962&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/5263105951677559962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/5263105951677559962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/tips-buat-presenter.html' title='Tips Buat Presenter'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-6079285452906545313</id><published>2008-06-21T19:18:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T19:22:41.661-07:00</updated><title type='text'>Essay - Kriteria Obyektif Dan Subyektif Dalam Pemuatan Artikel Di Harian Kompas</title><content type='html'>Oleh Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Harian Kompas, Pepih Nugraha, dalam blognya menyatakan, bagi yang berminat mengirim artikel ke Kompas, perlu mengetahui syarat-syarat yang diinginkan Kompas. Penjabaran kriteria ini bisa menjadi salah satu strategi, dalam menyiasati artikel agar bisa dimuat. Pepih memaparkan 17 penyebab sebuah artikel ditolak oleh Desk Opini Kompas. Yaitu:&lt;br /&gt;1. Topik atau tema kurang aktual&lt;br /&gt;2. Argumen dan pandangan bukan hal baru&lt;br /&gt;3. Cara penyajian berkepanjangan&lt;br /&gt;4. Cakupan terlalu mikro atau lokal&lt;br /&gt;5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;6. Konteks kurang jelas&lt;br /&gt;7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer&lt;br /&gt;8. Uraian Terlalu sumir&lt;br /&gt;9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah&lt;br /&gt;10. Sumber kutipan kurang jelas&lt;br /&gt;11. Terlalu banyak kutipan&lt;br /&gt;12. Diskusi kurang berimbang&lt;br /&gt;13. Alur uraian tidak runut&lt;br /&gt;14. Uraian tidak membuka pencerahan baru&lt;br /&gt;15. Uraian ditujukan kepada orang&lt;br /&gt;16. Uraian terlalu datar&lt;br /&gt;17. Alinea pengetikan panjang-panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan Pepih, mereka yang berminat menulis opini tinggal menegasikan saja 17 persyaratan di atas. Poin pertama, misalnya, topik atau tema harus aktual. Poin kedua argumen dan pandangan harus hal baru. Poin tiga, penyajian jangan berkepanjangan alias cukup singkat saja, dan seterusnya. Tentu saja ada "trik" lain agar opini bisa lolos dan dimuat, tetapi itu kata Pepih akan ia paparkan di kesempatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat lain yang amat penting, menurut Kepala Desk Opini Kompas Tony D. Widiastono, adalah panjangnya artikel. Panjangnya cukup 5.300 karakter atau 700 kata saja dalam Bahasa Indonesia. Biar lebih cepat sampai,tulisan dikirim lewat imel ke alamat: opini@kompas.co.id. Naskah yang lolos pemeriksaan akan dimuat secepatnya. Jika tidak bisa dimuat, dipastikan dikembalikan paling lama dua minggu dari penerimaan naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengamatan saya, yang kebetulan juga pernah bekerja sebagai wartawan di Kompas, kriteria yang diutarakan Pepih memang benar. Tetapi itu baru koma, belum titik. Si penulis artikel harus bersiap menerima kenyataan, artikelnya dikembalikan, bukan karena tak layak atau tak memenuhi syarat-syarat yang disebut di atas, tetapi karena Kompas kekurangan space untuk memuatnya! Artikel saya pernah beberapa kali dikembalikan deengan alasan keterbatasan tempat untuk memuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tidak selalu suatu artikel dimuat karena semata-mata pertimbangan obyektif (hal ini bukan cuma berlaku di Kompas, tetapi juga di media-media cetak lain).&lt;br /&gt;Ada hal-hal subyektif, seperti: kedekatan atau “hubungan khusus” antara pemilik media dengan si penulis artikel. Pengelola/pemilik media sering merasa tak enak hati, jika harus menolak tulisan dari tokoh-tokoh senior yang ia kenal dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada pertimbangan “kemanusiaan” (kasihan) kepada penulis artikel. Artikel itu dimuat dengan niat membantu si penulis, yang diketahui sedang mengalami kesulitan keuangan. Tentu saja, dua alasan subyektif di atas baru bisa dilaksanakan, jika kualitas artikel yang dikirimkan “tidak parah banget.” Jika kualitasnya terlalu buruk, ya tentu saja sulit dimuat, karena akan merusak citra Desk Opini suratkabar bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu hal-hal ini, karena juga pernah ikut dalam rapat redaksi (ketika masih kerja di harian Kompas). Di dalam rapat waktu itu, diputuskan oleh pimpinan untuk memuat artikel dari seorang peneliti LIPI, dengan alasan subyektif yang sudah saya sebut di atas.&lt;br /&gt;aumber : Satrio AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-6079285452906545313?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/6079285452906545313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=6079285452906545313&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/6079285452906545313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/6079285452906545313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/essay-kriteria-obyektif-dan-subyektif.html' title='Essay - Kriteria Obyektif Dan Subyektif Dalam Pemuatan Artikel Di Harian Kompas'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-6033145678308384678</id><published>2008-06-21T18:38:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T18:48:53.024-07:00</updated><title type='text'>Menulis Untuk Media Web</title><content type='html'>Bagi Praktisi Humas/ Public relations&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Web Audience secara umum:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis, web audience adalah siapa saja yang bisa mengakses Web. Sebagai definisi, ini terlalu luas untuk dimanfaatkan secara praktis. Maka berdasarkan riset (di Amerika), diketahui bahwa publik di web umumnya memiliki ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;Mereka memiliki pesawat TV dan dalam banyak kasus juga memiliki perangkat lunak komputer yang canggih sebagai standar presentasi.&lt;br /&gt;Mereka merasa nyaman dengan presentasi lewat layar (screen), dan cukup canggih dengan desain dan presentasi.&lt;br /&gt;Mereka merasa nyaman dengan tayangan suara, gambar dan gerak (motion) secara serempak.&lt;br /&gt;Mereka terbiasa dengan riset nonlinear, pemrosesan informasi, dan presentasi.&lt;br /&gt;Mereka tidak membaca secara rinci (detail), tetapi mereka hanya mem-browsing dan men-scan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dua tipe audience:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri terakhir ini khususnya berdampak penting bagi praktisi PR sebagai penulis.&lt;br /&gt;Beberapa audience ini akan bersemangat dan termotivasi untuk menetap di situs kita, sampai mereka menemukan informasi yang dibutuhkan. Menulis untuk audience ini relatif mudah.&lt;br /&gt;Audience yang lainnya, hanya browser biasa yang tak punya niat awal atau motivasi untuk mengunjungi atau menetap di situs kita. Menulis untuk audience ini memberi tantangan yang lebih besar bagi praktisi PR.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Siapa Web Audience kita?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis PR secara konseptual berurusan dengan global audience, yang jumlahnya sangat besar, dan umumnya tidak terlalu berminat mengunjungi situs kita (kecuali dalam situasi krisis). Ada tiga kategori publik web yang perlu diperhatikan para penulis PR, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Komentator kritis (critical commentators)&lt;br /&gt;2. Pengunjung yang berkomitmen (committed visitors)&lt;br /&gt;3. Browser biasa (casual browsers)&lt;br /&gt;4. Komentator kritis (critical commentators)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentator kritis menjadi anggota dari newsgroups dan grup diskusi, yang biasanya beroperasi terpisah dari organisasi. Apakah mereka aktif berpartisipasi dalam perdebatan atau sekadar jadi pendengar diam, mereka adalah publik yang perlu diperhatikan. Kini, para bloggers yang memiliki sejumlah “fans” atau penggemar, juga merupakan publik lain yang sepatutnya diperhatikan para praktisi PR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau komentator kritis mengnjungi situs web kita untuk mencari informasi baru, mereka juga mengekspresikan pendapat dan mengadakan dialog eksternal ke situs web bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus-kasus ekstrem, komentator kritis mungkin membuat anti-situs yang tujuannya adalah menyebarkan informasi negatif. Mereka melakukan itu dengan atau tanpa partisipasi Anda, dan sering mereka melakukan itu tanpa terlalu memperdulikan akurasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengunjung yang berkomitmen (committed visitors)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung jenis ini secara sengaja mengunjungi situs web perusahaan Anda untuk mencari informasi spesifik. Termasuk di antara pengunjung jenis ini adalah publik tradisional yang saat ini menggunakan web, untuk mengikuti aktivitas suatu organisasi.&lt;br /&gt;Apa yang kita ketahui tentang minat dan kesukaan mereka merupakan landasan yang baik bagi praktisi PR, untuk memperkirakan informasi yang mereka cari, tingkat kerincian (detail) yang mereka tuntut, dan seterusnya. Publik web seperti ini harus menjadi perhatian utama praktisi PR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Browser biasa (casual browsers)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung biasa jenis ini mengunjungi situs kita, ketika sedang mencari informasi umum. Jika situs kita terorganisasi dengan baik dan mencakup informasi yang bersifat umum ataupun spesifik, kita dapat memuaskan pengunjung ini tanpa perlu tambahan upaya. Upaya berlebih biasanya diperlukan untuk melayani pengunjung yang berkomitmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kekuatan dan keterbatasan media Web&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi praktisi PR, setiap media memiliki kekuatan dan keterbatasan masing-masing. Hal serupa juga berlaku untuk Internet. Berikut ini adalah beberapa isu yang akan mempengaruhi penulis PR di web, dalam menyusun isi dan struktur pesan yang mau disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterbatasan layar (screen limitations)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumen-dokumen panjang yang menuntut scrolling tidak memenuhi kritia kemudahan diakses. Pilihlah jenis font, ukuran font, spasi baris dan warna, untuk mengurangi kelelahan mata, dan memudahkan dibaca.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Panjang halaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pandangan tentang panjang halaman. Ada yang mengusulkan, format sebaiknya maksimal satu halaman. Jika tulisan lebih panjang, disambung di halaman berikutnya. Namun, ada juga yang kurang suka dengan format beberapa halaman, karena akan meminta waktu download lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih baik jika kita melengkapi dengan hypertext links di awal artikel yang panjang, sehingga pengunjung bisa pergi langsung ke bagian tulisan yang dianggap relevan. Tujuannya adalah untuk memudahkan dan mempercepat dalam menavigasi situs web tersebut. Dalam konteks Indonesia, di mana banyak orang tidak memiliki sistem operasi dan saluran Internet yang cepat, ada baiknya jika kita membuat file-file berukuran pendek (kecil).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Isyarat navigasi (Navigation cues)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan media PR lain, navigasi di Web memberi peluang unik bagi penulis. Media lain memiliki cara presentasi tunggal yang tetap (fixed), dan pembaca harus menerima format itu apa adanya.&lt;br /&gt;Sebaliknya, pengguna web menentukan sendiri jalur yang dilalui di situs bersangkutan. Sedangkan berbagai struktur informasi dimungkinkan tampil secara serempak. Penulisan web yang baik adalah penulisan yang memudahkan bagi pengunjung untuk menemukan, selain membaca informasi.&lt;br /&gt;Hal ini tidak berarti halaman web atau situs web harus dipenuhi dengan hypertext links secara tak beraturan. Sebaliknya, desain web yang efektif menuntut kejelasan bagi pengunjung, di mana mereka bisa menemukan informasi yang mereka butuhkan. Tabel isi, peta situs, dan isyarat navigasi, semua itu membantu pengunjung situs untuk mengetahui di mana posisinya dan ke mana ia harus mencari informasi yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Links: Berkah dan Kutukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Web pada intinya adalah tentang koneksi. Internal hyperlinks memungkinkan pengunjung untuk pindah ke bagian lain dari teks atau ke halaman lain di situs yang sama. Links lain membawa si pengunjung ke situs-situs web eksternal, untuk mencari tambahan informasi.&lt;br /&gt;Gunakan links untuk mengembangkan jumlah informasi yang sanggup Anda sediakan di situs Anda. Links tambahan ini tidak Cuma menyediakan layanan, tetapi secara imollisit juga memberi kredibiltas pada situs Anda.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;Anda mengelola sebuah situs perusahaan air mineral dalam kemasan. Sementara itu, di masyarakat dan media, ada desas-desus yang berkembang bahwa produk air mineral dalam kemasan, tidak semuanya bersih dari kuman atau campuran logam yang berbahaya.&lt;br /&gt;Situs Anda, misalnya, menyediakan layanan links ke situs Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan, atau ke Fakultas Kedokteran UI. Lembaga independen itu telah meneliti dan menegaskan kebersihan dan keamanan produk-produk air mineral dalam kemasan. Hal ini tentunya akan memberi tambahan kredibilitas pada situs perusahaan Anda.&lt;br /&gt;Namun, jika situs Anda menyediakan terlalu banyak links dan informasi, ini akan membingungkan pengunjung. Jumlah links yang bisa Anda tambahkan haruslah dibatasi, sejauh links itu menambah kredibilitas dan memiliki relevansi dengan situs yang Anda kelola. Juga, pertimbangan keefektifan desain halaman di situs web Anda, serta pertimbangan ketentuan hukum dalam mengaitkan links-links tertentu.&lt;br /&gt;Ingatlah. Walaupun Anda bisa menyeleksi situs web mana yang mau Anda link dengan situs yang Anda kelola, Anda tak bisa mengontrol siapa yang akan me-links situs mereka dengan situs yang Anda kelola.&lt;br /&gt;Bukan mustahil, Anda menemukan situs Anda dikaitkan atau diasosiasikan dengan situs lain yang tidak Anda sukai atau Anda anggap tidak pantas. Situs pornografi atau seks bebas, misalnya! Untungnya, banyak search engine telah memberi fasilitas, untuk mengetahui dan menentukan siapa yang telah me-link ke situs Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemungkinan-kemungkinan Multimedia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Web memungkinkan integrasi seluruh media –teks, visual, audio, gerak, dan animasi- menjadi satu paket. Hal ini menuntut penulis PR untuk untuk mempertimbangkan relevansi, bukan cuma teks, tetapi juga teks dibandingkan dengan format-format lain.&lt;br /&gt;Mengapa Anda harus menuliskan teks pidato CEO perusahaan Anda di situs web, jika Anda bisa memperdengarkan suaranya dalam format audio?&lt;br /&gt;Mengapa Anda harus menjelaskan sebuah paket perangkat lunak, jika pengunjung situs dapat mencobanya sendiri secara online atau mendownload sebuah contoh peragaan?&lt;br /&gt;Salah satu strateginya adalah menyediakan semua media yang dimungkinkan, sehingga pengunjung dapat mengaksesnya pada saat membutuhkan, dan sejauh kapasitas komputer mereka memungkinkan.&lt;br /&gt;Di titik ekstrem lain adalah Anda justru tidak memberi perlengkapan, kemasan, dan asesoris yang macam-macam di situs Anda. Jadi, formatnya adalah sebanyak mungkin teks, dan sesedikit mungkin grafis. Penyederhanaan tampilan ini akan memudahkan semua pengunjung, untuk mengakses informasi di situs Anda, tanpa takut terhambat oleh kelemahan atau kekurangan kapasitas di komputer mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menulis untuk Web&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis untuk Web menuntut para penulis PR untuk sadar tentang kemampuan grafis dari Web, dan tentang rute-rute yang akan dinavigasi oleh pembaca/pengunjung situs.&lt;br /&gt;Hal ini semakin memberi penekanan pada pendekatan tim (team approach) dalam penulisan di web. Para anggota tim akan membawa keterampilan khusus yang berbeda-beda, seperti: pengemb angan isi (content), presentasi, produksi, riset dan pengujian, dan tentu saja penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menulis untuk Situs Web&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan organisasi bagi visibilitas dan kehadiran di Web biasanya berarti bahwa content dari situs Web tersebut akan diprakarsai oleh organisasi. Ini bersifat supply-driven.&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, ketika pengguna mencari informasi yang mereka butuhkan, penggunaan mereka di Web bersifat demand driven.&lt;br /&gt;Adalah tugas penulis PR untuk “mendamaikan” dua posisi itu untuk mengembangkan dan mendukung hubungan yang positif antara organisasi dan publik di Web.&lt;br /&gt;Jika situs Anda tidak memberi informasi yang dibutuhkan pengguna, mereka akan mencari dan mungkin akan menemukannya di situs lain, yang informasinya mungkin kredibel dan mungkin juga tidak kredibel, tidak timely (bukan informasi terbaru), dan tidak akurat.&lt;br /&gt;Hal ini menuntut penulis Web untuk mendesain content yang menyediakan one-stop shopping untuk memperoleh informasi, dengan link-link yang Anda perkirakan akan dibutuhkan pengguna, dan yang akan mencerminkan kredibilitas dari situs organisasi yang Anda kelola.&lt;br /&gt;Bayangkan home page Anda sebagai katalog sales, yang mengumumkan semua hal yang spesial (content) di halaman depan, dan mengarahkan para pembelanja (pengunjung situs) ke departemen (halaman), di mana mereka bisa memperoleh (membaca) barang-barang (informasi) yang mereka butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Web site content&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali untuk jurnal elektronik yang biasa dijadikan referensi (ilmiah), pasa dasarnya banya ada tiga pembatasan pada pengisian content di Web:&lt;br /&gt;1. Rasa etika dan profesionalisme Anda;&lt;br /&gt;2. “Pasukan” aktivis web yang secara seketika dan masif siap untuk membantah atau menolak   penegasan Anda, jika mereka memilih begitu;&lt;br /&gt;3. Ketentuan hukum yang tersedia bagi mereka, yang beranggapan bahwa Anda telah memfitnah atau mencemarkan nama baik mereka, atau melanggar hak karya intelektual mereka.&lt;br /&gt;Dalam batasan-batasan tersebut, isi situs Web akan ditentukan oleh tujuan organisasi dalam mengelola situs itu, dan apa yang Anda tahu tentang audience yang diperkirakan akan mengunjungi situs organisasi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengembangkan suatu situs web, ada empat isu komunikasi yang penting:&lt;br /&gt;1. Kebutuhan untuk membuat informasi itu bisa dikelola (manageable);&lt;br /&gt;2. Kebutuhan untk menyediakan petunjuk arah di situs tersebut;&lt;br /&gt;3. Keputusan tentang topik-topik yang akan dicakup;&lt;br /&gt;4. Keputusan tentang link-link yang akan Anda sediakan untuk informasi tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membuat informasi bisa dikelola (Manageable):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tujuan teks yang baik adalah membuat pembaca merasa nyaman dengan posisi mereka, di mana mereka sekarang dan ke mana mereka mau pergi. Hal yang sama juga berlaku bagi “teks” di Web. Itu harus membuat para pengunjung Web merasa nyaman dengan informasi yang bisa mereka akses, dan jalur yang harus mereka ambil untuk mengaksesnya.&lt;br /&gt;Hal ini berarti Anda harus melakukan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;Buatlah teks itu singkat. Hadirkan informasi dalam ukuran bytes yang kecil, tak lebih dari dua layar panjangnya. Gunakan link-link untuk memberi opsi pada pembaca untuk mengakses informasi lebih jauh, jika ia menginginkannya.&lt;br /&gt;Berilah label pada halaman, seksi, dan link secara jelas. Pengguna tidak boleh harus bertanya “di mana saya?”, bahkan jika dia masuk ke situs web di tengah-tengah. Situs web dengan demikian harus diorganisasikan secara sederhana dan logis. Setiap halaman panjangnya hanya satu layar, tetapi ada link-link yang diberi label secara jelas untuk tingkat rincian yang lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berikan arahan (directions):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau format dan lokasi tombol-tombol navigasi mungkin dipandang sebagai bagian dari desain Web, tampaknya menjadi tanggung jawab penulis untuk memastikan bahwa topik-topik dipilih dengan mempertimbangkan aspirasi pengguna. Topik-topik itu akan memberikan sejumlah opsi yang diinginkan oleh publik.&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, tugas Anda sebagai penulis Web ada dua:&lt;br /&gt;· Anda harus membantu pengguna untuk memperoleh informasi secepat dan seefisien mungkin.&lt;br /&gt;· Sebaliknya, Anda harus mengikat perhatian mereka pada pesan-pesan, yang majikan (perusahaan/organisasi) Anda ingin agar publik melihatnya.&lt;br /&gt;Hal yang sama berlaku ketika kita bicara tentang newsletter, direct mail, dan brosur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Topik-topik Situs Web&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa topik tertentu, yang biasa ditampilkan di situs Web. Masing-masing topik ini mungkin dibagi lagi lebih jauh ke beberapa sub-bab atau halaman tambahan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Official material&lt;/span&gt;. Materi resmi sebuah organisasi bersifat kritis dan sering kurang diperhatikan. Ini termasuk: nama dan alamat organisasi, pencipta situs, tangal situs itu dibuat, tanggal update terakhir, hak cipta dan pembatasan-pembatasan lain. Penulis PR khususnya harus menghargai informasi-informasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Informasi rangkuman atau Teaser&lt;/span&gt;. Organisasi yang ingin menarik perhatian, atau mengimbau pada audience dalam jumlah besar di Web, boleh mendesain fitur-fitur untuk memuaskan minat mereka. Bagian yang mudah diakses –News; Top Ten...; Mencegah Serangan; atau Untuk Anak-anak, menyediakan titik referensi yang cepat pada audience yang berkomitmen.&lt;br /&gt;Tentang organisasi. Hal ini akan menantang penulis PR, untuk mengenali kebutuhan dan keinginan para pengunjung situs, dan mengimbangi ini dengan apa yang ingin diceritakan organisasi pada mereka (publik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun boss Anda mungkin sangat bangga pada 12 pabrik dan pusat distribusi di setiap provinsi, lokasi persisnya mungkin tak terlalu berarti bagi para pengunjung situs. Sebuah peta sederhana akan memberi kesan tentang luasnya jangkauan operasi perusahaan Anda, tanpa memberi rincian yang tak perlu pada pengunjung situs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi “tentang organisasi” mungkin termasuk: keanggotaan dalam organisasi industri; sejarah singkat, serta deskripsi divisi-divisi, operasi-operasi dan kantor-kantor. Bagian-bagian dengan fokus PR yang bersifat khusus, mencakup: media center, newsroom, dan halaman tentang tanggung jawab sosial perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pendidikan publik&lt;/span&gt;. Web kini makin banyak digunakan sebagai medium untuk riset. Topik-topik yang bersifat pendidikan (edukasi) cukup bervariasi, mulai dari halaman yang menjelaskan bagaimana cara menanam anggrek sampai cara mengisi formulir pajak, semuanya ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba pertimbangkan, informasi apa yang bisa diberikan organisasi Anda, yang akan membantu publik. Dengan membuat diri dipandang sebagai sumber informasi, adalah strategi PR yang cerdik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bantuan online (online help). &lt;/span&gt;Kemampuan memberi bantuan secara online membuat situs web terkesan user-friendly dan responsif terhadap kebutuhan informasi para pengunjung. Kenali, siapa yang harus dikontak untuk informasi tentang apa, termasuk alternatif cara mengontak, seperti: telepon, nomor fax, dan alamat e-mail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Online newsletter.&lt;/span&gt; Ini bisa dikontrol dengan password, jika Anda ingin membatasinya hanya untuk karyawan atau pelanggan yang membayar. Terlepas dari soal apakah akses ini bersifat terbuka atau terbatas, ini harus di-update setiap hari agar tampak kredibel. Jika Anda mengarsipkan publikasi-publikasi, pengunjung dapat mengakses semua edisi, lama sesudah versi media cetaknya tak beredar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berita (News). &lt;/span&gt;Biasanya terdiri dari siaran-siaran pers dari sebuah organisasi, bagisan“news” sering dikatalogkan berdasarkan tanggal dan topik, dan dipisahkan ke dalam opsi saat ini (current) dan arsip. Organisasi-organisasi dengan kontak media yang cukup sering mungkin menyediakan akses terbatas bagi para wartawan, terhadap informasi khusus, seperti: link audio atau video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Informasi krisis&lt;/span&gt;. Situs Web memungkinkan untuk menyediakan selayaknya, informasi menit-ke-menit dan arahan-arahan, bagi pelayanan darurat, kedokteran, dan teknis. Juga, instruksi-instruksi kepada konsumen; dan link-link ke informasi terkait yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Informasi keuangan.&lt;/span&gt; Ini khususnya relevan bagi perusahaan-perusahaan publik. Laporan keuangan (financial statements) lengkap yang disajikan, ternyata lebih rinci ketimbang apa yang diharapkan orang dari sebuah situs web. Pemanfaatan kapabilitas Web yang lebih baik bisa saja dengan menyajikan laporan keuangan yang telah dirangkum/disimpulkan, kemungkinan dilengkapi dengan grafik dan tabel. Anda juga bisa membuat laporan keuangan komprehensif atau laporan tahunan, yang siap untuk di-download.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cerita-cerita Feature&lt;/span&gt;. Beberapa organisasi berhasil memanfaatkan daya tarik tulisan feature untuk menarik perhatian pengunjung. Misalnya, pada akhir 1990-an, badan perpajakan Amerika meluncurkan situs web yang dinamai “The Digital Daily”. Desainnya dibuat sedemikan rupa, agar seperti halaman depan sebuah suratkabar. Isinya di-update setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead “suratkabar” itu adalah sebuah feature human interest yang pendek. Sajian feature ini bertujuan memberi wajah yang lebih manusiawi, pada lembaga perpajakan yang sering dianggap tak perduli pada kondisi para wajib pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laporan-laporan riset.&lt;/span&gt; Seperti juga informasi keuangan, adalah bijaksana jika kita memberikan sebuah rangkuman/kesimpulan, selain laporan lengkap, pada situs laporan riset ini. Sehingga para pengguna dapat mengakses informasi sampai ke tingkatan rincian yang mereka kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Links.&lt;/span&gt; Tak perduli, seberapa banyak pun informasi yang Anda sediakan, tampaknya tak mungkin seluruh informasi tentang suatu hal bisa disediakan di satu situs saja. Link ke situs-situs eksternal memberi peluang pada pengunjung, untuk memperoleh informasi yang lebih rinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membuat link ke situs luar, berilah deskripsi atau konteks tentang apa yang bisa diharapkan para pengguna. Yang membuat daftar link Anda bernilai, adalah bahwa Anda sudah membaca, memahami, dan dapat merekomendasikan link-link tersebut. Berilah keuntungan pada pembaca dengan info tentang link-link ini, dan Anda akan memperoleh sejumlah kredibilitas dalam proses tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contact information&lt;/span&gt;. Link informasi kontak ke sebuah layar e-mail, untuk mendorong tanggapan segera.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Komentar&lt;/span&gt;. Ini dapat ditulis dengan ungkapan lain, seperti: “Tandatangani buku tamu kami,” atau “beritahu kami, apa yang Anda pikirkan.” Mintalah pengunjung untuk memberikan nama dan alamat e-mail mereka, sehingga Anda dapat menyediakan informasi lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tanggal. &lt;/span&gt;“Kebaruan” (currency) adalah penting bagi kredibilitas situs web. Situs Anda seharusnya memiliki notasi “halaman terakhir kali di-update” di setiap halaman, atau paling tidak sebuah notasi “terakhir kali situs di-update” di home page. Dan usahakan update itu selalu baru.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kebijakan privasi (privacy policy)&lt;/span&gt;. Pernyataan privasi memberikan informasi pada publik tentang kebijakan situs Anda, terkait dengan pengumpulan data dan penggunaannya. Terlepas apakah Anda secara legal dituntut untuk menyediakannya, secara pendekatan PR, pernyataan privasi itu baik untuk dilakukan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Disadur dan diadaptasi untuk konteks Indonesia oleh Satrio Arismunandar, berdasarkan isi buku karya Donald Treadwell dan Jill B. Treadwell: Public Relations Writing: Principles in Practice (Penerbit Sage Publications, Inc, California, 2005).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-6033145678308384678?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/6033145678308384678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=6033145678308384678&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/6033145678308384678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/6033145678308384678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/menulis-untuk-media-web.html' title='Menulis Untuk Media Web'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-6993391862815185586</id><published>2008-06-04T04:18:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T04:20:21.958-07:00</updated><title type='text'>Kiat Menulis Resensi Buku</title><content type='html'>Menulis resensi buku sebenarnya mirip dengan memilih calon istri atau calon suami. Mengapa demikian? Karena suatu resensi, apapun obyeknya (resensi film, buku, drama, teater, pembacaan puisi, musik, dan sebagainya), pada akhirnya memberikan suatu penilaian, dan kemudian tentunya suatu pertimbangan, saran, rekomendasi kepada pembaca untuk menentukan sendiri sikapnya terhadap obyek yang diresensi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memilih istri, misalnya, si laki-laki akan membuat penilaian atas berbagai aspek. Aspek luar, yang bisa langsung terlihat: kecantikan, bentuk tubuh, cara bicara, cara makan, dan cara berpakaian, dari calon istrinya. Aspek dalam, yang membutuhkan pengamatan lebih intens: kesabaran, kebaikan hati, sikap pengertian, kesetiaan, kecerdasan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam meresensi buku dan karya-karya lain, hal serupa juga dilakukan. Apakah pertunjukan musik Dewa itu cukup bermutu? Apakah aksi panggungnya menarik? Bagaimana tata suaranya? Apakah dengan kualitas pertunjukan semacam itu, harga karcis masuk Rp 100.000 per orang tidak terlalu mahal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah buku novel terbaru karya Ayu Utami ini layak dibaca? Apa kelebihan atau kekurangannya dibandingkan karya Ayu sebelumnya, Saman? Adakah unsur-unsur yang baru dalam buku Ayu kali ini, dari segi jalan cerita, karakter tokoh-tokohnya, atau tema yang dipilih? Apakah isinya relevan dengan konteks situasi Indonesia masa kini? Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya unsur penilaian inilah yang membedakan resensi buku dari sekadar ringkasan atau rangkuman isi buku belaka. Banyak penulis resensi yang lupa akan esensi suatu resensi, sehingga yang ia tulis sebenarnya cuma ringkasan isi buku. Sampai akhir tulisannya, pembaca tetap tidak tahu apakah buku itu memang layak dibaca atau tidak, apakah isinya bermutu tinggi, rendah, atau sedang-sedang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan dan Kriteria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang mau diresensi:&lt;br /&gt;Untuk keperluan resensi buku di media massa, buku yang mau diresensi sebaiknya buku baru, jangan buku lama, meskipun resensi sebetulnya bisa dilakukan terhadap buku mana saja dan terbitan tahun berapa saja. Kalau resensi dilakukan tahun 2005, buku yang diresensi sebaiknya buku terbitan tahun 2005 juga. Hal ini karena media massa mementingkan aspek aktualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang diresensi sebaiknya juga buku yang cukup baik dan layak dibaca. Pembaca tidak mau membuang-buang waktu untuk membaca resensi terhadap buku yang secara pengamatan kasar saja sudah terlihat betul-betul bernilai "sampah". Pengelola media massa juga tidak mau menyisihkan ruang di medianya untuk buku semacam itu, karena toh masih banyak buku lain yang jauh lebih bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang mau diresensi sebaiknya buku yang isinya memang kita anggap penting diketahui pembaca/masyarakat. Buat apa masyarakat disodori buku yang isinya tidak berkaitan dengan kepentingan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada bagusnya juga jika topik/tema buku yang diresensi itu relevan dengan konteks situasi yang berkembang. Sebagai contoh: ketika sedang ramai-ramainya aksi pemboman militer Amerika terhadap Afganistan, dengan dalih mencari tersangka teroris Osama Ben Laden, November 2001, Harian Kompas memuat resensi buku tentang Osama Ben Laden. Aspek kontekstualitas ini penting bagi media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan bagi Peresensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresensi sebaiknya memiliki bekal pengetahuan yang memadai untuk memahami isi buku bersangkutan. Peresensi yang sama sekali tidak tahu sastra, dan tidak pernah membaca buku-buku sastra, tentu akan sulit kalau disuruh meresensi novel baru karya Pramudya Ananta Toer.&lt;br /&gt;Contoh lain, orang yang tidak pernah belajar fisika disuruh meresensi buku karya pemenang Nobel Fisika tahun 2005. Ya, kalau dipaksakan tentu saja bisa, tetapi kualitas resensi macam apa yang bisa kita harapkan dari sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu penerbitan di Amerika, yang isinya sepenuhnya adalah resensi-resensi buku. Yang hebat, para pembuat resensi itu bukan orang sembarangan, tetapi para ahli dan pakar (beberapa di antaranya pemenang Hadiah Nobel). Buku yang diresensi pun adalah karya terpilih, juga karangan orang-orang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, resensi-resensi yang umumnya sangat panjang dan mengupas secara mendalam isi buku tersebut bernilai tinggi, bahkan mungkin tidak kalah dengan isi buku yang diresensi itu sendiri. Dengan membaca resensi semacam itu, yang ditulis oleh mereka yang sangat menguasai bidang keahliannya, pembaca mendapat tambahan pengetahuan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal apa yang patut dinilai dalam resensi buku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti contoh dalam kasus memilih calon istri, dalam meresensi (menilai) suatu buku, secara garis besar ada dua aspek yang bisa dinilai: aspek luar (penampilan) dan aspek dalam (isi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek luar, misalnya:&lt;br /&gt;Perwajahan kulit muka. Apakah kulit mukanya enak dipandang dan menarik?&lt;br /&gt;Berat dan ketebalan. Apakah ukuran buku ini terlalu besar, atau justru terlalu kecil? Apakah terlalu berat, terlalu tebal, atau terlalu ringan dan tipis?&lt;br /&gt;Desain halaman dalam. Apakah desainnya menarik sehingga enak dipandang, atau malah membosankan?&lt;br /&gt;Jenis kertas yang digunakan. Apakah jenis kertasnya (kertas koran, HVS, art paper, kertas daur ulang, dan sebagainya) berwarna terang atau suram? Apakah terlalu berat atau ringan? Apakah kuat atau rapuh.&lt;br /&gt;Jenis huruf/tipografi yang digunakan. Apakah tipografi yang digunakan terlalu kecil, sehingga menyulitkan pembaca? Atau justru terlalu besar, sehingga boros halaman? Apakah tipografinya terkesan terlalu kaku?&lt;br /&gt;Foto, gambar, sketsa, grafik, tabel yang digunakan. Apakah foto dan gambar yang dipasang itu jelas dipandang? Apakah grafik dan tabel yang dipasang mudah dipahami dan efektif?&lt;br /&gt;Harga buku. Apakah terlalu mahal?&lt;br /&gt;Dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek isi, misalnya:&lt;br /&gt;Apa pokok pikiran yang diajukan penulis? Data dan argumen apa saja yang ia ajukan untuk mendukung pokok pikiran tersebut?&lt;br /&gt;Apakah pokok pikiran, argumen, data dan ide-ide yang tertuang di dalam buku itu cukup orisinil?&lt;br /&gt;Pendekatan atau metodologi apa yang ia gunakan dalam membahas masalah dan pokok pikiran dalam buku itu?&lt;br /&gt;Adakah unsur, pendekatan, perspektif atau pengetahuan baru, yang bisa diperoleh dengan membaca buku ini? Ataukah isinya sama saja dengan buku-buku lain yang sudah lebih dulu beredar?&lt;br /&gt;Apakah isinya relevan dengan konteks situasi yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini?&lt;br /&gt;Apa kontribusi buku ini dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tertentu, yang terkait dengan tema buku ini?&lt;br /&gt;Apakah buku ini disusun secara cermat, teliti, mendalam, atau terkesan ceroboh dan tergesa-gesa?&lt;br /&gt;Apakah sistematika pembahasan dalam buku ini bersifat logis, teratur dan memudahkan pembaca untuk memahami, atau justru sebaliknya rumit, berbelit-belit dan membingungkan?&lt;br /&gt;Adakah kesalahan fakta, data, atau analisis, dalam buku ini? Apakah datanya valid? Adakah bias dari si penulis dalam melihat permasalahan?&lt;br /&gt;Apa tujuan pengarang menulis buku ini? Apakah tujuan itu tercapai dengan terbitnya buku ini?&lt;br /&gt;Apakah si pengarang memiliki kompetensi yang cukup untuk menulis buku ini? Seorang sosiolog tentu akan dipertanyakan kredibilitasnya jika ia menulis buku tentang Ilmu Bedah Kedokteran.&lt;br /&gt;Siapa khalayak pembaca buku ini? Apakah isi buku ini bersifat terlalu mendalam, sehingga lebih tepat untuk pembaca tertentu yang memang memiliki kualifikasi khusus (kalangan akademis atau profesional), atau buku ini cocok juga untuk kalangan pembaca yang lebih awam?&lt;br /&gt;Dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam Pola Penulisan Resensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pedoman baku dalam penulisan resensi. Namun secara kasar, penulisan resensi untuk media massa mengikuti konvensi umum seperti dalam penulisan artikel lain. Unsur-unsurnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul resensi yang menarik. Di media massa, judul yang menarik (eye-cathing) ini perlu dan mutlak.&lt;br /&gt;Deskripsi judul buku, nama pengarang (atau penyunting), nama penerbit, tahun terbit, kota tempat penerbitan, jumlah halaman, dan harga buku (boleh dicantumkan, boleh juga, tidak). Ini disebut Heading dan biasanya dicantumkan di awal resensi. Misalnya: Makna Cinta dan Perkawinan di Era Globalisasi, Dian Kencana Dewi, Bandung: Unpad Press, 2005, vii + 237 hlm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alinea pembuka (dalam teknik penulisan berita, disebut sebagai Lead). Alinea pembuka atau Lead ini bersifat sebagai pemancing agar pembaca mau membaca resensi, maka Lead ini harus dibuat semenarik mungkin. Dalam membuat Lead, peresensi, misalnya, bisa mengaitkan isi buku ini dengan konteks situasi yang sedang hangat di masyarakat. Misalnya: buku bertema tentang korupsi diterbitkan ketika sedang ramai-ramainya pengadilan kasus korupsi terhadap seorang pejabat tinggi. Lead bersama judul berfungsi penting sebagai penarik minat pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi atau rangkuman tentang isi buku. Di sini peresensi merangkum isi atau esensi buku secara ringkas. Tentu saja, pembaca tidak bisa menilai suatu buku jika bahkan gambaran ringkas isinya pun ia belum tahu. Dalam merangkum isi buku ini, peresensi boleh mengutip satu atau dua kalimat atau alinea yang menarik dari buku tersebut, yang bisa makin memperjelas gambaran isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar, evaluasi dan penilaian. Inilah esensi dari suatu resensi, yakni si peresensi mengomentari dan menilai suatu buku dari berbagai aspek: aspek luar dan aspek isi. Karena keterbatasan ruang di media cetak, tentu tidak perlu seluruh aspek ini dibahas secara rinci. Peresensi boleh memilih aspek-aspek mana yang menurutnya paling penting untuk diulas dan disampaikan kepada pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat penutup dan rekomendasi. Dalam kalimat penutup ini, peresensi kadang-kadang secara tegas merekomendasikan bahwa buku bersangkutan memang layak atau tidak-layak dibaca. Kadang-kadang, rekomendasi tegas semacam itu tidak diungkapkan, karena pembaca dianggap sudah bisa menyimpulkan sendiri berdasarkan ulasan panjang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas si peresensi sering juga dicantumkan di bagian akhir resensi. Manfaatnya adalah untuk menunjukkan kredibilitas si peresensi dalam meresensi buku bertema tertentu. Misalnya, di akhir sebuah resensi tentang buku Kehumasan, identitas peresensi disebutkan: Dian Eka Puspitasari, staf Humas Trans TV. Artinya, si peresensi mau menunjukkan, ia adalah praktisi Humas dan karena itu memiliki cukup kompetensi untuk meresensi buku bertema Kehumasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber ; Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-6993391862815185586?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/6993391862815185586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=6993391862815185586&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/6993391862815185586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/6993391862815185586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/kiat-menulis-resensi-buku.html' title='Kiat Menulis Resensi Buku'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-2334769187569242510</id><published>2008-06-04T04:10:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T04:17:20.180-07:00</updated><title type='text'>Kisah Trans TV dan Trans 7</title><content type='html'>Trans TV resmi mengudara pada 15 Desember 2001. Seluruh saham Trans TV dikuasai pengusaha Chairul Tanjung lewat kepemilikan 99,99 persen PT Para Inti Investindo (pada tahun 2006, diganti namanya menjadi PT Trans Corpora, atau Trans Corp), dan sisanya PT Para Investindo. Keduanya dari kelompok bisnis Grup Para milik Tanjung. Lahir di era reformasi, Trans TV tidak memiliki stigma negatif warisan rezim Soeharto. Perusahaan grup Para tidak ada yang masuk BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan tidak pernah kena kasus kriminal seperti sebagian besar konglomerat era Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Jakarta tahun 1962, sejak kuliah Tanjung sudah berbisnis. Sepuluh tahun kemudian dia punya kelompok usaha bernama Para Group. Awalnya, kelompok ini mendirikan usaha ekspor sepatu anak-anak. Modal sebesar Rp 150 juta berasal dari Bank Exim. Tanjung mengembangkan bisnisnya lewat Bandung Supermall. Dia juga menguasai Bank Mega yang dibeli pada 1996 dari kelompok Bapindo. Bank Mega waktu itu dalam keadaan sakit-sakitan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diambil Tanjung, Bank Mega pelan-pelan mengalami perbaikan. Pada 28 Maret 2001, bank ini berhasil mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Jakarta seharga Rp 1.125 per lembar. Dua tahun kemudian, kepada Warta Ekonomi, Chairul Tanjung mengatakan, Bank Mega menjadi sumber dana terbesar bagi Grup Para. Kontribusinya sekitar 40 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi Trans TV juga tidak kecil. Sekurang-kurangnya Trans TV sudah mengalami break event point by operation pada tahun kedua, sekitar Mei 2003. Artinya, sudah tak perlu kucuran dana lagi dari pemilik. Titik balik keberhasilan Trans TV berlangsung sejak kuartal satu 2002. Menurut survei Nielsen Media Research, saat itu Trans TV berada di peringkat kelima sebagai peraih iklan terbanyak dari 10 stasiun televisi. Nominalnya sebesar Rp 149,2 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal kesuksesan kinerja, dan menyodok ke urutan nomor dua pada akhir 2005, Trans TV lewat induk perusahaannya Trans Corpora pada Juni 2006 membuat kejutan, dengan membuat MoU untuk membeli saham mayoritas (55 persen) milik TV7. Menurut Chairul Tanjung, pihaknya ingin membentuk aliansi yang seluas-luasnya dengan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang memiliki TV7. Selain pertimbangan bisnis, ada kesamaan visi antara Trans TV dan TV7, yaitu sama-sama merah-putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grup Para juga punya hubungan baik dengan Anthoni Salim. Grup Salim pernah “berutang budi” ketika Chairul Tanjung ikut menyelamatkan Bank Central Asia, yang waktu itu didera krisis keuangan. Waktu itu Bank Mega tidak ikut-ikutan menarik uang dari BCA, tetapi malah menambah. Chairul Tanjung membantu BCA sekitar Rp 1,3 triliun karena yakin BCA akan selamat. Indofood milik Grup Salim juga ia bantu Rp 50 miliar pada 1998. Dengan Grup Salim, Grup Para bermitra dalam menggarap proyek di Batam dan Singapura. Dengan Sinar Mas Group, Grup Para juga bermitra dalam asuransi jiwa Mega Life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura, Grup Para mengakuisisi satu perusahaan public bernama Asia Medic, yang bergerak di bidang health care. Grup Para membuat perusahaan patungan bernama Gladifora. Sedangkan di Batam, Grup Para membuat perusahaan patungan di bidang property, dan sudah mendapat konsesi lahan sekitar 300 hektare di lokasi strategis, untuk membuat entertainment center dan permukiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemitraan Strategis TV7 - TransTV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan berikutnya, Trans Corp, perusahaan induk stasiun Trans TV, milik pengusaha Chairul Tanjung akhirnya memutuskan untuk menaruh sahamnya sebesar 49 persen di stasiun TV7. Sebanyak 51 persen saham dikuasai TV7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nota kesepakatan strategic partnership antara Trans TV dan TV7 dilakukan di Gedung Bank Mega (bagian dari Grup Para), di Jl. Kapt. Tendean, Jakarta, Jumat, 4 Agustus 2006. Penandatanganan dilakukan Chairman Trans Corp., Chairul Tanjung dan Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia (KKG) Jakob Oetama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kepemilikan saham di TV7 ada perubahan, tapi perubahan itu tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku selama ini. Saham Trans Corp di TV7 sebesar 49 persen," ungkap Chairul Tandjung kepada pers, didamping Jakob Oetama.&lt;br /&gt;Dikatakan Chairul, harapan dari kerjasama antara dua media televisi ini menjadi momentum yang baik untuk melakukan sinergi dalam membangun kemajuan bangsa, khususnya melalui media televisi. "Strategi yang diharapkan dari kerjasama ini menjadikan TV7 ke arah yang lebih baik," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga fungsi media televisi, yakni sebagai media informasi, edukasi dan entertainment, lanjut Chairul, akan menjadi dasar pengembangan TV7 ke depan. "Informasi dan proses edukasi yang diberikan akan dibangun dengan konsep entertainment," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Jakob Oetama menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya sinergi antara dua media televisi ini diharapkan akan memberi hasil yang terbaik dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat. "Dengan sinergi ini diharapkan media televisi akan lebih mampu memenuhi peran pokoknya, baik itu sebagai penyampai informasi, edukasi, entertainment yang mencerahkan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penyajiannya ke depan, kata Jakob, media televisi diharapkan bisa memberikan hiburan yang sehat, mendidik, dan berperan serta secara maksimal dalam membangun bangsa.&lt;br /&gt;Masuknya Trans TV ke TV7 tentu saja membawa sejumlah perubahan, baik dari segi manajemen dan konsep yang ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, Chairul menjamin acara TV7 dengan Trans TV tidak akan saling berkompetisi. "Acara yang sudah established di Trans TV bisa diputar di TV7, begitu juga sebaliknya," ujarnya. Toh, Chairul meyakini bahwa masing-masing TV, baik itu TV7 ataupun Trans TV pada saatnya nanti akan tersegmentasi dan punya pasar sendiri-sendiri. "Tidak akan bersinggungan. Justru nantinya audience seperti ini akan membuat pangsa pasar jadi semakin besar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya dari segi content, masuknya Trans TV membawa perubahan pada manajemen di TV7. Wakil Direktur Utama Trans TV, Wishnutama menempati posisi Direktur Utama TV7, yang sebelumnya dijabat Lanny Rahardja. Wakil Direktur ditempati Atiek Nur Wahyuni, yang masih menjabat sebagai Director Sales &amp; Marketing Trans TV. Sementara Direktur Keuangan dijabat Susi (Direktur keuangan TV7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit Tentang TV7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena TV7 kini telah menjadi “saudara” Trans TV, ada baiknya juga jika sedikit latar belakang tentang TV7 diceritakan. TV7 berdiri di lingkungan Kelompok Kompas Gramedia (KKG), kelompok bisnis pimpinan Jakob Oetama, yang dikenal sebagai pemain kuat di sektor media. Dalam kelompok tersebut ada juga bisnis perhotelan, perdagangan, dan jaringan toko buku Gramedia. TV7 tak secara eksplisit menyebut Kelompok Kompas Gramedia selaku pemiliknya. Dalam kopian anggaran dasar televisi ini, ada enam pihak pemiliknya. Tiga perorangan, tiga perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga pemegang saham perorangannya adalah Sukoyo (3.000 saham atau 1%), Yongky Sutanto (10.500 saham atau 3,5%), dan Lanny Irawati Lesmana (5,5%). Tiga nama perusahaan pemilik TV7 adalah PT Teletransmedia (48%), PT Transito Tatamedia (38,7%), dan PT Duta Panca Pesona (3,3%). Tampaknya, pemilik saham mayoritas di balik sejumlah perusahaan ini adalah Jakob Oetama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanny Irawati Lesmana punya hubungan darah dengan Karna Brata Lesmana, presiden direktur PT Inter Delta Tbk, distributor peralatan fotografi produksi Canon dan Kodak Imaging Group. Di TV7, dia juga punya ketersinggungan dengan PT Duta Panca Pesona. Sementara Sukoyo seorang pengusaha tambak udang asal Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, dialah pemegang izin siaran PT Duta Visual Nusantara, perusahaan TV7. Kelompok Kompas Gramedia lantas membelinya dan mengubah namanya jadi PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh. Sukoyo sendiri lantas bikin stasiun televisi lokal Jakarta bernama Space Toon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kinerjanya yang tak juga membaik setelah sekian tahun beroperasi, TV7 melepas 49% sahamnya untuk dibeli oleh Trans Corp (Grup Para), yang sudah memiliki Trans TV. Sebetulnya, TV7 sudah dilirik untuk dibeli oleh sejumlah TV nasional dan asing, seperti Indosiar, SCTV dan Star TV. Namun tidak ada yang serius menindaklanjuti. Berbeda dengan Trans TV yang langsung bertindak cepat. Selain itu, TV7 merasa lebih nyaman bekerjasama dengan perusahaan nasional ketimbang asing, sehingga mereka menolak Star TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crew News TransTV “Hijrah” ke TV7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut, setelah Trans Corp membeli saham TV7, tentu pembenahan manajemen TV7 perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerjanya, khususnya di bagian News. Untuk itu, sejumlah crew Divisi News TransTV telah dipindahkan ke News TV7 untuk memperkuat News TV7. Nama-nama yang pindah itu diumumkan di rapat News Trans TV, Rabu, 23 Agustus 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar crew yang pindah tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titin Rosmasari&lt;br /&gt;(menjadi Kepala Departemen Buletin &amp; Current Affairs)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulaeman Sakib&lt;br /&gt;(menjadi Kepala Departemen Magazine &amp; Documentary)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pracoyo Wiryoutomo (Executive Producer)&lt;br /&gt;Teguh Satyawan Usis (Executive Producer)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Producer:&lt;br /&gt;Amatul Rayani&lt;br /&gt;Gatut Mukti&lt;br /&gt;Mufthi Akbar&lt;br /&gt;Nicky Laoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Associate Producer:&lt;br /&gt;Asri Rasma&lt;br /&gt;Ardina Yunita&lt;br /&gt;Fajar Ridwan&lt;br /&gt;Ilham Jauhari&lt;br /&gt;M. Affan Mantu&lt;br /&gt;Nurul Qoyimah&lt;br /&gt;Tunggul Bayu Aji&lt;br /&gt;Yulius Suman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Divisi News Trans TV, Iwan Sudirwan, menjadi General Manager di News TV7, tanpa melepas jabatannya di Trans TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Data di atas terutama berasal dari tulisan Widiyanto, editor Jurnal Hukum Jentera terbitan Pusat Studi Hukum &amp; Kebijakan Indonesia-PSHK (http://www.pshk.org/). Liputan yang dikerjakan dengan sponsor Unesco Jakarta via Yayasan Pantau ini sempat dimuat dalam Harian Bisnis Indonesia. Data itu juga saya lengkapi dengan hasil liputan Majalah Tempo, edisi 9 Juli 2006, berita Kompas Cyber Media, Jumat, 04 Agustus 2006 - 17:52 wib., serta sejumlah fakta yang saya catat dan saya ketahui sendiri secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sumber : Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-2334769187569242510?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/2334769187569242510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=2334769187569242510&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2334769187569242510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2334769187569242510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/kisah-trans-tv-dan-trans-7.html' title='Kisah Trans TV dan Trans 7'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-1611209498495475030</id><published>2008-06-04T04:05:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T04:08:23.797-07:00</updated><title type='text'>Teknik Pelaporan Investigatif</title><content type='html'>Sebelum bicara tentang teknik pelaporan, harus disadari bahwa peliputan investigatif pada umumnya adalah kerja tim, bukan kerja perorangan. Tentu saja seorang wartawan mungkin saja melakukan investigasi seorang diri, tetapi akan sangat memakan energi dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain yang menyulitkan kerja perorangan adalah peliputan investigatif biasanya membutuhkan komitmen tenaga, waktu, dan mungkin juga biaya yang cukup besar. Selama investigasi, reporter bersangkutan dibebaskan dari tugas-tugas rutin lain dan harus terfokus pada kasus yang diinvestigasi. Sementara hasil dari investigasi itu sendiri belum bisa dipastikan. Hal yang membutuhkan banyak komitmen tanpa hasil yang pasti ini sulit dilakukan tanpa persetujuan dan dukungan pimpinan redaksi media bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menyadari bahwa peliputan investigatif pada dasarnya merupakan kerja besar, pimpinan redaksi biasanya membentuk tim khusus untuk menjalankannya. Dalam kerja tim, sejumlah reporter akan dikoordinasikan oleh seorang redaktur yang ditugasi khusus untuk menginvestigasi kasus tertentu. Bisa jadi redaktur itu adalah redaktur kompartemen di bidang liputan terkait. Investigasi tentang penyelewengan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, misalnya, mungkin akan ditangani oleh redaktur ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redaktur membagi tugas di antara para reporter: Siapa mengejar informasi apa, di mana informasi itu dapat diperoleh, dan siapa yang harus diwawancarai. Sesudah tugas dibagi, redaktur memantau perkembangan peliputan, seberapa jauh kemajuannya, hambatan-hambatan apa yang dihadapi reporter di lapangan, dan bagaimana harus menembusnya. Para reporter secara teratur menyampaikan laporan tugasnya kepada redaktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redakturlah yang kemudian memilah-milah informasi itu, mengaitkannya satu dengan yang lain, sehingga memperoleh gambaran yang utuh tentang kasus yang diinvestigasi. Bisa jadi informasi yang disampaikan reporter dianggap tidak relevan, sehingga tidak dipakai. Tetapi bisa jadi juga, reporter menemukan informasi baru yang sangat krusial, yang bisa mengubah arah penyelidikan keseluruhan. Semuanya tergantung hasil investigasi di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format penulisan laporan dari reporter ke redaktur bervariasi, tergantung kebutuhan dan keinginan redaktur. Penulisan laporan ini dapat mengacu kepada cara penulisan berita yang baku di dunia jurnalistik, misalnya, gaya penulisan straight news, bisa juga format deskriptif biasa, format kronologis, atau format wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format Straight News. Straight news adalah berita yang lugas, singkat, tidak bertele-tele, langsung ke pokok persoalan dan fakta-faktanya. Straight news merupakan bentuk dasar penulisan berita, dan yang pertama diajarkan kepada para wartawan baru. Straight news biasanya harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (apa, siapa, mengapa, kapan, di mana + bagaimana) secara ketat. Dilihat dari isinya, straight news bisa menjadi hard news jika isi tulisan itu bersifat “keras” dan menuntut harus segera dimuat demi aktualitas. Faktor waktu pemuatan menjadi penting di sini. Lawan dari hard news adalah soft news, di mana isi berita lebih “lunak” dan biasanya lebih tahan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari struktur penulisannya, straight news atau hard news biasanya ditulis dalam bentuk struktur “piramida terbalik.” Yakni, hal-hal yang terpenting ditulis paling awal, dan hal-hal yang paling tidak penting ditulis paling akhir. Dengan struktur penulisan semacam ini, pembaca biasanya sudah bisa menangkap substansi berita cukup dengan membaca satu-dua alinea pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format straight news ini digunakan jika redaktur menghendaki informasi spesifik tertentu, yang memang menjadi fokus tugas reporter bersangkutan. Misalnya, reporter ditugaskan untuk menginvestigasi, berapa persisnya jumlah uang yang diselewengkan oleh seorang pejabat di daerah tertentu, dari program jaring pengaman sosial hasil pinjaman dari Bank Dunia. Dalam hal ini, redaktur tidak mau repot-repot membaca informasi sampingan, yang bisa dibaca kemudian. Hal utama dan pertama yang ingin ia baca adalah fokus investigasi yang telah ditugaskan kepada reporter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format ini cocok bagi kepentingan dan keinginan redaktur, karena hal terpenting –besarnya jumlah uang yang diselewengkan—ditulis langsung di alinea pertama. Dengan format semacam ini, redaktur langsung bisa mengetahui, apakah reporter itu berhasil atau gagal menjalankan tugas yang ia berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format Deskriptif. Format ini berbentuk pemaparan akan suatu keadaan, kondisi, atau situasi, yang diperlukan untuk memberi ilustrasi pada permasalahan utama yang diinvestigasi oleh media bersangkutan. Misalnya, dalam investigasi kasus pencemaran lingkungan oleh sebuah pabrik, seorang reporter ditugaskan membuat laporan deskriptif tentang kondisi dan situasi desa, tempat pabrik yang diduga mencemarkan lingkungan itu berlokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan format straight news yang mengedepankan fakta atau informasi tertentu, dalam format deskriptif tidak ada fakta atau informasi tertentu yang ditonjolkan atau dianggap jauh lebih penting dari yang lain. Sifat deskriptif ini lebih datar dan merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus pencemaran lingkungan di atas, misalnya, reporter akan melaporkan secara runtun situasi dan kondisi desa setempat. Mulai dari air sumur penduduk yang menjadi berbau amis dan beracun, pohon-pohon yang gersang, dan ternak yang mati akibat minum air dari sumur itu. Dijelaskan pula, bagaimana penduduk harus mencari sumber air alternatif untuk kebutuhan sehari-hari. Ditambahkan pula informasi tentang atap seng rumah-rumah penduduk yang cepat keropos dan bocor, karena terkena debu kimia dari limbah asap pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dampak fisik, bisa dilaporkan juga dampak sosial akibat keberadaan pabrik. Misalnya, mulai berkembangnya warung-warung yang menjual minuman keras untuk melayani buruh dan pegawai pabrik itu. Lalu juga munculnya praktek pelacuran, yang meresahkan para ulama dari pesantren di desa setempat, serta bentrokan fisik antara penduduk setempat dan karyawan pabrik. Dari laporan deskriptif ini, redaktur bisa memperoleh gambaran seberapa luas sebenarnya dampak kerusakan lingkungan terhadap kehidupan desa sekitar dan berbagai kerugian yang diderita penduduk akibat pencemaran dari pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format Kronologis. Format kronologis antara lain digunakan untuk memaparkan proses berkembangnya suatu situasi dan kondisi, sehingga menjadi permasalahan yang patut diinvestigasi. Pelaporan berformat kronologis menempatkan fakta dan informasi itu dalam urut-urutan waktu, dan menunjukkan hubungan sebab-akibat yang berkesinambungan, sampai timbul permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, dalam kasus pencemaran lingkungan oleh sebuah pabrik, akan dirunut ke belakang sejak saat pabrik itu belum didirikan. Apakah proses pengalihan tanah penduduk menjadi tanah milik pabrik itu sudah benar dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku? Apakah ongkos ganti rugi terhadap tanah penduduk yang diambil pabrik waktu itu sesuai harga pasaran, atau harga ditekan terlalu murah lewat intimidasi aparat desa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah sebelum pabrik itu didirikan sudah dilakukan Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan)? Tim dari universitas atau lembaga penelitian mana yang melakukan Amdal tersebut, dan apa rekomendasi yang diberikan tim itu? Apakah penduduk dan tokoh masyarakat setempat diajak berkonsultasi tentang rencana pendirian pabrik tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai kapan ada gejala kebocoran limbah pabrik ke sawah dan air sumur penduduk? Apakah waktu itu penduduk melaporkannya ke pihak pabrik? Apa tanggapan pihak pabrik waktu itu? Apakah pihak pabrik melakukan tindakan teknis untuk mengetahui penyebab kebocoran dan menyekat kebocoran itu? Apa tanggapan pejabat pemerintah setempat dan aktivis organisasi nonpemerintah terhadap keluhan penduduk saat itu? Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format Wawancara. Format wawancara biasanya digunakan jika tugas yang diberikan pada reporter adalah mewawancarai sumber-sumber tertentu, dan hasil wawancara itu akan dimuat dalam bentuk tanya-jawab. Jadi, informasi yang dihendaki redaktur bukanlah hasil pengamatan lapangan reporter bersangkutan (biasanya lebih cocok dengan format deskriptif), bukan penonjolan fakta tertentu (format straight news), juga bukan menekankan pada proses sebab-akibat hingga munculnya permasalahan yang diinvestigasi (format kronologis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan lain penggunaan format wawancara adalah redaktur ingin “main aman.” Dalam penulisan laporan oleh reporter, tidak semua fakta dan informasi yang ia ketahui dituliskan dan dilaporkan ke redaktur. Fakta atau informasi yang dianggap tidak relevan atau tidak penting, disisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak jarang, terdapat perbedaan persepsi antara redaktur dan reporter, tentang fakta dan informasi mana yang dianggap relevan dan penting, dan mana yang dianggap tidak penting dan oleh karena itu dapat disisihkan. Boleh jadi ada fakta atau informasi yang oleh redaktur dianggap relevan atau penting, tetapi oleh reporter sudah terlanjur disisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari kasus semacam ini, redaktur meminta reporter menuliskan seluruh isi wawancara yang dilakukannya, baik yang dianggap penting maupun tidak penting, dalam format tanya-jawab seperti aslinya. Redaktur sendirilah nanti yang akan menyeleksi dan memilah-milah data mentah dari reporter tersebut. Laporan ini disebut “data mentah” karena relatif tidak mengalami proses pengolahan, seleksi, atau penyisihan oleh reporter. Reporter mentranskrip selengkapnya dan seutuhnya isi wawancara yang dilakukan. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;\span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-1611209498495475030?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/1611209498495475030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=1611209498495475030&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1611209498495475030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1611209498495475030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/teknik-pelaporan-investigatif.html' title='Teknik Pelaporan Investigatif'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-7272040535075125377</id><published>2008-06-04T04:02:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T04:05:33.506-07:00</updated><title type='text'>Riset Laporan investigatif</title><content type='html'>Wartawan yang mau melakukan investigasi, seperti orang yang mau melakukan perjalanan jauh, harus membawa “bekal.” Bekal itu berupa data dan informasi awal, yang merupakan batu pijakan pertama untuk menggali data dan informasi lain yang dijadikan fokus investigasi. Ada beberapa sumber untuk memperoleh data atau informasi awal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan. Cara yang paling sederhana untuk memperoleh informasi awal adalah dengan menanyakan kepada wartawan lain, yang sedikit-banyak pernah meliput kasus serupa atau yang berhubungan. Misalnya, untuk menginvestigasi praktek penyelewengan dana non-budgeter Bulog di era Presiden Abdurrahman Wahid, kita bisa mencari informasi awal pada wartawan-wartawan lain yang pernah menyelidiki penyelewengan dana serupa di Bulog pada periode Presiden BJ Habibie.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wartawan yang dimaksud di sini bisa wartawan dari media yang sama atau dari media lain. Pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, atau redaktur bidang liputan di media yang sama biasanya dengan sendirinya akan menyediakan informasi awal kepada reporter, sebelum memberi tugas investigasi. Mereka umumnya adalah wartawan senior yang sudah berpengalaman dalam menyelidiki kasus-kasus serupa, entah di Bulog atau di instansi lain. Jika mau mencari informasi dari wartawan di media lain, tentu harus dilakukan hati-hati karena adanya persaingan antar-media untuk memuat berita eksklusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wartawan senior ini juga bisa membantu memberikan akses ke sumber informasi lain. Seperti: dokumen/arsip konfidensial yang relevan, atau narasumber mantan pejabat yang tersingkir dari jabatannya dan mau membuka mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar. Jika informasi awal dari para wartawan senior kurang mencukupi, dan mereka mungkin tidak memiliki kapasitas keilmuan yang relevan untuk kasus yang akan diinvestigasi, reporter tidak perlu ragu untuk menanyakan kepada pakar dalam bidang terkait. Ketika reporter, yang belum tahu apa-apa tentang masalah minyak dan otomotif, ditugaskan menginvestigasi kasus pemalsuan oli mesin Pertamina, ia bisa menanyakan seluk beluk masalah oli mesin kepada pakar di bidang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kliping Berita. Sumber lain yang lazim diperiksa adalah berita-berita yang pernah dimuat di media massa, yang terkait dengan obyek yang mau diinvestigasi. Kliping berita semacam ini bisa ditemukan di perpustakaan dan dokumentasi media bersangkutan atau di media lain. Untuk di Indonesia, Harian Kompas dan Majalah Mingguan Tempo termasuk media yang memiliki pusat dokumentasi yang kuat dan bisa dimanfaatkan, dengan membayar biaya tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dokumentasi Kompas, informasi itu malah bisa diakses secara online, dengan berlangganan dan membayar biaya tertentu. Informasi awal juga bisa diperoleh di lembaga riset seperti: CSIS, LP3ES, dan Habibie Center. Untuk informasi yang bersifat data statistik, bisa diperoleh di Biro Pusat Statistik (BPS). Untuk menginvestigasi kasus yang berkaitan dengan masalah ekonomi, data tertulis dan statistik tampaknya lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan makin majunya teknologi informasi, cara penyimpanan informasi lewat kliping berita ini mungkin akan makin ditinggalkan karena tidak praktis dan menyita banyak tempat. Banyak perusahaan dan lembaga pemerintah kini makin beralih ke sistem penyimpanan data elektronik, yang setiap saat bisa diakses dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sekarang ada sumber informasi meluas yang bisa diakses secara cepat dan murah, yaitu Internet. Dalam tahun-tahun terakhir, Internet makin besar peranannya sebagai sumber informasi untuk wartawan, tanpa memandang batas negara atau nasionalitas. Berbagai isi media internasional dan kantor berita juga bisa diakses lewat Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun isi berita-berita itu tak boleh dikutip mentah-mentah begitu saja, wartawan tetap dapat memanfaatkannya sebagai informasi latar belakang untuk menulis laporan investigasi yang lebih mendalam. Selain sejumlah media cetak yang sudah go online, banyak lembaga pemerintah dan perusahaan swasta di Indonesia dan negara lain juga sudah memiliki situs sendiri di jaringan Internet, yang bisa diakses gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain informasi tertulis yang bisa diakses langsung di Internet, jaringan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai forum diskusi, bertukar pikiran dan informasi antar wartawan di berbagai negara. Ada beberapa kelompok diskusi khusus untuk wartawan. Tiga yang terpenting, CARR-L, Journet dan SPJ-Online. Yang terakhir ini didirikan oleh Society of Professional Journalists. Dalam ketiga kelompok ini, wartawan, dosen dan mahasiswa jurusan jurnalistik dapat membahas masalah-masalah yang diminati bersama dan berbagi informasi mengenai ke mana berburu informasi dalam jaringan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keikutsertaan pada kelompok diskusi Internet ini, wartawan dapat berhubungan dengan orang-orang yang ahli mengenai bidang tertentu, yang berkaitan dengan obyek yang sedang diinvestigasi. Wartawan kemudian dapat menghubungi orang ini satu per satu untuk menggali informasi, atau menanyakan di mana dapat diperoleh informasi yang lebih banyak, atau siapa lagi sumber informasi yang layak untuk diwawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ada risiko bagi pencarian informasi di Internet. Jangan sekali-sekali mengira bahwa surat atau pesan yang dikirimkan, materi yang didiskusikan, serta informasi yang dipertukarkan di Internet bisa dirahasiakan atau menjadi eksklusif milik pribadi. Ribuan bahkan jutaan orang lain bisa saja ikut membaca pesan, surat, dan informasi itu, termasuk wartawan dari media saingan lain atau bahkan orang-orang tertentu yang kasusnya sedang dijadikan obyek investigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan makin luasnya akses informasi dan makin banyaknya informasi yang bisa diperoleh, peluang bagi terciptanya karya-karya jurnalistik yang lebih akurat, lebih komprehensif, lebih informatif, tentu juga makin besar. Namun risiko riset informasi dengan Internet barangkali justru wartawan kebingungan karena menerima “banjir informasi.” Banyak artikel di Internet sebenarnya berisi informasi yang sama, tapi terdapat di situs-situs yang berbeda. Sebagai contoh, ketika kantor berita Associated Press memuat tulisan tentang masalah tertentu, tulisan serupa juga muncul di The Washington Post dan The New York Times. Program pencari informasi (search engine) di Internet mencatat seluruh tiga artikel ini meski isi artikel itu sama. Dalam hal ini, wartawan harus pintar memilah dan menyeleksi informasi.&lt;br /&gt;Di sisi lain, keuntungan yang nyata dari perkembangan teknologi Internet ini adalah berkurangnya monopoli informasi, yang selama ini dilakukan lewat pembatasan akses informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalu, wartawan yang mangkal di kantor kerja Presiden, Bina Graha, biasanya mendapat banyak keistimewaan. Jumlah korps wartawan, yang disebut “wartawan Sekneg” ini amat terbatas, dan untuk masuk menjadi “wartawan Sekneg” pun cukup sulit, karena harus di-litsus segala. Jika Presiden menyampaikan pidato tertentu atau kantor Menteri Sekretaris Negara mengeluarkan pernyataan tertentu, wartawan Sekneg-lah yang mendapat monopoli informasi, atau setidaknya akan memperoleh informasi itu lebih cepat dari wartawan lain. Dengan teknologi Internet, monopoli itu diakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini segala pidato Presiden dan pernyataan pers kantor Menteri Sekretaris Negara bisa langsung dimasukkan ke situs tertentu, yang bisa diakses langsung oleh seluruh wartawan Indonesia, bahkan wartawan yang berada di luar negeri sekalipun, asalkan ia memiliki akses Internet. Dengan demikian, telah terjadi pemerataan peluang memperoleh informasi, lewat kemudahan akses ke sumber informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko lain untuk pencarian informasi dari Internet adalah –meskipun banyak informasi bisa diperoleh di sana—sebagian informasi di dunia maya itu betul-betul “sampah” yang tidak berguna, tidak bisa dipercaya, dan tidak layak dijadikan acuan atau sumber berita. Lebih repot lagi kalau terjadi percampuran antara informasi yang benar dan informasi yang keliru. Sekali wartawan membuat kekeliruan dengan mencampurkan informasi akurat dengan informasi keliru, kesalahan itu akan berlipat ganda karena boleh jadi tulisan “campuran” itu juga dimuat di situs Internet, diakses oleh orang lain, dikutip pula dan dijadikan bahan referensi. Dan begitu seterusnya, tak terkontrol lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, wartawan harus pandai memilah dan menyeleksi, situs mana saja yang bisa dijadikan referensi dan dikutip beritanya, dan situs mana yang harus dihindari. Situs yang terkait dengan media yang sudah ternama, seperti The Washington Post, The New York Times, Associated Press, Reuters, CNN, Kompas, The Christian Science Monitor, dan sebagainya, bisa dijadikan pegangan. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : satrio arismunandar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-7272040535075125377?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/7272040535075125377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=7272040535075125377&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/7272040535075125377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/7272040535075125377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/riset-laporan-investigatif.html' title='Riset Laporan investigatif'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-3010500014637379289</id><published>2008-06-04T04:00:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T04:01:42.286-07:00</updated><title type='text'>Teknik Wawancara</title><content type='html'>Apakah yang dinamakan wawancara itu? Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah. Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisan berita yang disiarkan dalam media massa. Namun wawancara juga dapat dilakukan oleh pihak lain untuk keperluan, misalnya, penelitian atau penerimaan pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mewawancarai dinamakan pewawancara (interviewer) dan orang yang diwawancarai dinamakan pemberi wawancara (interviewee) atau disebut juga responden. Seperti percakapan biasa, wawancara adalah pertukaran informasi, opini, atau pengalaman dari satu orang ke orang lain. Dalam sebuah percakapan, pengendalian terhadap alur diskusi itu bolak-balik beralih dari satu orang ke orang yang lain. Meskipun demikian, jelas bahwa dalam suatu wawancara si pewawancara adalah yang menyebabkan terjadinya diskusi tersebut dan menentukan arah dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tujuan seorang reporter melakukan wawancara adalah mengumpulkan informasi yang lengkap, akurat, dan adil (fair). Seorang pewawancara yang baik mencari sebuah pengungkapan atau wawasan (insight), pikiran atau sudut pandang yang menarik, yang cukup bernilai untuk diketahui. Jadi bukan sesuatu yang sudah secara umum didengar atau diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan penting antara wawancara dengan percakapan biasa adalah wawancara bertujuan pasti: menggali permasalahan yang ingin diketahui untuk disampaikan kepada khalayak pembaca (media cetak), pendengar (radio), atau pemirsa (televisi). Namun berbeda dengan penyidik perkara atau interogator, wartawan tidak memaksa tetapi membujuk orang agar bersedia memberikan keterangan yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses wawancara, si pewawancara atau wartawan bersangkutan benar-benar harus meredam egonya, dan pada saat yang sama harus melakukan pengendalian tersembunyi. Ini adalah sesuatu yang sulit. Pernahkah Anda melihat dalam suatu acara talkshow di televisi, di mana si pewawancara malah bicara lebih banyak dan seolah-olah ingin kelihatan lebih pintar daripada orang yang diwawancarai? Ini adalah contoh yang menunjukkan, si pewawancara gagal meredam egonya dan dengan demikian memperkecil peluang bagi orang yang diwawancarai untuk mengungkapkan lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses wawancara, si pewawancara memantau semua yang diucapkan oleh dan bahasa tubuh dari orang yang diwawancarai, sambil berusaha menciptakan suasana santai dan tidak-mengancam, yakni suasana yang kondusif bagi berlangsungnya wawancara. Dalam prakteknya, berbagai pikiran muncul di benak si pewawancara ketika wawancara sedang berlangsung. Seperti: Apa yang harus saya tanyakan lagi? Bagaimana nada bicara orang yang diwawancarai ini? Dari gerak tubuh dan nada suaranya, apakah terlihat ia bicara jujur atau mencoba menyembunyikan sesuatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pewawancara secara sekaligus melakukan berbagai hal: mendengarkan, mengamati, menyelidiki, menanggapi, dan mencatat. Kadang-kadang ia seperti seorang penginterogasi, kadang-kadang secara tajam ia menyerang dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan orang yang diwawancarai, kadang-kadang ia mengklarifikasi, kadang-kadang pula ia seperti pasif atau menjadi pendengar yang baik. Seberapa sukses suatu wawancara tergantung pada kemampuan melakukan kombinasi berbagai keterampilan yang ini secara pas, sesuai dengan tuntutan situasi dan orang yang diwawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat wawancara bermacam-macam, tergantung dari informasi apa yang diinginkan si pewawancara dan bagaimana situasi serta kondisi yang dihadapi orang yang diwawancarai. Sifat wawancara bisa sangat bervariasi, dari yang biasa-biasa saja sampai yang antagonistik. Dari yang mempertunjukkan luapan perasaan sampai yang bersifat defensif dan menutup diri.&lt;br /&gt;Jika seorang wartawan mewawancarai seorang pejabat pemerintah tentang keberhasilan salah satu programnya, tentu si wartawan akan mendapat tanggapan yang baik dan panjang-lebar. Namun jika si wartawan mencoba mengungkap praktek korupsi yang diduga dilakukan oleh pejabat bersangkutan, tentu si pejabat akan bersikat defensif bahkan tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan yang baik harus mengerti bagaimana cara “memegang” orang yang diwawancarai dan menangani situasi. Wartawan harus bisa merasakan, apa yang harus dilakukan pada momen tertentu ketika berlangsung wawancara –kapan ia harus bersikap lembut, kapan harus ngotot atau bersikap keras, kapan harus mendengarkan tanpa komentar, dan kapan harus memancing dengan pertanyaan-pertanyaan tajam. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : satrio arismunandar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-3010500014637379289?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/3010500014637379289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=3010500014637379289&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/3010500014637379289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/3010500014637379289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/teknik-wawancara.html' title='Teknik Wawancara'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-1580871750468277803</id><published>2008-06-04T03:58:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T03:59:48.594-07:00</updated><title type='text'>Tujuan spesifik Wawancara</title><content type='html'>Oleh Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan wartawan melakukan wawancara adalah untuk memperoleh informasi. Namun informasi macam apa yang ingin digali, bisa dirinci sebagai berikut:&lt;br /&gt;Untuk memperoleh fakta. Guna memperoleh fakta yang penting dari suatu wawancara, reporter harus menemukan sumber yang kredibel dan bisa dipercaya, dengan informasi akurat. Wartawan bisa saja mewawancarai orang yang kebetulan ditemui di jalan untuk dimintai pendapatnya tentang kondisi krisis ekonomi Indonesia. Ucapan orang itu mungkin bagus untuk dikutip, namun tidak memiliki kredibilitas. Seorang ekonom jelas lebih kredibel diwawancarai tentang kondisi ekonomi, walaupun ekonom sering bicara dengan jargon-jargon disiplin ilmunya yang harus diterjemahkan ke bahasa yang mudah dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencari kutipan. Begitu wartawan sudah menyelesaikan riset faktual untuk tulisannya, wartawan itu perlu menambahkan sesuatu agar tulisannya lebih menarik. Misalnya, wartawan itu sudah mengumpulkan data statistik tentang penyaluran kredit dari bank pemerintah untuk pedagang kaki lima. Kemudian, wartawan itu mewawancarai seorang pedagang kaki lima dan karyawan bank yang mengurus perkreditan. Tulisan itu sebenarnya secara statistik sudah akurat tanpa tambahan wawancara. Namun pembaca dapat lebih menghayati makna statistik itu dengan membaca kutipan wawancara mereka yang terlibat atau menjadi penerima penyaluran kredit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengumpulkan anekdot. Penuturan cerita anekdot dapat memberi tambahan warna dan wawasan pada tulisan.&lt;br /&gt;Untuk memberi karakter pada situasi. Wartawan dapat menggunakan reaksi seseorang di lokasi peliputan untuk memberi karakter pada situasi. Misalnya, dalam meliput korban gempa bumi, wartawan menemukan seorang perempuan tua berdiri di depan reruntuhan bangunan, yang dulu pernah menjadi rumahnya. “Lima puluh tahun kehidupan saya hancur dalam waktu kurang dari satu menit, ketika seluruh atap dan bagian bangunan lantai dua ambruk sampai rata dengan tanah,” ujar perempuan itu. Dengan mengutip ucapan itu, wartawan tersebut dapat memberi karakter pada peristiwa gempa bumi, dengan cara khas yang akan diingat oleh pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui. Kadang-kadang wartawan membutuhkan seseorang untuk membenarkan atau membantah sebuah tuduhan atau sejumlah informasi, yang sudah diketahui sebelumnya. Wawancara untuk konfirmasi biasanya berarti wartawan sudah tahu jawabannya sebelum mengajukan pertanyaan, dan wartawan itu siap mengkonfrontasikan apapun jawaban pemberi wawancara dengan informasi yang sudah diketahui wartawan bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjukkan bahwa wartawan berada di tempat kejadian. Reporter kadang-kadang dimunculkan dalam tulisan, hanya untuk menunjukkan bahwa suratkabar atau stasiun televisi bersangkutan meliput berita dengan reporternya sendiri. Untuk maksud itu, yang diperlukan hanyalah satu-dua kutipan singkat dari pemberi wawancara, sekadar untuk menunjukkan bahwa reporter berada di sana dan memberi tambahan warna pada berita. Berita tentang bencana alam dan konferensi pers termasuk dalam kategori ini. Kantor berita biasanya akan menyiarkan berita tentang bencana alam atau hasil konferensi pers, namun setiap media tetap mengirim reporternya sendiri untuk memperoleh angle (sudut pandang penulisan) yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Figur untuk Diwawancarai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang menjadi bagian dari berita, dan perlu diwawancarai, karena beberapa alasan. Alasan itu antara lain:&lt;br /&gt;Pekerjaan mereka penting. Pejabat negara, direktur utama perusahaan swasta, komandan militer, pemimpin organisasi massa, pemimpin organisasi profesi, bahkan tokoh kejahatan terorganisasi semacam mafia atau yakuza, diakui karena posisi yang mereka miliki. Jabatan pekerjaan mereka menjadikannya juru bicara bagi profesinya dan untuk isu-isu yang mempengaruhi kepentingan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mencapai prestasi yang penting. Kalangan selebritis, seniman, bintang film, pemusik, dan atlet profesional menjadi terkenal karena prestasi yang telah mereka ukir di bidang masing-masing. Masyarakat menikmati karya mereka, serta membayar dan menghargai mereka untuk apa yang sudah mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dituduh melakukan kejahatan yang penting. Seorang gelandangan yang mengaku melakukan praktek sodomi dan pembunuhan terhadap sejumlah anak kecil mendapat perhatian publik, bukan karena profesi atau jabatannya, tetapi karena perbuatannya yang mengerikan. Hal serupa berlaku untuk seorang perampok yang membunuh satu keluarga dalam suatu aksi perampokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengetahui sesuatu atau seseorang yang penting. Seorang sekretaris, yang kebetulan menyimpan memo --yang kemudian menjadi bukti penting dalam suatu kasus korupsi yang menjebloskan seorang gubernur ke penjara—untuk waktu tertentu menjadi berita. Sekretaris Presiden Bill Clinton pernah jadi sumber berita, karena dianggap menjadi saksi kunci yang mengetahui perselingkuhan Clinton dengan seorang gadis pekerja magang di Gedung Putih yang menghebohkan itu. Teman-teman seorang bintang film atau teman lama seorang presiden sering menjadi sumber berita karena kedekatan pertemanannya dengan bintang film atau presiden tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyaksikan sesuatu yang penting terjadi. Saksi-saksi suatu peristiwa kejahatan atau peristiwa publik yang penting dapat memberikan informasi tentang kesaksiannya itu, sehingga wartawan dapat menjelaskan suatu peristiwa secara rinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang penting telah menimpa mereka. Korban perampokan dan pencurian, korban yang selamat dari sebuah pesawat yang jatuh, atau orang yang tiba-tiba memenangkan lotere berhadiah besar, akan menarik dijadikan berita karena tragedi atau kegembiraan mendadak yang muncul dari peristiwa tersebut. Orang yang memperoleh penghargaan –seperti Tokoh Pejuang Lingkungan atau Tokoh Pembela Hak Asasi Manusia Tahun 2000—layak menjadi berita karena alasan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mewakili sebuah kecenderungan nasional yang penting. Penumpang yang terperangkap di bandar udara karena ada pemogokan massal oleh karyawan bandar udara, pasangan muda yang tak mampu membeli rumah tapi sudah terlanjur punya anak, mahasiswa yang kesulitan membayar biaya kuliah di tengah krisis ekonomi—masing-masing orang ini mewakili suatu perubahan sosial dalam komunitas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan mungkin ingin mewawancarai mereka karena salah satu atau beberapa alasan sekaligus. Mungkin saja kategori-kategori ini tumpang-tindih. Ketika di mobil artis Desy Ratnasari oleh polisi ditemukan obat terlarang, misalnya, setidaknya dua kategori sudah terpenuhi: Desy sebagai figur selebritis yang sudah mencapai prestasi tertentu di bidang keahliannya, dan tuduhan keterlibatannya dalam kejahatan narkotika. Dengan makin banyaknya kategori yang tercakup, makin banyak informasi dan warna yang bisa dituliskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang Mengandalkan Wawancara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara adalah kunci bagi jurnalis untuk menggali informasi. Tulisan yang informatif dan menghibur berasal dari wawancara-wawancara yang diselenggarakan dan diorganisasikan dengan baik. Ada empat macam tulisan yang mengandalkan hasil wawancara.&lt;br /&gt;News Story. Umumnya, setiap news story melaporkan berdasarkan standar 5 W (apa, siapa, mengapa, kapan, di mana) dan kadang-kadang ditambah 1 H (bagaimana suatu peristiwa terjadi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;News Feature. Sebuah news feature sering secara seksama mengulas aspek “bagaimana” dan “mengapa” dari sebuah news story, atau memberikan rincian latar belakang tentang “siapa” dan “apa.” Sebuah news feature bisa dimuat berdampingan dengan sebuah news story untuk menjelaskan beberapa aspek dari peristiwa yang diberitakan, atau sebuah news feature juga bisa menjadi tulisan susulan dari sebuah news story.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil. Tujuan tulisan profil adalah memfokuskan pada satu orang. Jika figur yang mau diprofilkan sudah cukup dikenal pembaca, maka tulisan ini harus menyajikan suatu aspek/unsur yang baru dari figur tersebut bagi para pembaca. Jika figur tersebut belum dikenal sama sekali oleh pembaca, wartawan harus secara utuh menggambarkan karakter figur tersebut. Kadang-kadang apa yang diperbuat oleh figur tersebut lebih penting dari yang ia katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Investigatif. Sebuah tulisan investigatif menjawab aspek “bagaimana” dan “mengapa” secara jauh lebih mendalam ketimbang sebuah news story menjawab “apa.” Tulisan investigatif bisa tercipta karena ada wartawan yang bersedia meluangkan waktu dan tenaga, untuk menyelidiki sesuatu di balik apa yang biasanya sudah diketahui mengenai peristiwa tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Round-Up. Tulisan yang bergaya simposium ini memberikan perspektif kepada pembaca tentang suatu isu yang sedang hangat, dengan cara mengumpulkan pendapat dari sejumlah orang. Seorang wartawan dapat melaporkan sebuah round-up opini atau komentar tentang sebuah isu tertentu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-1580871750468277803?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/1580871750468277803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=1580871750468277803&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1580871750468277803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1580871750468277803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/tujuan-spesifik-wawancara.html' title='Tujuan spesifik Wawancara'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-1307631293848066430</id><published>2008-06-04T03:56:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T03:57:53.484-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Oleh Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan.&lt;br /&gt;Banyak orang sering meremehkan tahapan awal ini, padahal tanpa persiapan yang baik wawancara tidak akan menghasilkan sesuai harapan. Persiapan teknis, seperti tape recorder untuk merekam wawancara, notes, kamera, dan sebagainya. Wartawan umumnya menggunakan catatan tertulis (notes) dan tidak boleh terlalu tergantung pada alat elektronik. Tapi alat elektronik seperti tape recorder cukup penting untuk mengecek ulang, apabila ada yang terlupa atau ada informasi yang meragukan, sehingga dikhawatirkan bisa salah kutip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, banyak kasus di mana pejabat pemerintah mengingkari lagi pernyataan yang diberikan kepada wartawan, sesudah pernyataan yang dimuat media massa itu menimbulkan reaksi keras di masyarakat. Wartawan disalahkan dan dituding “salah kutip,” bahkan diancam akan diperkarakan di pengadilan. Untuk menghindari risiko ini, banyak gunanya jika wawancara itu direkam dan setiap saat dibutuhkan bisa diputar kembali. Rekaman elektronik memang belum bisa menjadi alat bukti di pengadilan, namun bisa menjadi indikator tentang siapa yang benar dalam kontroversi tuduhan “wartawan salah kutip” tadi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selain persiapan teknis, yang harus diingat pertama kali dalam liputan investigasi adalah kita tidak memulai wawancara tentang suatu masalah dari nol. Sebelum mengatur waktu dan tempat pertemuan dengan narasumber untuk wawancara, wartawan sendiri harus jelas tentang beberapa hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan apa yang mau ditanyakan? Apakah persoalan itu menyangkut korupsi yang diduga dilakukan seorang pejabat pemerintah, atau tentang pencemaran lingkungan yang diduga dilakukan sebuah perusahaan pertambangan, si wartawan harus memiliki pemahaman dasar tentang permasalahan tersebut. Bila pemberi wawancara melihat wartawan itu tidak menguasai permasalahan, ia mungkin enggan memberi informasi lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah wartawan yakin telah menguasai permasalahan, langkah berikutnya adalah menentukan siapa sumber yang akan diwawancarai. Orang dapat bermanfaat sebagai pemberi wawancara karena sejumlah alasan. Pemberi wawancara yang ideal adalah yang memenuhi semua faktor ini. Untuk proyek peliputan yang panjang, faktor-faktor ini menjadi penting:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudahan diakses (accessibility). Apakah wartawan dengan mudah dapat mewawancarai orang ini? Jika tidak mudah dihubungi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menghubungi? Apakah wawancara harus dilakukan lewat telepon atau tertulis, ketimbang bertemu muka langsung? Jika narasumber ini bersifat vital bagi peliputan, wartawan harus realistis tentang prospek wawancara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reliabilitas (reliability). Apakah orang ini bisa dipercaya sebelumnya? Apakah informasi yang diberikan bisa dibuktikan benar oleh sumber-sumber independen lain? Apakah narasumber ini pakar yang betul-betul mengetahui permasalahan? Apa latar belakang kepentingannya sehingga ia bersedia diwawancarai? Wartawan harus hati-hati, karena ia akan terlihat bodoh jika melaporkan isu atau desas-desus yang belum jelas kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akuntabilitas (accountability). Apakah orang ini secara langsung bertanggungjawab atas informasi yang diinginkan wartawan atau atas tindakan-tindakan yang sedang diinvestigasi? Apakah ada sumber lain yang lebih punya otoritas tanggungjawab langsung ketimbang orang ini? Berapa orang sebenarnya yang diwakili oleh seseorang yang menyebut diri sebagai juru bicara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat-tidaknya dikutip (quotability). Mewawancarai seorang pakar yang fasih dan punya informasi lengkap mungkin dapat mengembangkan tulisan, seperti seorang pejabat publik yang blak-blakan dan suka membuat pernyataan-pernyataan kontroversial. Para tokoh masyarakat atau selebritis biasanya sudah tahu, ucapan macam apa yang suka dikutip wartawan. Sedangkan orang awam biasanya tidak ahli dalam “merekayasa” komentar yang bagus buat dikutip wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatur Waktu dan Tempat Wawancara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah jelas materi yang mau ditanyakan dan orang yang akan diwawancarai, ditentukanlah waktu dan tempat untuk wawancara. Wawancara bisa dilakukan di rumah atau kantor nara sumber. Jika di rumah, suasananya akan lebih santai dan informal. Jika di kantor, suasananya akan lebih formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seringkali, rumah atau pun kantor bukanlah empat yang pas untuk wawancara investigatif. Jika narasumber akan memberikan informasi yang sifatnya rahasia, maka kemungkinan besar ia tidak ingin diketahui oleh publik atau atasannya telah menyampaikan informasi tersebut kepada pers. Hal itu karena bisa berisiko pada keselamatan dirinya, keluarganya, jabatannya, atau karir politiknya. Maka harus diatur pertemuan di tempat dan waktu tertentu secara khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan waktu dan tempat di atas berlangsung dalam kondisi “normal”, artinya nara sumber memang sudah bersedia diwawancarai. Namun ada kalanya narasumber sengaja menghindar, mungkin karena merasa terancam keselamatannya atau ia sendiri mungkin terlibat dalam permasalahan. Dalam kondisi demikian, wartawanlah yang harus aktif melacak lokasi keberadaan narasumber, mengejar, mencegat narasumber tersebut untuk diwawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan jangan mudah patah semangat dan jangan mundur menghadapi penolakan, perlakuan tidak ramah, atau sikap dingin dari sumber berita. Perlakuan semacam ini kadang-kadang diberikan oleh seorang pejabat pemerintah kepada wartawan baru.&lt;br /&gt;SM. Ali, mantan Redaktur Pelaksana Bangkok Post yang berasal dari Banglades menyatakan, berdasarkan pengalamannya mewawancarai sejumlah pejabat dan pemimpin nasional di Asia, selalu ada kesempatan pertemuan lain. Banyak pejabat yang pada pertemuan pertama sama sekali tidak komunikatif, tetapi mereka kemudian luar biasa ramahnya pada pertemuan-pertemuan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasumber yang Enggan Diwawancarai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada juga narasumber yang memang betul-betul tidak ingin diwawancarai, walaupun mereka tidak terang-terangan mengatakan “tidak.” Yang mereka lakukan adalah menghindar dengan cara tidak menjawab telepon, atau meminta sekretarisnya untuk mengatakan “Bapak sedang ke luar kantor,” jika ada permintaan wawancara dari wartawan. Sehingga wartawan merasa dipermainkan atau diremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika wartawan menghadapi narasumber yang enggan diwawancarai, padahal sumber itu sangat vital bagi peliputan yang sedang dilakukan, wartawan tersebut punya tiga pilihan: Pertama, menuliskan hasil liputan tanpa wawancara itu. Kedua, menuliskan hasil liputan dengan tambahan keterangan bahwa setelah berusaha dihubungi berulang kali, narasumber tetap tidak menjawab panggilan telepon, pesan fax, atau surat permintaan wawancara. Ketiga, meyakinkan narasumber untuk bersedia diwawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tak mau diwawancarai mungkin menolak wawancara karena beberapa alasan, seperti:&lt;br /&gt;1. Waktu. Calon pemberi wawancara, yang mengatakan “Saya tak punya waktu untuk wawancara,” sebenarnya ingin memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan sesuatu yang lain ketimbang diwawancarai oleh wartawan. Mereka memperkirakan lama waktu yang dihabiskan untuk wawancara, dan menghitung manfaat wawancara itu dibandingkan dengan jika waktunya dipakai untuk kepentingan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rasa bersalah. Orang mungkin tak mau diwawancarai karena takut kelepasan bicara, mengakui telah melakukan suatu kesalahan, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin mereka ungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kecemasan. Seorang pemalu mungkin takut pada pengalaman diwawancarai. Ketakutan pada sesuatu yang belum dikenal membuat mereka cenderung menolak risiko pengalamam baru diwawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perlindungan. Orang mungkin menolak diwawancarai karena ingin melindungi keluarga, teman, atau orang lain yang dicintai, atau orang lain yang diketahui melakukan perbuatan salah. Calon pemberi wawancara mungkin juga takut dikaitkan dengan pernyataan atau komentar yang bisa mempermalukan atau mengecam pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ketidaktahuan. Calon pemberi wawancara bisa jadi menolak wawancara, karena tak mau mengakui bahwa dia tidak tahu apa-apa atau hanya tahu sedikit sekali tentang masalah yang dijadikan fokus wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mempermalukan. Orang mungkin menolak wawancara karena masalah yang mau dipertanyakan itu membuat dirinya merasa malu, risih, atau dianggap terlalu intim dan pribadi sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tragedi. Orang yang baru mengalami musibah berat mungkin tidak ingin mengungkapkan masalahnya itu kepada umum. Padahal wartawan dengan tulisannya akan mengubah masalah yang bersifat pribadi itu menjadi konsumsi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan Wawancara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama yang harus dilakukan oleh wartawan adalah memberi rasa aman kepada narasumber, agar ia merasa santai, tenang, dan mau terbuka memberi informasi. Wartawan harus memberi keyakinan kepada narasumber bahwa wartawan tersebut dan medianya itu bisa dipercaya, dan mampu menyimpan rahasia (terutama jika narasumber tak ingin identitasnya dimuat di media massa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan dari pemberi wawancara ini sangat penting. Kalau pewawancara tidak memperoleh kepercayaan dari sumber berita, maka informasi yang ia peroleh tidak akan lebih dari keterangan rutin, ulangan beberapa fakta yang sudah sering dimuat, pernyataan normatif yang sudah tidak perlu diperdebatkan, atau jawaban yang sifatnya mengelak belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah penciptaan suasana kondusif itu, dimulailah wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka. Pertanyaan pembuka ini sifatnya masih memberi rasa aman dan kepercayaan pada narasumber. Pertanyaan inti dan tajam, yang berisiko merusak suasana wawancara, harus disimpan dan baru dilontarkan pada momen yang tepat. Dari tanya-jawab awal, wartawan sudah bisa meraba bagaimana kondisi mental dan emosional narasumber, sehingga wartawan bisa memilih momen yang tepat untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pewawancara mengikuti arah pertanyaannya sampai yakin tidak ada yang dapat digali lagi. Selama wawancara, pertanyaan sebaiknya disusun dalam kalimat-kalimat yang pendek dan cermat. Hindarkan pertanyaan yang tidak langsung berhubungan dengan masalah yang ingin diinvestigasi, dan jangan bertele-tele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meluaskan komentar dan pernyataan dari orang yang diwawancarai, wartawan dapat mengajukan pertanyaan terbuka (open-ended). Sedangkan untuk memperoleh informasi yang spesifik dan rinci tentang sesuatu hal, harus diajukan pertanyaan tertutup (closed-ended).&lt;br /&gt;Pertanyaan terbuka –biasanya pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”—memungkinkan pemberi wawancara berspekulasi, untuk menawarkan opini, pengamatan, atau deskripsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pewawancara yang mengajukan pertanyaan terbuka berarti menawarkan peluang bagi komentar dan arah dari pemberi wawancara. Pertanyaan terbuka itu, misalnya, “Bagaimana pandangan Anda tentang tuduhan bahwa pabrik Anda mencemarkan lingkungan?” atau “Mengapa Anda begitu yakin bahwa pabrik Anda tidak mencemarkan lingkungan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terbuka mengundang tanggapan yang lebih lengkap dari pemberi wawancara, yang bisa memilih seberapa panjang dan bagaimana isi jawabannya. Pertanyaan terbuka ini mengundang kerjasama dan partisipasi dari pemberi wawancara. Pemberi wawancara yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terbuka mungkin juga bersedia memberi informasi lebih jauh dengan sukarela. Jawaban pertanyaan terbuka, selain lebih spekulatif, juga akan mencerminkan kepribadian pemberi wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pertanyaan tertutup berusaha mengarahkan pemberi wawancara ke jawaban yang spesifik. Misalnya, “Apakah Anda merasa gembira atau sedih dengan terungkapnya kasus kebocoran limbah pabrik ini?” atau “Berapa kali kebocoran tangki penyimpan limbah ini pernah terjadi sebelumnya?” Dengan pertanyaan semacam ini, pewawancara mengisyaratkan sebuah pilihan atau harapan bagi kesimpulan yang bisa dikuantifikasikan (diukur secara numerik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan tertutup dapat menghemat waktu karena lebih spesifik. Pertanyaan semacam ini biasanya menghasilkan jawaban-jawaban pendek, lebih berjarak dari pemberi wawancara, dan kurang memberi peluang partisipasi. Pertanyaan tertutup berguna untuk memperoleh informasi faktual. Informasi presisi itu merupakan hasil dari pertanyaan yang bisa dikuantifikasikan, yang dapat memberikan angka spesifik atau statistik yang otoritatif dan dapat digunakan dalam penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pewawancara, yang membutuhkan anekdot untuk tulisan tentang profil seseorang, akan lebih berhasil jika menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka. Wawancara memang akan berlangsung lebih lama, namun pemberi wawancara akan merasa lebih percaya dan lebih bersedia memberikan anekdot khas dan pengamatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan tertutup lebih cocok untuk penulisan berita yang cepat atau untuk situasi di mana wartawan membutuhkan jawaban spesifik pada periode waktu yang singkat. Pewawancara yang baik dapat mengkombinasikan pertanyaan-pertanyaan terbuka dan tertutup, untuk membuat tulisan dengan rincian spesifik, tetapi juga diwarnai oleh anekdot pemberi wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam lingkungan pers internasional dikenal wawancara yang sifatnya berbeda-beda. Antara lain:&lt;br /&gt;On the Record. Nama dan jabatan pemberi wawancara dapat digunakan sebagai sumber, dan keterangannya boleh dikutip langsung serta dimuat di media massa.&lt;br /&gt;Off the Record. Pemberi wawancara tidak dapat digunakan sebagai sumber dan keterangannya tidak boleh dimuat di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Background. Boleh menggunakan kutipan langsung atau menyiarkan keterangan apapun yang diberikan, tetapi tanpa menyebutkan nama dan jabatan pemberi wawancara sebagai sumbernya. Misalnya, digunakan istilah “sumber di departemen/badan...” menurut persyaratan yang disepakati dengan pemberi wawancara. Kadang-kadang disebut juga “not for attribution”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deep Background. Tidak boleh menggunakan kutipan langsung atau menyebut nama, jabatan, dan instansi pemberi wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reporter harus memberitahu redaktur tentang sifat wawancara yang dilakukannya. Apapun bentuk kesepakatan yang telah dicapai dengan pemberi wawancara, itu harus dihormati dan terwujud dalam pemberitaan. Kalau pemberi wawancara tidak ingin disebut namna dan jabatannya, misalnya, nama dan jabatannya itu tegas tidak boleh dimuat. Redaktur perlu diberitahu karena begitu berita hasil wawancara itu dimuat, tanggung jawab atas isi berita tidak lagi terletak di pundak reporter, tetapi menjadi tanggungjawab institusi media bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pemberi wawancara berhak menyembunyikan identitasnya, wartawan sedapat mungkin harus meyakinkan pemberi wawancara agar bersedia disebutkan identitasnya. Sebab, apabila terlalu banyak sumber berita yang tidak jelas identitasnya, kredibilitas wartawan dipertaruhkan. Tingkat kepercayaan pembaca terhadap isi tulisannya juga semakin besar, seolah-olah isi tulisan itu hanya berdasarkan gosip, isu, kabar angin atau bahkan “karangan” wartawan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan ini muncul bisa jadi karena adanya praktek pelanggaran kode etik yang dilakukan sejumlah wartawan Indonesia. Misalnya, sejumlah artis mengeluh karena ditulis begini dan begitu, padahal artis ini tidak merasa pernah diwawancarai wartawan bersangkutan. Namun karena posisi artis yang sangat membutuhkan publisitas dan dukungan media massa, para artis ini tidak mau ribut-ribut ke Dewan Pers atau pengadilan mengadukan masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;Biagi, Shirley (1986). Interviews That Works: A Practical Guide for Journalists. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.&lt;br /&gt;Gil, Generoso J. (1993). Wartawan Asia: Penuntun Mengenai Teknik Membuat Berita. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.&lt;br /&gt;Pakpahan, Roy (ed.) (1998). Penuntun Program Jurnalistik Terpadu Bagi Kalangan LSM. Jakarta: INPI-Pact-SMPI.&lt;br /&gt;Reddick, Randy, dan Elliot King (1996). Internet untuk Wartawan. Internet untuk Semua Orang. (Penerjemah: Masri Maris). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : satrio arismunandar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-1307631293848066430?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/1307631293848066430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=1307631293848066430&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1307631293848066430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1307631293848066430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/oleh-satrio-arismunandar-persiapan.html' title=''/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-3013662418030380553</id><published>2008-06-04T03:51:00.001-07:00</published><updated>2008-06-04T03:55:08.364-07:00</updated><title type='text'>Jurnalisme Online</title><content type='html'>Jurnalisme Online secara fungsional bisa dibedakan dari jenis jurnalisme lain, dengan menggunakan komponen teknologinya sebagai faktor penentu, dalam hal perumusan operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis Online harus memutuskan tentang hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;* Format media yang mana, yang terbaik untuk menyampaikan suatu berita (multimediality). Sejauh ini bandwidht dan hak cipta merupakan faktor-faktor struktural yang masih menghambat pengembangan content multimedia yang inovatif.&lt;br /&gt;* Memberi pilihan pada publik untuk memberi tanggapan, berinteraksi, atau bahkan meng-customize (menyesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan publik bersangkutan) terhadap berita-berita tertentu (interactivity).&lt;br /&gt;* Mempertimbangkan cara-cara untuk menghubungkan (connect) berita yang ia buat dengan berita lain, arsip, sumber data dan seterusnya lewat hyperlinks (hypertextuality).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Empat jenis Jurnalisme Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang memproduksi content terutama untuk Internet, dan khususnya untuk World Wide Web, dapat dianggap bekerja untuk salah satu atau lebih dari empat jenis Jurnalisme Online yang tersebut di bawah ini.&lt;br /&gt;Berbagai jenis jurnalisme online itu dapat ditempatkan di antara dua domain. Domain pertama, adalah suatu rentangan, mulai dari situs yang berkonsentrasi pada editorial content sampai ke situs-situs Web yang berbasis pada konektivitas publik (public connectivity).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Editorial content diartikan di sini sebagai teks (termasuk kata-kata yang tertulis atau terucapkan, gambar-gambar yang diam atau bergerak), yang dibuat atau diedit oleh jurnalis.&lt;br /&gt;Sedangkan konektivitas publik dapat dipandang sebagai komunikasi ”titik-ke-titik yang standar” (standard point-to-point). Atau, bisa juga kita nyatakan sebagai komunikasi ”publik” tanpa perantaraan atau hambatan (barrier of entry), misalnya, hambatan dalam bentuk proses penyuntingan (editing) atau moderasi (moderation).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Domain kedua, melihat pada tingkatan komunikasi partisipatoris, yang ditawarkan oleh situs berita bersangkutan.&lt;br /&gt;Sebuah situs dapat dianggap terbuka (open), jika ia memungkinkan pengguna untuk berbagi komentar, memposting, mem-file (misalnya: content dari situs tersebut) tanpa moderasi atau intervensi penyaringan.&lt;br /&gt;Sedangkan komunikasi partisipatoris tertutup (closed) dapat dirumuskan sebagai situs di mana pengguna mungkin berpartisipasi. Namun langkah komunikatif mereka harus melalui kontrol editorial yang ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mainstream News sites&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk media berita online yang paling tersebar luas adalah situs mainstream news. Situs ini menawarkan pilihan editorial content, baik yang disediakan oleh media induk yang terhubung (linked) dengannya atau memang sengaja diproduksi untuk versi Web. Tingkat komunikasi partisipatorisnya adalah cenderung tertutup atau minimal. Contoh: situs CNN, BBC, MSNBC, serta berbagai suratkabar online. Situs berita semacam ini pada dasarnya tak punya perbedaan mendasar dengan jurnalisme yang diterapkan di media cetak atau siaran, dalam hal penyampaian berita, nilai-nilai berita, dan hubungan dengan audiences. Di Indonesia, yang sepadan dengan ini adalah detik.com, Astaga.com, atau Kompas Cyber Media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Index &amp; Category sites&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis jurnalisme ini sering dikaitkan dengan mesin pencari (search engines) tertentu (seperti Altavista atau Yahoo), perusahaan riset pemasaran (seperti Moreover) atau agensi (Newsindex), dan kadang-kadang bahkan individu yang melakukan usaha (Paperboy). Di sini, jurnalis online menawarkan links yang mendalam ke situs-situs berita yang ada di manapun di World Wide Web. Links tersebut kadang-kadang dikategorisasi dan bahkan diberi catatan oleh tim editorial. Situs-situs semacam ini umumnya tidak menawarkan banyak editorial content yang diproduksi sendiri, namun terkadang menawarkan ruang untuk chatting atau bertukar berita, tips dan links untuk publik umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Meta &amp; Comment sites&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah situs tentang media berita dan isu-isu media secara umum. Kadang-kadang dimaksudkan sebagai pengawas media (misalnya: Mediachannel, Freedomforum, Poynter’s Medianews). Kadang-kadang juga dimaksudkan sebagai situs kategori dan indeks yang diperluas (seperti: European Journalism Center Medianews, Europemedia). Editorial content-nya sering diproduksi oleh berbagai jurnalis dan pada dasarnya mendiskusikan content lain, yang ditemukan di manapun di Internet. Content semacam itu didiskusikan dalam kerangka proses produksi media. ”Jurnalisme tentang jurnalisme” atau meta-journalism semacam ini cukup menjamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Share &amp; Discussion sites&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan situs-situs yang mengeksploitasi tuntutan publik bagi konektivitas, dengan menyediakan sebuah platform untuk mendiskusikan content yang ada di manapun di Internet. Dan kesuksesan Internet pada dasarnya memang disebabkan karena publik ingin berkoneksi atau berhubungan dengan orang lain, dalam tingkatan global yang tanpa batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs semacam ini bisa dibilang memanfaatkan potensi Internet, sebagai sarana untuk bertukar ide, cerita, dan sebagainya. Kadang-kadang dipilih suatu tema spesifik, seperti: aktivitas anti-globalisasi berskala dunia (situs Independent Media Centers, atau umumnya dikenal sebagai Indymedia), atau berita-berita tentang komputer (situs Slashdot). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : satrio arismunandar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-3013662418030380553?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/3013662418030380553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=3013662418030380553&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/3013662418030380553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/3013662418030380553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/jurnalisme-online.html' title='Jurnalisme Online'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-9050378131159216277</id><published>2008-06-04T03:48:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T03:50:26.313-07:00</updated><title type='text'>Berbagai Motivasi Jurnalis</title><content type='html'>Manajer media harus membawahi berbagai jenis pekerja, dari bagian produksi/teknisi, sirkulasi, periklanan, front-office, dan staf redaksi. Dari semua pekerja ini, staf redaksi biasanya menjadi tantangan terbesar, karena para jurnalis sering bekerja berdasarkan motivasi yang berbeda ketimbang pekerja lain yang berorientasi tugas atau staf bagian bisnis. Pemahaman tentang apa yang memotivasi karyawan (jurnalis) ini penting bagi manajer, agar mereka dapat mengelola stafnya secara lebih efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan memahami motivasi para jurnalis ini menjadi sebab mengapa begitu sulit menerapkan gaya manajemen partisipatif di newsroom, justru ketika departemen lain bisa menerimanya dengan lebih mudah. Tampaknya terdapat lebih banyak skeptisisme di kalangan jurnalis, serta keengganan umum untuk berubah. Di bawah ini diuraikan sebagian ciri-ciri umum atau nilai-nilai di kalangan jurnalis, untuk memberi pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana memotivasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan ego. Bukan rahasia lagi, banyak jurnalis memiliki ego yang tinggi, yang perlu dipuaskan secara rutin dengan memberi byline pada setiap karyanya yang dimuat di suratkabar. Faktor kepuasan ego ini yang membuat banyak pekerja di bisnis media tetap bertahan di dunia jurnalistik, meski mereka sadar bisa memperoleh penghasilan yang lebih baik atau mendapatkan suasana kerja yang tidak terlalu menimbulkan stres di jenis pekerjaan lain. Ego bisa menjadi aset bagi jurnalis, tetapi juga menjadi beban bagi manajer yang harus menangani mereka. Jurnalis yang egoistis sering sulit menerima kritik terhadap karyanya dengan lapang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealisme. Salah satu problem utama yang dihadapi redaktur adalah menghadapi kengototan reporter, yang ingin memandang berbagai masalah sebagaimana seharusnya, bukan sebagaimana adanya. Ini terjadi umumnya pada reporter-reporter baru. Konflik ini sering muncul ketika seorang reporter menyadari, gaya tulisannya dianggap terlalu berbunga-bunga atau sebaliknya terlalu datar oleh sang redaktur. Atau, ketika redaktur menuntut sang reporter melengkapi jumlah narasumber dalam artikel yang ditulisnya. Padahal si reporter merasa, jumlah narasumber sudah cukup. Mereka akan mengatakan, instruksi redaktur itu tidak sesuai dengan apa yang telah mereka pelajari di sekolah jurnalistik. Friksi bisa jadi akan muncul, antara reporter yang menggunakan pendekatan idealistis berhadapan dengan redaktur yang berpandangan realistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skeptisisme. Dibandingkan ciri-ciri jurnalis lainnya, skeptisisme tampaknya adalah yang paling merepotkan manajer. Sejak awal menjalani profesinya, para jurnalis dilatih untuk skeptis pada segala sesuatu, dan ini berkelanjutan sampai ke opini si jurnalis terhadap organisasi, kebijaksanaan kantor dan manajernya sendiri. Skeptisisme itu tidak bisa berdampingan harmonis dengan rasa hormat dan kepatuhan buta terhadap otoritas, siapa pun yang menjadi figur otoritas tersebut, baik narasumber berita maupun redakturnya sendiri. Skeptisisme ini menyebabkan setiap upaya pembaruan dalam gaya kepemimpinan di newsroom perlu waktu lama sebelum bisa diterapkan, karena pertama-tama si manajer harus meraih kepercayaan dari para jurnalis. Ini adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keagresifan. Dikombinasikan dengan skeptisisme, keagresifan (aggresiveness) atau ketegasan (assertiveness) dapat menghasilkan seorang reporter yang pemberani dan tangguh di lapangan. Namun, hal itu juga dapat menghasilkan seorang karyawan yang sulit diatur. Para redaktur merasa senang, jika reporternya agresif mengejar berita. Namun, mereka tidak siap menghadapi reporter yang dengan agresif bertanya, mengapa berita mereka dipotong oleh redaktur begitu rupa, atau diubah di sana-sini. Banyak produser dan redaktur akan berusaha sedapatnya menghindarkan terjadinya konfrontasi yang sengit di newsroom. Bawahan yang agresif bisa memberi pengaruh tertentu pada atasannya. Sikap agresif seperti ini biasanya juga dimiliki oleh staf sales.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreativitas. Studi menunjukkan, salah satu yang memberikan kepuasan kerja dan motivasi pada jurnalis adalah kesempatan menulis cerita yang menarik dari fakta-fakta yang ia kumpulkan di lapangan. Kreativitas juga memberi inspirasi pada praktisi periklanan, ketika merancang iklan yang unik bagi kliennya. Namun di sisi lain, orang yang sangat kreatif mungkin tak mudah diawasi atau diatur, dibandingkan karyawan lain yang cenderung mengikuti prosedur operasi yang standar. Reporter atau praktisi periklanan yang kreatif sering lebih suka mengikuti kemauannya sendiri, ketimbang aturan organisasi. Namun, tanpa kreativitas si pembuatnya, kita mungkin tak akan menemukan artikel atau iklan yang menarik. Dengan kreativitas, keterpaduan antara tujuan individu dan tujuan perusahaan menjadi sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individualisme. Jurnalis yang memiliki individualisme yang kuat sering sulit bekerjasama dengan rekan-rekannya sebagai bagian dari tim. Profesi ini juga menyajikan suatu ironi. Meskipun reporter dan redaktur media cetak berhubungan erat dalam lingkungan komunal yang dinamakan newsroom, pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing sangat individualis. Hal ini kurang terasa di media televisi, di mana reporter dan camera person harus bekerja berdampingan, tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Kadang-kadang keduanya juga bekerjasama dengan producer lapangan. Kenyataannya, banyak reporter bertahan di profesi ini justru karena hakikat pekerjaannya yang relatif bersifat individual. Bisa saja, seorang reporter membuat penugasan sendiri, mengumpulkan informasi sendiri, lalu menuliskan berita dan menyerahkannya ke desk yang mungkin tidak akan banyak menyunting isinya. Dengan adanya reporter yang kompeten, bisa jadi sang redaktur menerima baik individualisme si reporter, karena memandang si reporter sebagai karyawan yang bisa “jalan sendiri” dan hanya membutuhkan pengawasan minimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesionalisme. Banyak jurnalis menganggap dirinya profesional. Namun definisi profesionalisme itu sendiri sering tak jelas. Jurnalis, seperti juga dokter dan ahli hukum, adalah sebuah profesi (profession). Profesi menurut Webster's New Dictionary and Thesaurus (1990)[1] adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan khusus dan seringkali juga persiapan akademis yang intensif dan lama. Seorang dokter ahli bedah, misalnya, sebelum bisa berpraktek membutuhkan pengetahuan tentang anatomi tubuh manusia dan pendidikan, sekaligus latihan, cukup lama dan intensif. Seorang ahli hukum juga harus belajar banyak tentang ketentuan hukum sebelum bisa berpraktek. Seorang jurnalis juga perlu memiliki keterampilan tulis-menulis, yang untuk mematangkannya membutuhkan waktu cukup lama, sebelum bisa menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh ini membedakan dengan jelas antara profesi dengan pekerjaan biasa, seperti tukang becak, misalnya, yang tidak membutuhkan keterampilan atau pengetahuan khusus. Samuel Huntington[2] menambahkan, profesi bukanlah sekadar pekerjaan atau vocation, melainkan suatu vokasi khusus yang memiliki ciri-ciri: Keahlian (expertise); tanggung jawab (responsibility); dan kesejawatan (corporateness).&lt;br /&gt;sumber : Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-9050378131159216277?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/9050378131159216277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=9050378131159216277&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/9050378131159216277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/9050378131159216277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/berbagai-motivasi-jurnalis.html' title='Berbagai Motivasi Jurnalis'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-2292227295542915654</id><published>2008-06-04T03:44:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T03:48:19.718-07:00</updated><title type='text'>Gaya Kepemimpinan di Perusahaan Media</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Model Tradisional (1900-1930):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan munculnya revolusi industri pada akhir 1800-an, paramanajer merasa perlu merumuskan kembali konsep tentang kerja dan hubungan sosial antara berbagai tingkatan posisi di organisasi. Juga ada kebutuhan atas filosofi manajemen yang baru, yang lebih konsisten dengan keyakinan manajerial yang berlaku pada waktu itu. Kepercayaan itu mengatakan, para karyawan pada dasarnya adalah pemalas dan motivasi mereka dalam bekerja hampir seluruhnya ditentukan oleh uang. Hanya sedikit karyawan yang mau atau sanggup memegang otonomi, atau bekerja tanpa arahan (self-direction), dalam menjalankan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan asumsi tersebut, cara terbaik untuk memotivasi karyawan adalah membayar mereka dengan menggunakan sistem piece-rate, dan kemudian mendisain ulang pekerjaan mereka, sehingga rata-rata pekerja dapat memaksimalkan hasil kerjanya. Pendisainan ulang pekerjaan ini bukan bertujuan untuk memperkaya kerja, tetapi untuk meningkatkan penyederhanaan kerja dan fraksionisasi. Pendisainan ulang pekerjaan ini merupakan jantung gerakan yang dikenal sebagai “manajemen ilmiah” (scientific management).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Model Hubungan Manusiawi/ Human Relations (1930-1960):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Tradisional ternyata memiliki masalah, karena terbukti ada faktor-faktor selain uang, yang berpotensi memotivasi para pekerja. Hal ini bukan berarti uang tidak penting, tetapi uang bukanlah satu-satunya faktor. Selain itu, paramanajer menyadari bahwa banyak karyawan bisa berinisiatif sendiri (self-starter), dan tak perlu secara ketat diawasi atau dikontrol. Akhirnya, para manajer mencoba menggunakan teknik-teknik penyederhanaan kerja dari “manajemen ilmiah,” tapi tanpa mengaitkan peningkatan hasil kerja mereka dengan kenaikan gaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik ini membuat karyawan tidak percaya pada pihak manajemen, karena gaji mereka berada di bawah level produktivitas. Selain itu, jumlah karyawan bisa dikurangi, berkat efisiensi kerja yang meningkat. Akibatnya, karyawan terdorong mengurangi produktivitasnya, serta terdorong membentuk serikat pekerja. Dari sini, para manajer belajar bahwa faktor manusia harus diperhitungkan, jika produktivitas jangka panjang ingin dipertahankan. Penekanan pada faktor manusia dalam kinerja karyawan ini dikenal sebagai gerakan “hubungan manusiawi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi-asumsi dasar tentang hakikat manusia dalam pekerjaannya telah berubah. Kini disadari bahwa orang ingin dianggap berguna dan penting dalam hal kerja, dan mereka ingin diakui sebagai individu. Kebutuhan-kebutuhan itu sama pentingnya dengan uang. Maka perhatian kini lebih diarahklan pada hakikat hubungan antarkelompok dan antarpribadi di pekerjaan. Jika karyawan tak diperlakukan secara manusiawi, semangat kerja bisa merosot dan muncul kinerja yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Model Sumberdaya Manusia / Human Resources (sejak 1960)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, menjadi jelas bahwa asumsi-asumsi yang menggarisbawahi model hubungan manusiawi merupakan pernyataan yang kurang lengkap tentang perilaku manusia di pekerjaan. Model-model yang lebih kontemporer memandang aspek motivasi dalam pendekatan yang lebih rumit. Asumsinya, banyak faktor yang mampu mempengaruhi perilaku, dan bahwa uang bukanlah selalu faktor yang terpenting. Faktor-faktor itu bisa termasuk: tekanan teman kerja, pengaruh sosial, hakikat kerja, sistem insentif, gaya pengawasan, kebutuhan dan nilai-nilai karyawan, dan persepsi mereka terhadap lingkungan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ini juga mengasumsikan, karyawan yang berbeda bisa menginginkan imbalan yang berbeda pula dari pekerjaan mereka. Banyak karyawan secara tulus ingin memberi kontribusi, dan karyawan pada umumnya memiliki kapasitas untuk berinisiatif sendiri dan melakukan kontrol-diri. Singkatnya, banyak cara pandang manajer dewasa ini tentang motivasi, yang memfokuskan pada karyawan sebagai sumberdaya manusia potensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan cara pandang ini, para pekerja merupakan sumberdaya perusahaan, sama seperti mesin dan berbagai modal fisik lainnya. Secara faktanya, sumberdaya manusia menjadi sumberdaya perusahaan yang terpenting dan harus diperlakukan seperti itu. Dengan asumsi-asumsi ini, menjadi tanggung jawab manajer untuk mengelola sumberdaya tersebut sedemikian rupa, sehingga kebutuhan dan tujuan karyawan maupun perusahaan sama-sama tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, pendekatan manajerial kontemporer terhadap motivasi karyawan menekankan pentingnya pemahaman manajer terhadap proses motivasi dasar. Hal itu penting, agar mereka bisa menangani karyawan dan lingkungan kerjanya dengan lebih baik, serta memfasilitasi tercapainya kinerja dan kepuasan kerja yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Model Modal Manusiawi/ Human Capital:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah human capital merupakan pengakuan bahwa manusia di dalam organisasi dan bisnis adalah aset yang penting dan esensial. Mereka memberi sumbangan bagi perkembangan dan pertumbuhan, dengan cara yang mirip dengan aset-aset fisik, seperti mesin dan uang. Sikap, keterampilan dan kemampuan kolektif mereka memberi kontribusi bagi kinerja dan produktivitas organisasi. Setiap pembelanjaan untuk pelatihan, pengembangan, kesehatan dan olahraga harus dipandang sebagai investasi, bukan sekedar pengeluaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sebuah organisasi atau bisnis adalah entitas hukum yang terpisah, ia tidak lagi eksis jika tidak punya orang –pemimpin, direktur, anggota, karyawan—untuk memelihara keberadaan organisasi itu. Dalam masyarakat yang memberikan tempat utama bagi kompetisi, perolehan finansial dan kelangsungan hidup, isyu-isyu tentang manusia kadang-kadang diabaikan. Bagaimana pun, pemimpin bisnis dan politik kini mengakui, memiliki orang yang baik, yang trampil dan bermotivasi, bisa punya arti signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi begitu sengit dan perubahan begitu cepat, sehingga setiap keunggulan kompetitif yang diperoleh lewat pengenalan proses atau teknologi baru, dapat berumur pendek jika para pesaing mengadopsi teknologi yang sama. Namun, untuk menerapkan perubahan, orang harus memiliki keterampilan dan kemampuan yang sama atau lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tumbuh dan beradaptasi, pemimpin organisasi harus mengakui nilai dan kontribusi manusianya. Memperlakukan uang, yang dibelanjakan untuk manusia, sebagai investasi pada aset yang penting, adalah pola pikir yang jauh lebih tepat ketimbang memperlakukan pembelanjaan itu sebagai biaya, yang harus ditekan seminimal mungkin.&lt;br /&gt;Singkatnya, manusia harus diperlakukan sebagai aset, ketimbang sebagai biaya. Setiap usaha harus dilakukan, secara formal ataupun informal, untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan, dan untuk menyediakan peluang bagi manusia untuk memaksimalkan kontribusi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satrio Arismunandar, 27 Juli 2006&lt;br /&gt;Trans TV - Jl. Kapten P. Tendean Kav 12-14A.&lt;br /&gt;Jakarta Selatan 12790&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-2292227295542915654?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/2292227295542915654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=2292227295542915654&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2292227295542915654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2292227295542915654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/gaya-kepemimpinan-di-perusahaan-media.html' title='Gaya Kepemimpinan di Perusahaan Media'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-2033915562296859911</id><published>2008-06-04T03:39:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T03:43:59.681-07:00</updated><title type='text'>Kiat Agar diliput Media TV</title><content type='html'>Oleh : Satrio Arismunandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering mendapat keluhan dari sejumlah teman, yang kebetulan bekerja di departemen pemerintahan, atau pun yang aktif di NGO (organisasi non-pemerintah). Meski dengan ungkapan yang bervariasi, keluhan mereka hampir seragam. “Mengapa sih Trans TV tak pernah mengirim wartawannya untuk meliput acara kami? Padahal kami sudah mengundang berkali-kali, lewat telepon, lewat fax dan surat pos,” ujar mereka.&lt;br /&gt;Bahkan ada sejumlah relasi, yang bicara blak-blakan seperti ini: “Apakah masalahnya cuma uang? Kalau cuma itu masalahnya, kami pun bersedia membayar untuk diliput. Termasuk menyediakan anggaran untuk wartawan yang meliput, dengan camera person-nya!”&lt;br /&gt;Ungkapan yang terakhir ini tentu saja keliru. Seorang jurnalis yang baik dan profesional bekerja dan meliput berita bukan karena iming-iming uang dari narasumber, atau bahasa populernya diberi “amplop.” Namun, peristiwa itu diliput karena memang layak diliput. Bahwa ada sejumlah “oknum” jurnalis yang bersedia meliput peristiwa apa saja, asal disediakan uang, tidak boleh dijadikan alasan untuk menggeneralisir semua jurnalis berperilaku demikian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Type rest of the post here&lt;br /&gt;Namun keluhan sejumlah teman tentang sulitnya mendapat peluang untuk diliput media, memang patut mendapat perhatian. Berdasarkan pengalaman selama ini sebagai jurnalis media cetak dan elektronik, saya akan menguraikan, berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menarik minat media. Sehingga, pada gilirannya hal ini akan meningkatkan peluang, acara atau kegiatan kita diliput oleh media. Di sini saya akan lebih menekankan pada media televisi, karena memang di media itulah saya sekarang bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria kelayakan berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pertama kita harus memahami bagaimana cara media bekerja, sebelum mereka memutuskan untuk meliput suatu acara, kegiatan atau peristiwa. Setiap media memiliki apa yang disebut kriteria kelayakan berita. Selain itu, mereka juga memiliki apa yang disebut kebijakan redaksional (editorial policy). Kriteria kelayakan berita itu bersifat umum (universal), dan tak jauh berbeda antara satu media dengan media yang lain. Sedangkan kebijakan redaksional setiap media bisa berbeda, tergantung visi dan misi atau ideologi yang dianutnya.&lt;br /&gt;Perbedaan visi, misi dan ideologi ini akan berpengaruh pada sudut pandang atau angle peliputan. Dua media yang berbeda bisa mengambil sudut pandang yang berbeda terhadap suatu peristiwa yang sama. Bandingkan, misalnya, cara pandang redaktur harian Kompas dan Republika terhadap RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, yang telah memancing kontroversi sengit di sejumlah kalangan belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, tentu saja segmen khalayak yang dilayani tiap media juga berbeda-beda. Keinginan media untuk memuaskan kebutuhan segmen khalayak tersebut secara tak langsung juga berarti melakukan seleksi terhadap apa yang layak dan tidak layak diliput. Trans TV, misalnya, memilih khalayak dari kalangan sosial-ekonomi menengah ke atas. Majalah Femina membidik pasar kaum perempuan berusia menengah ke atas, yang tinggal atau bekerja di perkotaan. Sedangkan Radio Hardrock FM mengejar pasar kaum muda di Jakarta.&lt;br /&gt;Ini adalah sejumlah kriteria kelayakan berita yang bersifat umum:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting. Suatu peristiwa diliput jika dianggap punya arti penting bagi mayoritas khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Tentu saja, media tidak akan rela memberikan space atau durasinya untuk materi liputan yang remeh. Kenaikan harga bahan bakar minyak, pemberlakuan undang-undang perpajakan yang baru, dan sebagainya, jelas penting karena punya dampak langsung pada kehidupan khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktual. Suatu peristiwa dianggap layak diliput jika baru terjadi. Maka, ada ungkapan tentang berita “hangat,“ artinya belum lama terjadi dan masih jadi bahan pembicaraan di masyarakat. Kalau peristiwa itu sudah lama terjadi, tentu tak bisa disebut berita “hangat,” tetapi lebih pas disebut berita “basi.” Namun, pengertian “baru terjadi” di sini bisa berbeda, tergantung jenis medianya. Untuk majalah mingguan, peristiwa yang terjadi minggu lalu masih bisa dikemas dan dimuat. Untuk suratkabar harian, istilah “baru” berarti peristiwa kemarin. Untuk media radio dan televisi, berkat kemajuan teknologi telekomunikasi, makna “baru” adalah beberapa jam sebelumnya atau “seketika” (real time). Contohnya, siaran langsung pertandingan sepakbola Piala Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unik. Suatu peristiwa diliput karena punya unsur keunikan, kekhasan, atau tidak biasa. Orang digigit anjing, itu biasa. Tetapi, orang mengigit anjing, itu unik dan luar biasa. Contoh lain: Seorang mahasiswa yang berangkat kuliah setiap hari, itu kejadian rutin dan biasa. Tetapi, jika seorang mahasiswa menembak dosennya, karena bertahun-tahun tidak pernah diluluskan, itu unik dan luar biasa. Di sekitar kita, selalu ada peristiwa yang unik dan tidak biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asas Kedekatan (proximity). Suatu peristiwa yang terjadi dekat dengan kita (khalayak media), lebih layak diliput ketimbang peristiwa yang terjadi jauh dari kita. Kebakaran yang menimpa sebuah pasar swalayan di Jakarta tentu lebih perlu diberitakan ketimbang peristiwa yang sama tetapi terjadi di Ghana, Afrika. Perlu dijelaskan di sini bahwa “kedekatan” itu tidak harus berarti kedekatan fisik atau kedekatan geografis. Ada juga kedekatan yang bersifat emosional. Agresi Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, misalnya, secara geografis jauh dari kita, tetapi secara emosional tampaknya cukup dekat bagi khalayak media di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asas Keterkenalan (prominence). Nama terkenal bisa menjadikan berita. Sejumlah media pada Juni-Juli 2006 ini ramai memberitakan kasus perceraian artis Tamara Bleszynski dan suaminya Teuku Rafli Pasha, serta perebutan hak asuh atas anak antara keduanya. Padahal di Indonesia ada ratusan atau bahkan ribuan pasangan lain, yang bercerai dan terlibat sengketa rumah tangga. Namun, mengapa mereka tidak diliput? Ya, karena sebagai bintang sinetron dan bintang iklan sabun Lux, Tamara adalah figur selebritas terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magnitude. Mendengar istilah magnitude, mungkin mengingatkan Anda pada gempa bumi. Benar. Magnitude ini berarti “kekuatan” dari suatu peristiwa. Gempa berkekuatan 6,9 skala Richter pasti jauh lebih besar dampak kerusakannya, dibandingkan gempa berkekuatan 3,1 skala Richter. Dalam konteks peristiwa untuk diliput, sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan 10.000 buruh, tentu lebih besar magnitude-nya ketimbang demonstrasi yang cuma diikuti 100 buruh. Kecelakaan kereta api yang menewaskan 200 orang pasti lebih besar magnitude-nya daripada serempetan antara becak dan angkot, yang hanya membuat penumpang becak menderita lecet-lecet. Semakin besar magnitude-nya, semakin layak peristiwa itu diliput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Human Interest. Suatu peristiwa yang menyangkut manusia, selalu menarik diliput. Mungkin sudah menjadi bawaan kita untuk selalu ingin tahu tentang orang lain. Apalagi yang melibatkan drama, seperti: penderitaan, kesedihan, kebahagiaan, harapan, perjuangan, dan lain-lain. Topik-topik kemanusiaan semacam ini biasanya disajikan dalam bentuk feature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur konflik. Konflik, seperti juga berbagai hal lain yang menyangkut hubungan antar-manusia, juga menarik untuk diliput. Ketika ppahlawan sepakbola Perancis, Zinedine Zidane, “menanduk” pemain Italia, Marco Materrazzi, dalam pertandingan final Piala Dunia, Juli 2006 lalu, ini menarik diliput. Mengapa? Ya, karena sangat menonjol unsur konflik dan kontroversinya. Bahkan, kontroversi kasus Zidane ini lebih menarik daripada pertandingan antara kesebelasan Perancis dan Italia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trend. Sesuatu yang sedang menjadi trend atau menggejala di kalangan masyarakat, patut mendapat perhatian untuk diliput media. Pengertian trend adalah sesuatu yang diikuti oleh orang banyak, bukan satu-dua orang saja. Misalnya, suatu gaya mode tertentu yang unik, perilaku kekerasan antar warga masyarakat yang sering terjadi, tawuran antarpelajar, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memilih topik liputan, bisa saja tergabung beberapa kriteria kelayakan. Misalnya, kasus mantan anggota The Beatles, John Lennon, yang pada 1980 tewas ditembak di depan apartemennya di New York oleh Mark Chapman. Padahal beberapa jam sebelumnya, Chapman sempat meminta tanda tangan Lennon. Chapman mengatakan, ia mendengar “suara-suara” di telinganya yang menyuruhnya membunuh Lennon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat kriteria kelayakan berita ini. Pertama, Lennon adalah seorang selebritas yang terkenal di seluruh dunia (unsur keterkenalan). Kedua, penembakan terhadap seorang bintang oleh penggemarnya sendiri, jelas peristiwa luar biasa dan jarang terjadi (unsur keunikan). Ketiga, meskipun peristiwa itu terjadi di lokasi yang jauh dari Indonesia, para penggemar The Beatles di Indonesia pasti merasakan kesedihan mendalam akibat tewasnya Lennon tersebut (unsur kedekatan emosional). Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar sebagai kekuatan media televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang saya uraikan di atas merupakan kriteria-kriteria yang bisa dibilang bersifat universal, yakni berlaku sama untuk media cetak ataupun elektronik. Namun, ada kriteria yang khusus berlaku untuk media televisi. Hal ini disebabkan oleh sifat televisi sebagai sebuah media audio-visual (ada suara dan gambar). Dari segi suara (audio), ada kemiripan televisi dengan media radio. Namun, unsur gambar (visual) inilah yang menjadi ciri khas, sekaligus kekuatan, media televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seorang reporter dari suatu suratkabar baru pulang dari tugas liputan, redaktur biasanya langsung bertanya: “Kamu dapat berita apa?” Sesudah jelas, informasi apa yang diperoleh dan mau ditulis, baru si redaktur bertanya: “Ada fotonya?” Di banyak media suratkabar di Indonesia, foto (gambar) lebih sering diposisikan sebagai pelengkap berita, bukan yang utama. Artinya, tanpa satu foto pun, berita itu tetap bisa dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang kebalikannya justru terjadi di media televisi. Jika seorang reporter dengan camera-person-nya baru pulang liputan, si producer (sama dengan redaktur di media cetak) akan bertanya: “Kamu dapat gambar apa?” Aspek gambar lebih diperhatikan karena memang pada gambar inilah letak kekuatan media televisi. Penulisan narasi untuk paket berita di media televisi tergantung pada ketersediaan gambar. Bahkan tak jarang, alur narasi itu sendiri menyesuaikan dengan alur gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketersediaan gambar ini mutlak diperlukan, karena pemirsa tidak mungkin disuguhi layar yang kosong. Ketiadaan gambar baru bisa ditoleransi untuk kasus-kasus khusus. Dalam hal ini, presenter-lah yang akan muncul di layar dan langsung membacakan berita, tanpa diiringi gambar lain. Misalnya, breaking news tentang terjadinya gempa dan Tsunami, yang melanda pantai selatan Pulau Jawa, 17 Juli 2006. Hal ini terpaksa dilakukan karena informasi baru saja diperoleh lewat hubungan telepon, sedangkan reporter dan camera person masih dalam perjalanan dan belum sampai ke lokasi bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena gambar (dan suara) menjadi kekuatan media televisi, seorang producer sering mengeksplorasi dua aspek tersebut, khususnya untuk liputan-liputan yang menghasilkan gambar dinamis dan dramatis. Misalnya, liputan tentang kerusuhan massal, yang disertai dengan perusakan, penjarahan, dan pembakaran. Tanpa banyak narasi, gambar peristiwa itu sendiri sudah cukup informatif dan menarik perhatian pemirsa. Narasi hanya bersifat menuturkan hal-hal yang tidak bisa diceritakan lewat gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para producer berita televisi biasanya menyukai gambar-gambar dinamis dan dramatis. Di sisi lain, mereka kurang bersemangat meliput acara yang (sudah bisa diperkirakan) akan menghasilkan gambar-gambar mati, monoton, statis, atau membosankan. Misalnya, acara seminar, simposium, diskusi, ceramah, serah-terima jabatan, peresmian ini dan itu, dan sebagainya. Gambarnya biasanya hanyalah: orang bicara, pengguntingan pita, hadirin yang duduk dan mendengarkan ceramah, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari seluruh uraian di atas, saya yakin Anda sudah mendapat cukup gambaran, tentang hal-hal apa dan bagaimana pengemasannya, yang disukai oleh para producer di media televisi. Dengan memahami berbagai kriteria kelayakan berita, serta kekuatan media televisi untuk mengeksplorasi aspek gambar, Insya Allah, semua ini dapat Anda manfaatkan sebagai kiat-kiat untuk lebih mudah diliput oleh media televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 18 Juli 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Satrio Arismunandar adalah News Producer Trans TV (sejak 2002-sekarang). Ia pernah bekerja di Harian Pelita (1986-1988), Kompas (1988-1995), dan Media Indonesia (2000-2001). Dulu aktif sebagai anggota-pendiri dan Sekjen Aliansi Jurnalis Independen (AJI), serta menjadi anggota Dewan Pimpinan Pusat SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-2033915562296859911?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/2033915562296859911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=2033915562296859911&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2033915562296859911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/2033915562296859911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/06/kiat-agar-diliput-media-tv.html' title='Kiat Agar diliput Media TV'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-6024885597665767137</id><published>2008-05-08T20:11:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T20:13:32.791-07:00</updated><title type='text'>Belajar Jurnalistik Bersama Putu Setia (4)</title><content type='html'>Mengenal Opini dan Kolom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah surat kabar dikenal ada: berita, feature, tajuk, pojok, kolom, surat pembaca, iklan. Biasanya ada pula fiksi, karikatur, foto-foto. Berita dan feature adalah fakta, pojok dan tajuk adalah opini dari pengasuh koran, kolom dan surat pembaca adalah opini dari luar, iklan adalah sumber duit untuk penerbitan, sedang fiksi adalah karangan yang fiktif, bisa sebagai cerita bersambung, cerpen, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penerbitan majalah dan tabloid, keadaannya hampir sama. Mungkin majalah dan tabloid tidak ada fiksinya, kecuali majalah dan tabloid yang sifatnya hiburan, bukan majalah atau tabloid berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penerbitan majalah dan tabloid, juga jarang ada tajuk rencana, yang isinya adalah opini yang mengatasnamakan penerbitan itu. Di beberapa penerbitan, pemimpin redaksi atau redaktur senior menulis opini khusus dengan byline. Misalnya, di Forum dulu ada Catatan Hukum. Itu tak bisa digolongkan opini, karena belum tentu mewakili isi majalah tersebut. Itu lebih tepat disebut kolom. Nah, di majalah TEMPO sekarang ini ada opini. Itu betul-betul opini yang sebenarnya, karena dibuat untuk mewakili kepentingan penerbitan. Dan tidak ada byline-nya (penulisnya).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kriteria:&lt;br /&gt;Jadi apa itu opini dan kolom, sudah jelas. Opini adalah tulisan yang merupakan pendapat seseorang atau lembaga. Kolom dan surat pembaca termasuk opini. Pokoknya segala yang bukan berita disebut opini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan opini ada dua: mewakili lembaga (disebut tajuk, pojok, opini -- dalam pengertian rubrik), dan mewakili perorangan (disebut kolom). Kalau dibagi lagi, kolom bisa ditulis oleh orang luar maupun orang dalam, tajuk dan sebagainya itu adalah opini yang ditulis oleh orang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditulis:&lt;br /&gt;&gt;Baik opini maupun kolom, kedua-duanya adalah menyoroti sebuah berita aktual dengan memberi pendapat-pendapat, baik saran, solusi, kritik dan sebagainya. Kalau berita tentu tak bisa dicampuri dengan opini. Berita yang dicampur dengan opini menjadi rancu, dan mengaburkan nilai berita itu sendiri. Berita pun menjadi tidak obyektif lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu sebuah tulisan yang ingin melengkapi berita itu dengan pendapat seseorang, dipesan kolom oleh sebuah penerbitan. Itu yang menyebabkan penulis kolom adalah tokoh-tokoh yang sudah dikenal dalam bidangnya. Apalagi untuk majalah. Kalau Anda belum terkenal tak bisa menulis kolom. Di koran-koran, karena terbitnya setiap hari dan membutuhkan banyak tulisan, masih bisa menerima tulisan kolom dari luar yang datang begitu saja tanpa dipesan. Tapi di majalah tidak, tulisan dipesan dan hanya orang tertentu saja yang bisa menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menulis:&lt;br /&gt;&gt;Baik kolom maupun opini ditulis dengan cara yang sangat populer dan dibatasi panjangnya. Kalau di majalah panjang kolom paling banyak 5.000 charakter, di koran umumnya sama saja, tetapi bisa sedikit lebih panjang karena bisa bersambung ke halaman lain. Anda tak bisa bertele-tele, tetapi langsung pada persoalan. Memang, kemudian dikenal ada gaya seseorang, yang tak mudah ditiru oleh orang lain. Apalagi apa yang kemudian disebut kolom khusus (misalnya Asal-usul di Kompas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang penting dalam menulis opini atau kolom adalah fokus yang jelas dan sudut pandang tidak melebar ke mana-mana. Karena itu banyak pemula yang bingung, bagaimana memulainya dan bagaimana memperlakukan bahan-bahan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan mudah bingung. Periksa dulu rencana awal, sebenarnya apa sih tema yang mau anda tulis itu? Fokus ceritanya apa, lalu angle (sudut pandangnya) ke mana. Cocokkan dengan bahan/data yang Anda punya atau berita yang sudah terjadi. Apakah sudah terkumpul dan mendukung tulisan itu? Kalau belum, cari yang kurang. Kalau pas dan berlebih, siap-siaplah ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergunakan data atau berita yang sudah terjadi sesuai dengan kebutuhan tulisan itu. Misalnya soal-soal detail. Tak semua detail itu penting. Misalnya menyebutkan jarak sebuah desa di Aceh yang dijadikan wilayah penelitian DOM. ''Desa itu berjarak 15, 74 kilometer dari kota.....'' Pembaca malah bisa keliru kalau membacanya cepat-cepat, lima belas kilometer atau seratus limapuluh tujuh kilometer atau tujuh belas kilometer. Sebut saja angka bulat, misalnya, sekitar lima belas kilometer atau lebih sedikit dari lima belas kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi untuk hal tertentu, katakanlah kolumnis olahraga, detail itu penting. Misalnya, pertandingan sepakbola. ''Gol terjadi pada menit ke 43''. Ini tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main. Menit ke 43 sangat penting artinya dibandingkan menit ke 30, misalnya. Atau tulisan begini: ''Pelari itu mencapai finish dengan waktu 10.51 detik.'' Ini penting sekali bagi pembaca. Mereka akan marah kalau detail itu ternyata salah. Apakah pembaca bingung melihat angka-angka ini? Tidak, karena sebelum mereka membaca tulisan itu, mereka sudah punya persiapan apa tema tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Bahasa:&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia yang kita gunakan untuk menyusun artikel (baik opini maupun kolom) haruslah ''bahasa tulisan''. Yang dimaksudkan di sini adalah bukan bahasa lisan atau bahasa percakapan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bahasa itu tetap komunikatif, mampu menghubungkan alam pikiran penulis dan pembaca secara lancar dan hemat kata. Agar dapat menyampaikan gagasan penulis tanpa cacat, kalimat yang disusun harus bebas dari kata-kata yang melelahkan dan kata-kata pemanis basa-basi yang biasa diucapkan orang dalam pidato yang menjemukan. Kata-kata itu bahkan sejauh mungkin harus kita hindari penggunaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menggunakan bahasa tulisan, juga perlu menggunakan bahasa teknis. Dan bahasa teknis menuntut penuturan yang ringkas. Dalam usaha menyusun kalimat ringkas ini, kita harus tetap ingat, jangan sampai mengorbankan kejelasan.Sebuah artikel dikatakan tidak lengkap dan tidak jelas, apabila ia tidak dapat menjawab pertangaan pembaca lebih lanjut, seperti pertanyaan: "Berapa"? (jumlah, ukuran, umur, hasil, suhu dan lain-lain). Artikel yang lengkap tidak akan membiarkan pembaca bertanya-tanya lagi, misalnya di mana letak Ciamis tempat pembunuhan dukun santet itu.Begitu pula deskripsi seseorang, kita jangan terlalu gampang menulis ''orang itu begitu cantik setelah mengenakan pakaian pengantin''. Cantik untuk ukuran orang lain bisa berbeda-beda, maka lebih baik deskripsikan ''kecantikan'' itu. Misalnya, setelah mengenakan pakaian pengantin itu, sang gadis kelihatan lebih langsing, matanya lebih bersinar, lehernya lebih jenjang dan sebagainya. Namun, keterperincian itu tadi tetap jangan sampai terjebak pada hal-hal yang tidak perlu.Ketelitian menjadi hal penting, baik dalam penulisan kata, umur, nama orang, nama tempat dan alat, ejaan dan tanda baca. Jelas akan merosot nilai kolom itu itu, kalau ketelitian ini diabaikan begitu saja. Begitu pula masalah ejaan yang benar sebagaimana pedoman baku yang telah dikeluarkan Pusat Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Majalah TEMPO misalnya kalau ada penulis artikel yang masih menulis kata "rubah, robah, merubah, merobah" langsung dicampakkan karena semestinya kata dasar itu "ubah", jadi harus ditulis "perubahan, mengubah, diubah". Ini contoh-contoh kecil yang perlu dicermati.Menulis kalimat, jangan terlalu berpanjang-panjang. Kalimat yang paling ideal itu adalah kalimat yang mencetuskan satu ide, satu gagasan. Kalimat yang lebih dari satu ide dan satu gagasan akan membuat kabur, lebih-lebih kalau penempatan kata penghubung dan koma dikacaukan. Misalnya kalimat ini: "Iwan, bapak seorang anak yang baru saja diwisuda sebagai insinyur...." tak jelas benar, siapa yang lulus insinyur itu, Iwan atau anaknya? Ini hanya karena penempatan koma. Kalau ditulis: "Iwan, bapak seorang anak, yang baru saja lulus insinyur..." yang lulus insinyur jelas Iwan, bukan anaknya. Atau: "Iwan, bapak dari seorang anak yang baru saja lulus insinyur, meninggal dunia..." yang lulus insinyur anaknya, yang meninggal bapaknya.Demikian beberapa hal tentang opini dan kolom. Jenis tulisan ini tak bisa diajarkan secara teori, karena memang tak ada teorinya. Tulisan ini menyangkut wawasan dan pengalaman. Semakin lama "jam terbang" seseorang semakin baik tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : Belajar Jurnalistik Bersama Putu Setia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-6024885597665767137?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/6024885597665767137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=6024885597665767137&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/6024885597665767137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/6024885597665767137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/05/belajar-jurnalistik-bersama-putu-setia_1623.html' title='Belajar Jurnalistik Bersama Putu Setia (4)'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-7697323388994701231</id><published>2008-05-08T20:09:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T20:11:24.531-07:00</updated><title type='text'>Belajar Jurnalistik Bersama Putu Setia (3)</title><content type='html'>Teknik Penulisan Feature&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah surat kabar dikenal ada: berita, feature, tajuk, pojok, kolom, surat pembaca, iklan. Biasanya ada pula fiksi, karikatur, foto-foto. Berita dan feature adalah fakta, pojok dan tajuk adalah opini dari pengasuh koran, kolom dan surat pembaca adalah opini dari luar, iklan adalah sumber duit untuk penerbitan, sedang fiksi adalah karangan yang fiktif, bisa sebagai cerita bersambung, cerpen, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian jenis isi surat kabar ini, feature yang paling sulit diberi batasan-batasannya. Dulu, dalam teori-teori jurnalistik lama, feature dibedakan dengan berita setelah melihat ciri yang paling menonjol; berita terikat pada bentuk penulisan piramida terbalik dan lead atau intro yang merujuk langsung pada persoalan, lalu syarat mutlak unsur 5 W dan 1 H harus dipenuhi. Sedang feature tidak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi belakangan ini perkembangan penulisan berita menjadi lain, justru mengarah ke feature. Memang tidak semua koran melakukan hal itu, tetapi semua majalah dan koran mingguan pasti menerapkan teknik penulisan feature untuk berita-beritanya. Tak peduli "berita keras" atau "berita lunak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian batasan feature pun semakin kabur. Bahkan feature di masa sekarang ini juga mengacu kepada pemenuhan 5 W dan 1 H itu untuk memenuhi keinginan pembaca akan informasi yang lebih komplit. Dan feature di masa sekarang ini tak lagi cuma "enteng dan menghibur" tetapi terkadang sarat dengan kadar keilmuan -- cuma pengolahannya secara populer. Juga dipakai untuk penulisan berita-berita yang dihasilkan dari pengumpulan bahan yang menda lam. Maka di sini lagi-lagi batasan feature kabur dengan investigatif news.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidang kan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead&lt;br /&gt;Mari kita tinggalkan difinisi apa itu feature dan kita langsung ke teknik penulisannya. Ini yang lebih penting. Kita tahu bahwa berita umumnya ditulis dengan teknik piramida terbalik dan harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (what, who, why, when, where: apa, siapa, mengapa, kapan, di mana, bagaimana). Untuk penerbitan berupa koran, susunan piramida terbalik ini penting karena jika terjadi pemotongan karena tak ada tempat, pemotongan langsung dilakukan dari bagian belakang. Ini berarti lead berita itu pastilah yang terpenting dari isi berita itu sendiri. Ini harus memikat, tanpa itu berita tak menarik perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature hampir sama dalam masalah lead, artinya harus memikat. Tetapi feature tidak tunduk pada ketentuan piramida terbalik. Feature ditulis dengan teknik lead, tubuh dan ending (penutup). enutup sebuah feature hampir sama pentingnya dengan lead. Mungkin di sana ada kesimpulan atau ada celetukan yang menggoda, atau ada sindiran dan sebagainya. Karena itu kalau memotong tulisan feature, tak bisa main gampang mengambil paling akhir.Semua bagaian dalam fetaure itu penting. Namun yang terpenting memang lead, karena di sanalah pembuka jalan. Gagal dalam menuliskan lead pembaca bisa tidak meneruskan membaca. Gagal berarti kehilangan daya pikat. Di sini penulis feature harus pandai betul menggunakan kalimatnya. Bahasa harus rapi dan terjaga bagus dan cara memancing itu haruslah jitu.Tak ada teori yang baku bagaimana menulis lead sebuah feature. Semuanya berdasarkan pengalaman dan juga perkembangan. Namun, sebagai garis besar beberapa contoh lead saya sebutkan di sini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Ringkasan:&lt;br /&gt;Lead ini hampir sama saja dengan berita biasa, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis feature menulis lead gaya ini karena gampang. Misal:Walaupun dengan tangan buntung, Pak Saleh sama sekali tak merasa rendah diri bekerja sebagai tukang parkir di depan kampus itu. Dan seterusnya.... Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah tukang parkir bernama Pak Saleh yang cacat. Yang berminat bisa meneruskan membaca, yang tak berminat -- apalagi sebelumnya tak ada berita tentang Pak Saleh itu -- bisa melewatkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Bercerita:&lt;br /&gt;Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya. Misal:Anggota Reserse itu melihat dengan tajam ke arah senjata lelaki di depannya. Secepat kilat ia meloncat ke samping dan mendepak senjata lawannya sambil menembakkan pistolnya. Dor... Preman itu tergeletak sementara banyak orang tercengang ketakutan menyaksi kan adegan yang sekejap itu .....Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal feature itu bercerita tentang operasi pembersihan preman-preman yang selama ini mengacau lingkungan pemukiman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Deskriptif:&lt;br /&gt;Lead ini menceritakan gambaran dalam pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Biasanya disenangi oleh penulis yang hendak menulis profil seseorang. Misal:Keringat mengucur di muka lelaki tua yang tangannya buntung itu, sementara pemilik kendaraan merelakan uang kembalinya yang hanya dua ratus rupiah. Namun lelaki itu tetap saja merogoh saku dengan tangan kirinya yang normal, mengambil dua koin ratusan. Pak Saleh, tukang parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani ..... dst....Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi penulisnya ingin membuat kisah Pak Saleh yang penuh warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Kutipan:&lt;br /&gt;Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise. Misal:"Saya lebih baik tetap tinggal di penjara, dibandingkan bebas dengan pengampunan. Apanya yang diampuni, saya kan tak pernah bersalah," kata Sri Bintang Pamungkas ketika akan dibebaskan dari LP Cipinang. Walau begitu, Sri Bintang toh mau juga keluar penjara dijemput anak-istri.... dan seterusnya.Pembaca kemudian digiring pada kasus pembebasan tapol sebagai tekad pemerintahan yang baru. Hati-hati dengan kutipan klise. Contoh: "Pembangunan itu perlu untuk mensejahterakan rakyat dan hasil-hasilnya sudah kita lihat bersama," kata Menteri X di depan masa yang melimpah ruah. Pembaca sulit terpikat padahal bisa jadi yang mau ditulis adalah sebuah feature tentang keterlibatan masyarakat dalam pembangunan yang agak unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Pertanyaan:&lt;br /&gt;Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru. Misal:Untuk apa mahasiswa dilatih jurnalistik?Memang ada yang sinis dengan Pekan Jurnalistik Mahasiswa yang diadakan ini. Soalnya, penerbitan pers di kampus ini tak bisa lagi mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik karena terlalu banyaknya batasan-batasan dan larangan .... dst....Pembaca kemudian disuguhi feature soal bagaimana kehidupan pers kampus di sebuah perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Menuding:&lt;br /&gt;Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata "Anda" atau "Saudara". Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan. Misal:Saudara mengira sudah menjadi orang yang baik di negeri ini. Padahal, belum tentu. Pernahkah Saudara menggunakan jembatan penyeberangan kalau melintas di jalan? Pernahkah Saudara naik ke bus kota dari pintu depan dan tertib keluar dari pintu belakang? Mungkin tak pernah sama sekali. Saudara tergolong punya disiplin yang, maaf, sangat kurang. Dst....Pembaca masih penasaran feature ini mau bicara apa. Ternyata yang disoroti adalah kampanye disiplin nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Penggoda:&lt;br /&gt;Lead ini hanya sekadar menggoda dengan sedikit bergurau. Tujuannya untuk menggaet pembaca agar secara tidak sadar dijebak ke baris berikutnya. Lead ini juga tidak memberi tahu, cerita apa yang disuguhkan karena masih teka-teki. Misal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye menulis surat di masa pemerintahan Presiden Soeharto ternyata berhasil baik dan membekas sampai saat ini. Bukan saja anak-anak sekolah yang gemar menulis surat, tetapi juga para pejabat tinggi di masa itu keranjingan menulis surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini? Alinea berikutnya:Kini, ada surat yang membekas dan menimbulkan masalah bagi rakyat kecil. Yakni, surat sakti Menteri PU kepada Gubernur DKI agar putra Soeharto, Sigit, diajak berkongsi untuk menangani PDAM DKI Jakarta. Ternyata bukannya menyetor uang tetapi mengambil uang setoran PDAM dalam jumlah milyaran.... dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca mulai menebak-nebak, ini pasti feature yang bercerita tentang kasus PDAM DKI Jaya. Tetapi, apa isi feature itu, apakah kasus kolusinya, kesulitan air atau tarifnya, masih teka-teki dan itu dijabarkan dalam alinea berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Nyentrik:&lt;br /&gt;Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya. Misal:&lt;br /&gt;Reformasi total.&lt;br /&gt;Mundur.&lt;br /&gt;Sidang Istimewa.&lt;br /&gt;Tegakkan hukum.&lt;br /&gt;Hapus KKN.&lt;br /&gt;Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah mahasiswa di halaman gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasi rakyat .... dst....Pembaca digiring ke persoalan bagaimana tuntutan reformasi yang disampaikan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Gabungan:&lt;br /&gt;Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi. Misal:"Saya tak pernah mempersoalkan kedudukan. Kalau memang mau diganti, ya, diganti," kata Menteri Sosial sambil berjalan menuju mobilnya serta memperbaiki kerudungnya. Ia tetap tersenyum cerah sambil menolak menjawab pertanyaan wartawan. Ketika hendak menutup pintu mobilnya, Menteri berkata pendek: "Bapak saya sehat kok, keluarga kami semua sehat...."Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif. Dan lead apa pun bisa digabung-gabungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang Tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tahu bagaimana lead yang baik untuk feature, tiba saatnya berkisah menulis batang tubuh. Yang pertama diperhatikan adalah fokus cerita jangan sampai menyimpang. Buatlah kronologis, berurutan dengan kalimat sederhana dan pendek-pendek. Deskripsi, baik untuk suasana maupun orang (profil) mutlak untuk pemanis sebuah feature. Kalau dalam berita, cukup begini: Pak Saleh mendapat penghargaan sebagai tukang parkir teladan. Paling hanya dijelas kan sedikit soal Pak Saleh. Tapi dalam feature, saudara dituntut lebih banyak. Profil lengkap Pak Saleh diperlukan, agar orang bisa membayangkan. Tapi tak bisa dijejal begini: Pak Saleh, tukang parkir di depan kampus itu, yang tangan kanannya buntung, umurnya 50 tahun, anaknya 9, rumahnya di Depok, dapat penghargaan. Data harus dipecah-pecah. Alenia pertama cukup ditulis: Pak saleh, 50 tahun, dapat penghargaan. Lalu jelaskan dari siapa penghargaan itu dan apa sebabnya. Pak Saleh yang tangannya buntung itu merasakan cukup haru, ketika Wali Kota.... Di bagian lain disebut: "Saya tidak mengharapkan," kata lelaki dengan 9 anak yang tinggal di Depok ini. Dan seterusnya.Anekdot perlu untuk sebuah feature. Tapi jangan mengada-ada dan dibikin-bikin. Dan kutipan ucapan juga penting, agar pembaca tidak jenuh dengan suatu reportase.Detil penting tetapi harus tahu kapan terinci betul dan kapan tidak. Preman itu tertembak dalam jarak 5 meter lebih 35 centi 6 melimeter..., apa pentingnya itu? Sebut saja sekitar 5 meter. Tapi, Gol kemenangan Persebaya dicetak pada menit ke 43, ini penting. Tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main. Dalam olahraga sepakbola, menit ke 43 beda jauh dengan menit ke 30. Bahkan dalam atletik, waktu 10.51 detik banyak bedanya dengan 10.24 detik.Ini sudah menyangkut bahasa jurnalistik, nanti ada pembahasan khusus soal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ending&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika batang tubuh sudah selesai, tinggallah membuat penutup. Dalam berita tidak ada penutup. Untuk feature setidak-tidaknya ada empat jenis penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup Ringkasan:&lt;br /&gt;Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau lead.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup Penyengat:&lt;br /&gt;Membuat pembaca kaget karena sama sekali tak diduga-duga. Seperti kisah detektif saja. Misalnya, menulis feature tentang bandit yang berhasil ditangkap setelah melawan. Kisah sudah panjang dan seru, pujian untuk petugas sudah datang, dan bandit itu pun sudah menghuni sel. Tapi, ending feature adalah: Esok harinya, bandit itu telah kabur kembali. Ending ini disimpan sejak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup Klimak:&lt;br /&gt;Ini penutup biasa karena cerita yang disusun tadi sudah kronologis. Jadi penyelesaiannya jelas. Di masa lalu, ada kegemaran menulis ending yang singkat dengan satu kata saja: Semoga. Sekarang hal seperti ini menjadi tertawaan. Ini sebuah bukti bahwa setiap masa ada kekhasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup tanpa Penyelesaian:&lt;br /&gt;Cerita berakhir dengan mengambang. Ini bisa taktik penulis agar pembaca merenung dan mengambil kesimpulan sendiri, tetapi bisa pula masalah yang ditulis memang menggantung, masih ada kelanjutan, tapi tak pasti kapan.Demikian sekilas tentang teknik penulisan feature. Akan halnya ide feature itu bisa diperoleh dari berbagai hal. Bisa dari kelanjutan berita-berita aktual, bisa mendompleng hari-hari tertentu, atau profil tokoh yang sedang ramai dibicarakan. Yang penting ada newspeg (cantelan berita), karena feature bukan fiksi. Ia fakta yang ditulis dengan gaya mirip fiksi.Kalau bulan Mei, tulislah feature tentang Hari Kebangkitan Nasional, misalnya. Jangan menulis feature tentang Pertempuran Surabaya di bulan Mei ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : Belajar Jurnalistik Bersama Putu Setia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-7697323388994701231?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/7697323388994701231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=7697323388994701231&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/7697323388994701231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/7697323388994701231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/05/belajar-jurnalistik-bersama-putu-setia_8748.html' title='Belajar Jurnalistik Bersama Putu Setia (3)'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-9069661423647260254</id><published>2008-05-08T20:06:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T20:08:01.507-07:00</updated><title type='text'>Belajar Jurnalistik Bersama Putu Setia (2)</title><content type='html'>Merencanakan Liputan Panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pers, ada dua jenis liputan besar. Yang satu liputan besar yang akan dimuat bersambung, dan yang satu lagi liputan besar yang dimuat pada sekali penerbitan. Yang pertama ini umumnya dilakukan oleh surat kabar dan hampir tak pernah dilakukan oleh sebuah majalah atau tabloid berita mingguan. Liputan besar ini bisa berupa laporan perjalanan, bisa berupa liputan seminar (diskusi, lokakarya dan sejenisnya), bisa pula laporan investigasi. Tapi koran harian bisa pula memuat liputan besar yang sekali muat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perbedaan dalam perencanaan untuk kedua jenis liputan besar itu. Juga gaya penulisannya. Namun yang sama adalah liputan itu betul-betul sebuah berita besar yang punya aspek beragam. Sudut pandang pun bisa berbeda-beda atau banyak dimensi yang bisa ditampilkan. Umumnya, sebuah liputan besar adalah berita yang banyak dibicarakan di masyarakat dan menggelinding terus berhari-hari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kita bahas dulu yang pertama, karena ini lebih sederhana. Yang pertama-pertama Anda harus memilih topik yang akan diliput secara besar-besaran. Kemudian Anda inventarisasi beberapa angle (sudut pandang) dari topik ini. Setiap sudut pandang tentukan, siapa nara sumber yang akan diwawancarai, di mana data pendukung bisa diperoleh, riset apa yang perlu dilakukan. Kemudian buatlah out-line sebagai pedoman di mana bagian-bagian tulisan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cara penulisannya adalah mengikuti out-line tadi, selesaikan setiap satu masalah (sudut pandang) sebelum berpindah kepada masalah yang lain. Dan satu masalah dimuat untuk sekali penerbitan. Esoknya sudah beralih ke masalah lain, namun tetap dalam tema liputan besar tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh, Anda ingin menulis tentang nasib kesenian tradisional yang tergusur oleh wajah metropolitan kota besar. Sebelumnya harap diingat, liputan yang masuk dalam pengertian berita, haruslah mempunyai syarat sebuah berita: yakni newspeg (kaitan dengan suatu peristiwa). Anda tak bisa menulis sebuat berita apalagi sebuah liputan yang besar kalau tak dibicarakan orang atau tak ada newspeg-nya. Nah, dalam kaitan dengan contoh tadi, newspeg liputan ini adalah digusurkan wayang orang Ngesti Pandowo dari kota Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda inventarisasi permasalahannya. WO Ngesti Pandowo tergo long unik, sudah puluhan tahun menghibur masyarakat kota Semarang dan hampir menjadi ciri khasnya kota Semarang. Mereka digusur karena letak gedung itu strategis untuk bisnis sebuah kota metropolitan dan tentu nilai ekonomisnya besar. Lalu, apa dampaknya terhadap anak-anak wayang. Kemana mereka pergi. Bagaimana nasib kesenian serupa di kota lain. Apa kata para pakar, baik pakar kesenian maupun akar perkotaan. Nah, buatlah out-line. out-line itu misalnya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan pertama (yang dimuat pada hari pertama) haruslah menukik pada permasalahan besar yang menjadi pokok liputan itu. Yakni, tergusurnya Ngesti Pandowo. Ceritakan kenapa tergusur, siapa memakai lahan itu, berapa dibeli, untuk apa. Tentukan siapa nara sumber: pimpinan Ngesti Pandowo, Walikota, investor, dll. Siapkan data pendukung: luas lahan, kapan Ngesti Pandowo lahir, bagaimana nasib kesenian itu di hari-hari terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan kedua, kembali ke masa lalu, saat-saat keemasan Ngesti Pandowo sebagai kesenian tradisi yang memberi ciri sebuah kota. Siapa pendirinya, siapa dedengkotnya, terobosan apa yang pernah dipakai di masa jaya, lalu kenapa berangsur-angsur ditinggalkan penontonnya. Sekarang bagaimana nasib anak wayang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ketiga, misalnya, nasib kesenian serupa di kota lain di Indonesia. Misalnya WO Bharata di Jakarta, Miss Tjitjih di Jakarta, Srimulat di Surabaya, dan lain-lain. Kenapa bisa hidup, siapa mensubsidi, apa kiatnya menjaring penonton, kenapa gedungnya tak diincar investor untuk bisnis dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan keempat: tidak bisakah sebuah gemerlap metropolitan bersanding dengan seni tradisi? Wawancarai pakar. Adakan riset kepustakaan. Kenapa di luar negeri bisa: Tokyo punya pentas teater rakyat Kabuki, Paris, Belanda, dan kota-kota lian punya seni tradisi yang justru menjadi kebanggaan kotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah laporan perjalanan, Anda pun harus siap dengan out-line sebelum melakukan perjalanan itu sendiri. Apa yang akan diliput. Laporan perjalanan tak mesti ditulis dengan runtut seperti ketika Anda berjalan. Jika begitu Anda menulis akan membosankan dan sama sekali tidak menarik. Anda harus menulis permasalahannya. Misalnya, Anda ditugaskan ke Filipina menulis feature perjalanan. Rancang dari awal apa yang mau dikerjakan, pilih bagian yang menarik untuk tulisan pertama. Misalnya kehidupan demokrasi di Manila. Bagian kedua tentang Subic setelah ditinggal Amerika. Bagian ketiga kehidupan malamnya. Dan sebagainya, jadi bukan menulis perjalanan Anda dari detik ke detik.Untuk liputan panjang dari sebuah seminar internasional, mungkin lebih mudah menulisnya. Tulis setiap topik permasalahan. Jangan meloncat-loncat. Agar tulisan tidak kering, sisipkan anekdot atau masalah-masalah ringan di sela-sela laporan itu, termasuk kehidupan kota di mana seminar itu berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liputan Besar dalam Majalah&lt;br /&gt;Liputan besar dalam majalah sering disebut sebagai cover story. Artinya, cerita sampul, karena cerita/berita itulah yang dijual kepada pembacanya. Nama rubrik bisa bermacam-macam, ada Laporan Utama, ada Liputan utama, ada Forum Utama dan sebagainya. Setiap media harus kreatif mencari nama, tapi umumnya tak berkisar dari nama-nama di atas.Liputan besar itu tercermin di cover majalah/taboid. Namun, adaa penerbitan yang punya "kiat menjual" lain, seperti FORUM, Jakarta-Jakarta, Matra. Majalah ini ciri khas covernya adalah tokoh. Sebuah liputan besar, belum tentu menghadirkan tokoh yang bisa dijual, yang langsung dikenal oleh calon pembacanya. Misalnya, kasus kematian Tjetje. Siapa tokohnya yang langsung bisa dikenali calon pembeli? Tjetje tak dikenal, penyiksanya juga tidak. Kasus Udin, juga bisa dijadikan liputan besar. Tapi, kalau Udin dijadikan cover, siapa yang kenal? Atau Bupati Bantul dijadikan cover, siapa yang tahu? Karena itu cover di majalah FORUM selalu orang yang sudah dikenal oleh pembacanya, walau pun bukan dijadikan liputan besar (Forum Utama atau Forum Khusus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merencanakan liputan besar untuk majalah/tabloid, yang paling utama adalah kekuatan out-line-nya. Jika dari out-line sudah lemah, maka penulisan akan berantakan, bagian-bagian bisa tumpah tindih, dan peliputan di lapangan pun bisa kacau.Jika Anda sudah menentukan topik apa yang dijadikan liputan besar, segeralah buat out-line-nya. Ketika merancang out-line itu Anda sudah merasakan, apakah topik itu betul-betul bisa dijadikan laporan besar atau tidak. Ada kalanya, ketika kita memutuskan sebuah topik menjadi liputan besar, akhirnya gugur ketika kita merancang out-line, karena ternyata tidak memenuhi syarat. Umumnya -- namun bukan harus demikian karena tergantung media itu sendiri -- out-line liputan utama terdiri dari: round up berita yang merupakan bagian pertama, penunjang berita bagian kedua (masih ada kaitan langsung dengan berita itu), analisa berita bagian ketiga (menceritakan latar belakang), penunjang berita bagian keempat (bisanya perbandingan atau contoh serupa). Kemudian untuk memberi penegasan atau penekanan pada hal-hal khusus, atau ada wawancara yang prestisius untuk disendirikan, diadakan boks.Tujuan out-line selain menggampangkan Anda mengolah data, juga memudahkan peliputan di lapangan. out-line itulah yang nantinya menjadi pedoman dalam menjabarkan penugasan ke reporter. Sehingga tugas reporter di lapangan tidak tumpang tindih. Apalagi kalau wartawan/reporter yang dilibatkan dalam liputan ini tidak satu orang, tetapi banyak orang. Banyak data yang akan masuk, banyak informasi yang datang, out-line akan membantu karena ia mengatur lalu-lintas informasi, membagi permasalahan. Begitu pula dalam menuliskan berita, Anda tinggal mengikuti out-line itu. Misalnya, Anda mau menulis masalah perpakiran di kota ini. Ada nespeg, yakni: urusan parkir akan ditenderkan oleh Walikota. Nah, sebagai seorang redaktur yang menangani proyek tulisan ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu ingin mendapatkan banyak data dan menyebar banyak wartawan. Ada yang mewawancarai tukang parkir, ada ke wali kota, ada yang mewawancarai pengusaha yang berminat ikut tender, ada yang ke polisi, ada yang mewawancarai tokoh masyarakat atau orang biasa. Bahan yang masuk tentu banyak sekali, sementara jatah halaman yang tersedia terbatas. Maka out-line sangat membantu mengatasi masalah ini. Misalnya, Anda merancangkan begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama tentu saja yang paling aktual yakni menyangkut rencana tender parkir. Berapa besar tender, bagaimana minat pengusaha, target pendapatan kotamadya dari perparkiran, bagaima na perbandingan dengan tahun lalu ketika parkir tak diborongkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua: menyangkut kebijaksanaan perparkiran. Misalnya disorot masalah hukumnya. Apakah seluruh wilayah kotamadya itu menjadi taman parkir? Kalau tidak kenapa di depan toko sana ada parkir, di toko sebelahnya tidak ada? Kenapa ada parkir di trotoar, peraturan mana yang membolehkan? Kenapa tukang parkir saling bersaing, apakah karena mereka menyetor sesuai target? Adakah kemungkinan penyelewengan, karcis tak dirobek, lalu dipakai berulang-ulang. Kalau begitu siapa yang rugi, pengusaha atau kotamadya? Kenapa tukang parkir tidak digaji saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga: tanggapan dan pendapat masyarakat. Pemakai jalan, polisi, tukang parkir itu sendiri. Tanggapan-tanggapan seperti ini bisa ditulis dengan apa yang disebut galery, yakni Setiap orang tanggapannya tersendiri, tidak dicampur aduk.Bagian lain mungkin perlu ada wawancara khusus untuk dijadi kan boks. Misalnya, tokoh itu menyoroti apa beda parkir dan penitipan motor. Kalau motor hilang, apakah tukang parkir bisa dituntut. Apakah tukang parkir itu bertanggung-jawab terhadap keamanan mobil dan motor atau mereka hanya menyediakan tempat dan untuk itu kita membayar sewa tempat.Nah, kalau out-line itu sudah jelas, Anda tak akan lari ke mana-mana tatkala menuliskan laporannya. Tanpa out-line, Anda bisa melebar ke mana-mana. Persoalan A belum selesai, Anda sudah menulis persoalan C. Kemudian ingat lagi masalah A, ditulis lagi. Tulisan jadi tak runtut. Akan terjadi pengulangan-pengulangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengumpulkan Data&lt;br /&gt;Untuk liputan panjang, pengumpulan data menjadi penting. Biasanya, reporter yang dipakai adalah reporter senior. Ada kalanya banyak sekali menggunakan reporter kalau rencana liputan panjang itu sangat kepepet waktunya. Di majalah berita, di mana persaingan sangat ketat, hal ini kerap sekali terjadi. Di FORUM sebuah liputan panjang bisa dikerjakan dalam tempo hanya dua hari, sehari mengumpulkan data, sehari menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga hal penting tentang cara mengumpulkan data untuk kepentingan liputan, baik yang besar maupun yang kecil. Yakni: reportase, wawancara dan riset kepustakaan. Saya tak ingin menjelaskan hal ini berpanjang-panjang, karena materi ini tentu sudah didapatkan saat pendidikan tingkat dasar/lanjutan/pengelola. Misalnya bagaimana teknik reportase ke lapangan, bagaimana melakukan investigasi, dan sebagainya. Wawancara juga demikian ada teknik-teknik khusus yang harus dilakukan seseorang. Sejak mempersiapkan materi wawancara, mengetahui lebih banyak yang akan diwawancarai, melemparkan pertanyaan pemancing, bagaimana bertanya supaya yang diwawancarai tidak merasa diinterograsi, dan sebagainya. Semua ini tentu sudah diperoleh. Adapun tentang riset kepustakaan, ini memang tidak memerlukan teknik khusus. Dan Anda tentu tak asing dengan soal ini. Dalam membuat paper, makalah, dan natinya skripsi hal-hal seperti ini sudah pasti dilakukan. Dan itu sama saja untuk kepentingan jurnalistik. Bagaimana kita membongkar-bongkar buku untuk mencari data yang akan menunjang tulisan kita. Atau memilah-milah klip ping koran, atau menyimak brosur-brosur. Semua ini tak kalah pentingnya dengan pekerjaan wawancara atau reportase. Di penerbitan-penerbitan besar, tenaga seperti ini yang dinamai periset statusnya sama dengan wartawan. Karena mereka harus punya kejelian yang sama dengan wartawan. Bahkan mungkin lebih karena mereka umumnya lebih banyak membaca buku dan mengingat peristiwa-peristiwa. Sekarang banyak wartawan yang melakukan riset sendiri karena perangkatnya sudah canggih lewat komputer atau internet yang sudah on-line dengan berbagai sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah semua laporan terkumpul, penulisan sudah bisa dimulai. Tapi, bagaimana memulai tulisan jika data itu sedemikian banyak? Sering penulis pemula merasa bingung bagaimana memperlakukan data. Wartawan muda suka mengeluh: ''Aduh, banyak sekali bahannya, bagaimana menulisnya, ya, bingung.'' Karena itu umumn ya, penulisan untuk cover story atau peliputan-peliputan yang besar dilakukan oleh redaktur yang sudah senior.Redaktur itu akan terlebih dahulu membaca semua laporan yang masuk. Karena ada kemungkinan data yang masuk berbeda dari perencanaan. Entah karena sumbernya diganti, atau yang diperkirakan muncul dari sumber itu tentang A, ternyata yang keluar B. Itu sebabnya, besar sekali kemungkinan out-line berubah ketika semua laporan wartawan sudah datang. Perubahan itu biasanya pada bagian penunjangnya, bukan di bagian pertamanya yang merupakan round up. (Kalau bagian pertama berubah, artinya seluruh cover story berubah).Setelah diketahui bahwa laporan reporter sudah cocok dengan out-line (atau ada revisi out-line) langkah awal sebelum menulis adalah menyiangi data. Mana yang relevan untuk tulisan dan mana yang tidak. Jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu, walau tadinya dicari dengan penuh gesit dan susah payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses menyiangi ini akan terlihat apakah reportase dilengkapi dengan wawancara khusus yang merupakan bagian tersen diri, atau wawancara itu dimasukkan dalam bagian reportase, artinya menyatu dengan tulisan induk. Juga terlihat, apakah tulisan itu perlu didukung oleh grafik atau tabel untuk lebih menjelaskan pada pembaca. Ini mempengaruhi cara Anda menulis berita itu. Dalam menulis (saya tak menguraikan teknik menulis berita atau teknik menulis feature karena itu sudah dipelajari di tingkat sebelumnya) sekali lagi harus diingat: jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu. Juga harus diingat, trend penulisan sekarang ini -- baik untuk berita maupun feature -- teknik penyajiannya sedemikian rupa sehingga orang membacanya dengan enteng dan tidak susah dipahami. Alurnya terpelihara. Orang sekarang ini semakin sibuk dan informasi sedemikian banyaknya, sehingga dalam mencari informasi itu, orang tak mau memikirkan hal-hal yang tak perlu. Karena itu, dalam sebuah liputan panjang pasti ada ''pelaku utama'' dan ''pemain figuran''. Jangan sekali-sekali memberi porsi yang besar kepada ''pemain figuran'' sehing ga menenggelamkan ''pemain utama''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : Belajar Jurnalistik Bersama Putu Setia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-9069661423647260254?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/9069661423647260254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=9069661423647260254&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/9069661423647260254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/9069661423647260254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/05/belajar-jurnalistik-bersama-putu-setia_08.html' title='Belajar Jurnalistik Bersama Putu Setia (2)'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-4297373905996533563</id><published>2008-05-08T20:03:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T20:06:02.214-07:00</updated><title type='text'>Belajar JUrnalistik Bersama Putu Setia (1)</title><content type='html'>Teknik Pengolahan Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pembicara pada Latihan Ketrampilan Penerbitan Kampus Mahasiswa (LKPKM) se-Indonesia bukan yang pertamakali buat saya. Pada LKPKM tingkat dasar di UGM Yogyakarta saya sudah menjadi pembicara. Namun, saya tak tahu pasti, apakah pesertanya sama, atau sebagian sama. Atau adakah yang di Denpasar sekarang ini (tingkat pembina) adalah kelanjutan dari Yogya (tingkat dasar) dan Padang (untuk tingkat lanjutan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang materi yang saya bawakan ini, Teknik Pengolahan Data, memang baru pertama kali untuk pers kampus. Sebelumnya saya berbicara materi yang lain. Walau begitu, saya sempat membaca makalah tentang Teknih Pengolahan Data pada tingkat-tingkat sebelumnya. Saya melihat di sana masih bergulat pada persoalan teori dan tidak menukik pada permasalahannya. Mudah-mudahan kali ini saya sempat memberikan yang tidak sekadar teori, tetapi juga contoh-contoh sehingga bisa dipraktekkan. Saya pikir, pada tingkat pembina ini persoalan yang langsung pada permasalahan akan makin diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengumpulkan Data&lt;br /&gt;Sebelum mengolah data, tentu harus diketahui dulu bagaimana teknik mengumpulkan data. Ada tiga hal penting tentang cara mengumpulkan data untuk kepentingan penerbitan pers atau tugas-tugas jurnalistik. Yakni: reportase, wawancara dan riset kepustakaan. Saya tak ingin menjelaskan hal ini berpanjang-panjang, karena materi ini tentu sudah didapatkan dari orang lain. Misalnya bagaimana teknik reportase ke lapangan, bagaimana melakukan investigasi, dan sebagainya. Wawancara juga demikian ada teknik-teknik khusus yang harus dilakukan seseorang. Sejak mempersiapkan materi wawancara, mengetahui lebih banyak yang akan diwawancarai, melemparkan pertanyaan pemancing, bagaimana bertanya supaya yang diwawancarai tidak merasa diinterograsi, dan sebagainya. Semua ini tentu sudah diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang riset kepustakaan, ini memang tidak memerlukan teknik khusus. Dan saudara-saudara yang selama ini sudah duduk di bangku universitas tentu tak asing dengan soal ini. Dalam membuat paper, makalah, dan nantinya skripsi, hal-hal seperti ini sudah pasti dilakukan. Dan itu sama saja untuk kepentingan jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita membongkar-bongkar buku untuk mencari data yang akan menunjang tulisan kita. Atau memilah-milah klipping koran, atau menyimak brosur-brosur. Semua ini tak kalah pentingnya dengan pekerjaan wawancara atau reportase. Di penerbitan-penerbitan besar seperti TEMPO, Kompas dan lain-lainnya, tenaga seperti ini yang dinamai periset statusnya sama dengan wartawan. Karena mereka harus punya kejelian yang sama dengan wartawan. Bahkan mungkin lebih karena mereka umumnya lebih banyak membaca buku dan mengingat peristiwa-peristiwa -- walau itu tak mutlak karena sekarang pendataan klipping, file, brosur, indeks atau katalog buku sudah didukung peralatan komputer yang canggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Data Terkumpul&lt;br /&gt;Nah, setelah semua data terkumpul, sebenarnya sudah dimulai teknik mengolahnya. Tapi, bagaimana mengolahnya jika data itu sedemikian banyak? Sering penulis pemula merasa bingung bagaimana memperlakukan data. Wartawan muda suka mengeluh: ''Aduh, banyak sekali bahannya, bagaimana menulisnya, ya, bingung.''Jangan bingung. Periksa dulu rencana awal (kalau Anda reporter biasanya ada lembar penugasan). Pada perencanaan awal itu tentu sudah ditentukan, data yang Anda cari itu untuk rubrik apa, fokus ceritanya apa, lalu angle (sudut pandangnya) ke mana. Lalu cocokkan dengan data yang Anda peroleh. Apakah sudah terkumpulkan semuanya? Kalau belum, cari yang kurang. Kalau pas, siap-siaplah ditulis. Sering yang terjadi adalah kelebihan data. Belanjaan terlalu banyak, istilah di pers. Sepanjang ''belanjaan yang banyak'' itu tidak mengubah fokus dan angle bukanlah persoalan. Tetapi sering ''belanjaan'' yang dibawa melenceng dari perenca naan awal. Apa yang terjadi di lapangan tidak cocok seperti yang diperkirakan di kantor. Apa yang dihasilkan dari reportase dan wawancara tidak tepat seperti yang direncanakan sebelumnya. Maka, yang terlebih dahulu ditentukan sebelum data diolah adalah apakah sudut pandang dan fokus diubah, dan dengan perubahan itu tetapkah tulisan itu menarik? Kalau ya, lakukan perubahan dulu. Artinya, data yang terkumpul itu mengubah perencanaan awal, dan buatlah rencana tulisan yang baru sesuai dengan data yang ada. Kalau itu juga mengubah rubrik, tidak apa-apa, sepanjang memenuhi kriteria rubrik. Di TEMPO misalnya, sering dalam perencanaan awal untuk rubrik Kriminalitas tiba-tiba data yang ada melenceng. Karena menarik lalu diubah jadi rubrik Hukum, atau Nasional. (Setiap rubrik tentu memiliki kriteria-kriteria tertentu yang berbeda, dan ini adalah kesepakatan pengelola redaksi penerbitan itu).Tetapi, kalau data yang terkumpul itu melenceng dan tidak memenuhi standar untuk rubik apapun, juga tidak mempunya sudut pandang baru dan fokus yang bagus, maka itu berarti gagal. Simpan saja data itu untuk lain kali, tak ada gunanya dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengolah Data&lt;br /&gt;Setelah ditentukan angle baru atau data itu memang pas dengan perencanaan, langkah selanjutnya adalah menyiangi data. Mana yang relevan untuk tulisan yang akan digarap dan mana yang tidak. Jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu, walau tadinya dicari dengan penuh gesit dan susah payah.Dalam proses menyiangi ini akan terlihat apakah reportase dilengkapi dengan wawancara khusus yang merupakan bagian tersendiri, atau wawancara itu dimasukkan dalam bagian reportase, artinya menyatu dengan tulisan induk. Juga terlihat, apakah tulisan itu perlu didukung oleh grafik atau tabel untuk lebih menjelaskan pada pembaca. Ini mempengaruhi cara Anda menulis berita itu. Dalam menulis (saya tak menguraikan teknik menulis berita karena itu sudah ada bagiannya) sekali lagi harus diingat: jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu. Juga harus diingat, trend penulisan sekarang ini -- baik untuk berita maupun feature -- teknik penyajiannya sedemikian rupa sehingga orang membacanya dengan enteng dan tidak susah. Alurnya terpelihara. Orang sekarang ini semakin sibuk dan informasi sedemikian banyaknya, sehingga dalam mencari informasi itu orang tak mau memikirkan hal-hal yang tak perlu. Karena itu, dalam sebuah berita pasti ada ''pelaku utama'' dan ''pemain figuran''. Jangan sekali-sekali memberi porsi yang besar kepada ''pemain figuran'' sehingga menenggelamkan ''pemain utama''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal: Ada sekelompok petani melakukan protes karena tanahnya digusur. Pemimpin kelompok itu dan aktifis-aktifis lainnya adalah pelaku utama. Sedang figurannya adalah puluhan petani yang lain. Kita tak perlu harus menyebut seluruh petani yang protes, cukup pemimpinnya saja, atau pendampingnya yang vokal saja. Sedangkan puluhan lainnya cukup disebut jumlahnya, asalnya. Tidak perlu deskripsi lengkap: nama-nama mereka, usianya, deskripsi tubuhnya dan sebagainya. Tapi pemimpinnya perlu: usianya, pendidikannya, caranya bicara dan sebagainya.Ini juga termasuk pelaku yang lebih penting. Sebagai contoh, delapan anggota kongres AS berkunjung ke Indonesia. Karena mereka dari satu partai yang sama dan delegasi ini merupakan satu kesatuan, maka yang disebut cukup pemimpinnya saja. Apalagi yang lain tidak ngomong. Untuk apa menyebutkan data-data yang lain, selain susah mengeja namanya, apa relevansinya untuk pembaca kebanyakan?Pergunakan data sesuai dengan kebutuhan berita itu. Misalnya soal-soal detail. Tak semua detail itu penting. Misalnya menyebutkan jarak terbunuhnya perampok di tangan polisi. Apa gunanya menulis berita begini: ''Perampok itu ditembak polisi pada jarak 5, 74 meter.'' Pembaca malah bisa keliru kalau membacanya cepat-cepat, lima meter atau tujuh meter atau empat meter. Sebut saja angka bulat, misalnya, kurang dari enam meter atau sekitar enam meter -- walau Anda betul-betul mengukurnya secara tepat dengan sangat susah.Tetapi untuk hal tertentu, detail penting. Misalnya, pertandingan sepakbola. ''Gol terjadi pada menit ke 43''. Ini tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main. Menit ke 43 sangat penting artinya dibandingkan menit ke 30, misalnya. Atau tulisan begini: ''Pelari itu mencapai finish dengan waktu 10.51 detik.'' Ini penting sekali bagi pembaca. Mereka akan marah kalau detail itu ternyata salah. Apakah pembaca bingung melihat angka-angka ini? Tidak, karena sebelum mereka membaca berita itu, mereka sudah punya persiapan rubrik apa yang dibacanya. Kalau rubrik itu Nasional (di majalah) atau berita utama di koran tertulis seperti ini: ''Selesai berdemonstrasi menentang SDSB, Polan pulang ke rumahnya. Baru 15 menit, 12 detik, 6 second ia di rumah, polisi dengan kekuatan 12 orang datang menciduknya. Nama-nama polisi itu Erwin Siregar usia 26 tahun pangkat Serka, Ida Bagus Rai usia 35 tahun pangkat Letda, Muhamad Jarnawi usia 28 tahun pangkat serma asal Purwodadi.....'' Ya, capek membaca kan? Untuk apa? Pelaku utamanya Polan, yang lain figuran semua. Figuran terpenting di sini hanya komandan polisi yang menangkapnya. Bahan-bahan seperti itu yang Anda dapatkan dari laporan polisi (biasanya keterangan pers) tidak usah dipakai semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebar Data, Kalau Penting&lt;br /&gt;Ada kalanya data itu penting semua. Apalagi ini menyangkut deskripsi seorang tokoh yang mau ditonjolkan, misalnya. Kalau itu memang diperlukan, jangan memperlakukan data itu semaunya, ditumpahkan dalam satu kalimat. Akan lebih baik kalau data itu disebar dalam beberapa kalimat. Jangan dijubelkan.Contoh. Ada seorang pelukis lumpuh bernama Ketut Rinuh. Ia menda pat penghargaan pemerintah karena karyanya sangat bagus, tak kalah hebat dengan pelukis yang normal. Anda sudah melakukan reportase di rumah Ketut Rinuh dan sudah mendapatkan data-data yang banyak sekali. Lalu Anda menulis beritanya begini: ''Ketut Rinuh, pelukis lumpuh sejak kecil dari Desa Kesiman, umurnya 50 tahun, anaknya sembilan, istrinya guru TK, dan ia sudah berhasil menyekolahkan anaknya sampai menjadi insinyur, mendapat penghargaan dari pemerintah karena karyanya dinilai sangat bagus, melebihi karya-karya pelukis normal lainnya.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat saya ini sebenarnya sudah bagus karena meletakkan koma dengan benar. Kalau meletakkan koma ceroboh dan sama sekali diabaikan, pembaca bisa bingung. Jangan-jangan yang dimaksudkan ''ia'' itu istri Rinuh, jangan-jangan yang dimaksudkan mendapat penghargaan itu anaknya yang insinyur.Tapi, sebagus-bagusnya kalimat seperti yang saya buat tentu tetap capek membacanya. Dan itu bukan bahasa jurnalistik, apalagi jurnalistik model sekarang ini yang sering disebut sebagai jurna listik baru. Anda haru memecah-mecah data yang mendukung Ketut Rinuh itu. Misalnya:Pada kalimat pertama Anda cukup tulis: Ketut Rinuh, 50 tahun, mendapat penghargaan dari pemerintah. Kemudian dilanjutkan dengan kapan penghargaan itu diberikan, dalam rangka apa, siapa yang memberikan. Lantas, tentang siapa Ketut Rinuh dilanjutkan lagi dengan menulis: Pelukis lumpuh dari Desa Kesiman itu begitu terharu menerima penghargaan itu. Kemudian dilukiskan suasana pada saat upacara itu berlangsung. Mungkin, supaya berita tidak datar, Anda membutuhkan kutipan. Di situpun Anda bisa mendomplengkan data. Misalnya: ''Saya tak pernah mimpi mendapatkan penghargaan ini,'' kata Ketut Rinuh, lelaki yang lumpuh sejak kecil itu. Lalu Anda kembali melakukan reportase. Misalnya Anda menulis: Saat menerima penghargaan itu Ketut Rinuh tidak didampingi istrinya karena lagi mengajar di sebuah TK. Namun, ayah sembilan anak ini tampak begitu bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Out-line Perlu&lt;br /&gt;Membuat out-line sangat perlu agar menggampangkan Anda mengolah data. Apalagi kalau berita yang Anda rancang itu berita panjang atau sejenis laporan utama. Apalagi kalau wartawan yang dilibatkan dalam pemberitaan ini tidak satu orang, tetapi banyak. Banyak data yang akan masuk, banyak informasi yang datang. Out line akan membantu karena ia mengatur lalu-lintas informasi, membagi permasalahan. Dalam menuliskan berita Anda tinggal mengikuti out line itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, Anda mau menulis masalah perpakiran di kota ini. Ada peg baru (kejadian hangat yang membuat berita itu layak diangkat) yakni: urusan parkir akan ditenderkan oleh Walikota. Nah, sebagai seorang redaktur yang menangani proyek tulisan ini, Anda tentu menyebar banyak wartawan. Ada yang mewawancarai tukang parkir, ada ke wali kota, ada yang mewawancarai pengusaha yang berminat ikut tender, ada yang ke polisi, ada yang mewawancarai tokoh masyarakat atau orang biasa. Bahan yang masuk tentu banyak sekali, sementara jatah halaman yang tersedia terbatas. Maka out line sangat membantu mengatasi masalah ini. Misalnya, Anda merancang kan begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama tentu saja yang paling aktual (atau peg news) yakni menyangkut rencana tender parkir. Berapa besar tender, bagaimana minat pengusaha, target pendapatan kotamadya dari perparkiran, bagaimana perbandingan dengan tahun lalu ketika parkir tak diborongkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua: menyangkut kebijaksanaan perparkiran. Misalnya disorot masalah hukumnya. Apakah seluruh wilayah kotamadya itu menjadi taman parkir? Kalau tidak kenapa di depan apotek ini ada parkir, di depan nasi guling di sebelahnya tidak ada? Kenapa ada parkir di trotoar, peraturan mana yang membolehkan? Kenapa tukang parkir saling bersaing, apakah mereka yang menyetor sesuai target? Adakah kemungkinan penyelewengan, karcis tak dirobek, lalu dipakai berulang-ulang. Kalau begitu siapa yang rugi, pengusaha atau kotamadya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga: tanggapan dan pendapat masyarakat. Pemakai jalan, polisi, tukang parkir itu sendiri. Kalau tiga bagian ini masih kurang, mungkin perlu ada wawancara khusus yang menjadi bagian tersendiri atau tulisan (opini) berupa kolom dari seorang pakar. Misalnya, mereka menyoroti apa beda parkir dan penitipan motor. Kalau motor hilang, apakah tukang parkir bisa dituntut. Apakah tukang parkir itu bertanggung-jawab terhadap keamanan mobil atau motor atau mereka hanya menyediakan tempat dan untuk itu kita membayar.Nah, kalau _out-line_ itu sudah jelas, Anda tak akan lari ke mana-mana kalau sudah menulis. Tanpa kejelasan itu, Anda bisa melebar ke mana-mana. Persoalan A belum selesai, Anda sudah menulis persoalan C. Kemudian ingat lagi masalah A, ditulis lagi. Tulisan jadi tak runtut. Akan terjadi pengulangan-pengulangan.Demikian sesuatu yang bisa saya berikan semoga ada manfaatkan untuk Saudara-saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : belajar jurnalistik bersama Putu Setia &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-4297373905996533563?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/4297373905996533563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=4297373905996533563&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/4297373905996533563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/4297373905996533563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/05/belajar-jurnalistik-bersama-putu-setia.html' title='Belajar JUrnalistik Bersama Putu Setia (1)'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-1043573749260514928</id><published>2008-04-19T19:39:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:25:38.857-07:00</updated><title type='text'>Trik Menulis di Koran; Pengalaman dan Teori</title><content type='html'>Posted by Hatim Gazali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tulisan ini saya peruntukkan bagi penulis pemula yang memiliki keinginan yang besar. Apa yang saya tulis ini berangkat dari pengalaman subyektif saya, karena itulah tulisan ini tidak bermaksud menggurui, tapi sekedar sharing pengalaman].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh pengalaman saya, menulis bisa dikategorikan gampang, tetapi juga sekaligus sulit. Disebut gampang karena setiap hari kita hampir selalu menulis, entah itu catatan kuliah, surat resmi dan surat cinta, SMS, dan sebagainya. Tidak ada kendala yang signifikan. Nyaris tidak pernah penulis jumpai seorang mahasiswa yang kesulitan dalam menulis mata kuliah, catatan-catatan dari guru/dosen. Semuanya berlangsung aman dan terkendali—begitukah?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, bisa juga dianggap sulit. Karena dalam menulis membutuhkan kaidah-kaidah resmi, kejelihan, ketajaman perspektif dan sebagainya. Untuk itu, tidak semua orang bisa melakukannya. Jika membaca buku tentang kiat-kiat menulis penulis sadar betapa rumitnya untuk menjadi penulis. Tetapi jika dilakukan tanpa memperhatikan kiat-kiat menulis dibuku-buku yang njelimet, menulis tidaklah sesulit yang dibayangkan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang saya mendapat pertanyaan dari teman-teman saya; bagaimana cara menulis artikel agar dimuat di media massa. Sayapun bingung menjawab pertanyaan tersebut. Karena menurut pengalaman, saya tidak pernah belajar tentang teori menulis. Untuk menjawab pertanyaan itulah, saya biasanya menceritkan pengalaman dan proses saya ketika menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hemat saya, kendatipun teori menulis bisa dirumuskan dengan baik, tetapi dalam prakteknya belum tentu bisa berjalan dengan baik. Semakin banyak membaca tentang teori menulis, menyusun bahasa maka ia semakin bingung dan terkekang untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Karena itulah, menurut saya; cara menulis yang paling jitu dan cepat adalah tanpa belajar tentang teori menulis. Dengan tidak tahu bagaimana tata cara menulis, seseorang bisa bebas menuangkan gagasannya sesuka hatinya. Untuk pemula ini sangatlah penting. Karena kendala utama dalam menulis adalah memulai kata atau paragraf pertama. Biarkan tulisan itu mengalir apa adanya, tanpa ada aturan yang ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjadi sebuah tulisan ala kadarnya, cobalah di baca kembali apakah anda memahami tulisan tersebut. Jika ada yang kurang paham, cobalah edit kembali tulisanmu hingga kau paham terhadap tulisanmu sendiri. Jika sudah dianggap sempurna, cobalah teman anda suruh membacanya; apakah ia paham maksudnya. Cara ini tidak cukup dilakukan sekali, tapi harus berulang kali. Sampai saat ini, saya tidak tahu bagaimana trik menulis dengan baik. Saya hanya bisa belajar dari pengalaman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, dalam menulis membutuhkan niat, tekad dan kesabaran yang besar. Tanpa ada keinginan yang besar, harapan untuk bisa menulis akan kandas ditengah jalan. Tanpa ada kesabaran dan tekad yang kuat, ketika mengalami kebuntuhan gagasan akan berhenti. Berikutnya; menulis membutuhkan kebernian dan percara diri. Kritik dari orang lain terhadap tulisan kita adalah hal yang wajar dan sangat diperlukan untuk menuju perbaikan. Maka, jangan putus asa. Jangan sekali-kali putus asa. Itulah pesan yang saya terima dari para penulis lainnya. Tidak dimuatnya tulisan jangan sampai menyurutkan niat untuk menulis. Setiap orang yang menulis selalu memiliki pengalaman ditolak oleh media massa. Tak ada orang yang tak mengalami ditolak. Ditolaknya sebuah tulisan oleh media massa tidak mesti karena jeleknya tulisan tersebut, tetapi banyak faktor seperti aktualitas dan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritik, tahap-tahap menulis yang pernah saya dapatkan bisa dibagi kepada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari ide tulisan; Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya. Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merumuskan masalah; Esai yang baik umumnya ringkas (”Less is more” kata Ernest Hemingway) dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek. Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengumpulkan Bahan; Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan dan sebagainya.Menulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata Bahasa dan Ejaan: Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan tanda hubung? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akurasi Fakta: tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita tulisa secara benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?Trik Untuk Dimuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, trik apa yang jitu untuk tembus ke media massa. Walaupun saya tidak memiliki banyak pengalaman menulis, tapi saya sekedar sharing pengalaman tentang apa yang mesti saya lalukan agar tulisan saya bisa dimuat oleh sebuah media massa. Pertama, pelajari ideologi dan karakter tulisan media massa. Sebagus apapun sebuah gagasan, tanpa dibungkus dengan sebuah karakter bahasa yang baik akan sulit dimuat. Terang saja, masing-masing koran memiliki karakter dan ideologi. Cara menulis di Jawa Pos, dengan di Kompas ataupun Media Indonesia, misalnya sangatlah berbeda. Ini juga dipengaruhi oleh “selera” redaktur yang bertanggungjawab atas rubrik opini. Menurut pengamatan pendek saya, Kompas—misalnya—tidak suka bahasa yang kasar. Tutur bahasa yang disuka Kompas adalah santun. Begitu pula dengan pilihan kata dan ideologi. Kompas adalah media massa yang nasionalis, bahkan bisa dikategorikan sekuler. Pikiran-pikiran yang konservatif susah mendapat ruang di Kompas. Untuk mengetahui karakter dan ideologi, sering-seringlah membaca koran. Amati dengan baik, angle sebuah berita, editorial ataupun artikel-artikel yang sudah dimuat. Jadikan tulisan orang lain sebagai pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, gunakan bahasa yang lugas dan simple. Menulis di koran berbeda dengan menulis di jurnal atau menulis buku. Pembaca koran sangatlah luas dan lintas generasi, profesi. Karena itulah, jangan menulis yang terlalu berbelit-belit dengan teori-teori ilmiah. Buatlah kalimat seserhana mungkin untuk dipahami, dengan tetap memperhatikan diksi. Dengan menggunakan bahasa yang lugas dan sederhana, para pembaca tidak kesulitan untuk memahami. Karena itulah, hindari bahasa-bahasa spesifik keilmuan yang sangat berbelit-belit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, aktualitas. Koran adalah media massa yang terbit setiap hari. Karena itulah aktualitas sebuah tulisan sangat dibutuhkan. Ini berbeda dengan jurnal ataupun buku. Jika lagi musim tema haji—misalnya—menulislah tentang haji. Jika kita menulis fenomena yang sudah lampau sangat sulit mendapatkan ruang di media massa. Karena itulah, mengikuti perkembangan informasi akan selalu bermakna positif bagi para penulis yang hendak menulis di koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, [sangat subyektif], keberuntungan. Kadang, tulisan yang kita nilai bagus ternyata tidak bisa dimuat, sementara tulisan yang dianggap kita biasa-biasa, justru dimuat. Ini bagi saya ada hubungannya dengan faktor keberuntungan. Untuk itu, saya biasanya menyarankan kepada teman-teman; jika tulisan anda pingen dimuat, lupakanlah bahwa anda sedang mengirim tulisan. Ini berdasarkan pengalaman saya. Berulang saya berharap tulisan dimuat, eh….malah tidak dimuat. Sebaliknya, ketika saya sudah lupa tentang tulisan saya, tiba-tiba muncul di media massa. Ini juga sangat membantu agar tidak terlalu kecewa ketika ternyata tulisan kita tidak bisa dipublikasikan di media massa.Begitulah mungkin sekelumit cerita pengalaman saya, semoga memberi arti bagi teman-teman. Terus terang, saya sangat bangga terhadap mahasiswa yang concern menulis. Kita jangan terjebak pada tradisi oral, mari menuju pada tradisi tulisan. Gagasan apapun yang kita miliki tidak akan bertahan lama dan tidak memiliki jangkauan yang luas jika tidak ditulis dan dipublikasikan. Secermalang apapun gagasan jika disampaikan secara lisan, di Aula 1 misalnya, ia akan lewat begitu saja dan yang mendengarkan tidak akan lebih dari 750 orang. Berbeda dengan tulisan. Apa yang kita tulis saat ini, akan dibaca oleh ratusan tahun mendatang oleh generasi berikutnya—itu kalau tidak Kiamat, Kiamat Sudah Dekat!. Dalam menulis, tentunya dibutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas, sehingga buku adalah teman sejati, bukan bantal sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedepan, tulisan akan semakin memiliki makna ketimbang lisan. Bukankah standar ilmiah adalah menulis. Bukankah Ahmad Wahib, Soe Hoe Gie, Soekarno, Karl Marx dan sebagainya bisa terus survive karena tulisan. Disinilah mungkin maksud dari beberapa literatur kita kuning bahwa orang alim yang meninggal, pada dasarnya tidak meninggal, ia terus hidup. Hidup dalam pengertian selalu dikenang, dibahas, didiskusikan bahkan juga dihujat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, pelbagai sarana sudah ada. Komputer bukan lagi hal yang asing. Buku bukan barang yang langka. Disetiap pojok-pojok kampus kita bisa mendapatkannya. Lalu, mengapa kita masih setia hanya dengan tradisi lisan, sebuah tradisi masyarakat terdahulu. Masih adakah ganjalan atau problem untuk tidak menulis. Setiap orang memiliki teknik menulis yang berbeda-beda, teori menulis itu tidak penting. Yang terpenting adalah latihan menulis. Maka, menulislah. Selamat Mencoba…!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber :gazali.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-1043573749260514928?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/1043573749260514928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=1043573749260514928&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1043573749260514928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1043573749260514928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/trik-menulis-di-koran-pengalaman-dan.html' title='Trik Menulis di Koran; Pengalaman dan Teori'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-1840206295157458961</id><published>2008-04-19T19:37:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:29:46.213-07:00</updated><title type='text'>Kiat menuliskan laporan perjalanan</title><content type='html'>Kita semua pasti pernah melakukan perjalanan, entah ke luar kota, entah ke mancanegara, entah ke kutub selatan dan utara, atau cuma menengok kerabat di kampung sebelah. Nah, sudahkah Anda mendokumentasikan kisah perjalanan Anda dalam sebuah tulisan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut tips dari Bung Akmal, wartawan Tempo di milis apsas yang ia kelola:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melakukan perjalanan (ke luar kota, luar negeri) baik untuk kepentingan pekerjaan atau sekadar hobi pribadi, merupakan aktivitas yang sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak manfaat yang bisa diambil. para prosais dan penyair merekonstruksi ulang perjalanan itu dalam pelbagai bentuk kreatif. fotografer mengabadikannya dalam komposisi-komposisi visual.&lt;br /&gt;salah satu bentuk yang lebih umum, dan lebih cepat dikerjakan, adalah catatan perjalanan (bisa juga disebut "kisah perjalanan" atau apa pun nama lainnya), yang bisa dengan lekas dipublikasikan di media cetak umum.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melihat tingginya dinamika perjalanan anggota milis apsas, saya sarankan apsasian untuk membiasakan diri membuat sebuah catatan perjalanan yang bisa dipublikasikan bagi&lt;br /&gt;pembaca umum. salah satu kiat untuk ini diberikan oleh martin li, seorang penulis perjalanan dan fotografer asal Inggris yang biasa menulis untuk travel intelligence, london.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah beberapa poin utama dari li.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tulisan perjalanan adalah bagian dari reportase, bagian dari catatan harian, dan bagian dari penyediaan informasi bagi pelancong atau mereka yang hendak melakukan perjalanan. penulis perjalanan melakukannya dengan beragam gaya dan teknik yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari sisi pembaca, tatkala membaca tulisan perjalanan, mereka mungkin berharap bisa turut merasakan apa yang dialami penulis. aa melibatkan diri dalam tulisan dengan&lt;br /&gt;mengungkapkan pengalamannya ketika melakukan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tentu, seorang penulis kisah perjalanan tidak sekadar menceritakan pengalamannya, tetapi juga mendeskripsikan tempat dan aktivitasnya. Dengan demikian, pembaca selain&lt;br /&gt;turut merasakan pengalaman penulis, juga mendapat informasi tentang lokasi yang menjadi tujuan perjalanan serta peristiwa yang menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berikut beberapa tips untuk membuat tulisan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. segar&lt;br /&gt;berikan sudut pandang yang segar, jika mungkin, meliputi beberapa pokok permasalahan yang tidak biasa. kreatiflah dalam menulis perjalanan, termasuk dalam menggunakan gaya bahasa seperti metafora dan simile yang penuh daya dan orisinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. personal&lt;br /&gt;ambil pendekatan sendiri untuk sebuah tempat yang dikunjungi, sebuah&lt;br /&gt;aktivitas yang anda coba lakukan atau sebuah petualangan mendebarkan yang&lt;br /&gt;sedang anda kerjakan. apa yang sesungguhnya menginspirasi anda? Kenali dan&lt;br /&gt;jelaskan kepada pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerita harus memiliki suara dan sudut pandang personal. ingatlah bahwa sebagian besar tempat yang anda tulis, sangat mungkin sebelumnya SUDAH ditulis orang lain. Ini merupakan tantangan untuk mendapatkan sesuatu yang baru dan orisinal untuk dikatakan kepada pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. jenaka&lt;br /&gt;tulisan perjalanan hendaknya memiliki sebuah nada yang cerah, cemerlang, hidup, dan jenaka. perjalanan adalah sebuah proses berangkat dari yang familiar menuju kepada yang asing dan&lt;br /&gt;tidak familiar, sering kaya akan peristiwa komedi dan jenaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masukkan komedi ke dalam tulisan di tempat yang patut dan jangan takut membuat pembaca tertawa. Juga, jangan takut untuk memasukkan "kecelakaan", misalnya, ke dalam bagian-bagian tulisan.tak perlu 'jaim'. Ini dapat menjadi seperti bacaan berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. surprise&lt;br /&gt;beri kejutkan kepada pembaca. berikan pembaca sesuatu yang tidak biasa,&lt;br /&gt;sesuatu yang hanya diketahui sedikit orang-tentang suatu lokasi misalnya.&lt;br /&gt;lakukan ini dengan mencoba aktivitas yang tidak biasa, bertemu dengan&lt;br /&gt;orang-orang yang baru, terlibat ke dalam adegan yang asing ketika&lt;br /&gt;berada dalam sebuah perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. seimbang&lt;br /&gt;tulisan perjalanan harus memadukan observasi personal, deskripsi dan komentar&lt;br /&gt;dengan informasi praktis yang berguna bagi pembaca. jadi, ada keseimbangan&lt;br /&gt;yang cermat antara pengalaman personal, deskripsi lokasi, deskripsi kegiatan&lt;br /&gt;atau peristiwa. dan ingat bahwa saat menulis sebuah kisah perjalanan, anda juga seorang wartawan sehingga akurasi fakta tetap harus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. kutipan&lt;br /&gt;untuk memperkaya tulisan kutip komentar teman perjalanan atau pengunjung suatu kegiatan atau lokasi. silakan mereka mengekspresikan perasaan mereka, kengerian, atau ketakjuban&lt;br /&gt;mereka tentang suatu tempat atau kegiatan yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu, setelah sebuah tulisan perjalanan selesai digubah, mau dikemanakan? dipampang di blog pribadi, oke-oke saja. dikirimkan ke media umum, juga tak ada salahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : milis mediacare&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-1840206295157458961?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/1840206295157458961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=1840206295157458961&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1840206295157458961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1840206295157458961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/kiat-menuliskan-laporan-perjalanan.html' title='Kiat menuliskan laporan perjalanan'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-3787585011976577343</id><published>2008-04-19T19:35:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:30:52.669-07:00</updated><title type='text'>kiat Melawan Phobia Menulis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menulislah, apapun. Jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang,&lt;br /&gt;yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pramoedya Ananta Toer, dalam Novel Rumah Kaca)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TulisBukan rahasia umum lagi, bahwa sebagian besar skripsi yang dihasilkan mahasiswa kita di negeri ini hanyalah hasil jiplakan dari skripsi senior. Tinggal mengubah lokasi penelitian, subjudul, serta karakter tulisan, nama responden, maka jadilah skripsi “baru.” Padahal sang penjiplak sebenarnya seringkali tak sadar kalau skripsi yang dijiplak tadi kuliatas tulisannya sebenarnya sangat jauh dari baik. Belum lagi fenomena pembuatan skripsi yang kini marak di daerah di sekitar kampus. Bahkan Ghost Writer itu tak hanya menggarap skripsi saja, melainkan juga menerima pesanan disertasi dan tesis. Makanya, ketika saya kuliah dulu saya sempat bertanya pada Dosen saya yang kebetulan bergelar Doktor, mengapa bapak tidak menulis di Koran? Jawabannya sungguh ironis; “Saya tidak bakat menulis, Mas!” Saya jadi pusing juga mendengar jawaban itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebab kalau tidak bakat menulis, mengapa bisa lolos ujian Skripsi, Desertasi dan Tesis hingga mampu meraih gelar doktor? Atau Jangan-jangan karya tulisnya semua hasil jiplakan atau paling banter bukan buah karyanya sendiri alias pesanan. Padahal tulisan ilmiah seperti Skripsi, Tesis, Disertasi maupun tulisan ilmiah-populer semisal artikel, esai serta resensi buku sebenarnya sama saja. Yang membedakan mungkin hanya dari segi kuantitas. Kalau artikel atau opini di koran dibuat maksimal 3 halaman folio. Tapi kalau skripsi bisa jadi lebih dari 50 lembar folio. Tapi mengenai kualitas jelas sama. Bahwa tulisan yang baik dan indah menurut Wahyu Wibowo (2002; 5-6) mengandung tiga unsur utama, yakni, mengandung kesatuan dan keutuhan, mengandung satu pikiran utama yang jelas dan mengandung prinsip perkembangan. Redaktur Koran misalnya, tak akan meloloskan tulisan yang ‘amburadul’ untuk muncul di halaman OPINI media cetak. Sebab cara penyajian tulisan yang tidak sistematis dan meloncat-loncat akan menyulitkan pembaca dalam memahaminya serta akan memusingkan redaktur untuk mengeditnya (Lasa Hs, 2006). Tulisan yang jelek pasti masuk keranjang sampah, sebab taruhannya adalah Oplah Koran. Koran akan ditinggalkan banyak pembacanya jika tulisan yang muncul hanyalah tulisan jelek dan tidak sistematik. Karenanya redaktur akan menyeleksi ketat tiap tulisan yang masuk ke meja redaksi atau emailnya. Seorang yang punya nama, terutama akademisi atau mereka yang bergelar tinggi kadang memiliki phobia berlebihan terhadap seleksi semacam itu. Artinya, mereka takut kalau naskahnya ditolak. Mereka mungkin merasa gengsi dan reputasinya akan turun bila tulisannya ditolak redaktur. Apalagi jika redakturnya bukan lulusan perguruan tinggi. Sebab hal itu akan dianggap pelecehan akademik. “Masak sih lulusan SLTA lebih pinter dari doktor,” begitu kira-kira komentar mereka. (Lasa HS, 2006;9) Padahal kualitas tulisan tidak ada hubungannya dengan gelar yang disandang seseorang. Buktinya, (Sekedar menyebut nama) Emha Ainun Nadjib, Gus Dur, Ulil Abshar Abdalla, Pramoedya Ananta Toer, dll, bukanlah lulusan sarjana. Namun karya tulis mereka menjadi acuan para profesor. Bahkan Pramodya Ananta Toer berkali-kali menjadi satu-satunya kandidat peraih Nobel dari Indonesia. hal itu karena mereka menjadikan kegiatan menulis—meminjam istilah The Liang Gie—sebagai pengalaman estetis. Dimana panca inderanya dipusatkan secara sungguh-sungguh terhadap seluk beluk dunia menulis. Dan sebenarnya keseriusan untuk menyelami dunia menulis bisa dilakukan kalangan mahasiswa, dosen, doktor maupun professor. Bukankah menulis merupakan bentuk pengabdian terhadap masyarakat? Lagipula sehari-hari mereka berkecimpung dengan dunia ilmiah yang berasal dari berbagai buku dan teori-teori. Sehingga tak terlalu sulit menuangkan teori dan bacaan untuk menganalisis fenomena social yang tengah terjadi di masyarakat. Tapi nyatanya itu tak pernah terjadi. Karya ilmiah di lingkungan kampus tak lebih dari karya plagiasi dari generasi ke generasi. Mahasiswa lebih suka pacaran atau ngeceng di mall daripada membaca dan merangkum buku. Sementara dosen lebih suka menjadi ‘penguasa’ di kelas dibandingkan menuangkan idenya dalam bentuk tulisan di Koran. Memang harus diakui membuat tulisan di Koran dalam bentuk artikel, opini atau esai cukup sulit. Sebab saingan bagi penulis pemula bisa dibilang berat. Para penulis kelas berat, seperti Shalahuddin Wahid, Goenawan Mohammad, Hudan Hidayat, Zawawi Imron, Ariel Heryanto, dan banyak lagi masih terus menulis di Koran hingga sekarang. Ibarat bermain tinju penulis pemula sedang berhadapan dengan Mike Tyson. Bahkan tanpa bertanding-pun kita tahu siapa yang akan jadi pemenang. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa, bukan? Selama kita berusaha, peluang untuk bisa menciptakan tulisan yang kualitasnya sama dengan karya penulis ternama tetap ada. Lagipula suatu saat nanti generasi tua bakal tutup usia. Nah, pada kondisi itu siapa yang akan menggantikannya kalau bukan generasi muda? Adalah Marx yang mengatakan bahwa manusialah yang menentukan jalannya sejarah, bukan sebaliknya. (Ken Budha Kusumandharu, 2004). Bahkan sejarah bisa diciptakan asal syarat-syarat khusus bisa terpenuhi. Kaitannya dengan menulis adalah, bahwa siapapun bisa membuat tulisan yang bagus. Asalkan sanggup memenuhi syarat khusus berikut ini; Pertama, perbanyak membaca. Membaca dan menulis mengikuti filsafat kendi. Sebuah kendi tidak akan bisa melepas rasa dahaga jika tidak diisi air. Begitu juga dengan menulis. Bahkan seorang wartawanpun jika tidak gemar membaca tak akan bisa menghasilkan tulisan yang baik. Kedua, cacatlah hal penting dari setiap buku yang pernah dibaca dalam buku catatan khusus. Hal itu sangat bermanfaat untuk membantu memori otak yang terbatas. Dan tidak menutup kemungkinan buku catatan itu nantinya bisa menjadi karya ilmiah. Bukankah catatan harian Soe Hok Gie, dan Ahmad Wahib yang terkenal itu berasal dari catatan harian mereka mengenai hasil bacaan dan hasil diskusinya secara intens. Terakhir—dan ini yang paling penting—mulai menulis. Jujur saja, tak ada teori menulis yang ampuh yang mampu mencetak orang menjadi penulis. Satu-satunya jalan untuk menjadi penulis dan menghasilkan karya tulis yang bagus adalah terus berlatih menulis. Buku-buku mengenai teori, tehnik, kiat menulis baik itu tulisan fiksi maupun non fiksi (baca; ilmiah) sebenarnya hanyalah pintu gerbang mengenalkan kita pada dunia tulis-menulis. Sedangkan menulis yang sejatinya adalah praktek. Seperti adagium para aktivis; teori tanpa aksi, onani. Aksi tanpa teori anarki! Terserah anda.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber  stta.ac.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-3787585011976577343?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/3787585011976577343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=3787585011976577343&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/3787585011976577343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/3787585011976577343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/kiat-melawan-phobia-menulis.html' title='kiat Melawan Phobia Menulis'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-1744190890894934729</id><published>2008-04-19T19:34:00.001-07:00</published><updated>2008-04-26T20:31:51.760-07:00</updated><title type='text'>10 Cara Atasi Tumpukan Bacaan Yang Harus Dibaca</title><content type='html'>Apakah bahan bacaan Anda begitu banyak sehingga sudah menggunung? Jika begitu,&lt;br /&gt;sekarang waktunya untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah 10 cara untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Beri tanda highlighter&lt;br /&gt;Jika membaca koran atau majalah, bacalah dengan memakai Highlighter. Bacalah&lt;br /&gt;dulu secara sepintas lalu seluruh halamannya dan tandai semua judul yang menarik&lt;br /&gt;perhatian Anda. Kemudian kembali dari awal dan baca hanya artikel yang Anda&lt;br /&gt;sudah beri tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Sobeklah&lt;br /&gt;Jika Anda tidak mempunyai waktu saat ini untuk membaca artikel yang sudah Anda&lt;br /&gt;beri tanda, sobeklah halamannya dan tentukan waktu untuk membacanya nanti.&lt;br /&gt;Dengan cara ini, Anda tidak perlu lagi mencarinya di seluruh koran atau majalah&lt;br /&gt;Anda. Lagipula Anda tidak perlu menyimpan koran atau majalah yang tidak&lt;br /&gt;diperlukan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Pakailah Kartu Indeks&lt;br /&gt;Jika membaca buku, gunakan kartu indeks untuk mengingat bagian yang Anda anggap&lt;br /&gt;penting. Di dalam kartu itu dicantumkan nomor halaman, bagian di halaman itu&lt;br /&gt;(A=Atas, T=Tengah, B=Bawah) dan satu atau dua kata yang membantu Anda untuk&lt;br /&gt;mengingat hal yang menarik perhatian Anda. Dengan demikian Anda tidak perlu&lt;br /&gt;membuang waktu untuk mencarinya di seluruh bagian buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Membaca Cepat&lt;br /&gt;Jika Anda mempunyai begitu banyak informasi yang harus Anda simpan, Anda mungkin&lt;br /&gt;harus mengambil kursus Membaca Cepat. Atau anda dapat mencari buku mengenai hal&lt;br /&gt;itu, dan melatihnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Tentukan Waktu Untuk Membaca&lt;br /&gt;Tentukan tanggal dan waktu untuk membaca. Atau gunakan 15 menit setiap hari&lt;br /&gt;untuk membaca, dan catatlah waktu ini di kalender Anda. Ingatlah janji ini,&lt;br /&gt;seperti juga janji untuk mengerjakan hal lain. Dengan demikian, membaca akan&lt;br /&gt;menjadi bagian dari rutinitas Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Hindari Kekacauan&lt;br /&gt;Karena koran berisi kejadian terakhir, koran kemarin berisi berita yang sudah&lt;br /&gt;basi. Majalah hanya berlaku 1-2 bulan. Singkirkan koran dan majalah yang lama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Buatlah File 'Untuk Dibaca'&lt;br /&gt;Bualah map khusus atau kerjangjang dengan tanda 'UNTUK DIBACA' untuk menyimpan&lt;br /&gt;seluruh bachan bacaan Anda. Akan lebih mduah untuk melihat berapa banyak yang&lt;br /&gt;harus Anda baca jika semuanya disimpan di satu tempat, daripada tersebar di&lt;br /&gt;seluruh rumah atau kantor Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Cobalah Realistis&lt;br /&gt;Jika bahan bacaan Anda sudah terlihat menggunung, mungkin Anda mencoba untuk&lt;br /&gt;mengerjakan terlalu banyak. Banyak orang yang terlalu ambisius dalam menentukan&lt;br /&gt;berapa banyak waktu yang mereka dapat pakai untuk membaca. Jangan biarkan bahan&lt;br /&gt;bacaan Anda melebihi tempat penyimpanannya. Jika begitu, sudah waktunya untuk&lt;br /&gt;menyimgkirkan yang tak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Bawalah Bacaan Bersama Anda&lt;br /&gt;Jika Anda merencanakan untuk pergi seharian, bawalah beberapa bahan bacaan Anda.&lt;br /&gt;Jadi, jika Anda mempunyai kesempatan, Anda bisa dengan mudah membacanya.&lt;br /&gt;Misalnya jika menunggu seseorang di kantor, sedang di kendaraan dalam&lt;br /&gt;perjalanan, atau sedang antri di kounter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Sumbangkan&lt;br /&gt;Apakah Anda mempunyai buku atau majalah yang sudah tidak terpakai lagi? Anda&lt;br /&gt;dapat menyumbangkannya ke perpustakaan atau menjual ke tokok buku bekas.&lt;br /&gt;Perpustakaan setempat juga akan senang mendapat sumbangan majalah bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Maria Gracia - Get Organized&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-1744190890894934729?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/1744190890894934729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=1744190890894934729&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1744190890894934729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1744190890894934729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/10-cara-atasi-tumpukan-bacaan-yang.html' title='10 Cara Atasi Tumpukan Bacaan Yang Harus Dibaca'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-8483641609444850707</id><published>2008-04-19T19:29:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:33:38.671-07:00</updated><title type='text'>Kiat Menulis Resensi Buku</title><content type='html'>Menulis resensi atau kritik buku sebenarnya nggak sulit. Kalau mau, kamu juga bisa. Nah, berikut ini ada beberapa tips agar kamu piawai menulis resensi.&lt;br /&gt;* Tulisan resensi yang menggambarkan sinopsis harus sesuai dengan isi buku. Banyak peserta yang terdaftar dalam kompetisi ini ternyata kurang memahami isi buku sehingga sinopsis mereka berbeda dengan isi buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ketajaman analisa. Setelah memahami isi buku, kamu harus bisa menilai apakah isi buku bermanfaat atau tidak ? Jika memang bagus, beri penjelasan di mana letak sisi bagus itu. Begitu pun sebaliknya. Di samping itu, kamu harus pula menguasai pengetahuan lain sebagai bahan pembanding isi buku yang hendak kamu kritisi itu, termasuk di dalamnya menyikapi masalah yang ditampilkan buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal kamu tahu, prosentase terbesar kriteria penilaian ada pada ketajaman analisa. Di sini, kamu harus bisa mengaitkan masalah lain yang ada dengan masalah yang diangkat buku itu. Dari sini, gagasan kamu dan isi buku mengenai masalah yang sama, bisa bertemu. Tentu saja kamu bisa mengungkapkan ketidaksetujuan atas gagasan penulis buku yang bersangkutan. Pada saat yang sama, kamu juga harus menawarkan argumen untuk mendukung pendapatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Gunakan bahasa yang terstruktur, lugas, dan jelas sehingga memudahkan pembaca memahami maksud kamu. Melalui bahasa semacam itu, kamu bisa menulis ulang isi atau materi yang terkandung dalam buku, kemudian mengkritisi isinya jika ada yang dinilai kurang tepat. Selain itu, penulis resensi juga harus memiliki kemampuan memahami isi buku secara benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Terakhir, hindari penggunaan kalimat yang panjang dan bertele-tele. Kalimat panjang bisa mengaburkan pesan yang akan disampaikan. Jangan lupa, pilih kata-kata yang tepat untuk merangkai tulisan resensimu. Dengan cara ini, niscaya pembaca akan gampang memahami maksud kamu. Tidak sulit, kan? Oke deh, selamat mencoba.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sumber: Republika.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-8483641609444850707?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/8483641609444850707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=8483641609444850707&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/8483641609444850707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/8483641609444850707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/kiat-menulis-resensi-buku.html' title='Kiat Menulis Resensi Buku'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-3380400458459978913</id><published>2008-04-19T19:28:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:34:18.675-07:00</updated><title type='text'>Kiat Menulis Artikel Iptek di Media</title><content type='html'>HAMPIR setiap suratkabar harian dan mingguan memuat berita-berita dan artikel populer ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbeda dengan dekade sebelumnya, berita dan tulisan iptek tidak lagi dipandang sebagai suatu yang eksklusif, tetapi sudah menjadi bacaan bagi masyarakat luas. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didorong oleh teknologi informasi seperti Internet, berhasil menggugah keingintahuan masyarakat terhadap sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi peristiwa-peristiwa alam, mulai dari banjir, gempa bumi, wabah penyakit, hingga kecelakaan pesawat terbang, yang semuanya itu bisa dijelaskan melalui pendekatan sains, membuat masyarakat mulai akrab misalnya dengan istilah daya dukung lingkungan (carrying capacity), daerah tangkapan air (DTA), retakan bawah di permukaan bumi, evolusi virus, hingga istilah-istilah teknis dalam penerbangan (aviation). Masyarakat ingin tahu lebih banyak soal itu dengan tujuan bisa melakukan antisipasi jika suatu saat hal itu dialaminya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maka tidaklah mengherankan, media massa terus mencoba memenuhi kebutuhan pembacanya akan sajian-sajian Iptek. Dengan intensitas dan visi redaksional yang berbeda-beda, setiap media akan mencoba menyajikan tulisan-tulisan Iptek sesuai selera dan segmen pembacanya. Namun, dalam fungsinya sebagai media massa – dan bukan sebagai jurnal ilmiah untuk komunitas ilmuwan tertentu saja – tulisan-tulisan tersebut tentulah ditampilkan dengan bahasa dan gaya penulisan yang populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berita-berita Iptek – yang bisa berupa laporan peristiwa, wawancara maupun hasil penelitian para ilmuwan dan peneliti – disiapkan oleh redaksi media massa itu sendiri, sebaliknya artikel iptek berasal dari luar media, yakni dari para penulis, peneliti, ilmuwan, dan pencinta iptek. Berbeda dengan umumnya staf redaksi media yang lebih berbekal pengalaman riset, wawancara dan reportase di lapangan, kalangan penulis luar ini berasal dari disiplin ilmu dan latar pendidikan yang memadai. Mereka ini adalah ilmuwan itu sendiri. Karenanya, para penulis ini dituntut menulis lebih mendalam, tajam, akurat, dan tentu saja dengan gaya penulis yang populer sehingga lebih mudah dimengerti masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa nasional misalnya, pada umumnya menyediakan tempat yang luas untuk pemuatan artikel-artikel iptek populer ini. Namun masalahnya, mereka kesulitan mendapatkan artikel iptek yang menarik dari segi topik, baru dari segi sudut pandang (angle) dan aktual dari segi peristiwanya. Tidak sedikit artikel-artikel yang bagus dari sisi kajiannya, tapi tak bisa dimuat karena sama sekali tidak relevan dengan peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para peneliti dan ilmuwan yang ingin tulisannya dimuat di media massa, kecermatan memperhatikan kriteria artikel yang layak muat sangat diperlukan. Sebetulnya hal itu bisa dipelajari sendiri dengan cara mencermati artikel-artikel yang sudah dimuat. Coba perhatikan, kira-kira apa yang menarik dari artikel yang sedang Anda baca itu sehingga dimuat di suratkabar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa kriteria utama bagi artikel-artikel iptek yang bisa dipertimbangkan untuk dimuat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aktual. Hal pertama yang diperhatikan redaktur media ketika menerima kiriman artikel adalah aktualitasnya. Adakah newspeg-nya? Adakah cantolan aktualitasnya pada peristiwa atau kegiatan yang sudah dan sedang berlangsung? Newspeg ini bisa berupa peristiwa itu sendiri, misalnya wabah demam berdarah, banjir, pendaratan wahana robotik di Mars atau bisa juga berupa aktivitas ilmiah seperti adanya kongres ilmuwan nasional maupun dunia mengenai suatu topik ilmu. Peristiwa penganugerahan Hadiah Nobel juga bisa dijadikan peg, bisa ke peristiwanya sendiri, atau terkait pada temuan ataupun biografi para pemenang Nobel itu sendiri. Jadi, jika “tidak ada angin, tidak ada ribut” tiba-tiba Anda menulis tentang bioteknologi misalnya, tulisan Anda tidak akan berada pada daftar prioritas yang akan dimuat. Jika tulisan Anda tentang bioteknologi ini benar-benar bagus, tapi tidak aktual, ada kalanya redaktur menyimpannya dulu sambil menunggu peg-nya, baru kemudian dimuat. Tapi ini jarang sekali terjadi, sebab begitu tulisan Anda dinilai tidak aktual, biasanya segera diputuskan untuk tidak dimuat atau dikembalikan kepada Anda&lt;br /&gt;2. Mengandung unsur baru. Jika tulisan Anda sudah aktual, hal lain yang akan diperhatikan redaktur adalah adakah unsur baru dalam tulisan tersebut. Unsur baru ini bisa dilihat dari angle (sudut pandang) tulisan – dalam penulisan karya ilmiah angle ini mungkin mirip dengan perumusan masalah – maupun data-data dan informasi baru yang disajikan. Apakah angle tulisan Anda menarik atau tidak? Sekarang kita ambil contoh. Taruhlah Anda ingin menulis soal wabah flu burung. Jika Anda mengambil angle soal karakteristik flu burung ini, angle serupa pasti banyak dipilih oleh penulis lain. Akibatnya, tulisan Anda harus bersaing dengan para penulis lain, syukur-syukur bisa lolos. Namun, jika Anda memilih angle yang lain, yang menurut Anda pasti tidak banyak diperhatikan oleh penulis lain, berarti Anda sudah selangkah lebih maju dan kemungkinan tulisan Anda untuk dimuat tentu lebih besar lagi. Lalu, seperti apa misalnya angle yang tampil beda itu? Banyak sekali. Anda misalnya, bisa memilih angle evolusi yang sedang berlangsung. Jika dulu, virus tertentu hanya bisa berpindah antara sesama hewan, kini sudah terjadi perpindahan antara hewan dan manusia dengna merujuk ada kasus mad cow, SARS dan flu burung (jadi wabah SARS atau flu burung sebagai peg saja). Jika Anda berhasil mengungkapkan argumen yang meyakinkan soal evolusi virus, akan sulit bagi redaktur untuk tidak memuat tulisan Anda.&lt;br /&gt;3. Kerangka atau sistematika tulisan. Secara substansial, tidak ada perbedaan antara kerangka penulisan artikel iptek populer dengan artikel ilmiah; setidaknya mengandung tiga komponen utama, yakni pendahuluan, bagian isi dan bagian akhir yang berisi kesimpulan dan saran. Namun untuk artikel iptek populer, pemisahan itu sengaja dibuat tidak begitu nyata. Artinya, Anda tidak perlu menulis sub-judul dalam tulisan dengan Pendahuluan, Isi dan Penutup, tetapi bisa Anda ganti sub-judul lain yang lebih menarik, tapi tetap mengandung ketiga komponen di atas. Makin rajin Anda menulis artikel populer, pasti Anda akan terbiasa dengan dengan struktur penulisan yang sesungguhnya tidaklah asing bagi Anda.&lt;br /&gt;4. Gaya penulisan. Jika tulisan Anda sudah aktual dan mengandung unsur baru, langkah berikutnya yang harus diperhatikan adalah gaya penulisan. Sering kali tulisan yang menarik tapi harus ditolak hanya karena gaya penulisannya sangat “academic-heavy” dan dipenuhi dengan istilah-istilah yang tak disertai padanannya dalam bahasa Indonesia. Anda harus membayangkan, redaktur tidak punya banyak waktu untuk mengedit kembali tulisan Anda, jadi dia cenderung akan memuat tulisan yang sudah jadi dan siap muat saja. Karenanya, cobalah tulis gagasan dan pemikiran Anda dalam bahasa yang sederhana, populer dan hidup. Tempatkan diri Anda sebagai pembaca awam ketika Anda sedang memeriksa hasil akhir tulisan Anda. Kalau Anda merasa istilah yang digunakan masih terlalu “berat”, carilah padanan lain yang yang lebih pas – tentunya dengan tidak mengurangi makna ilmiah yang sebenarnya.&lt;br /&gt;5. Bahan pendukung. Jangan lupa melengkapi tulisan Anda dengan dengan bahan, foto, gambar, grafik, ilustrasi dan tabel pendukung. Ingat, sebagai artikel iptek, Anda tentu berurusan dengan data, skema, angka, rumus dan referensi tertentu, yang dapat mendukung argumen Anda dalam tulisan tersebut dan Anda merasa hal itu penting untuk diketahui masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyiasati hal di atas, memang harus dimulai dari diri Anda sendiri. Tidak mungkin Anda bisa mendapatkan topik tulisan yang aktual jika Anda tidak mengikuti perkembangan yang terjadi. Jadi cobalah untuk mengkliping berita maupun tulisan yang menarik dan cocok dengan minat Anda. Semakin kaya referensi yang Anda gunakan, akan semakin hidup dan menatik tulisan yang Anda sajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, hal-hal nonteknis juga berperan dalam mendorong bermunculannya penulis-penulis iptek andal. Anda harus punya motivasi yang kuat untuk menulis di media massa, karena ini merupakan salah satu cermin tanggungjawab moral Anda sebagai ilmuwan dan peneliti. Sampaikanlah ilmu yang Anda miliki kepada masyarakat yang membutuhkan. Jangan disimpan di dalam laci saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memiliki motivasi, hal lain yang harus Anda miliki adalah ambisi dan militansi. Ambisi dan militansi akan membuat motivasi Anda menjadi efektif dan bisa digerakkan. Ketika Anda ingin menulis sesuatu karena topik tersebut memang sangat hangat, lakukanlah segera, dan jangan menunda-nundanya. Bagaimana pun, proses penerimaan naskah, pemeriksaan dan pemuatan oleh redaksi, setidaknya membutuh waktu paling cepat dua-tiga hari. Jadi Anda harus berburu waktu untuk menghindari tulisan Anda tidak jadi basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan militansi yang tinggi, kendala-kendala seperti kesibukan mengajar, meneliti atau mengurusi jurusan, sama sekali tidak akan menghalangi langkah Anda untuk menjadi penulis iptek yang andal. Dengan militansi yang tinggi, Anda juga tidak perlu merasa kecewa jika tulisan Anda ditolak, tapi mestinya akan terus memacu Anda untuk menulis lebih baik lagi. Anda tentu pernah membaca, tidak sedikit penulis-penulis yang terkenal saat ini, ketika memulai aktivitas menulisnya, menemukan kenyataan tidak sedikit tulisan-tulisannya yang dikirim ke media yang ditolak redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tulisan-tulisan Anda dimuat di media massa, sesungguhnya banyak sekali keuntungan yang bisa diperoleh. Selain masyarakat mendapatkan manfaat setelah membacanya, Anda juga akan dikenal luas, bisa pula menambah credit point (Kum) bagi dosen untuk naik pangkat, dan Anda juga dapat sejumlah uang karena memang ada honornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi? Tidak ada resep ampuh apapun agar dapat menjadi penulis iptek terkenal, selain dengan memulainya dari sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : The Gadget&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-3380400458459978913?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/3380400458459978913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=3380400458459978913&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/3380400458459978913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/3380400458459978913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/kiat-menulis-artikel-iptek-di-media.html' title='Kiat Menulis Artikel Iptek di Media'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-1566604677903347953</id><published>2008-04-19T19:24:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:36:58.064-07:00</updated><title type='text'>Kiat menulis ala Dahlan Iskan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SAqp4WmmxqI/AAAAAAAAAGo/z5TbaPmpEMM/s1600-h/dahlan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SAqp4WmmxqI/AAAAAAAAAGo/z5TbaPmpEMM/s200/dahlan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191148306103191202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di GRAHA PENA Surabaya, markas Grup JAWA POS, DAHLAN ISKAN lebih akrab disapa Pak Bos. Pria kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 ini memang bos Grup JAWA POS. Di masthead koran-koran di lingkungan Grup JAWA POS, jabatan resmi Dahlan Iskan adalah chairman. Memang, selain membesarkan JAWA POS (dan grupnya) dialah ‘roh’ Grup JAWA POS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, berbeda dengan bos-bos media lainnya, Dahlan Iskan ini tetap menulis. Bikin reportase, kolom, analisis berita... pokoknya menulis. Menulis kapan saja dia suka. Menulis dan membaca sudah menjadi darah daging tokoh pers nasional itu. Kalau sudah ada ide, di mana pun, kapan pun... Dahlan Iskan menulis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini, Pak Bos jalan-jalan di Singapura. Jalan kaki di Orchard Road dengan trotoar yang rindang. Nah, di trotoar itu muncul ide untuk menulis masalah kota, sekadar masukan untuk Kota Surabaya. Maka, ayah dua anak ini menulis di trotoar itu. Besoknya, tulisan itu dimuat di JAWA POS, dan beberapa koran anak perusahaan JAWA POS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahlan Iskan itu penulis dan wartawan yang belum ada duanya di Jawa Timur, bahkan Indonesia,” kata BAMBANG SUJIYONO, seniman teater, pentolan BENGKEL MUDA SURABAYA, kepada saya. “Harusnya kita punya banyak wartawan kayak dia. Sekarang ini wartawan buanyaaaaak sekali, media berlimpah, tapi hampir nggak ada wartawan yang punya tulisan bagus. Kayaknya wartawan-wartawan sekarang ini nggak bakat menulis deh. Makanya, tulisannya nggak karuan,” kata Bambang, bekas anggota DPRD Jawa Timur, juga bekas pemimpin redaksi beberapa media cetak di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang Sujiyono, juga sejumlah seniman, mahasiswa, pengamat, serta kalangan terdidik di Jawa Timur, memang sejak lama ‘kecanduan’ tulisan Dahlan Iskan. Kalau Pak Bos lama tak menulis karena sibuk (maklum, urusan dan jabatannya banyak), orang-orang macam Bambang ini telepon atau titip pesan lewat redaksi agar Pak Bos segera menulis lagi. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada teman saya yang hanya mau baca tulisan Dahlan Iskan. Tulisan-tulisan lain dianggap nggak ada. Hehehe...,” kata Bambang Sujiyono lalu tertawa khas. Saya hanya mengangguk mendengar komentar Bambang. Lalu tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat sama sebetulnya juga disampaikan pembaca JAWA POS dan RADAR SURABAYA, khususnya mereka yang punya ‘rasa bahasa’. Mereka menilai karya Dahlan Iskan itu unik, sulit ditiru, mengandung kejutan, jenaka, jelas, menghibur. “Wislah, bilang bosmu itu (maksudnya Dahlan Iskan) supaya menulis terus. Sibuk ya sibuk, tapi ojo lali menulis. Penggemare akeh,” papar Bambang Sujiyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun sepakat dengan penilaian pembaca-pembaca kritis ala Bambang Sujiyono. Selain enak dan menghibur, Dahlan Iskan mampu mendudukkan persoalan secara terang dan jernih. Apa-apa yang tadinya gelap, remang-remang, jadi jernih setelah saya membaca tulisan Pak Bos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh kasus haji (2007). Soal muasasih di Makkah yang menyediakan katering jemaah haji. Saya sering baca tulisan teman-teman wartawan, baca artikel di banyak media, dengar penjelasan dari wartawan senior yang sudah naik haji. Tapi penjelasan tentang seluk-beluk katering dan pengaturan makan jemaah haji tak pernah jelas. Tulisan wartawan-wartawan muda di koran malah bikin bingung. “Mbulet,” kata orang Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 20 Januari 2007, bertepatan dengan 1 Muharram 1428 H, Dahlan Iskan menulis di halaman satu JAWA POS. Dia bahas masalah katering, muasasah, kebijakan Menteri Agama MUHAMMAD MAFTUH BASYUNI. Begitu membaca tulisan Pak Bos, saya langsung paham apa yang menimpa sekitar 200 ribu jemaah haji kita di Arab Saudi akhir Desember 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bos menulis pendek, sederhana, logis, cespleng. Cukup satu artikel pendek, Dahlan Iskan berhasil memberi gambaran seputar persoalan haji. “Kalau bisa disederhanakan, kenapa harus rumit-rumit?” begitu kira-kira salah satu jurus menulis Pak Bos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Bambang Sujiyono, saya sepakat bahwa Pak Bos ini punya talenta lebih. Dus, sulit ditiru wartawan lain, termasuk saya, meskipun dulu beliau sering memberikan bengkel atau latihan menulis kepada wartawan JAWA POS dan beberapa koran anak perusahaan. Karena tulisannya enak, selalu ditunggu, redaktur selalu menempatkannya di halaman muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daya tarik tulisan Dahlan Iskan memang luar biasa,” kata LUTFI SUBAGYO, bekas pemimpin redaksi SUARA INDONESIA (Grup JAWA POS). Karena itu, dulu, saban Sabtu Lutfi menempatkan ‘catatan ringan’ Dahlan Iskan di halaman satu. Oplah hari itu pun naik, karena banyak warga Surabaya yang beli koran hanya untuk menikmati tulisan Pak Bos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sebagai wartawan di Graha Pena, saya beruntung pernah mendapat gemblengan langsung dari Pak Bos meski tidak secara khusus. Learning by doing, itulah yang dilakoni Pak Bos. Saya pernah mencoba meniru gayanya, tapi gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut sedikit gambaran tentang sosok sekaligus KIAT MENULIS ALA DAHLAN ISKAN yang saya tahu dan alami. Mudah-mudahan bisa membantu kawan-kawan penulis muda di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEAD HARUS DELAPAN KE ATAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Dahlan Iskan belum sesibuk sekarang, dia selalu berjalan keliling ke meja wartawan. Membaca sekilas berita wartawan di laya komputer. Sasaran pertama adalah LEAD alias TERAS alias INTRO alias PEMBUKA alias ALINEA PERTAMA tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lead-mu 6. Cepat diperbaiki sampai 8. Kalau belum 8, nggak bisa dimuat. Lead harus sembilan,” kata Dahlan Iskan usai membaca beberapa baris berita salah satu reporter. Teman saya itu cepat-cepat memperbaiki lead-nya. “Coba saya lihat. Hmm.. lumayan, sudah 7, belum 8. Coba lagi,” kata Dahlan, bekas wartawan majalah TEMPO, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kalimat di bawah ini Anda angkat ke atas. Dibuat lebih bagus agar enak dibaca?” usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kursus menulis berita macam ini dilakukan Dahlan Iskan, dulu, terus-menerus di newsroom kami. Sambil kasih kursus, tak lupa Dahlan Iskan membagi-bagi permen atau kacang goreng: tiap-tiap wartawan satu atau dua biji. Sedikit tapi merata.&lt;br /&gt;Dahlan suka lead yang spontan, unik, tidak klise. Pembaca sejak awal harus dibuat tertarik membaca sampai selesai. Dan itu ada teknik tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAHLAN ISKAN SUKA HUMOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang Jawa Timur, Pak Bos punya koleksi humor berlimpah. Kebanyakan didengar dari teman-teman, wong cilik, obrolan di warung kopi. Humor cerdas kerap jadi pembuka (lead) tulisannya. Contoh: “Di dunia ini ternyata ada empat hal yang tidak bisa diduga: lahir, kawin, meninggal, dan ... Gus Dur!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di lead, humor kerap dipasang Pak Bos di akhir tulisannya. Bacalah terus karya dahlan, niscaya di akhir atau menjelang akhir ada kejutan. “Benar-benar mengagetkan,” kata ROHMAN BUDIANTO, redaktur senior JAWA POS, kini pemimpin redaksi RADAR MALANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALIMAT-KALIMAT PENDEK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan suka kalimat-kalimat pendek. Antikalimat panjang, apalagi yang beranak-pinak alias kalimat majemuk bertingkat. “Bagaimana kalau kalimatmu dipotong? Dibagi dua atau tiga,” ujar Pak Bos kepada seorang pemimpin redaksi (kini bekas).&lt;br /&gt;“Enak mana: kalimat panjang atau pendek?” tanya Pak Bos. “Enak pendek, Pak Bos,” jawab si pemred yang sebelumnya suka pakai kalimat majemuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat pendek kerap ‘melawan’ aturan tata bahasa Indonesia. Sebab, kalimat dipotong sebelum waktunya. “Anak kalimat kan tidak bisa berdiri sendiri?” protes editor bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak apa-apa, kata Pak Bos. Alasannya, tulisan di koran harus mudah ditangkap pembaca. Kalau kalimat-kalimat si wartawan terlalu panjang, pembaca akan capek. Dan dia tidak mau baca koran lagi. Toh, koran bukan kitab tata bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikan tulisan Dahlan Iskan di JAWA POS, 21 September 2007:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele, tapi sebenarnya penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, begitu saya mengajarkan, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Kalimat pendek, begitu saya mengajar, akan membuat tulisan menjadi lincah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. Semakin pendek sebuah kalimat, semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Tapi, dengan selingan kutipan-kutipan pendek, tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENULIS SEPERTI BERBICARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya bicara Pak Bos hampir sama dengan gayanya menulis. Ini membuat beliau tidak susah mengalihkan wacana di kepala ke dalam tulisan. Spontanitas, humor cerdas, cerita-cerita menarik, keluar begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALIMAT SEDERHANA, NARATIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat sederhana memang jadi ciri khas Dahlan Iskan. Tulisannya selalu bertutur alias naratif. Sebelum ada gembar-gembor jurnalisme naratif, jurnalisme baru, jurnalisme sastrawi, Dahlan Iskan sudah melakukannya sejak 1980-an. Berbeda dengan GOENAWAN MOHAMAD yang puitis, berusaha menemukan kata yang benar-benar pas, kalimat-kalimat Dahlan Iskan mengalir begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tulisannya gampang diikuti, enak pokoknya,” ujar AAN ANDRIYANI, staf sebuah dealer sepeda motor di Surabaya, kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Pak Bos tidak ‘ndakik-ndakik’, penuh kata asing, sok ilmiah, mbulet... karena dia ingin pembaca koran, ya, semua warga, menangkap apa yang ditulisnya. Buat apa menulis kalau tidak dibaca karena kalimat-kalimatnya mbulet gak karuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INGATAN SANGAT KUAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau wartawan-wartawan lain sibuk mencatat, merekam, jemprat-jepret... Dahlan Iskan tenang-tenang saja saat wawancara. Dahlan Iskan tidak pernah mencatat kata-kata sumber atau data-data. Dia menyimak penjelasan sumber dengan serius. Sekali-sekali ia menukas atau ‘memancing’ agar si sumber mengeluarkan pernyataan atau kata-kata yang ‘hidup’. Inilah bedanya dengan wartawan biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri terkejut melihat Dahlan Iskan tidak mencatat atau merekam wawancaranya dengan pejabat atau sumber mana pun. Mencatatnya, ya, di otak saja. Tapi besok, silakan baca koran-koran. Dijamin tulisan Dahlan Iskan jauh lebih bagus, hidup, enak, lengkap, dibandingkan wartawan-wartawan lain yang supersibuk. Tulisannya bisa tiga bagian panjang, sementara reporter lain hanya mampu membuat tulisan pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data-data Dahlan lengkap. Interpretasi dan ramuannya yang khas membuat tulisannya lebih bernas. “Itu bakat Pak Bos, nggak ada sekolahnya,” kata SLAMET URIP, bekas wartawan senior JAWA POS, yang juga ‘suhu’ para wartawan muda di Grup Jawa Pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAK MEMBACA, KUTU BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan pembaca yang rakus. Buku tebal ia habiskan hanya dalam beberapa jam saja. Kalau perlu, dia melekan (bergadang) demi menamatkan bacaannya. Novel AROK DEDES (Pramoedya Ananta Tour), misalnya, diselesaikan Dahlan Iskan hanya dalam tempo beberapa jam saja. Lalu, dia buat catatan tentang novel itu. Dahlan juga bikin catatan tentang novel SUPERNOVA (Dee) setelah melahap novel itu dalam hitungan beberapa jam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Dahlan suka baca buku-buku tebal di ruang redaksi, disaksikan wartawan? Saya pikir, secara tidak langsung Pak Bos mau mengajarkan bahwa wartawan/redaktur harus banyak baca. Tulisan yang bagus hanya lahir dari tangan mereka-mereka yang rakus baca. Kenapa tulisan wartawan sekarang umumnya jelek, kering, datar-datar? Salah satunya, ya, karena kurang baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JALAN-JALAN, TURUN KE LAPANGAN, KERJA KERAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Dahlan Iskan hidup karena berangkat dari pengalaman sendiri. Based on his own experiences! Apa yang dilihat, didengar, dihidu, diraba, dikecap... itulah yang ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan sangat mobil. Pagi di Surabaya, siang Jakarta, sore, makassar, malam mungkin di Singapura. Besoknya Tiongkok, luas Amerika... dan seterusnya. Ini membuat Pak Bos sangat kaya pengalaman, kaya penglihatan, kaya wawasan. Dia tinggal ‘memanggil’ memorinya dan jadilah tulisan yang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan pernah membuat tulisan menarik tentang pengalaman naik pesawat supersonik CONCORDE yang kini sudah almarhum itu. Dia bikin pembaca seakan-akan ikut menikmati pesawat supercepat, supercanggih, supermewah, buatan Prancis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUASAILAH BANYAK BAHASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik penampilan yang sederhana--sepatu kets, kemeja tidak dimasukkan, tak pakai ponsel--Dahlan Iskan pribadi yang dahsyat. Sangat cepat belajar! Bahasa Tionghoa yang sulit, aksaranya yang aneh, ditaklukkan Dahlan dengan modal tekad baja. "Saya harus bisa,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dia panggil guru privat, les di Graha Pena. Tak puas di Surabaya, Dahlan pindah domisili di Tiongkok selama beberapa bulan agar bisa berbahasa Tiongkok. Beberapa saat kemudian, Dahlan Iskan sudah kirim CATATAN DARI TIONGKOK secara bersambung. Sangat menarik. Respons pembaca luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CINTAILAH SASTRA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, Dahlan Iskan ini bekas wartawan TEMPO. Majalah yang dibuat oleh tangan-tangan trampil berlatar sastrawan. Goenawan Mohamad, Bur Rasianto, Syubah Asa, Putu Wijaya, Isma Sawitri, dan nama-nama besar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka-mereka ini praktisi sastra Indonesia. Mereka peminat kata. Terbiasa membuat kalimat yang indah, yang tidak klise. Dahlan Iskan, meski jarang menulis puisi atau novel, jelas seorang sastrawan. Dia bersastra lewat reportase atau kolom-kolomnya di koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bos pun budayawan. Tak heran, di Surabaya dia giat sekali dalam komunitas dan kebudayaan Tionghoa. Dia pun ketua umum persatuan olahraga barongsai yang akhir 2006 silam sukses menggelar kejuaraan dunia di Surabaya. Kiprah semacam ini menambah ‘basah’ tulisan-tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENULIS LANGSUNG JADI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan tidak butuh waktu lama untuk menulis. Tak sampai satu jam Pak Bos sudah menyelesaikan tulisan panjang untuk halaman satu JAWA POS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, silakan dilihat, silakan diedit. Jangan lupa kasih judul,” begitu kata-kata khas Dahlan Iskan usai membuat tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan tidak pernah membaca ulang, apalagi mengubah kalimat-kalimatnya. Sekali menulis, selesai, dan selanjutnya urusan redaktur untuk mengecek salah ketik dan sebagainya. Dimuat atau tidak, urusan redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan tak pernah mengawal layar lay-out untuk memastikan tulisannya dimuat dengan isi tertentu. Kalau sudah menulis, dia memosisikan diri sebagai wartawan biasa atawa reporter. Bukan pemilik koran atau Pak Bos. Tapi, ya, tentu saja tetap dimuat karena secara objektif memang oke punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tahu bagaimana contoh tulisan khas Dahlan Iskan? Baca di bagian bawah halaman ini. Bagaimana Dahlan Iskan bikin reportase bagus seputar acara bersama Presiden BJ Habibie di Istana Negara. Ada ikan goreng, cumi goreng, sayur asam, lalapan, es krim rasa vanili. Liputan cerdas yang tidak akan dijumpai di koran-koran lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa Pos, 7 Juni 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUDAH BISA TIDUR EMPAT JAM SEHARI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh DAHLAN ISKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASYARAKAT pers menikmati dua kemerdekaan Sabtu kemarin, ketika sejumlah pimpinan media massa diundang untuk bertemu Presiden BJ Habibie di Wisma Negara, di kompleks Istana. Saat acara belum dimulai, mereka bersalaman dan membicarakan dengan nada riang dicabutnya Permenpen Nomor 1/1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka gembira karena tidak ada lagi ancaman pembredelan surat kabar dan tidak lagi diharuskan menjadi anggota PWI. Para pimpinan media massa juga banyak tertawa, seolah-olah sedang merayakan hari pertama kemerdekaan pers. Mereka juga menertawakan kejadian-kejadian di masa lalu, bagaimana rasa ketakutan selalu menghantui setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat acara dialog dengan presiden dimulai, mereka menikmati kebebasan yang lain: mengajukan pertanyaan apa saja dalam suasana sangat bebas. Didukung pula oleh tatanan tempat duduk yang disiapkan Mensesneg Akbar Tanjung yang amat berbeda dengan kebiasaan acara di istana. Kali ini dialog dilangsungkan di ruang makan dengan format makan siang sehingga tidak lagi seperti suasana temu wicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara kemarin, praktis tidak ada jarak antara presiden dengan masyarakat pers. Presiden sendiri tidak ’membungkus’ diri dengan formalitas kepresidenan yang lama sehingga sosok ‘Habibie’-nya tidak hilang. Tidak dibedakan setting meja makan presiden dengan meja makan yang lain. Di meja ini duduk melingkar delapan orang: Presiden Habibie, Mensesneg Akbar Tanjung, Menpen Yunus Yosfiah, pimpinan grup Kompas Jakob Oetama, saya (pimpinan grup JAWA POS), direktur TPI Yarman, Pimred MEDIA INDONESIA Djafar Assegaf, dan ketua PWI Pusat Sofyan Lubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana juga yang lain, presiden mengambil sendiri makanannya di meja prasmanan: nasi putih, ikan goreng, cumi goreng, sayur asam, dan lalapan. Juga, es krim rasa vanili. Dari susunan makanan yang dia ambil, tampak tidak ada jenis makanan tertentu yang dia jauhi. Ini menunjukkan bahwa kesehatannya sangat prima untuk orang berumur (akhir bulan ini) 62 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tekanan pekerjaan dan tanggung jawabnya luar biasa sehingga kehilangan waktu berolahraga. “Saya tidak sempat renang dalam 10 hari ini," kata presiden. “Padahal, biasanya, setiap hari saya renang sejauh 2.200 meter selama satu jam," tambahnya. Dia tampak sangat merindukan olahraga kegemarannya itu. “Nanti malam mungkin sudah bisa mulai renang lagi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu pertanda bahwa keadaan sudah mulai normal? Apakah pertanda semuanya sudah terkendali? Kelihatannya begitu. Dari kata-kata yang dia sampaikan kepada pers kemarin, tidak ada yang sifatnya permintaan untuk mengatasi sesuatu yang masih gawat. Bahkan, dia mengatakan sudah bisa istirahat malam. “Saya sudah bisa tidur empat jam sehari," katanya. Padahal, dalam sepuluh hari pertama masa jabatannya sebagai presiden, ia hanya bisa tidur dua jam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi kisah manusiawi seperti itu yang terlontar dalam pertemuan selama tiga jam lebih tersebut. Demikian juga adegan-adegan yang natural, yang jauh dari formalitas kepresidenan. Saat presiden akan mulai bicara dan mikrofonnya belum on, misalnya, terjadilah seperti juga apa yang terjadi pada manusia biasa ketika menghadapi hal yang sama. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke mikrofon dan bertanya ’bagaimana ini caranya’. Tidak ada nada menyalahkan petugas, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habibie sebagai pribadi juga tidak hilang ketika presiden yang menguasai lima bahasa asing ini –sangat manusiawi– terlupa pada apa bahasa Inggrisnya ’tokoh’ atau ’jaksa agung’ pada saat menjawab pertanyaan perwakilan wartawan kantor berita asing dalam bahasa Inggris yang amat cepat. Ia menengok ke Akbar Tanjung. Yang ditengok segera mengucapkan kata Inggris yang dimaksud, bersamaan dengan presiden sendiri ingat apa yang dia lupakan itu. Maka, suasana yang tercipta di kalbu pimpinan media massa pun suasana ’merdeka’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, itu tecermin dalam pertanyaan-pertanyaan yang kemudian banyak sekali dilontarkan tokoh-tokoh masyarakat informasi –presiden berkali-kali menyebutkannya dengan information society– itu. Semua pertanyaan dia catat sendiri di kertas yang tiba-tiba dia minta kepada seorang petugas istana dan dia jawab semuanya. Mulai dari yang berat, yang pribadi, sampai ke yang sangat sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sepele misalnya, presiden ditanya soal apakah bisa membantu kertas bagi pers dan apakah mungkin menarik kembali sebagian WNI yang ke luar negeri bersama uang mereka itu dengan cara memberi keasyikan dalam bentuk pembukaan tempat-tempat perjudian di tempat-tempat tertentu. Pertanyaan yang serius banyak sekali: mulai dari mengapa pasar (mata uang) masih belum merespons positif biarpun sudah banyak langkah yang dilakukan kabinet baru, bagaimana memprogramkan perampingan birokrasi, bagaimana dengan IMF, bagaimana dengan demo ke konsulat AS, bagaimana hukum bisa tegak dan pengadilan bisa mandiri, bagaimana soal beberapa menteri yang disorot tajam di masyarakat, bagaimana dengan korupsi, bagaimana dengan nonpri, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya dijawab dan tidak dinyatakan off the record. Jawaban yang terbuka juga diberikan untuk pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi. Seperti apakah pernah punya firasat bahwa kelak jadi presiden, apakah ada tanda-tanda ke arah itu di masa kecilnya, bagaimana dengan tuduhan bahwa dia tidak lebih dari boneka Soeharto, bagaimana dia menciptakan suasana tidak feodal seperti yang sedang dinikmati masyarakat pers kemarin, sampai ke soal apakah pers boleh menuliskan namanya dengan nama depan yang lebih akrab dan manis: Presiden Rudy Habibie atau Bung Rudy saja. Termasuk juga pertanyaan soal anak-anaknya. Tidak ada yang menyangka pertemuan akan berjalan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja jam sudah menunjukkan pukul 16.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya masih ada rapat lagi di Bina Graha," katanya. “Kita adakan lagi acara seperti ini kapan Anda semua memerlukannya. Atur saja dengan menteri penerangan," katanya sambil berdiri dan menyalami tamunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petugas sudah gelisah karena acara presiden berikutnya sudah menunggu. Para pimpinan media massa, yang sejak lama mendambakan kemerdekaan pers, tidak perlu lagi menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : blog orang kampung&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-1566604677903347953?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/1566604677903347953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=1566604677903347953&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1566604677903347953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/1566604677903347953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/kiat-menulis-ala-dahlan-iskan.html' title='Kiat menulis ala Dahlan Iskan'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SAqp4WmmxqI/AAAAAAAAAGo/z5TbaPmpEMM/s72-c/dahlan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-7211887689967240995</id><published>2008-04-19T19:14:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:40:09.379-07:00</updated><title type='text'>Blogger Ri Kalahkan Jepang Dan Taiwan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KALAU biasanya setiap tahun majalah Time memilih sosok tertentu sebagai Man of the Year, makan pada 2007 justru tidak ada tokoh dunia yang dipilih sebagai Man of the Year 2006.&lt;br /&gt;Apa yang tejadi? Time memilih masyarakat yang disimbolkan dengan kata "You (Anda)" sebagai sebagai Man of the Year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, pada 2006 orang dapat dengan mudah mengekpresikan dirinya sendiri, baik dalam bentuk opini, unek-unek, maupun buah pikiran, dan lain, di internet setelah munculnya web 2.0.&lt;br /&gt;Berbagai blog alias situs pribadi di internet bermunculan bak cendawan di musin hujan.&lt;br /&gt;Di Myanmar yang sedang bergolak misalnya. Sebelum ribut-ribut antara pemerintah junta militer melawan kekuatan rakyat yang dipelopori para biksu, terjadi aksi penyerbuan terhadap sebuah biara.&lt;br /&gt;Para biksu yang melakukan aksi mogok menentang kebijakan kenaikan harga BBM, dibantai oleh junta militer.&lt;br /&gt;Media lokal setempat ketakutan memberitakan tindakan anarkis yang dilakukan negara. Apa yang terjadi? Rupanya rakyat telah melek tekhnologi.&lt;br /&gt;Tindakan sewenang-wenang militer yang dibadaikan melalui kamera telepon selular (ponsel) disebar melalui blog-blog.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat dunia internasional akhirnya mengetahuinya. Mereka marah dan mengecam tindakan brutal tersebut.&lt;br /&gt;Di Indonesia, blog telah menjadi fenomena dan tengah membangun sebuah kultur baru dalam dunia informasi.&lt;br /&gt;Blog memang tak lagi menjadi milik segelintir orang yang memang mengerti bahasa pemograman komputer.&lt;br /&gt;Blog telah menjadi milik semua orang, di Indonesia diperkirakan ada lebih dari 130 ribu weblog yang dibikin orang Indonesia.&lt;br /&gt;Kondisi inilah yang menarik beberapa penggiat blog Indonesia untuk mencoba mengumpulkan para blogger se-Indonesia dalam satu forum besar bernama Pesta Blogger 2007, Suara Baru Indonesia, yang akan digelar 27 Oktober mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;BLOG yang merupakan kependekan dari weblog atau personal website, kini menjadi sebuah bentuk mainan baru di era informasi digital saat ini.&lt;br /&gt;Namun dalam perkembangannya, blog bisa dibilang tidak lagi menjadi mainan bagi kelompok-kelompok tertentu.&lt;br /&gt;Blog telah tumbuh menjadi kekuatan tersendiri dengan ciri khasnya yang membedakan mereka dengan media konvensional lainnya.&lt;br /&gt;Majalah Time bahkan menetapkan para penggiat blog ini sebagai Man of The Year 2006. Time menyebutkan tahun 2006 memang memunculkan banyak cerita, namun ada sebuah cerita lain yang tak kalah besar meskipun bukanlah sebuah konflik atau yang melibatkan tokoh besar dunia.&lt;br /&gt;Tahun 2006 adalah sebuah cerita mengenai komunitas yang berkolaborasi dalam sebuah skala besar yang tak pernah muncul sebelumnya.&lt;br /&gt;Sebuah komunitas yang tergabung dalam sebuah alat yang bernama World Wide Web. Tentu saja web di sini bukan sebuah web seperti milik Tim Berners-Lee yang berkembang pada 15 tahun lalu, bahkan tidak sama dengan hype dotcom web yang berkembang diakhir 90 an.&lt;br /&gt;Ini sebuah software versi baru yang disebut web 2.0 yang oleh Time disebut penggerak baru dalam revolusi informasi digital.&lt;br /&gt;Wartawan senior Kompas Ninok Leksono mengatakan, ke depan tidak menutup kemungkinan akan terjadi pergeseran di dunia jurnalistik --citizen journalism.&lt;br /&gt;Artinya, justru mereka yang menjadi reporter adalah masyarakat sendiri. "Begitu juga gaya penulisannya. Mereka tak lagi mengindahkan kaidah-kaidah jurnalistik, termasuk menyangkut ejaan dan lain-lain," ungkap Ninok kepada Persda Network.&lt;br /&gt;Sebuah web di Singapura, sudah berhasil mengembangkan citizen journalism. Hampir setiap hari masyarakat melaporkan kepada pengelola blog lengkap dengan data teks, audio, bahkan video atas terjadinya sebuah peristiwa.&lt;br /&gt;Pihak pengelola tinggal melakukan pengecekan ulang. Setelah diyakini informasi itu akurat, maka data atau laporan dari masyarakat segera ditayangkan ke web.&lt;br /&gt;Blog bentuknya macam-macam. Dari sebuah diari elektronik termasuk foto dan video personal, opini atau artikel, hingga sebuah blog pemasaran atau promosi dari sebuah perusahaan.&lt;br /&gt;"Blog memang sudah menjadi rupa baru dalam dunia informasi. Dan komunitas blog baru saja lahir dan sedang akan berkembang" terang Enda Nasution, Ketua Komite Pesta Blogger 2007 dalam perbincangannya dengan Persda Network, Kamis pekan ini..&lt;br /&gt;Menyadari komunitas blog di Indonesia yang semakin menggeliat, konsultan kehumasan Maverick dan Bubu Internet, dalam waktu dekat mengagas sebuah acara kumpul-kumpul bloggers berskala nasional.&lt;br /&gt;Pesta Blogger bertema Suara Baru Indonesia diharapkan menjadi wadah pertemuan dan diskusi bagi para blogger untuk bersama-sama menciptakan iklim ngeblog yang positif di Indonesia.&lt;br /&gt;Harapannya, ke depan blog dapat menjadi media ekspresi baru yang mampu menyuarakan pemikiran, pendapat dan perasaan para blogger Indonesia. Acara ini rencananya digelar pada 27 Oktober.&lt;br /&gt;Wimar yang telah menjadi blogger senior Indonesia sejak 1996 dengan perspektif.net mengatakan, perkembangan blog menjadi sebuah media informasi baru yang diperhitungkan karena sifatnya yang berbeda dengan media konvensional.&lt;br /&gt;Wimar menyebut blog itu otonom dan independen. Jadi sangat ideal bagi semua orang untuk menampilkan gagasannya atau pengalaman pribadinya Melalui blog juga tercipta citizen journalism, dimana setiap orang bebas berpendapat.&lt;br /&gt;Dalam Pesta Blogger 2007 nanti, akan dilibatkan blogger terkemuka di bidangnya masing-masing.&lt;br /&gt;Dari 200 bloggers yang hadir dalam acara tersebut, 100 bloggers diundang khusus oleh Komite Pesta Blogger 2007, sementara 100 tempat berikutnya akan diberikan kepada para bloggers yang mendaftarkan diri lewat situs resmi http://pestablogger.com/ dengan sistem first come first serve.&lt;br /&gt;Indonesia Tertinggi&lt;br /&gt;Edelman, sebuah lembaga kehumasan global Kamis (29/9) kemarin merilis data hasil risetnya terhadap tren blog di banyak negara.&lt;br /&gt;Hasilnya, Edelman mencatat, pertumbuhan weblog di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Di regional Asia, pertumbuhan weblog bahkan diatas rata-rata pertumbuhan regional.&lt;br /&gt;Alan VanderMolen, Presiden Edelman Asia Pasifik, dalam paparannya pada acara diskusi terbatas dengan beberapa media di Hotel Mulia, Jakarta, menyebutkan, dari 1.050 responden Asia-Pasifik yang diwawancarai melalui metode tatap muka menyatakan, 32 persen responden di Indonesia menyatakan, sudah atau pernah membuat blog.&lt;br /&gt;Angka ini melebihi data yang diberikan responden di Taiwan yang hanya mencapai 30 persen pernah atau telah membuat blog.&lt;br /&gt;Sementara, Jepang hanya 25 persen responden, Hongkong 22 responden dan Singapura hanya 18 responden.&lt;br /&gt;Angka tertinggi diberikan responden di Cina (48 persen), disusul Malaysia (40 persen), dan Korea ( 38), serta India (33).&lt;br /&gt;(Persda Network/why/bec)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-7211887689967240995?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/7211887689967240995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=7211887689967240995&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/7211887689967240995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/7211887689967240995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/blogger-ri-kalahkan-jepang-dan-taiwan.html' title='Blogger Ri Kalahkan Jepang Dan Taiwan'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-164644721245589456</id><published>2008-04-15T04:30:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:41:14.394-07:00</updated><title type='text'>Citizen Jurnalism</title><content type='html'>Baru-baru ini di Indonesia berkembang istilah Citizen Jurnalism yang kemudian banyak diterjemahkan sebagai: jurnalisme orang biasa. Menurut website Wimar Witoelar di prespektif.net, dunia pemberitaan di era baru memungkinkan pertukaran pandangan yang lebih spontan dan lebih luas daripada media konvensional dimana Tiap orang bisa menerbitkan berita, tiap orang bisa menanggapi, demikian ungkapan populernya. Pendek kata : Ada demokratisasi informasi dan ekspresi.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau kita mau melihat perkembangan saat ini, kita bisa melihat bagaimana perkembangan detik.com, radio elsinta, maupun diterimanya video amatir di MetroTV dan juga iklan Citizen Jurnalism-nya Koran Republika atau iklan Media Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan obyek pemberitaanpun saat ini mulai berimbang antara berita tentang elit dan berita tentang orang kebanyakan. Kita bisa melihat fenomena tokoh ‘anti hero’ Thukul Arwana yang laris manis sebagai representasi hiperbolis orang kebanyakan, atau reality show atau lomba adu bakat seperti supermama atau lomba penyanyi dangdut. Dalam dunia anak kita juga bisa melihat ketika ada Si Bolang dan Lap Top Si Unyil yang mencoba memperlihatkan tokoh ‘apa adanya’. Pada sisi lain, kita juga bisa melihat bagaimana acara TV Republik Mimpi menjadi banyak penggemarnya karena cenderung membawa pesan demitologisasi elit. Tentunya ini belum lagi pada fenomena banyanya blog-blog dalam berbagai jenisnya yang lebih ‘liberal’ dalam ekspresi dan pengemasan informasi.&lt;br /&gt;Karakter media yang merubah dirinya menjadi lebih ramah dengan suara khalayak dan menjadikan dirinya sebagai saluran ‘ekspresi dan kepentingan’ khalayak inilah model media yang menjadi buah era reformasi dan juga fenomena Globalisasi hasil revolusi Teknolog Informasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-164644721245589456?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/164644721245589456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=164644721245589456&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/164644721245589456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/164644721245589456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/citizen-jurnalism.html' title='Citizen Jurnalism'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-5212738962319520740</id><published>2008-04-12T21:11:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:41:57.866-07:00</updated><title type='text'>Kode Etik Jurnalistik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa sesungguhnya salah satu perwujudan kemerdekaan Negara Republik Indonesia adalah kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan sebagaimana diamanatkan oleh pasal 28 Undang-undang Dasar 1945. Oleh sebab itu kemerdekaan pers wajib dihormati oleh semua pihak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat negara Republik Indonesia adalah negara berdasarkan atas hukum sebagaimana diamanatkan dalam penjelasan Undang-undang Dasar 1945, seluruh wartawan Indonesia menjunjung tinggi konstitusi dan menegakkan kemerdekaan pers yang bertanggung jawab, mematuhi norma-norma profesi kewartawanan, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memperjuangkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial berdasarkan pancasila.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka atas dasar itu, demi tegaknya harkat, martabat, integritas, dan mutu kewartawanan Indonesia serta bertumpu pada kepercayaan masyarakat, dengan ini Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) menetapkan Kode Etik Jurnalistik yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh wartawan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KEPRIBADIAN DAN INTEGRITAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila, taat kepada undang-undang Dasar Negara RI, kesatria, menjunjung harkat, martabat manusia dan lingkungannya, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan negara serta terpercaya dalam mengemban profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan atau keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia pantang menyiarkan karya jurnallistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang menyesatkan memutar balikkan fakta, bersifat fitnah, cabul serta sensasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia menolak imbalan yang dapat mempengaruhi obyektivitas pemberitaan.&lt;br /&gt;AB II&lt;br /&gt;CARA PEMBERITAAN DAN MENYATAKAN PENDAPAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dari kecepatan serta tidak mencampur adukkan fakta dan opini sendiri. Karya jurnalistik berisi interpretasi dan opini wartawan, agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan tidak menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang merugikan nama baik seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia dalam memberitakan peristiwa yang diduga menyangkut pelanggaran hukum atau proses peradilan harus menghormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil, jujur, dan penyajian yang berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia dalam memberitakan kejahatan susila (asusila) tidak merugikan pihak korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;SUMBER BERITA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia menempuh cara yang sopan dan terhormat untuk memperoleh bahan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) dan selalu menyatakan identitasnya kepada sumber berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia dengan kesadaran sendiri secepatnya mencabut atau meralat setiap pemberitaan yang kemudian ternyata tidak akurat, dan memberi kesempatan hak jawab secara proporsional kepada sumber atau obyek berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia meneliti kebenaran bahan berita dan memperhatikan kredibilitas serta kompetensi sumber berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia tidak melakukan tindakan plagiat, tidak mengutip karya jurnalistik tanpa menyebut sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia harus menyebut sumber berita, kecuali atas permintaan yang bersangkutan untuk tidak disebut nama dan identitasnya sepanjang menyangkut fakta dan data bukan opini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila nama dan identitas sumber berita tidak disebutkan, segala tanggung jawab ada pada wartawan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia menghormati ketentuan embargo, bahan latar belakang, dan tidak menyiarkan informasi yang oleh sumber berita tidak dimaksudkan sebagai bahan berita serta tidak menyiarkan keterangan "off the record".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KEKUATAN KODE ETIK JURNALISTIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia harus dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Jurnalistik PWI (KEJ-PWI) dalam melaksanakan profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahawa penaatan Kode Etik Jurnalistik ini terutama berada pada hati nurani masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia mengakui bahwa pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran Kode Etik Jurnalistik ini adalah sepenuhnya hak organisasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan dilaksanakan oleh Dewan Kehormatan PWI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak satu pihakpun di luar PWI yang dapat mengambil tindakan terhadap wartawan Indonesia dan atau medianya berdasarkan pasal-pasal dalam Kode Etik Jurnalistik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : www.dewankehormatanpwi.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-5212738962319520740?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/5212738962319520740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=5212738962319520740&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/5212738962319520740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/5212738962319520740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/kode-etik-jurnalistik.html' title='Kode Etik Jurnalistik'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-8556812129386993139</id><published>2008-04-12T19:41:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:47:35.781-07:00</updated><title type='text'>Proses Pembuatan Berita di Stasiun Televisi: Studi Kasus TRANS TV</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses pembuatan berita di TransTV pada prinsipnya tak banyak berbeda dengan proses yang berlangsung di banyak stasiun TV lain. Di TransTV telah dibuat semacam prosedur operasional standar (SOP) dalam pembuatan berita, untuk menjaga kualitas berita yang dihasilkan oleh Divisi News. Sebagai stasiun televisi baru berdiri selama dua tahun, SOP ini relatif juga belum lama disusun, dan mungkin juga belum diterapkan secara sempurna. Meski demikian, Divisi News TransTV berupaya menerapkannya, sambil terus menerus menyempurnakan di sana-sini.&lt;br /&gt;Pertama, perlu diingat bahwa jantung operasional sebuah Divisi News adalah rapat redaksi. Rapat redaksi adalah kegiatan rutin, yang penting bagi pengembangan dan peningkatan kualitas tayangan berita dari stasiun TV bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sasaran Rapat Redaksi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk mengkoordinasikan kebijakan redaksi dan liputan.&lt;br /&gt;2. Untuk menjaga kelancaran komunikasi antar staf redaksi.&lt;br /&gt;3. Untuk memecahkan masalah yang timbul sedini mungkin.&lt;br /&gt;4. Untuk menghasilkan tayangan yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan tentang Rapat Redaksi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kepala Divisi News mengadakan rapat mingguan dengan seluruh producer, asisten producer, koordinator juru kamera dan koordinator presenter, untuk membahas rencana dan/atau masalah institusional yang berkaitan dengan liputan/redaksi/perusahaan.&lt;br /&gt;2. Selain rapat mingguan yang dipimpin Kepala Divisi News, ada juga rapat mingguan yang dilakukan oleh sejumlah program mingguan yang ada (misalnya: Fenomena, Lacak, dan Jelajah). Rapat ini biasanya bertujuan untuk: mengkoordinasikan rencana dan gagasan liputan; mencari solusi atas masalah yang muncul; dan mengevaluasi tayangan dan hasil liputan minggu sebelumnya.&lt;br /&gt;3. Selain rapat mingguan, ada rapat harian yang dilakukan oleh masing-masing program buletin (program berita harian, seperti: Reportase, Kriminal, Interogasi, Buka Mata, dan Jelang Siang). Tujuannya adalah untuk: mengkoordinasikan rencana dan gagasan liputan; menjaga kesinambungan materi liputan antar program pada hari itu; mengevaluasi tayangan dan hasil liputan hari itu; dan mencari solusi atas masalah yang muncul hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOP dalam Pembuatan Item Berita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk menyeragamkan kebijakan dan prosedur pembuatan berita dengan proses digital (tapeless editing), atau dengan Tape/Linear.&lt;br /&gt;2. Untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan peralatan.&lt;br /&gt;3. Untuk menghasilkan dan menayangkan berita yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setiap personel Trans News didorong untuk mengajukan ide/gagasan berita untuk dibahas dalam rapat redaksi.&lt;br /&gt;2. Rapat perencanaan dilakukan setiap hari.&lt;br /&gt;3. Para Producer terkait wajib hadir dalam rapat redaksi.&lt;br /&gt;4. Seluruh proses pasca produksi dikerjakan melalui server.&lt;br /&gt;5. Evaluasi harian dilakukan sekitar setengah jam setelah penayangan program berita.&lt;br /&gt;6. Hasil evaluasi dituangkan dalam bentuk tertulis untuk bahan referensi Divisi News.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur (Digital/ Tapeless Editing):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Producer Program menghimpun gagasan berita yang didapat dari kru melalui riset, temuan lapangan, informasi, dan sebagainya, untuk dibahas dalam rapat redaksi.&lt;br /&gt;2. Agenda berita, rundown, serta penugasan dibahas dalam rapat redaksi. Rapat juga dihadiri oleh reporter, juru kamera, periset, asisten produksi, dan koordinator peliputan.&lt;br /&gt;3. Hasil rapat redaksi dituangkan dalam notulen. Rapat juga membuat lembar penugasan yang menjadi acuan Producer Program dan Koordinator Peliputan.&lt;br /&gt;4. Producer Program dapat membuat TOR, yang akan menjadi panduan penugasan reporter, juru kamera, dan periset, serta memberikan TOR tersebut kepada tim yang bertugas.&lt;br /&gt;5. Jika dibutuhkan grafis untuk mendukung tampilan berita yang ditayangkan, permohonan grafis, foto, dan animasi pendukung berita diajukan oleh Producer Program atau Associate Producer kepada Tim Grafis. Grafis yang dihasilkan oleh tim tersebut lalu dimasukkan ke dalam server.&lt;br /&gt;6. Reporter dan juru kamera mengimplementasikan penugasan, dengan melakukan liputan di lapangan. Tim lapangan tersebut juga wajib mengembangkan dan memperkaya informasi. Periset membantu mengumpulkan data pendukung untuk diberikan kepada reporter.&lt;br /&gt;7. Dalam perjalanan kembali ke studio, reporter dan juru kamera dapat mendiskusikan hasil liputan dengan Producer yang bersangkutan. Draft naskah dan shot list juga disiapkan.&lt;br /&gt;8. Juru kamera memindahkan rekaman shot list ke dalam browsing server. Setelah itu –untuk kepentingan bank data-- ia juga wajib membuat log sheet dari semua hasil rekaman gambar yang dibuat. Kaset dan log sheet kemudian diserahkan kepada Perpustakaan.&lt;br /&gt;9. Berdasarkan gambar dan grafis yang sudah tersedia dalam server, Reporter membuat skrip dan first edit.&lt;br /&gt;10. Associate Producer dan Producer Program memeriksa dan memperbaiki first edit.&lt;br /&gt;11. Reporter melakukan dubbing untuk narasi.&lt;br /&gt;12. Dari craft editing server, Editor membuat final edit.&lt;br /&gt;13. Dari item-item berita yang sudah masuk ke dalam server, Producer Program menyusun rundown akhir untuk keperluan tayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus adanya gangguan komputer atau server, ada juga SOP untuk pembuatan item berita dengan Tape/Linear. Dari segi sasaran dan kebijakan, tidak ada perbedaan prinsip dengan SOP pembuatan item berita Digital/Tapeless Editing. Perbedaannya hanya pada prosedur teknis pasca liputan lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur (dengan Tape/Linear):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sesudah melakukan liputan di lapangan, Reporter dan juru kamera mendiskusikan hasil liputan dengan Producer Program atau Associate Producer yang bersangkutan. Keputusan akhir mengenai angle dan content ditentukan dalam rapat kecil tersebut.&lt;br /&gt;2. Juru kamera wajib membuat log sheet/ shot list sekembali dari liputan. Log sheet dan kaset master diserahkan kepada reporter, untuk pembuatan naskah dan proses editing. Copy log sheet juga diberikan kepada Associate Producer.&lt;br /&gt;3. Reporter menyerahkan naskah kasar (draft) kepada Associate Producer untuk diperiksa.&lt;br /&gt;4. Associate Producer memeriksa kelengkapan laporan dan mengedit naskah. Jika diperlukan, Associate Producer dapat meminta grafis pendukung dari Tim Grafis dan menyerahkannya kepada Reporter.&lt;br /&gt;5. Reporter membawa naskah yang sudah disetujui dan kaset master/ file/ grafis ke ruang edit, untuk memulai proses dubbing dan editing. Juru kamera mendampingi proses editing.&lt;br /&gt;6. Kaset hasil editing diserahkan Reporter kepada Associate Producer.&lt;br /&gt;7. Seusai proses editing, kaset master/ file/ grafis berikut log sheet dibawa editor ke Perpustakaan untuk dimasukkan ke dalam inventory.&lt;br /&gt;8. Producer Program (atau biasanya dibantu Asisten Produksi) mengumpulkan dan memeriksa naskah serta kaset-kaset hasil editing dari Associate Producer, untuk dicocokkan dengan rundown final. Jika semua lengkap, rundown, naskah, dan kaset-kaset tersebut dibawa ke ruang Master Control dan Program Director. Copy rundown dan naskah juga diberikan kepada Anchor/Presenter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghasilkan tayangan berita yang baik, proses pembuatan berita itu harus didukung oleh sarana dan perlengkapan yang memadai. Sayangnya, justru itu yang menjadi kelemahan TransTV saat ini. Sampai bulan Februari 2004, kondisi perlengkapan untuk Divisi News:&lt;br /&gt;• Mesin editing Cut to Cut baru tersedia 25% dari kondisi ideal.&lt;br /&gt;• Mesin editing Newsflash baru tersedia 60% dari kondisi ideal.&lt;br /&gt;• Kamera untuk liputan Jakarta baru tersedia 80% dari kondisi ideal.&lt;br /&gt;• Kamera untuk koresponden daerah baru tersedia 60% dari kondisi ideal.&lt;br /&gt;• Kendaraan operasional untuk Jakarta masih amat terbatas (berebut dengan Divisi lain).&lt;br /&gt;• Kendaraan operasional untuk koresponden daerah: belum ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Satrio Arismunandar adalah News Producer di Trans TV, mengetuai Program Hitam-Putih. Pernah menangani berita pagi dan berita petang Trans TV. Sebelum bekerja di Trans TV, pernah menjadi jurnalis di Harian Pelita (1986-1988), Harian Kompas (1988-1995), Majalah D&amp;amp;R (1997-2000), Harian Media Indonesia (2000-2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : satrioarismunandar6.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/125707722773815864-8556812129386993139?l=jurnalismedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/feeds/8556812129386993139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=125707722773815864&amp;postID=8556812129386993139&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/8556812129386993139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/125707722773815864/posts/default/8556812129386993139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalismedia.blogspot.com/2008/04/proses-pembuatan-berita-di-stasiun.html' title='Proses Pembuatan Berita di Stasiun Televisi: Studi Kasus TRANS TV'/><author><name>eka btv</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01311452655700156103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='25' src='http://bp2.blogger.com/_zYCNBmjfKLk/SEHyZUWimCI/AAAAAAAAAHc/IJtMpHGgp9Y/S220/th_EKA-DOT-1-3X4.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-125707722773815864.post-7290805544594653702</id><published>2008-04-12T19:01:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:48:21.661-07:00</updated><title type='text'>Perkembangan Industri Media</title><content type='html'>Perkembangan terkini dalam dunia jurnalistik dan industri media menuntut penyesuaian dan pembaruan dalam kurikulum pendidikan Ilmu Komunikasi di perguruan tinggi. Hal ini khususnya berlaku bagi mahasiswa progr
